Kania indira putri dipaksa menikah dengan anak Majikan yang sedang patah hati.
Padahal ia tahu sejak Awal bertemu Aran sangat membenci dirinya.
Dia kerap menjadi ajang pelampiasan kekasalan Aran.
Tapi apa hendak di kata karena hutang dan balas Budi Kania harus menerima takdir menjadi istri Seorang Aran Maheswara yang dingin dan angkuhnya tidak ketulungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lara hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua belas Bertemu Silvia
Menangis adalah satu- satunya cara yang bisa ia lakukan untuk melampiaskan kekesalan Kania.
Seumur hidup, pertama kalinya di perlakukan begitu tak manusiawi oleh seseorang, menyentuh pipinya yang masih sedikit perih Kania meringis.
Bahkan pria itu tega menampar wajah seorang wanita...
Bi Mala belum memutuskan apa pun, Tetapi Sudah jelas, Aran ingin Kania di pecat.
Ana dan Eli yang mencemaskan Kania mencari Kania ke mana- mana.
Ternyata Kania sedang berada di halaman belakang sambil menangis sendirian.
" Nia...kamu baik- baik saja?" tegur Ana hati- hati. Lalu duduk di sisi Kania di ikuti Eli.
Kania terkejut dengan kedatangan Eli dan Ana. Di pun cepat- cepat menyeka air mata tersenyum dengan wajah sendu.
" Aku sedih sekaligus marah. kalian bisa mendengar dengan jelas ucapan Tuan Muda tadi..."
Ana dan Eli mengangguk berbarengan.
"Pria itu meminta Agar aku dipecat.
Memangnya apa salahku? Mentang- mentang orang tuanya kaya, dia merasa kita ini bukan siapa- siapa. Bisa diperlakukan tak manusiawi, kita disini bekerja bukan mengemis."
Sinis Kania dengan suara menyimpan amarah.
"Bila di pecat, ya sudah! tapi jangan menghina apalagi sampai menampar pipiku!"
Eli melihat pipi kania getir ada jejak kemerahan di sana.
Ana pun menceritakan tentang kejadian sebulan lalu saat penghelatan pernikahan Aran dan Silvia.
Juga perangai buruk Aran selama Kania absen bekerja.
Bagaimana sikap Aran menjadi seperti itu, kejam dan suka menyakiti semua orang, suka membawa pulang sembarang gadis. Tidur sekamar bersama tanpa malu dan takut pada Tuan dan Nyonya besar. Bagaimana dia membuat semua orang jengkel setiap malam demi mengusir paksa para gadis ****** itu keluar dari rumah.
Kegagalan pernikahan nya dengan Silvia membuat Aran menjadi sosok yang berbeda dan tidak di sukai siapa pun.
"Tuan Sanjaya, saat ini sedang berusaha menjodohkannya dengan putri- putri kaya, rekan bisnisnya" lanjut Ana.
"Iya, Nia. Jujur ya! sekarang Gue ogah banget dekat-dekat dengan Tuan muda, apalagi di suruh jadi istrinya" cetus Eli asal.
Ana menggeplak kepala Eli kesal.
" Please Eli, bisa serius sedikit, nggak sih?" Ana menimpali menyimpan kekesalannya terhadap Eli, gadis berkulit hitam manis itu.
Heran, di situasi begini masih bisa bercanda.
" Hehe, maaf...." dia menggaruk kepalanya salah tingkah.
Eli memang sangat menyukai cowok berparas ganteng, ketemu tukang sayur ganteng dia naksir, ketemu tukang buah lumayan dia suka, pokonya matanya dan hatinya hanya terbuka untuk para pria-pria yang wajah nya enak di lihat.
"Sudah beberapa kali berusaha di pertemukan dengan gadis- gadis sekelas mereka, Tuan muda selalu mangkir dan kabur entah kemana."
" Sekalinya dia mau, cuma berniat untuk mengerjai gadis itu." kata Ana lagi.
"Saat ini rata- rata mereka justru menolak di jodohkan dengannya. Sebenarnya bukan ditolak, tapi lebih kepada sikap Tuan muda yang menyebalkan membuat putri- putri kaya itu ilfil saat dekat dengannya"
"Memangnya kenapa?" tanya Kania penasaran.
Kania selalu meyakini pasti banyak gadis yang mau menikahi Aran Maheswara sanjaya. Kaya, tampan, putra satu- satunya perwaris perusahaan otomotif suku cadang terbesar yang cabang nya tak hanya di Indonesia tapi juga berada Eropa, seperti London dan Belanda.
Ana melanjutkan penjelasannya.
"Pernah sekali, Tuan Aran menerima wanita yang di jodohkan Tuan besar.
Kita semua di buat senang karenanya.Rencana pernikahan pun ditetapkan.Tuan muda pun sudah setuju menikah dengannya dalam waktu dekat. Suatu malam Tuan muda dan gadis itu di temani beberapa teman laki- laki dan wanita.
pergi bersama ke klub malam.
Mereka mengadakan pesta minuman keras dan akhirnya karena bisa mereka pun melakukan taruhan minum.
" Taruhan minum?" Tanya Kania tak mengerti
" Jadi peraturannya, Siapa yang bisa menghabiskan alkohol paling banyak dan tidak mabuk sama sekali bisa membawa gadis yang dipilihnya untuk menginap di hotel dan bebas melakukan apa pun padanya."
Salah satu teman Tuan muda menyukai gadis yang di bawaTuan muda Aran, Dia meminta agar gadis itu di jadikan taruhan mereka malam itu. Gadis itu adalah gadis yang akan di nikahi Aran.
Tanpa pikir panjang, Tuan muda menyetujui keinginan teman nya itu tanpa memikirkan perasaan si gadis.
yang kudengar gadis itu menangis sepanjang taruhan.
Tapi karena dia sangat menyukai Tuan muda memilih bertahan hingga taruhannya selesai.
Tuan muda dan teman- temannya menyelesaikan taruhan dengan kekalahan bagi Tuan muda.
Otomatis Gadis itu menjadi milik laki- laki yang menang taruhan.
Gadis itu di bawa ke hotel dan hampir di lecehkan oleh pemuda mesum itu.
Untungnya ada seseorang yang melaporkan hal tersebut pada Tuan Sanjaya.
Tuan besar langsung menyusul ke hotel mengancam pemuda mesum itu hingga terpaksa melepaskan Gadis itu.
Betapa malunya Tuan sanjaya pada orang tua si gadis yang sekaligus rekan bisnisnya karena Perbuatan Tuan Aran.
Tuan Sanjaya sampai harus memohon-mohon agar keluarga wanita itu tidak menuntut Aran, tidak membeberkan keburukan Aran kepada publik." Jelas Ana jengkel
" Tuan muda keterlaluan, sampai hari ini dia tidak pernah merasa bersalah sedikit pun." Sambung Eli
"Rumor cepat beredar. sejak hari itu tak ada satu pun gadis yang mau lagi di jodohkan dengan Tuan Aran."
Ana mengangguk setuju
"Tuan dan Nyonya bersedih sepanjang waktu"
"Para pelayan setiap malam bergadang buat ngusir tuch para Iblis betina dari kamar Tuan muda, mereka rata - rata mabuk berat dan ngeyel lagi, pokoknya ngeselin deh!" Eli geram
" Gimana nggak ilfil, Dih Tuan muda pasti sudah tidak pejaka lagi."
Kania tertawa.
" Hussst..! Ngaco kamu, emang nya sebelum kenal sama gadis - gadis bar itu kau tau dari mana jika dia masih perjaka atau tidak?." Tuntut Ana
Kania ingat saat Aran memakai pakaian dalamnya dengan Acuh di depan mata Kania.
" Kamu salah apa, Nia.
sampai Tuan muda begitu marah kepadamu?"
Kania pun bercerita.
" Sombong sekali laki- laki itu.." Ana langsung menanggapi dengan geram.
"Aku memilih berhenti bekerja, Ana.." tutur Kania sendu.
"Dih! jangan, dong..! Kamu nggak salah Kania!?" Eli berkata dengan tak rela.
"Benar, kata Eli. Mending kamu temui Tuan dan nyonya Sanjaya. Siapa tahu mereka memilih tidak memecatmu" saran Ana.
" Gue setuju. Tuan dan nyonya kita, orangnya, kan. baik banget." Eli menambahkan.
Sore harinya sebelum pulang ke rumah Kania memutuskan menemui Tuan dan Nyonya besar sebelum makan malam di hidangkan.
" Ada apa, kania?" tanya nyonya sanjaya saat melihat Nia masuk dan berdiri dengan wajah tertunduk sedih.
Nyonya Sanjaya mengajak Kania ke ruang kerja Tuan besar.
Karena tidak ingin berbasa-- basi, Kania langsung bicara ke inti. Menceritakan semua keluh kesahnya tentang kejadian dikamar Aran, tadi pagi. Detail tanpa dikurangi apalagi ditambahi."
"Saya ikhlas bila dipecat,
maaf nyonya, saya tak bermaksud lancang. Tapi dia mengancam saya."
"Saya sudah mendengar semua dan meminta maaf atas sikap Aran, Bisakah kamu memaafkan Aran? lupakan semua. Lakukan Saja tugasmu di rumah ini dengan baik, .."
Nyonya sanjaya terlihat gusar setelah Kania selesai bercerita.
Mata Kania langsung berbinar bahagia.
Sejujurnya dia merasa senang dengan keputusan Nyonya besar. Sebenarnya
Bisa bekerja di keluarga Sanjaya Wicaksono adalah berkah.
"Sa..Saya nggak dipecat Nyonya??" tanya Kania semangat
" iya."
Beruntung Kania, memiliki majikan yang baik hati emang menyenangkan.
Di lobby sebuah hotel mewah. Seorang pemuda di dampingi seorang wanita cantik melintasi lobby bersama.
Langkah kakinya panjang dan tegap. sehingga wanita itu kesulitan menyamai langkah dengan si pria.
Lelaki muda itu adalah Aran. Yang kehadirannya langsung mengalihkan dunia orang-orang disekitarnya. Apalagi Kaum wanitanya.
Aran Maheswara akan bertemu pemilik sebuah Hotel mewah Bintang Tujuh atas permintaan Mama.
Hotel mewah yang didatangi Aran adalah Milik seorang pengusaha muda yang sukses bernama Raden Mas Abimanyu.
Rencananya perusahaan Bintang sejahtera akan melakukan kontrak kerja sama dengan perusahaan yang tergolong masih muda karena baru berdiri dengan kokoh beberapa tahun belakangan.
Sebelumnya perusahaan ini hanyalah perusahaan kecil yang tak ada artinya.
Pagi ini dia di minta Mama untuk menggantikan nya bertemu Abimanyu.
Aran langsung menuju ke tempat yang sudah disepakati bersama.
Sebuah Restauran Outdoor yang di rancang dengan indah memanjakan mata Aran.
" Sial! ternyata kita datang terlalu cepat.." Aran melirik Sekretarisnya lalu matanya beralih pada jam tangan. Sekretaris itu jadi ikut- ikutan.
Setelah itu dia pun membuka Agendanya
"Tidak,Tuan. Kita on time, kok!."kukuhnya.
"Berarti, mereka yang terlambat." Piring Aran cepat.
Aran mengamati tiap sudut restaurant itu.
Dalam hati memuji konsep dan tema restauran yang di terapkan
Karena pengunjung akan merasa nyaman dan di manjakan Saat duduk dan menikmati makanan.
Sepertinya dia akan setuju menanamkan saham pada hotel mewah tersebut.
Sekian menit menunggu orang yang di nantikan belum juga menampakan Diri.
Aran terkejut melihat Silvia berjalan bersama seorang Pria, Tubuh pria itu sedikit berisi, lebih pendek dari Silvia. Namun dari segi wajah lumayan menarik menurut Aran.
Perasaan Rindu dan cinta yang sekian lama di simpan meluap kembali bagai Air bah. Semangat
Aran jadi menggebu
Silvia dan laki- laki muda yang diperkirakan Aran sebaya dirinya berjalan semakin mendekat ke arah meja di mana Aran tengah duduk menunggu.
Di dorong rasa tak sabar. tanpa pikir panjang, Aran menyongsong Silvia.
Meski Aran merasa Ada yang janggal pada tatapan mata, sikap dan gerak tubuh mantan kekasihnya terhadap laki- laki itu.
Silvia begitu bahagia dan dia terus tersenyum pada laki- laki itu. mendengarkan pria itu bicara.
Ada tatapan yang Aran pahami sebagai tatapan Cinta.
"****! Apa- apaan...!?"
Aran datang dengan emosi, tanpa sempat di cegah oleh sekretaris.
"Silvia...!" Memanggil Silvia dengan nada dingin mengancam.
Terkejut menoleh pada sumber suara, karena sangat mengenal suara yang menegurnya.
" A- Aran..?!?" Salah tingkah mendapati Aran berdiri menjulang di hadapan sorot mata nya dingin mengancam.
Pria di sampingnya segera bersikap protektif melihat situasi yang tak aman bagi Silvia.
"Ikut aku !!" bentak Aran sementara tangannya menyeret Silvia kasar.
Sekretaris Aran menyusul dengan raut panik.
Silvia berontak menolak Ajakan Aran dengan tegas.
Aran menjadi geram, mata Elangnya memelototi Silvia garang.
"Dia suamiku, Abimanyu.." jelas Silvia. Memasang muka tak enak.
Seketika gerakan Aran terhenti.
Dengan hati tercabik, Aran melihat ke arah pria itu dingin tak bersahabat.
"Aku Abimanyu, suami Silvia. " Pria itu mengulurkan tangan mengenalkan diri, sayangnya hanya angin yang menyambutnya karena Aran tak menggubris.
"Jadi kau Raden Mas Abimanyu, Client yang akan kutemui?" tanya Aran dengan tatapan remeh.
" Anda, Tuan Wicaksono??" Pria itu balik bertanya.
Tapi Aran tidak menjawab.Dia kemudian justru menatap Silvia menghujam.
Silvia merasa begitu bersalah.
Di dalam hatinya terbersit rasa rindu yang sama dengan Aran.
Tetapi dia bisa apa? statusnya memang sudah Sah menjadi Istri Abimanyu.
"Sayang... Aku ngobrol sebentar dengannya?" Ijin Silvia pada Abimanyu.
"Sayang...!??" desis Aran menyimpan Amarah
Silvia menarik Aran menjauh mengabaikan sarkasmenya.
Mereka duduk berhadapan di kursi lainnya.
"Namanya Raden Mas Abimanyu, Dia suamiku..." Silvia memulai penjelasannya.
" Cih!" Aran mendecih kesal. Tak suka bila Silvia menyebut laki- laki itu sebagai suami.
"Tolong lupakan aku, Aran..."
Aran mendongak menatap lurus manik mata Silvia, menghujaminya dengan bara Api kemarahan.
" Aku tahu, kamu pasti marah... Tapi aku bisa apa, Aran.Please 0ahaki aku."
" Kau menyerah begitu saja, Silvia!? menyerah mempertahankan cinta kita!?"
Silvia menunduk, sedih.
"Saat ini aku begitu bahagia dengannya. Dia tak setampan dan sekaya dirimu, namun aku tidak pernah menyangka dia seorang pria yang sangat baik dan sabar terhadapku.
Awalnya aku membencinya setengah mati, karena menjadi penyebab perpisahan kita, tapi karena dia suamiku, dan kami bertemu setiap hari perlahan cintaku tumbuh tanpa aku sadari, bahkan saat ini, aku sedang mengandung anaknya." jelas Silvia sedih.
BRAAAKKK!
Aran menggebrak meja. menghentikan Silvia.
Berdiri dengan wajah beringas siap menghancurkan Apa pun.
Tangannya terlihat memutih dan mengepal mencengkram bibir meja erat.
Abi yang merasa situasi tak Aman bagi Silvia gegas berjalan mendekat.
Memeluk bahu Silvia seolah menguatkannya.
"Mudah sekali kau melupakan aku, Silvia. Bodoh sekali.. Selama ini aku menangisi mu setiap detik, menit dan Jam. Tapi apa!? kau malah berkhianat padaku." Aran tertawa Sinis.
Silvia tahu, kenyataan saat ini sudah membuat Aran begitu sedih dan kecewa. Namun tetap saja, jika dia harus tegas dan jelas agar Aran tak lagi berharap.
Janin yang ada diperut Silvia jauh lebih penting dari segalanya.
Lagi pula Abimanyu tak terlalu buruk sebagai suami sekaligus calon Ayah bagi anaknya.
Silvia meraih tangan Aran mengenggam tangannya erat mengalirkan rasa untuk membuat Aran tenang. Tetapi Aran menepis dengan raut Jijik menghina.
Silvia menelan ludah yang terasa pahit. Penolakan Kasar Aran membuatnya hatinya terluka
"Terima kasih, Aran. Karena pernah mencintaiku. Tapi takdir tak berpihak pada kita. kuharap kelak, kau juga akan menemukan gadis yang baik dalam hidupmu."
Selesai bicara Suami Silvia langsung membawa Silvia menjauh
Di mobil Silvia menangis dalam pelukan Abimanyu.
" Maaf membuatmu harus menghadapi situasi seperti ini. Tapi kamu sendiri yang memaksa menemuinya."
Abi mengusap punggung Silvia penuh kasih.
" Iya, Mas. Aku kasihan padanya. Rumor itu membuatku merasa berdosa padanya."
Abi menepuk bahu Silvia penuh kasih.
" Aku mengerti Silvia, sayang...maafkan atas situasi ini."
" Aku hanya terobsesi padanya. Hal yang kukira cinta ternyata hanya hasrat ingin bersama pria yang ku kagumi, sejak awal aku mengenal cinta"
Sebenarnya sejak SMP Silvia mengidolakan Aran dan tergila- gila padanya.
Pertemuannya dengan Aran menjadi kesempatan bagi Silvia memiliki idola seutuhnya.
Tapi Saat menikahi Abi. dia sadar jika selama ini Silvia hanya terobsesi pada Aran. dan itu bukan cinta.
Sementara Aran Maheswara merasa lemas sekujur tubuh, bahkan kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya.
Hatinya gamang.
Dan dia sangat kecewa pada Silvia yang begitu mudah mencintai laki-laki lain setelah dirinya.
Lanjut thor
Lanjut thor
Semangat thor