Cerita ini menceritakan tentang. Seorang lelaki yang selalu disuruh agar cepat mencari pendamping di umurnya yang hampir mengajak ke 29tahun.
Bagaimana kah kisah selanjutnya!
apakah dia bisa mencari seorang wanita idaman keluarganya?
Atau justru dia harus menerima perjodohan dari keluarganya?
Semakin aku sering bersamanya.
Maka semakin besar rasa cinta yang ku berikan kepadanya.
Semakin besar cintaku padanya.Maka akan semakin besar pula rasa sakit yang akan kurasakan nantinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja.21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nanti saja siapkan dirimu.
Pintu terbuka Adit yang melihat Xiodi tidur dia tersenyum licik dan mendekati Xiodi dan.....
Brukk!.
"Awwww." rintihannya Xiodi, yang kesakitan karena di tarik Adit sampai ke lantai.
"Baru jam segini sudah tidur, siapa yang menyuruh anda tidur." tanya Adit sambil berkacak pinggang.
"Maaf Tuan." ucap Xiodi sambil berdiri di tepi ranjang.
"Heh! Bodoh kenapa selalu minta maaf. " tanya Adit.
"Ya saya salah Tuan, jadi saya minta maaf." ucap Xiodi.
"Kalau tahu begitu! Kenapa anda melakukan kesalahan." tanya Adit kepada Xiodi.
"Siapa nama anda." tanya Adit sambil berkacak pinggang.
Apa? masa enggak tahu namaku. Bukannya tadi waktu ucap janji suci dia sebut namaku. Batin Xiodi.
"Hah kenapa? apa Anda budek?." ucap Adit lagi.
"Nama saya Xiodi, Tuan." ucap Xiodi.
"Oh saya lupa, nama kamu seperti pakaian." ucap Adit, sambil menjatuhkan badannya di ranjang.
"Maksudnya Tuan." tanya Xiodi.
"Hoodie." ucap Adit .
"Tolong buatin saya kopi, awas saja kalo enggak enak, kamu akan saya hukum." ucap Adit lagi yang mengancam Xiodi.
"Baik Tuan." ucap Xiodi, sambil membungkukkan badannya.
Xiodi pun memutuskan untuk ke bawah dan mencari dapurnya, karena ia baru beberapa jam tinggal di kediaman Jackson.
Akhirnya Xiodi sudah ada di dapur dan dia bertanya kepada pelayan.
"Sore." sapa Xiodi kepada pelayan rumah Jackson.
"Iya Nona, mengapa anda kesini Nona, kalau ada butuh sesuatu anda bisa memanggil kami." ucap pelayan itu kepada Nona mudanya.
"Maaf, saya mau buat kopi buat Tuan muda, apa anda bisa memberi tahu saya dimana kopinya Bi." ucap Xiodi kepada pelayan rumah Jackson.
"Di sini Nona." ucap pelayan itu kepada Xiodi.
Dan Xiodi pun membuat kopi untuk Adit. Sambil membuat kopi Xiodi bertanya kepada pelayan.
"Oh ya Bibi sudah lama kerja dengan Papah." tanya Xiodi kepada pelayan itu.
"Iya Non." ucap pelayan itu menjawab pertanyaan Xiodi.
"Bibi, bisakah Bibi tidak memanggil saya Nona." ucap Xiodi kepada pelayan, dia sangat risih jika ada yang memanggilnya dengan sebutan Nona.
"Maaf Nona saya tidak bisa." jawab pelayan itu.
"Kenapa Bi." tanya Xiodi, sambil mencicipi kopinya dengan sendok kemudian di taruh di tangannya.
"Saya hanya mematuhi peraturan rumah ini Nona." ucap pelayan itu sambil menundukkan kepalanya.
"Sudah jadi." ucap Xiodi kepada dirinya sendiri yang telah selesai membuatkan kopi untuk suami sengklek nya itu.
"Ya sudah enggak apa-apa kalau begitu." ucap Xiodi kepada pelayan.
Xiodi pun langsung naik ke atas. Setelah sampai di atas. Xiodi mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.
Tok... Tok..
Berasa tak ada jawaban Xiodi memutuskan untuk langsung masuk ke kamar Adit.
"Tuan anda dimana? Kopinya saya taruh laci ya,Tuan." ucap Xiodi.
Xiodi memilih untuk keluar kamarnya Adit. Setelah Xiodi keluar. Adit masuk kamarnya, karena tadi dia ada di ruangan kerjanya. Aditya yang melihat ada cangkir di atas laci ia mengambilnya dan meminumnya.Namun Adit tersenyum licik setelah meminum kopi buatan Xiodi itu tak tahu apa yang akan direncanakan nantinya.
Xiodi yang ada di depan rumah Jackson dia duduk di kursi bewarna putih itu. Sambil meratapi nasibnya kedepannya.
Ya Tuhan aku tak tahu apa yang kau tulis untukku nantinya.
Aku harap apa yang kau tuliskan untukku itu yang terbaik.
Aku menerima pernikahan ini karena Ayahku Tuhan.
Aku harap aku tak akan jatuh cinta kepada Tuan Adit, Tuhan.
Xiodi tersadar saat ada seseorang
yang memegang pundaknya.
Xiodi pun langsung membuka matanya karena tadi dirinya memejamkan matanya sambil tubuhnya di senderan ke kursi.
"Papah, sudah pulang." tanya Xiodi kepada Tuan Jinsin.
Tuan Jinsin pun duduk di samping Xiodi.
"Iya." jawab Tuan Jinsin.
"Papah tahu nak." ucap Tuan Jinsin yang menggantung membuat Xiodi bertanya.
"Tahu apa Pah?." tanya Xiodi kepada Papah mertuanya itu.
"Pernikahan kamu sama Adit." ucap Tuan Jinsin.
"Tahu apa maksud Papah." tanya Xiodi menghadap kepada Tuan Jinsin yang ada di sebelahnya.
"Kamu menikah dengan Adi, bukan karena saling mencintai namun karena unsur keterpaksaan." ucap Tuan Jinsin.
"Tolong maafin Xiodi Pah. Karena Xiodi telah berbohong kepada Papah, Mamah dan Aldi." ucap Xiodi kepada Tuan Jinsin sambil mencakup kan kedua tangannya.
"Bukan kamu yang harus meminta maaf. Tetapi Papah yang harus minta maaf. Karena Adit masa depanmu hancur nak." ucap Tuan Jinsin memegang tangan Xiodi.
"Tidak Pah, ini tidak salah Tuan Adit." ucap Xiodi memanggil Adit dengan panggilan Tuan.Karena menurutnya tak ada lagi yang harus di tutupi kepada Papah mertuanya itu.
"Nak." panggil Tuan Jinsin kepada menantunya.
"Iya Pah." jawab Xiodi.
"Apa Papah boleh meminta sesuatu." tanya Tuan Jinsin kepada Xiodi.
"Apa yang bisa Xiodi kasih ke Papah akan Xiodi turutin Pah! Jika Xiodi bisa." ucap Xiodi.
"Papah ingin kamu mengubah Adit." ucap Tuan Jinsin.
"Maksudnya Pah." Tanya Xiodi yang tak paham apa yang di maksud Tuan Jinsin.
"Lihatlah Aldi, sebelum dia mengenalmu, Aldi anak yang pendiam, namun saat dia mengenalmu dia sangat ceria kamu tahu itu karena apa." tanya Tuan Jinsin kepada Xiodi yang di jawab dengan gelengan kepala.
"Itu karena Adit, tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya kepada Aldi. Papah tahu Adit melakukan hal itu agar Aldi menjadi pria tangguh nantinya, namun terkadang kita juga harus menunjukkan kasih sayang kita, kepada anak-anak kita agar dia tahu kalau kita sangat menyayangi." ucap Tuan Jinsin kepada Xiodi.
"Jadi Papah mohon kepada mu nak, rubah lah cara berpikir Adit." ucap Tuan Jinsin.
"Baiklah, Pah, Xiodi akan berusaha." ucap Xiodi.
"Ya sudah kalo gitu Papah kebelakang dulu." ucap Tuan Jinsin.
Setelah pembicaraan tadi.Xiodi memutuskan untuk ke kamar Adit. Setelah dia menaiki tangga akhirnya Xiodi sudah ada di depan kamar Adit.
"Heh, kau dari mana saja." tanya Adit yang melihat Xiodi menutup pintu kamarnya.
"Maaf Tuan." ucap Xiodi.
"Maaf-maaf! Apa tak ada kata lain, selain meminta maaf." ucap Adit, yang sudah bosan dengan Xiodi yang selalu meminta maaf padanya.
"Sini kamu." ucap Adit.
"Iya Tuan." jawab Xiodi mendekati Adit yang duduk di tepian ranjang.
"Saya mau sebelum tidur kamu harus." ucap Adit menggantung membuat Xiodi penasaran.
"Nanti saja siapkan dirimu." Ucap Adit bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar mandi.
Siapkan dirimu? nanti malam maksudnya Tuan Adit apa ya." Batin Xiodi memikirkan omongan Adit kepadanya.
Xiodi memutuskan untuk mandi setelah Adit keluar. Xiodi pun mandi.
Jam menunjukkan pukul 19:00 Xiodi dan Adit ada di kamar Adit.
Tok.. Tok..Tok...Tok....
"Daddy." Teriak Aldi.
TBC....
ceritanya bagus
walau tidak selurus jalan raya
terima kasih untuk author
yang sudah buat cerita nya bagus
dan agak dikit lain.
🙏🙏
sukses selalu buat authornya
Tuhan memberkati selalu🙏
salam kenal 🙏