Rania seorang gadis manja berusia 18 tahun yang manis dan memiliki wajah cantik dengan rambut hitam panjangnya. Dia baru saja kehilangan cinta pertamanya karena kecelakaan. Semenjak kejadian itu, dirinya berusaha untuk berubah menjadi lebih kuat dan mandiri.
Hardin seorang pria dingin berusia 24 tahun yang sulit dijamah wanita. Pemilik hotel bintang 5 dan juga supermarket besar. Kecintaannya terhadap kue membawanya bertemu si gadis manja yang manis dan menjadikannya kekasih.
Akibat kesalah pahaman, Hardin harus berusaha mendapatkan kembali hati gadis nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatap Muka
Hallooo semua. Semoga kalian suka sama novel ku yang pertama ya. Jangan lupa pencet like dan kasi komen yang positif ya.
Terima kasih.
"Hai kak. Iya nih maaf ya kak soalnya tadi pagi aku tu kesiangan karena telat bangun, jadi gak sempat buat bolu deh." Rania menjawab sambil mengunyah makanannya. Dia mengambil minum dan kemudian meneguknya sedikit untuk membasahi kerongkongannya.
"Ooo kirain kamu mengantar bolunya pas weekend aja. Kamu sendirian? Tumben, biasanya kesini bareng sama sahabat sahabat kamu." tanya Ryan karena tidak melihat para sahabat Rania yang selalu datang dengannya.
"Iya kak aku sendirian aja. Soalnya aku ada janji ketemuan sama Pak Hardin. Orang yang kemaren minta nomer aku sama kakak. Katanya sih jam 2 dia bakal langsung kesini, tapi gatau ni kenapa belum sampai padahal tadi sudah aku kabari kalau aku udah sampe." jelas Rania panjang lebar sambil melihat jam di tangannya.
"Yaudah kamu tunggu aja mana tau sebentar lagi dia nyampe. Kena macet dijalan mungkin dia nya." jelas kak Ryan.
"Iya kak, ini juga lagi nunggu, udah gak sabar banget akunya. Hehehe." Rania menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Hahaha kamu ini. Ya Udah kakak balik ke belakang dulu ya, ada yang mau dikerjain. Kamu kalo ada butuh apa apa bilang sama kakak aja ya." pamit Ryan pada Rania lalu beranjak ke belakang meninggalkan Rania sendiri.
"Siap kakak " jawab Ran tersenyum dan melanjutkan makannya.
Ryan memang selalu baik terhadap Rania. Mereka kenal sudah cukup lama, kira kira 3 tahun lalu. Dan di kafe ini juga Rania selalu merayakan ulang tahunnya. Sampai perayaan ulang tahunnya yang kemarin menjadi yang terakhir.
Triiing ( suara pintu kafe dibuka)
tap tap tap tap
Suasana kafe yang belum terlalu ramai membuat Rania bisa mendengar suara derap langkah itu. Rania menoleh. Dia melihat seorang pria yang tampan dengan tinggi sekitar 180. Wajahnya terlihat tegas dan datar. Tidak ada senyum di wajahnya. Sejenak Rania terpesona melihat Hardin yang berjalan dengan gagah. Namun cepat cepat dia mengalihkan pandangannya.
Pria itu melihat ke arah sekelilingnya. Mencari seorang gadis yang memakai seragam sekolah. Karena dia tahu pasti gadis itu belum sempat pulang untuk mengganti seragam nya.
Deg deg deg
Mata nya terpaku dan bersitatap sejenak dengan seorang gadis yang pernah membuat jantungnya berdegup. Dengan cepat dia menyadarkan dirinya dan gadis itu pun juga menundukkan pandangannya dan memainkan hp nya.
Kuharap bukan dia yang akan kutemui " Hardin berbicara dengan lirih sambil matanya tetap melihat ke arah Rania.
Hp Hardin berbunyi
R : "Pak, saya ada di meja sudut di dekat kaca. Saya masih pakai seragam sekolah ya."
Jantung Hardin kembali berdegup kencang setelah membaca chat yang masuk. Perlahan dia mengalihkan pandangannya dari hp ke arah gadis itu. Memang cuma dia yang memakai seragam sekolah dan sedang memegang hp.
"Siaall kenapa harus diaaa." gumam Hardin dengan sangat pelan sambil melirik ke arah Rania.
Hardin mencoba menetralkan degup jantungnya. Menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan, berharap degupannya berkurang. Dia melakukannya beberapa kali.
Setelah di rasa cukup, Hardin kembali memantapkan langkahnya ke arah Rania walau pun jantungnya masih berdegup.
"Selamat siang. Kamu nona Rania?" tanya Hardin begitu dia sudah sampai di hadapan gadis itu.
Kamu? sejak kapan aku manggil ke cewek dengan sebutan kamu, sama anak SMA lagi. Hardin geli mendengar ucapannya sendiri dan menggeleng pelan.
"Eh iya Pak saya Rania" jawab Rania sambil tersenyum dengan sangat manis. dan berdiri dihadapan Hardin sambil menjulurkan tangannya.
Astaga, kenapa dia harus tersenyum sih, mana manis lagi senyumnya. Aduh nih jantung kenapa lagi kencang kali degupnya." kata Hardin dengan lirih takut Rania dengar. Tanpa sadar dia memegang dadanya untuk merasakan degup jantungnya. Hahaha.
"Bapak kenapa? Jantung bapak sakit? Batali aja deh pak kita ketemuannya. Lebih baik bapak ke dokter." dengan polosnya Rania berbicara seperti itu. Gak tahu aja dia jantung Hardin malah bisa bertambah cepat degupnya karena dia.
"Saya gak apa apa."
"Ehm" dia berdehem untuk menghilangkan rasa gugup dan groginya. "Boleh saya duduk?" sambung Hardin.
"Oh silahkan Pak tentu saja boleh. Kalo bapak berdiri terus takutnya bukan cuma jantung bapak aja yang sakit, tapi kaki bapak juga bakalan kram." masih dengan senyum yang amat manis menurut Hardin.
Gemes banget sih. Ku karungin untuk di bawa pulang boleh gak sih. Urusan orang tuanya urusan belakangan lah.
"Terima kasih." jawab Hardin sok cool sambil menarik satu bangku yang berhadapan dengan Rania. "Kamu sudah pesan makanan?" sambungnya.
"Sudah pak, malahan sudah hampir habis ini" Rania menjawab sambil memasukkan suapan terakhir kedalam mulutnya. Setelah itu meneguk minumannya sampai habis. "Bapak gak pesan makanan dulu?"
Enggak, saya kenyang liat senyum kamu jawab Hardin yang pastinya hanya di dalam hati.
"Saya sudah makan tadi sebelum kesini. Bisa kita mulai membahas masalah kita?" Hardin mengusulkan membahas langsung agar cepat selesai. Agar dia tidak kena serangan jantung mendadak.
"Bisa pak"
"Ehmm tolong jangan panggil saya Pak. Karena saya bukan bapak kamu dan juga pastinya tidak seumuran bapak kamu." pinta Hardin dengan sedikit protes pada Rania yang selalu saja memanggilnya bapak.
"Eh. Maaf pak eh jadi saya harus panggil siapa donk?" Rania bingung akan memanggil Hardin dengan sebutan apa. Dia menggaruk kepalanya dengan mimik yang lucu karena bingung.
Ya ampun bener ku karungi juga ni anak lama lama. Ck mana gak bawa karung lagi.
"Panggil Hardin saja. Karena sepertinya umur kita tidak beda jauh." dengan pedenya Hardin berkata seperti itu dengan tersenyum simpul.
"Ha??? tidak beda jauh gimana? Dari melihat wajah saja orang orang sudah tahu siapa yang lebih tua. Memangnya umur bapak berapa sih? Kok gak mau dipanggil bapak?" Rania terkekeh mendengar ucapan Hardin yang dengan pedenya mengatakan kalau umur mereka tidak beda jauh.
Raut wajah Hardin seketika berubah kecut. Dia sangat kesal dikatain tua sama anak SMA. Ya walaupun umurnya sudah 25 tahun, tapi wajahnya masih terlihat muda. Apalagi ditambah dengan wajahnya yang tampan, hidung mancung, kulit putih dan juga bulu mata lentik yang membuat kaum hawa iri.
Tapi tetap saja di mata Rania dia adalah pria yang sudah tua.
"Menurut kamu umur saya berapa.?" tanya Hardin.
"Mmh 30 kali ya.? Bener gak?" jawab Rania dengan asal. Dan berhasil membuat Hardin melotot mendengar jawabannya.
Apa aku nampak setua itu di matanya. Siaal. Kayaknya aku harus ke salon ini buat perawatan.
"Ups maaf ." Rania reflek menutup mulutnya sambil melirik ke arah Hardin yang sudah memasang wajah kecut. "Kalau begitu saya panggil kakak saja ya." lanjut Rania mengalihkan. tanpa menunggu jawaban Hardin.
Jangan lupa pencet like dan favorite ya kak. Dan juga tinggalkan komen yang positif ya biar aku makin semangat ngelanjutin novelnya.
Terima kasih