Mohon diharapkan sopan dalam berkomentar.
Sebelum membaca novel ini disarankan membaca perjodohan karena hutang yang pertama dulu ya, karena ini adalah cerita lanjutan perjodohan karena hutang pertama.
Disini saya akan menceritakan tentang kehidupan anak-anak mereka, yang tentunya tidak kalah seru dengan para orang tua mereka.
Danis adalah anak dari Risa dan Denis, Danis yang terbiasa hidup mewah dan tidak pernah kekurangan tapi tiba-tiba Denis mengambil semua fasilitas yang Denis berikan pada Danis.
Dan tentunya kenapa Denis mengambil semuanya, Denis punya alasan tertentu dan ingin membuat anaknya bisa menghargai apa yang dia punya bukan menghambur-hamburkannya tidak jelas.
Sampai akhirnya Danis hidup menjadi laki-laki biasa karena hukuman dari sang papa dan bertemu dengan seorang gadis yang sangat membenci laki-laki kaya.
Dan pertemuan itu membuat Danis jatuh hati pada gadis itu. Tapi bagaimana cara Danis jujur pada gadis itu kalau dirinya adalah anak orang kaya? Sedangkan gadis itu sangat membenci laki-laki kaya. Ya tentunya sang gadis juga punya alasan kenapa dia bisa membenci laki-laki kaya.
Penasaran dengan cerita cinta mereka? Dan bagaimana nanti Danis akan mengatakan kejujuran pada sang gadis.
Baca yuk karya Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maisy Asty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11.Anin & Danis.
"Aku lapar, tapi aku tidak bisa membuat mie instan ini." Danis memasang wajah semakin memelas.
"Apa kamu tidak bisa membuat mie instan?"
Danis menggelengkan kepalanya.
"Aku saja tidak pernah menyentuh dapur, apalagi membuat mie instan." Batin Danis dalam hatinya.
Anin tidak tahu siapa Danis yang sebenarnya? Danis yang hobinya hura-hura mana mungkin tahu caranya memasak mie instan?
"Aish, kenapa ada laki-laki sebodoh dirimu sih." Anin ngomel-ngomel tidak percaya.
"Kamu maukan, membantu aku memasak mie instan ini?" Danis kembali memasang wajah memelasnya.
Bola mata Anin membulat dengan sempurna, ia sudah mengerucutkan bibir munggilnya.
"Bibirmu itu sangat menggoda sekali." Danis mulai memikirkan hal mesum.
Tapi dengan cepat ia membuang pikiran mesum itu, apalagi mamanya selalu bilang pada dirinya jangan pernah memainkan perasaan wanita dan ia selalu mengingat kata-kata itu.
"Aku mohon, aku lapar sekali." Danis memasang wajah yang begitu imut, membuat Anin tidak tega.
"Baiklah, aku akan membuatkan mie instan untukmu." Anin keluar dari rumahnya, lalu ia menutup pintu rumahnya.
Mereka berdua langsung masuk kerumah Danis, karena rumah mereka berdekatan jadi apa-apa akan muda.
Danis membuka pintu rumahnya, lalu ia mengajak Anin masuk ke dalam rumahnya.
Anin agak ragu, ia takut apalagi mereka hanya berdua tengah malam seperti ini. Ia takut Danis akan macam-macam dengan dirinya.
Danis yang tahu raut wajah Anin sedang merasakan ketakutan dan pastinya ia sedang memikirkan hal mesum, membuat Danis tiba-tiba mengeluarkan tawanya.
"Kenapa kamu tertawa?" Tanya Anin.
"Aku tahu kamu sedang memikirkan hal mesum, maka berhentilah aku ini laki-laki baik." Danis tersenyum pada Anin, membuat Anin rasanya pingin muntah.
"Dasar, mana ada laki-laki baik bilang dirinya sendiri baik?" Gumam Anin dalam hati.
"Sudahlah jangan bawel, kamu mau aku masakan mie instan inikan?" Anin berlalu pergi dari hadapan Danis, ia langsung menuju ke dapur.
Danis mengekor dibelakang Anin, hal ini adalah hal yang sering dilakukan oleh papanya dulu Denis sering sekali mengekor dibelakang Risa, dan anaknya ini menuruni sifatnya ia juga sama suka mengekor.
"Apa kamu bisa memasak mie instan?" Tanya Danis sambil memperhatikan Anin memasak mie instan itu.
Anin mendengus kesal, dalam hatinya kenapa aku bisa punya tetangga seperti dia. Bahkan masak mie instan saja tidak bisa, sekarang dia juga menganggu tidurku, dan dia juga sangat bawel, dia membuat kepalaku pusing.
"Tentu saja bisa, aku bisa memasak apa saja." Jawab Anin, sambil menuang mie instan yang sudah matang ke dalam mangkok.
"Wahh, cocok dong kalau dijadiin istri." Celetuk Danis, yang membuat Anin kaget.
Setelah mie instannya sudah siap, Anin membawa mie instan itu ke meja makan. Lagi-lagi Danis mengekor dibelakang Anin tapi Anin membiarkannya saja.
"Sudah jadi makanlah!" Anin menaruh mangkok berisi mie instan itu diatas meja.
"Pasti bahagia laki-laki yang punya istri seperti dirimu." Danis mulai menikmati mie instan buatan Anin.
"Sudahlah jangan membahas masalah itu, lagian aku juga belum memikirkan untuk menikah." Anin menarik kursi, lalu ia duduk dikursi yang ia tarik.
Danis terus menikmati mie instan buatan Anin.
"Hanya mie instan saja, bisa seenak ini." Danis memuji mie instan buatan Anin dalam hatinya.
"Mulai sekarang kamu pikiranlah untuk menikah!" Cetus Danis sambil tersenyum begitu imut.
"Sudahlah, kamu lanjutkan makanmu saja!" Anin mengalihkan pembicaraan Danis.
Anin memang belum memikirkan untuk menikah, ia selalu kepikiran dengan pesan mamanya sebelum mamanya pergi untuk selamanya.
Iya mamanya berpesan pada Anin, jangan menikah dengan laki-laki kaya nak! Kamu menikah saja dengan laki-laki biasa yang hidupnya sederhana saja karena mama yakin laki-laki sederhana itu akan mencintai kita dengan tulus. Jangan punya suami kaya raya seperti papamu nak yang suka main wanita diluaran sana.
Itulah pesan mama Anin, yang terus ia ingat.
"Apa bos Rifki itu menyukaimu?" Tanya Danis yang mengalihkan tatapan matanya ke mata Anin, Anin menarik nafasnya dengan pelan lalu mengeluarkannya kembali dengan pelan.
"Mungkin saja, tapi aku tidak menyukainya karena dia laki-laki kaya." Jawab Anin dengan nada lembut.
Danis terdiam mencerna kata-kata Anin, dalam hati Danis, memangnya kenapa dengan laki-laki kaya? Apa dia tidak menyukai bos Rifki karena bos Rifki itu orang kaya?
"Memangnya kenapa kalau bos Rifki itu orang kaya?" Tanya Danis dengan rasa penasaran.
"Tidak apa-apa, aku hanya tidak tertarik dengan laki-laki kaya saja." Jawab Anin, yang tidak mau menjelaskan alasannya yang sebenarnya pada Danis.
Karena asik mengobrol, Anin sampai lupa waktu dan ternyata jam sudah menunjukkan pukul 1 malam.
"Sudah malam, aku pulang dulu ya. Oh iya mulai sekarang belajarlah membuat mie instan agar kamu tidak merepotkan orang lain." Anin beranjak dari tempat duduknya, ia berlalu pergi dari hadapan Danis.
Danis terus menatap Anin dengan tatapan penuh rasa bingung.
"Apa yang membuat dia tidak tertarik dengan laki-laki kaya?" Batin Danis dalam hatinya.
Setelah Anin tidak terlihat dan sudah keluar dari rumahnya, Danis beranjak dari tempat duduknya untuk mengunci pintu rumahnya karena sudah malam.
Danis langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa membereskan meja makannya lebih dulu.
Sesampainya dikamar, Danis langsung membaringkan tubuhnya diatas kasur. Ia terus menatap lampu kamarnya kali ini perasaannya sungguh binggung.
"Apa yang membuat Anin tidak tertarik dengan laki-laki kaya? Bukankah jika seorang wanita itu pasti senang jika mendapatkan laki-laki kaya?" Danis terus berbicara pada dirinya sendiri.
Ia merasa kalau Anin adalah gadis yang berbeda dari gadis-gadis lainnya yang ia kenal.
"Aku jadi semakin penasaran pada dirinya, tapi bagaimana jika dia tau siapa aku yang sesungguhnya?" Danis terus berpikir sambil menatap lampu yang ada di atap kamarnya.
Danis tidak tahu apa yang terjadi, jika Anin tahu tentang jadi dirinya yang sebenarnya.
Dengan pikirannya yang semakin bingung, Danis memejamkan matanya karena besok pagi harus berangkat kerja.
.
.
Jam menunjukkan pukul 6 pagi, Danis sudah rapi dengan kemejanya. Ia sudah berdiri di halaman rumahnya untuk menunggu Anin karena ia berniat mengajak Anin berangkat kerja bersama.
"Mana sih gadis mesum itu? Kenapa dia belum keluar juga?" Danis terus mencari sosok Anin yang belum keluar dari rumahnya.
Danis tahu Anin belum berangkat kerja, karena tadi dia melihat sepasang sepatunya masih tertata rapi di rak sepatu yang ada di depan rumahnya.
Anin baru selesai siap-siap, kini ia sedang memakai sepatunya.
"Saat berangkat kerja!!" Anin berjalan dengan penuh semangat.
.
.
Sesampainya diluar halaman rumahnya, ia melihat Danis yang sudah berdiri dengan rapi ia hendak menghampiri Danis tapi tiba-tiba ada mobil mewah warna hitam yang berhenti tepat di hadapannya.
Anin menghentikan langkah kakinya, Danis melihat mobil yang berhenti tepat di depan Anin.
"Mobil siapa itu?" Tanya Danis dengan sorot mata yang terus menatap mobil mewah warna hitam tersebut.
"Siapa yang menjemput Anin?"
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
bukannya suara bayi oek.....oek...oek
dasar fani
kasian si rifki
kok sama denisnya namanya...