NovelToon NovelToon
Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa Modern
Popularitas:419.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Daffo Azhar

Dihianati pacar dan sahabat, membuat Danisa atau yang akrab disapa Nisa enggan menjalin hubungan percintaan dan persahabatan dengan perempuan lagi.
Dari itu dia hanya dekat dengan Senopati, atau yang akrab disapa Seno, hanya dengan Seno dia merasa nyaman.

Saking akrabnya, Seno sudah seperti suami bagi Nisa. Sebelas tahun menjalin persahabatan, rasa cinta mulai tumbuh di hati Seno. Namun, tiba-tiba cinta masa lalu Nisa datang lagi.

Apakah Nisa memilih cinta masa lalunya atau berbalik memilih sahabatnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daffo Azhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11

Viko berjalan lemah di lorong rumah sakit. Tangannya menggenggam erat sebuah resep yang harus ia tebus ke apotek. Hari ini dokter memberi resep berbeda tentunya dengan dosis yang ditingkatkan, dan itu kabar buruk. Jika resep yang pertama tidak membantu berarti kondisinya semakin parah.

Viko duduk di kursi sambil memandangi resep dari dokter. Barapa lama lagi ia bisa bertahan dengan jantungnya? Berapa lama lagi ia bisa hidup normal? Dua tahun? Setahun? Enam bulan? Viko meraupkan tangan ke muka, lalu menghela napas lega. Tidak peduli apapun itu, yang penting sekarang hubungannya dengan Nisa ada perbaikan. Itu lebih baik dari apapun.

Ia tersenyum lalu bangkit berjalan ke apotek.

🌸🌸🌸

Nisa terkikik-kikik geli melihat foto dirinya dengan Yuda. Ia tidak menyangka bocah itu sudah membuatnya terpesona.

Saat Nisa tertawa sendiri, tiba-tiba Lena menerobos masuk ke ruangannya tanpa ketuk pintu dulu. Nisa terperanjat langsung menghentikan tawanya.

“Mbak ... gawat-gawat ...!” seru Lena panik.

“Gawat kenapa?” Nisa bertanya santai.

“Miranda … meng-cancel kerja sama dengan kita.”

“Apa!!!” Nisa langsung berdiri tegak dengan mata melotot.

“Iya, tadi tiba-tiba managernya telepon, minggu ini dia akan berangkat ke Amerika. Pulangnya bulan depan,” tutur Lena dengan napas yang masih ngos-ngosan.

“Aduuuh! Kenapa ngedadak gini, sih! Baru kemarin mereka bilang oke.”

“Gak tahu, managernya bilang, ke Amerika juga ngedadak dan gak bisa ditunda. Masalah keluarga gitu deh katanya.”

Nisa menjatuhkan tubuhnya ke kursi. “Len, berapa hari lagi pameran digelar?” tanya Nisa frustasi.

“Enam hari lagi, Mbak,” jawab Lena dengan suara lemah.

 

“Gak ada cara lain, kita harus cepat-cepat cari artis lain.”

“Tapi itu susah banget, Mbak, apalagi waktunya udah mepet. Dapet Miranda juga udah untung banget. Pimpinan maunya artis yang top, sedangkan artis terkenal itu jadwalnya padet banget. Mereka mana mau mengosongkan jadwal mereka sebulan cuma buat ngehadirin pameran dan menjadi Brand Ambasador produk kita.”

“Enggak. Pokoknya besok kita harus dapat artis baru, gimanapun caranya kita harus dapat! Soalnya kalau besok enggak dapet, enggak ada waktu lagi buat ngomongin konsep.” 

Lena mendengus, bagaimana bisa besok dapat, ngebujuk Miranda juga hampir satu bulan.

“Baik, Mbak,” kata Lena lesu lalu keluar ruangan.

Nisa menjatuhkan kepalanya ke meja. ”Ya ampuuuunn ada-ada aja, sih!” Ia harus putar otak gimana caranya bisa dapat artis untuk jadi Brand Ambasador Vreeset.

🌸🌸🌸

Nisa memencet bel apartemen Seno seperti orang kesurupan. Hari ini ia benar-benar stress karena mencari artis. Ia pergi kesana-kemari sambil mohon-mohon seperti anak ****** yang minta tulang. Umpatan-umpatan kasar pun ia telan begitu saja. Sementara ia harus menyingkirkan gengsinya.

Seno berjalan dengan malas ke depan. Ia sudah tahu siapa orang yang biasa memencet bel seperti itu. Orang itu pasti sedang stress berat.

Saat pintu terbuka, Nisa langsung menerobos masuk lalu rebahan di sofa.

“Ada apa?” tanya Seno sambil melipatkan tangan di dada.

“Sen, apa yang harus gue lakukan? Si Miranda monyong itu tiba-tiba meng-cancel kontrak dengan kita di saat-saat terakhir.”

“Kontrak apaan?”

“Kontrak jadi Brand Ambasador Vreeset buat pameran sepatu. Tinggal enam hari lagi coba. Mampus gue. Mampus!” seru Nisa sambil menutupi wajahnya dengan bantal.

“Terus apa yang bikin lo senewen kayak gini?” tanya Seno dengan muka polos.

Nisa membuka bantal. Tuh cowok oon atau apa, sih? Masih pake tanya senewen kenapa lagi. Nisa malah jadi kesal sama Seno.

“Gua tanya lo senewen karena Miranda ngebatalin kontrak atau lo senewen karena nyari artis lain dan belum dapet?”

Nisa menghela napas, “Dua-duanya,” katanya lesu. Seno menyandarkan bahunya ke tembok nampak sedang berpikir. Selang beberapa detik ia menjentikkan jarinya. “Nis, lo lupa ya, punya temen seorang Produser? Lala pasti bisa bantu lo.”

Nisa langsung terduduk tegak dengan mata berbinar-binar.

“Bener Juga.” Nisa tersenyum cerah. Dalam hatinya ia menarik pikirannya kalau Seno cowok oon.

Nisa mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Lala. Dengan cemas Nisa menunggu teleponnya diangkat. Selang beberapa detik Lala mengangkatnya.

“Halo ...,” seru Lala.

“Halo La, sorry gue ganggu nih, lo udah tidur ya? Gak enak nih ganggu penganten baru.” tanya Nisa sambil melirik jam tangannya menunjukan pukul sepuluh malam.

“Enggak kok, gue baru aja nyampe rumah, nih. Tumben lo nelefon gue? Kebetulan ada yang mau gue omongin sama lo, Nis.”

“Apaan?” tanya Nisa.

“Entar aja deh, lo dulu, ada apa nelfon gue?” Nisa menarik napas dalam-dalam sebelum menyerukan tujuannya. “La, lo punya kenalan artis cewek gak, yang jadwalnya lagi kosong buat sebulan ke depan?”

“Buat apaan?”

“Buat jadi Brand Ambasadornya produk sepatu gue di pameran sepatu antar Negara Asean.”

“Pameran, ya? Mmm ….” Lala mengingat-ingat apakah ada artis yang lagi kosong jadwalnya atau tidak.

“Kayaknya enggak ada deh,” sahut Lala. Nisa langsung menunduk sedih. “Serius gak ada? Coba deh, lo ingat-ingat lagi, gue mohon! Gue bisa mati kalau enggak dapet artis besok.” Nisa hampir menangis frustasi.

“Sebentar, gue inget-inget lagi ….”

“Kalau ada, gue traktir lo makan bakso, deh.” 

“Bakso? Astaga, bakso doang? Pelit banget sih lo jadi orang, pantesan aja lo cepet kaya. Sebagai ketua Tim Marketing masa nelaktirnya bakso doang.”

Nisa mengacak rambutnya sendiri. Seno tersenyum geli, pasti di antara mereka sedang ada penawaran.

“Oke-oke terserah lo deh, anything ….”

“Nah gitu dong. Deal, ya?”

“Iye-iye. Yang penting ada enggak artis buat gue?”

“Ada. Dia baru aja melahirkan beberapa bulan yang lalu, rencananya sekarang dia mau comeback, yang gue tahu dia enggak akan ngambil job syuting dulu, karena masih repot sama anaknya yang masih ASI. Jadi Brand Ambasador kayaknya cocok buat dia. Nanti aku telefon dia. Kalau gue yang minta pasti dia enggak akan nolak.”

“Serius lo? Ah, ya ampuuuunnn Lalaku sayang makasih, ya. Ngomong-ngomong siapa artisnya?”

“Do_ni_ta.” Lala mengejanya agar terdengar jelas.

“Whaaatt serius lo? Donita?”

“Dua rius gue.” Nisa terkulai lemas di sofa, seperti ada beban berat yang tiba-tiba saja terbang dari pundaknya. Ini sangat melegakan.

“Berkat lo, malam ini gue bisa tidur nyenyak. Makasih ya. Oh iya, apa yang mau lo omongin sama gue?”

Lala menggigit-gigit kuku. “Besok aja deh gue ngomonginnya. Sekalian lo traktir gue,” kata Lala. “Oke deh, lo yang tentukan tempatnya di mana.”

“Sip.”

🌸🌸🌸

Lena dan karyawan yang lain terlohok heran. Bagaimana bisa bos mereka dapet artis dalam satu malam? Terlebih artis itu top abis. Lebih ngetop dari Miranda.

“Danisa emang keren,” bisik Deni pada Sofian.

“Enggak salah emang dia jadi ketua Tim Marketingnya Vreeset Indonesia. Cara kerjanya gila-gilaan, menakjubkan. Cantik, pinter, pekerja keras pula. Tapi sayang dia dingin sama cowok.” Sofian balas berbisik.

“Bener, Yan. Kecuali sama si berondong Yuda, tuh,” kata Deni.

“Lena, nanti jam dua Donita mau ke sini, kita langsung aja meeting. Atur semuanya, ya …,” tutur Nisa dengan wajah cerah.

“Sekarang aku mau makan siang ke luar dulu.” Nisa melirik jam tangannya, ia janjian sama Lala di sebuah cafe.

“Siap, Mbak,” seru Lena semangat.

“Aku pergi dulu, ya .…” Nisa memakai blazer lalu bangkit dan membawa tas.

🌸🌸🌸

Nisa memarkirkan mobilnya di pelataran café Strawberry. Nisa enggak tahu kenapa Lala memilih café ini untuk makan siang. Melihat dekorasi café ini yang gaul abis, terlihat lebih cocok buat anak-anak sekolah atau kuliahan, kalau untuk wanita kantoran seperti dirinya menurutnya kurang pas saja. Tapi walaupun begitu café ini tetap cozy. Bikin betah lama-lama nongkrong di sana.

Pandangan Nisa berkeliling ke dalam café, saat ia masuk seorang karyawan wanita menyambut dengan sopan sambil menawarkan diri mancari tempat duduk, kebetulan siang ini suasana café cukup penuh.

“Saya mencari teman saya,” kata Nisa pada karyawan café itu. Tak lama kemudian pupil mata Nisa menangkap sosok wanita memakai seragam berlogo stasiun televisi swasta tempat Lala bekerja. Sudah pasti dia adalah Lala.

“Itu dia teman saya,” kata Nisa pada pelayan itu. Nisa berjalan ke meja Lala.

“Hei, udah lama?” ucap Nisa. Lala yang sedang menyedot minumannya sedikit terkejut.

“Hei, dateng juga lo akhirnya. Enggak. Yah lumayan bikin pantat gue hampir karatan,” kata Lala ironi.

“Hehehe ... sorry deh tadi macet di jalan.” Nisa menyeringai.

“Lo udah pesen makanan belum?” tanya Nisa.

“Belum, gue kan nunggu yang mau nelaktir dulu.”

“Ya ampuuunn kenapa gak pesen dulu aja.”

“Maunya sih gitu, tapi gue sengaja nunggu lo biar bisa pesen yang paling mahal.”

“Dasar rampok! Mas ....” Nisa memanggil pelayan.

Lala terkikik-kikik. Kedua wanita cantik itu memesan makanan, pelayan mencatat pesanan, setelah selesai ia pergi ke belakang.

“By the way, apa yang mau lo omongin sama gue?” Nisa langsung bertanya pada pokoknya.

“Ini soal Viko,” jawab Lala. Kening Nisa berkerut. "Viko? Kenapa dia?"

“Nis, kemarin gue denger Viko ngobrol sama Brian di ruang kerja. Entahlah, gue juga enggak terlalu jelas dengernya. Tapi sepintas gue denger mereka ngomongin soal penyakit jantung gitu deh. Kira-kira siapa yang sakit jantung, ya? Apa Viko punya penyakit jantung?”

Nisa langsung terlohok. “Hah? Sakit jantung?” tanya Nisa terkejut sekaligus penasaran. Lala mengangguk.

“Setahu gue Viko enggak sakit,” kata Nisa.

“Tapi ... gue denger sepintas, suami gue meminta Viko untuk menjalani perawatan yang lebih serius, Nis. Coba lo tanya Viko, apa bener dia sakit? Dan kalau iya, gue mau lo ngebujuk dia buat berobat. Gue kasian sama dia Nis, sekarang dia lagi menyiapkan novel barunya, gue denger dari suami gue kalau novelnya meleset dari deadline.”

Nisa menghela napas yang dirasa berat. Apa benar Viko sakit? Kenapa selama ini Nisa tidak tahu? Apakah Viko sengaja menyembunyikannya dari Nisa? Kalau itu benar, apa yang harus Nisa lakukan? Ia teringat ucapan Viko beberapa hari yang lalu, 'Nisa, aku masih berdiri di tempatku, aku akan tetap berdiri menunggumu menoleh dan datang padaku. Selamanya__sampai aku mati.' Apakah Nisa harus kembali datang pada Viko?

Nisa memejamkan mata mencoba merasakan apa yang sebenarnya ia rasakan dalam hatinya untuk Viko. Itulah yang dikatakan Seno padanya.

Benar, Nisa membenci Viko karena kesalahan itu, gadis itu tersiksa selama sebelas tahun ini karena Viko, ia menjelma menjadi wanita yang dingin pada lelaki itu pun karena Viko. Tapi, bukankah Nisa merindukannya? Bukankah selama ini Nisa ingin melihat wajah pria itu lagi? Bukankah selama sebelas tahun ini ia tidak membuka hatinya untuk pria lain karena di hatinya masih terisi oleh satu orang? Bukankah Nisa merasa senang setelah tahu bahwa Viko tidak sekalipun menghianatinya? Ia ciuman dengan Gita karena perempuan itu mengancamnya?

Nisa menghela napas panjang, lalu setetes bulir air bening jatuh dari sudut matanya. Sekarang Nisa tahu jawabannya. Viko masih ada di hatinya.

Lala terlohok mendapati Nisa tiba-tiba menangis. “Nis, lo kenapa?”

Nisa membuka matanya. “La, gue mau nanya itu sama Viko," kata Nisa dengan suara sedikit bergetar.

Lala tersenyum lebar. “Iya Nis, lo harus bicara sama dia, gue yakin dia akan ngedengerin elo. Tapi mudah-mudahan sih bukan Viko yang sakit.”

🌸🌸🌸

Setelah pulang makan siang dengan Lala, Nisa menghubungi Viko, mereka janjian bertemu di tempat yang sama seperti kemarin setelah Nisa pulang keja.

Entah kenapa perasaan Viko tidak enak dengan pertemuannya sekarang, apalagi pas Nisa ngomong, 'Mau ada yang aku tanyakan sama kamu.'

Apakah Nisa tahu sesuatu? Pertemuan kali ini Viko yang datang duluan, saat Nisa datang, pria itu sudah duduk manis ditemani oleh secangkir kopi yang masih mengepul.

“Duduklah, Nis,” sahut Viko setelah Nisa ada di hadapannya. Nisa menyeret kursi lalu duduk.

“Capucino di sini enak, kamu pesanlah nanti aku yang bayar kali ini.”

Nisa tidak benar-benar mendengar apa yang Viko bilang, sekarang ia hanya memerhatikan wajah Viko, mencoba memastikan diri bahwa apa yang dikatakan Lala salah. Lihatlah Viko terlihat segar, wajahnya pun tidak pucat, ia tidak terlihat seperti orang sakit.

“Nis?” panggil Viko.

Nisa mengerjap. “Oh, sorry.”

“Kamu mau pesan sesuatu?”

“Oh, iya.” Nisa mengacungkan tangan memanggil pelayan.

“Omong-omong apa yang mau kamu tanyakan sama aku?” tanya Viko setelah pelayan itu mencatat pesanan Nisa dan pergi.

“Aku dengar dari Lala kamu sakit. Apa benar kamu sakit?” Viko mengerjap, feelingnya benar, Nisa tahu sesuatu.

Viko mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil tertawa kecil. “Jadi kamu ketemu sama aku buat menanyakan pertanyaan konyol seperti ini? Coba kamu lihat, apakah aku terlihat seperti orang sakit?” kata Viko sambil membentangkan tangannya. “Nisa, kita itu udah enggak ketemu selama sebelas tahun, aku ingin membahas yang penting-penting aja sama kamu. Contohnya menceritakan pengalaman apa aja yang udah kamu lewatin selama sebelas tahun ini. Aku ingin tahu bagaimana kehidupan kamu hingga kamu menjelma jadi wanita yang sukses di usia muda.”

Nisa tersenyum hambar. “Selama sebelas tahun ini aku sangat menderita. Karena menderita, aku memacu diri aku sendiri hingga aku berhasil seperti sekarang.”

Viko menelan saliva getir, ia tidak menyangkan Nisa akan memberi jawaban seperti itu. “Aku tahu, aku sudah menggoreskan luka yang sangat dalam di hati kamu. Dari itu, aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin kita memulai lagi dari awal.”

“Maksud kamu dengan memulai?” tanya Nisa tidak mengerti. Viko tersenyum. Nisa sedikit terenyak ketika melihat senyuman Viko lagi. Senyuman itu adalah senyuman yang sangat ia sukai dari Viko, ia jatuh cinta dengan senyuman itu. Nisa tidak menyangka sama sekali bisa melihat senyuman itu lagi.

“Aku ingin kita berhubungan baik lagi, terserah kamu mau hubungan yang seperti apa, teman, sahabat, atau__pacar? Bagiku bisa melihatmu lagi juga udah bersyukur banget. Aku enggak mau serakah, jadi aku menyerahkan semuanya sama kamu.”

Nisa mendengus sambil melempar pandangannya ke samping, lalu ia menatap Viko lagi. “Baiklah kita bisa memulai dengan berhubungan sebagai teman.”

Viko tersenyum lebar. Tiba-tiba terdengar ponsel Viko berdering. “Sebentar.” Viko mengambil ponselnya di saku celananya. Bersamaan dengan itu ada sesuatu yang jatuh dari sana. Nisa melihat benda itu tergeletak di samping kursi Viko. Nisa meneliti benda itu sementara Viko sedang serius berbicara dengan seseorang. Benda itu terbungkus plastik bening, seperti sebuah obat. Nisa menajamkan penglihatannya. Benar itu obat! Ya Tuhan, apakah Viko benar-benar sakit?

Viko menurunkan ponselnya. “Nis, maaf sepertinya aku harus pergi, ada urusan mendadak, nih. Gak apa-apa kan, kalau aku pergi sekarang?”

“Baiklah, kalau kamu harus pergi, aku juga mau pulang, kok.”

“Nanti kita bisa ketemu lagi, kan?” tanya Viko, Nisa mengangguk sambil berusaha meluncurkan senyumnya.

“Oke, nanti aku telepon kamu,” kata Viko sebelum pergi.

Setelah Viko pergi Nisa mengambil obat yang tadi jatuh dari saku celana Viko.

🌸🌸🌸

1
Sherly Nafik
kalau ceritanya makk daffoo jann gak pernah gagal tp paling gk bisa move on dari hapdag
Mion Ming
baru kali ini baca novel seru abis, bikin nyesek sampe aku dikira tetangga lagi brantem ma paksu karena tiba2 keluar rumah dengan mata bengkak gitu😭
Efvi Ulyaniek
jgn"Andi yg kepo dg mengabaikan lwt hp..calon pebinor nih
Efvi Ulyaniek
waduh knp ga jujur sihbaang seeno....bs runyam nih...
Efvi Ulyaniek
Andi ada rasa sama U nis ga peka"
Efvi Ulyaniek
wkwkwkkwkw...apes no..Seno...harus puasa seminggu 😀😀😀
Efvi Ulyaniek
mbok ya ga usah nikah ko Viko..buat anak orang jd janda aja 😀😀maksa lho KD penghalang cinta Nisa sama Seno aja..ujung"nya meninggong
Efvi Ulyaniek
Viko egois sdh tau si Nisa suka Seno msh aja mau dinikahi
Daffo Azhar
hai, apa kabar pembaca Senopati, masih ada kah yang stay?
tyas: ga bisa di buka ya?
total 2 replies
Rena
keren banget
sumpah
lanjutt thorr
Dewi Suherman
tengkyuuu thor
Dewi Suherman
tak ada persahabatan antara ce dan co, pasti ujung2nya ada cemburuuuuuu. pasti jadi cinta
Yetty widya
critanya ngegantung thor.. blm selesai
Daffodil Koltim
bru baca,siap2 marathon,,,,
augst
maaf ini penulisnya msh sehat kan ya?...crtnya bgs2 tp g ad yg slesai dn itu udh lma bgt?
augst
keren
augst
sran asih tor dr bbrpa nvelnya ni kok upny lma knapa sbnrnya bgus crtanya bg pmbca ngsih hdiah vite akan smkn malas klo upnya ad lama bgt
augst
beh
augst
egois g sih viko...
augst
yg parut disalahkan smua ini adalah gita...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!