Sejak dihianati oleh Ayah dan Kekasihnya. Justin tidak percaya lagi pada sesuatu yang dinamakan cinta. Justin menganggap bila cinta adalah hal yang tabuh dan memuakkan. Menganggap semua wanita itu sama saja, penghianat dan tidak bisa di percaya. Namun pertemuan singkatnya dengan seorang gadis di sebuah bar yang akhirnya merubah pandangannya tentang cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Brakkk!!
Justin mendobrak pintu rumah Jia yang terkunci dari dalam. Setelah berhasil membuka pintu tersebut. Justin langsung menerobos masuk dan menghampiri gadis itu yang tergeletak tak sadarkan diri. Justin menepuk pipi Jiaa sambil memanggil namanya berharap gadis itu segera membuka matanya. Tapi tidak ada respon.
Justin meraih kepala Jia dan memindahkan kedalam pelukkannya "Jia, bangun." Namun tidak ada sahatuan. Gadis itu tetap tidak membuka matanya meskipun Justin sudah memanggilnya berulang-ulang di tambah dengan tepukan pada pipinya.
"Jia, buka matamu, katakan padaku kau ini kenapa? Jia, Min Jia..."
Liquid bening tampak mengalir dari sudut mata Jia yang kemudian jatuh membasahi pipinya.
Namun tetap saja tubuhnya tidak merespon apalagi membuka kedua matanya dan hal itu membuat Justin menjadi sangat panik. "Bertahanlah, Min Jia." Tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak di inginkan pada Jia, tanpa membuang banyak waktu lagi Justin segera mengangkat tubuhnya dan melarikannya ke rumah sakit.
.
.
Rasa cemas menyelimuti perasaan Justin, sudah hampir satu jam namun belum ada tanda-tanda dokter maupun suster yang menangani Jia keluar dari ruangan itu. Mata coklat terang miliknya tak lepas sedikit pun dari pintu di depannya, dalam hatinya Justin tidak henti-hentinya berdoa agar gadis itu baik-baik saja.
Perasaannya campur aduk, dalam waktu satu tahun belakangan ini belum pernah Justin mencemaskan orang lain apalagi itu perempuan sampai seperti ini. Jangankan melihat orang pingsan, bahkan ia tidak akan peduli meskipun ada orang meninggal di depan matanya.
Tapi entah kenapa saat melihat Jia terkulai tak sadarkan diri ia menjadi sangat panik dan cemas, ada rasa takut dalam hati Justin yang membuncah saat melihat kedua mata itu tertutup rapat.
Justin merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda tipis berbentuk persegi dari sana. Setelah menemukan nama yang ia cari dalam kontak telfonnya, Justin segera menekan tombol hijau dan menghubungi orang itu.
Tutt!! Tutt!!! Tutt!!
Panggilannya tersambung dan tidak lama setelahnya ada jawaban dari seberang sana "Justin, ada apa? Tumben kau menghubungiku jam segini? Apakah ada hal yang penting?"' tanya orang itu to the poin.
"Kau memiliki kontak, Park Choa? Bisakah kau menggubunginya karna....?"
"APA, YAK, JUSTIN QIN, APA KAU INGIN MENIKUNGKU, EO, AKU TAU JIKA AKU BUKANLAH-"'
"DENGARKAN AKU DULU, TIANG GILA." bentak Justin dengan nada meninggi membuat Leo yang ada diseberang sana menjadi diam seketika. "Aku belum selesai bicara." lanjutnya datar. "Jia masuk rumah sakit, aku ingin menghubunginya tapi aku tidak memiliki kontaknya. Segera hubungi gadis bermarga, Park, itu dan beri tau tentang keadaan, Jia." kemudian Justin memutuskan sambungan telfonnya begitu saja dan mendesah berat.
Rasanya ia ingin sekali memukul kepala Leo karna sudah berani teriak padanya.
Kriet...
Pintu ruangan UGD terbuka tiba-tiba dan menampilkan sosok pria berumur pertengahan 40-an keluar dari ruangan tersebut lengkap dengah jas putihnya. Dan munculan sosok tersebut mengintrupsi Justin untuk beranjak dan berdiri dari duduknya
"Bagaimana keadaannya?" tanyanya to the poin.
"Keadaannya cukup buruk. Gadis itu mengalami tekanan dan guncangan batin yang hebat sampai membuatnya stres. Jika hal ini dibiarkan terus berlanjut maka akan sangat fatal akibatnya. Tidak menutup kemungkinan jika nona Jung akan mencoba untuk melukai dirinya sendiri, sebaiknya buat perasaannya tetap tenang dan jangan biarkan dia berfikir terlalu berat." ujar dokter itu panjang lebar.
"Bisa aku menemuinya?"
"Tentu, tapi setelah nona, Min, di pindahkan ke ruang inap."
"Tempatkan dia di ruang VVIV, aku menginginkan perawatan terbaik untuknya. Soal biaya, aku akan menanggung semuanya."
Dokter itu tersenyum tipis. "Baiklah." jawabnya singkat. Dokter itu menepuk bahu Justin dan melewatinya begitu saja. Tak lama setelah kepergian dokter laki-laki itu, terlihat Shilla dan Leo datang dengan langkah sedikit terburu-buru. Wajah Shilla terlihat basah dan matanta tampak sembab.
"Justin-ssi, bagaimana keadaannya?" tanya Shilla sesaat setelah berada di depan Justin. Justin pun menceritakan semua dan membuat Shilla lemas seketika setelah mendengar mengenai keadaan Jia saat ini. "Beberapa hari yang lalu dia bertemu dengan Ibu tirinya, aku tidak tau apa yang wanita itu katakan pada, Jia. Setelah bertemu wanita itu, Jia menjadi lebih banyak dian dan melamun, dan aku rasa apa yang terjadi pada Jia saat ini ada hubungannya dengan wanita itu." tutur Shilla panjang lebar.
"Apa hubungan, Jia dengan Ibu tirinya tidak baik sama sekali?" tanya Leo penasaran.
Shilla mendesah berat. "Sejak awal pernikahan ayah dan ibu tirinya, hubungan mereka memang sangatlah buruk. Ibu tirinya begitu tidak menyukai, Jia, dia selalu berusaha membuat Jia terlihat buruk di mata ayahnya sendiri.
Ibu dan saudara tirinya memperlakukan, Jia, dengan sangat buruk termasuk ayahnya sendiri, Jia sempat mengalami depresi berat dan berkali-kali mencoba mengakhiri hidupnya sendiri.
Dia bertahan selama dua tahun bersama keluarga barunya sampai suatu malam terjadi pertengkaran hebat antara, Jia, dan ayahnya yang membuat dia memutuskan untuk meninggalkan rumahnya kemudian tinggal di rumah milik mendiang ibunya. Dan sejak saat itu Jia tidak pernah mau lagi bertemu dengan ayahnya."
Justin menutup matanya sambil bersidekap dada, punggungnya bersandar pada tembok yang ada dibelakangnya. Mendengar kisah hidup Jia membuat hatinya terasa ngilu. Ia tidak menyangka bila gadis itu juga memiliki kisah hidup yang pahit sama seperti dirinya dan terlahir di tengah-tengah keluarga yang tidak sehat.
"Aku tidak menyangka dia memiliki kisah hidup yang begitu berat, sungguh gadis yang sangat malang." ujar Aria merasa prihatin. "Pasti dia melewati masa-masa yang sangat berat saat masih remaja, sungguh... gadis yang malang."
Justib membuka kembali matanya seraya bangkit dari posisinyal "Aku akan pulang untuk mengganti pakaian, hubungi aku jika dia sudah sada,." Justin beranjak dari posisinya dan pergi begitu saja.
.
.
Tepat pukul 02.00 dini hari Justin tiba di rumahnya. Dengan langkah tenang Justin melangkahkan kakinya pada bangunan yang memiliki dua lantai itu. Dan kedatangan Justin di sadari oleh seseorang
"Justin?" panggil orang itu seraya menutup kembali pintu kamarnya. Justin menghentikan langkahnya dan melirik pada wanita yang terlihat menghampirinya. "Kau baru pulang?" tanyanya lembut.
"Kau buta ya? Bukankah sudah jelas, jadi untuk apa bertanya lagi. Cih, menyebalkan."
"Ini sudah satu tahun. Kenapa kau masih saja bersikap sedingin ini padaku? Bukankah aku sudah meminta maaf padamu? Aku tau jika kesalahanku tidak akan pernah termaafkan tapi aku tidak akan menyerah untuk bisa mendapatkan maaf darimu."
"Benarkah?" Justin berbalik dan menghampiri Hanna, seringai tipis tersungging di bibir kemerahannya. "Kau fikir aku akan memaafkanmu setelah kau menghancurkan hati dan hidupku? Yang benar saja, kenapa kau menjadi begitu menyedihkan, Kim Hanna?
Dan bagaimana jika kita buat hal ini menjadi lebih menarik? Aku dengar kau memiliki adik sepupu yang sangat cantik. Bagaimana jika aku menggunakan dia untuk menghancurkanmu karna aku dengar kau begitu menyayanginya, aku akan melakukan hal sama padanya seperti apa yang dulu pernah kau lakukan padaku. Bagaimana? Sangat menarik bukan?"
Degg!!
Hanna tersentak mendengar ucapan Justin, sontak saja Hanna mengangkat wajahnya dan menatap Justin penuh tanda tanya. "Apa maksudmu?"
"Bukankah maksudku sudah jelas, apa perlu aku perjelas lagi?"
"TIDAK." teriak Hanna seraya menatap Justin tajam. "Kau boleh berbuat sesuka hatimu padaku, kau boleh membalas sakit hatimu padaku bahkan aku tidak akan melawan meskipun kau membunuhku.
Tapi jangan pernah libatkan, Jia, dalam masalah kita. Dia tidak tau apa-apa, hidupnya sudah berat dan jangan di persulit lagi. Dan aku tidak segan-segan membunuhmu jika kau berani menyentuhnya sedikit saja, kakakmu yang bre*gsek itu sudah menghancurkan hidupnya dan membuatnya semakin depresi.
Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya juga, tidak akan pernah." tegas Hanna dengan mata berkaca-kaca.
"Apa maksudmu, Jia?" kini justru Justin ah yang terkejut setelah mendengar ucapan Hanna. Pemuda itu mencengkram lengan wanita itu yang kemudian di sentak kasar olehnya. "Katakan, Kim Hanna." Tuntut Justin dengan nada meninggi.
"Apa yang harus aku katakan? Keinginanmu sudah tercapai, aku sudah hancur. Aku hancur sejak aku tau jika laki-laki bre*gsek yang sudah menghancurkan hidup adikku adalah putra dari suamiku sendiri. Kakakmu yang bre*gsek itu ... aku ingin sekali membunuhnya. Kau sudah menang, Justin Qin. Sekarang aku yang hancur."
Hanna menjatuhkan tubuhnya pada ubin lantai yang terasa dingin dan keras. Air matanya tumpah membasahi wajah cantiknya. Berkali-kali Hanna memukul dadanya yang terasa sesak berharap hal itu bisa mengurangi beban yang menghimpit dadanya
"Jika saja aku tau sejak awal jika ba*ingan itu, Brian. Pasti aku sudah membunuhnya sejak lama. Dia membuat, Jia, hampir saja kehilangan nyawanya, karna bajingan itu juga adikku mengalami depresi. Sudah terlalu banyak penderitaan yang dia alami dalam hidupnya dan kau ingin menambahkan lagi? Sebenarnya terbuat dari apa HATIMU ITU, JUSTIN QIN."
Hanna menarik kedua kakinya dan membenamkan wajahnya di sana. Teriakan Hanna yang begitu keras menarik perhatian semua orang untuk keluar. Alex yang baru saja keluar dari kamarnya terkejut mendapati Hanna bersimpuh di lantai sambil menangis.
"Sayang." panggilnya cemas, lalu Alex menggulirkan pandangannya pada Justin yang hanya menatapnya datar. "Apa yang sudah kau lakukan padanya, Justin Qin? Kenapa kau membuatnya menangis lagi? Apa belum cukup tekanan batin yang kau berikan padanya? Bagaimana pun juga dia adalah istri Papa, dia adalah Mama-mu jadi hormati dia sebagai orang tuamu."
Justin memutar matanya jengah dan pergi begitu saja. "Ck, merepotkan saja." ucapnya tanpa menghentikan langkahnya. Tepat di tangga ke sepuluh, Justin berpapasan dengan Brian dan Thalita. Bungsu Qin itu memandang mereka berdua dengan seringai meremehkan yang menandakan jika perang dingin antara dua saudara itu tidak akan pernah ada akhirnya.
.
.
BERSAMBUNG.
aku kira walaupun Jia meninggal.
setidaknya bayinya bisa disela dan menemani Justin di sisa hidupnya. walaupun Justin tidak akan pernah menikah lagi.
hadeeh
keren banget ceritanya thor👍🏻🥰
Justin knp setiap ketemu Jia pasti lg butuh pertolongan.... ckckck...
semangattsss....