Menikah karena kemauan sendiri dan dengan pilihan sendiri tidak selamanya berbuah kebahagiaan.
Benazir adalah buktinya.
Menikah selama beberapa tahun dengan pria yang berusaha diperjuangkannya, malah menimbulkan luka dan kecewa berkepanjangan. Suaminya bahkan menganggapnya istri yang memalukan dan tak pantas dihargai.
Haruskah Benazir bertahan atau pergi.
Kisah ini akan sedikit menguras air mata.
Berminat ?
ikuti kisahnya yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11 ( Dipecat )
Saat hendak berjalan pulang, Arjuna berpapasan dengan Ayung yang tengah menggandeng tangan seorang wanita. Ayung dan Arjuna pun saling menyapa dengan hangat.
" Widihhh, lagi jalan-jalan nih ceritanya...," sapa Ayung sambil tertawa.
" Iyalah, nemenin Istri biar ga ngambek...," sahut Arjuna sambil berbisik karena khawatir didengar oleh Benazir.
" Nah gitu dong, kan bagus. Biar bini Lo ga salah paham juga sama Kita. Ntar dikiranya Kita nih temen-temen Lo yang menghasut Lo supaya ga mau pulang cepet dan ga mau nemenin dia kemana-mana. Padahal Lo yang emang ga mau. Dasar kamp*et Lo...," kata Ayung sambil melirik kearah Benazir yang tengah menawar buah-buahan.
" Bisa aja Lo. Siapa nih, calon ya...?" tanya Arjuna.
" Maunya sih gitu. Tapi ga tau, liat aja dulu. Ntar kalo cocok Gue lanjut. Kalo ga, ya terpaksa temenan aja...," sahut Ayung bimbang.
" Iya deh, semangat ya. Gue ke sana dulu...," kata Arjuna sambil menepuk pundak Ayung lalu bergegas menghampiri istrinya yang sudah selesai membayar belanjaannya.
Ayung mengangguk dan kembali melangkah meninggalkan tempat parkir. Sementara Arjuna melajukan motornya perlahan meninggalkan mall tempat tadi dia menemani Bilqis nonton dan makan siang.
\=\=\=\=\=
Perubahan sikap Arjuna membuat Benazir bahagia. Sayangnya itu tak berlangsung lama. Belum genap dua bulan Benazir menikmati kebahagiaannya akan perubahan sikap Arjuna, ternyata Arjuna kembali berulah.
Arjuna kembali menghabiskan waktu di luar tanpa kenal waktu. Jika sebelumnya dia pulang ke rumah sebelum jam sebelas malam, kini Arjuna malah kembali ke rumah setelah jam menunjukkan pukul dua belas malam atau pukul satu dini hari. Dan itu jelas membuat Benazir meradang. Tapi Benazir sadar, ia tak ingin terlalu menuntut dan mengekang suaminya. Ia tahu suaminya juga perlu waktu bersama dengan teman-temannya.
" Semoga Kamu ingat kalo Kamu punya tanggung jawab ya Mas...," gumam Benazir sambil menutup gorden jendela untuk memastikan kedatangan suaminya.
Malam itu Benazir sengaja menunggu Arjuna pulang. Dengan terkantuk-kantuk Benazir duduk di depan televisi sambil berkali-kali menoleh kearah jendela. Hingga saat jam menunjukkan pukul satu dini hari, Benazir mendengar suara motor memasuki halaman rumah di malam yang hening itu. Benazir menghela nafas panjang sambil menatap kearah pintu.
Terdengar suara anak kunci diputar oleh Arjuna. Lalu saat pintu terbuka, perlahan Arjuna memasukkan motor ke dalam rumah.
" Baru pulang Mas...!" sapa Benazir mengejutkan Arjuna.
" Eh, Sayang. Kok belum tidur...?" tanya Arjuna.
" Kamu mulai lagi deh Mas...," keluh Benazir sambil menggelengkan kepalanya.
" Apa sih Kamu. Aku tuh bete kalo di rumah. Udah cukup ya Kamu kurung Aku selama dua bulan. Aku bersabar menghadapi sikap cemburuan Kamu yang ga jelas itu. Tapi Aku kan cuma ngumpul sama teman Aku, apa itu salah...?!" kata Arjuna kesal.
" Ga salah. Lagian Aku ga pernah ngelarang Kamu kumpul sama teman Kamu. Aku cuma mau Kamu lebih bertanggung jawab aja sama semuanya. Sama Aku, sebagai Istrimu. Kesehatanmu, pekerjaanmu. Apa Kamu ga sadar, tiap hari begadang dan pulang malam itu kan ga baik buat kesehatan Kamu. Belum lagi kalo Kamu ngantuk saat jam kerja. Apa Kamu ga khawatir dipecat sama Bos Kamu Mas...," kata Benazir gusar.
" Kamu nyumpahin Aku dipecat ya...," sahut Arjuna sambil menatap Benazir tajam.
" Terserah Kamu deh Mas. Aku capek, mau tidur...," kata Benazir sambil meninggalkan Arjuna sendiri di ruang tengah.
Malam itu Benazir sengaja tak menyiapkan makan malam untuk Arjuna. Dan Arjuna kesal karenanya. Ia lalu membuka pintu kamar dengan paksa lalu membangunkan Benazir yang hampir terlelap.
" Apa Kamu ga mau nyiapin Aku makan dulu Sayang. Aku lapar nih...," rengek Arjuna.
" Mas ini jam satu dini hari lho. Dan artinya ini udah ganti hari. Apa Kamu masih mau makan jam segini Mas. Makanan yang Aku masak juga rasanya udah ga enak. Lagian Kamu kumpul segitu lamanya sama teman Kamu kenapa ga makan sekalian tadi...," sungut Benazir.
Arjuna terdiam kehabisan kata. Ia sadar semua salahnya sendiri. Akhirnya Arjuna memilih tidur dalam keadaan perut lapar karena tak makan malam.
\=\=\=\=\=
Apa yang dikhawatirkan oleh Benazir pun akhirnya terjadi. Arjuna mulai mendapat teguran dari atasannya karena kinerjanya yang memburuk. Arjuna sering kedapatan tidur saat jam kerja. Laporan yang harusnya selesai dibuat oleh Arjuna dalam waktu tiga hari pun bertambah menjadi lima hari. Arjuna juga sering datang terlambat ke kantor.
Setelah berkali-kali memberi teguran, akhirnya perusahaan tempat Arjuna bekerja pun memecat Arjuna dengan tidak hormat dan tanpa pesangon.
Arjuna terkejut dan tak menyangka bahwa perusahaan tak memberinya kesempatan lagi. Dengan langkah gontai Arjuna melangkah meninggalkan perusahaan tempatnya bekerja mencari nafkah selama ini.
Arjuna menahan geram saat menyadari statusnya sekarang adalah sebagai pengangguran. Status yang berusaha dihindari oleh semua manusia di usia produktif di dunia ini.
" Sia*an. Breng**k...," maki Arjuna sambil menendang kerikil di hadapannya dengan ujung sepatunya.
Arjuna mengurai dasi yang melilit lehernya dengan kesal. Ia menatap matahari di atas sana dengan perasaan tak karuan. Saat menoleh kearah motornya Arjuna pun tersenyum.
" Gue masih bisa daftar jadi ojeg on line. Lumayan kan, ga di kantor juga gapapa. Yang penting ada pemasukan buat di rumah...," gumam Arjuna sambil tersenyum lebar.
Arjuna langsung menstarter motornya dan melajukannya meninggalkan tempat itu. Dengan bantuan temannya yang lebih dulu menjadi driver ojol, Arjuna pun mendaftarkan dirinya menjadi driver ojol.
Setelah mengisi formulir dan mendapatkan jaket beserta helm, Arjuna pun kembali ke rumah dengan bahagia.
Saat tiba di rumah bersamaan dengan Benazir yang juga memasuki halaman rumah dengan menggunakan Taxi. Rupanya Benazir usai belanja keperluan bulanan. Dengan sigap Arjuna membantu menurunkan belanjaan Benazir dari bagasi dan langsung membawanya ke dalam rumah. Setelah membayar ongkos Taxi, Benazir memasuki rumah.
" Kok tumben udah pulang Mas...?" tanya Benazir sambil meletakkan tasnya di atas sofa.
" Iya, Aku dipecat...," sahut Arjuna santai.
" Astaghfirullah aladziim. Dipecat, kenapa...?!" tanya Benazir terkejut.
" Aku ketangkep basah tidur di saat jam kerja...," sahut Arjuna lirih.
" Kok bisa sih Mas...," keluh Benazir sambil memijit keningnya pelan.
" Iya tapi Aku kan ga sengaja. Lagian Aku udah minta maaf, tapi perusahaan tetap aja pecat Aku...," kata Arjuna tak mau kalah.
" Mustahil Mas. Kalo Kamu baru sekali melakukannya paling Kamu kena SP, bukannya dipecat. Ini pasti udah ke sekian kalinya Kamu ketiduran di jam kerja. Makanya Kamu dipecat...," kata Benazir gemas.
" Iya Aku ngaku. Ini udah keempat kalinya. Abis Aku ngantuk banget Sayang...," sahut Arjuna.
" Kamu kebanyakan begadang sih Mas. Aku kan udah pernah bilang, kalo begadang tuh pas weekend aja. Tapi Kamu ga mau dengar, sekarang dipecat kan...," kata Benazir kecewa.
" Udah ga usah bahas itu lagi. Tenang aja, Kamu ga usah khawatir. Aku udah daftar jadi driver ojol. Besok juga udah bisa mulai kerja. Jadi Aku ga bakal nganggur total kan...," kata Arjuna sambil berlalu.
Benazir pun hanya bisa menatap punggung Arjuna dengan perasaan hampa. Ia mengepalkan tangannya menahan kesal yang menumpuk di dalam dadanya. Setelah beristighfar beberapa kali, Benazir terlihat mulai tenang. Lalu ia memasukkan barang belanjaannya tadi ke dalam lemari.
\=\=\=\=\=