"Aku harus menikahi Maura dan membalaskan dendamku kepadanya," Dave mengepalkan tangannya geram setelah ia dinyatakan bebas dari jerat hukum yang menderanya.
Beberapa waktu lalu, dalam keadaan mabuk, Dave menabrak seorang pemuda dan meninggalkannya terkapar seorang diri.
Leo adalah ayah dari Maura yang juga seorang jaksa yang menyelidiki kasus tabrak lari Dave. Leo menyuruh Maura untuk mendekati Dave dan mendapatkan barang bukti agar Dave bisa dijebloskan ke jeruji besi.
"Aku akan menceritakan semua rahasiaku kepadamu, tetapi dua hari lagi kita harus bertunangan," ucap Dave yang sudah tergila gila pada Maura. Tanpa ia sadari, Maura merekam semua ucapannya.
Bagaimanakah kisah cinta antara Dave dan Maura Sanggupkah Dave balas dendam kepada wanita yang masih ia cintai?
Cover Source : Pinterest.
Setting tempat : Paris, Perancis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zinnia Azalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar Melupakan Becca
"Dave kau kenapa?" Eline (mommy Dave) bertanya dengan nada panik, ketika melihat kameja Dave banyak noda darah, kepala dan bahunya tak luput dari perhatian mommynya itu.
"Tidak apa-apa mom, tadi Dave menolong seorang gadis," Dave berusaha menenangkan Eline yang sangat khawatir.
"Apakah itu Becca ?" Eline bertanya dengan hati-hati. Biasanya Dave akan sensitif jika menanyakan tentang Becca.
"Bukan, dia Maura teman Valerie. Tadi aku melihatnya sedang diganggu banyak pria hidung belang."
"Terus bagaimana keadaan Maura sekarang? Dia baik-baik saja kan?" Eline tampak khawatir dengan keadaan Maura. Eline sudah mengenal baik tentang Maura karena Maura sering mengunjungi rumah Valerie. Menurut Eline, Maura adalah perempuan baik dan ramah.
"Dia tidak apa-apa mom."
"Kalau begitu Dave masuk kamar dulu ya mom?" Dave berpamitan kepada Eline.
Dave segera masuk kedalam kamarnya yang bernuansa maskulin itu, dia pun merebahkan tubuhnya untuk beristirahat. Tiba-tiba sekelebat wajah Maura yang menangis ketakutan teringat di benaknya, entahlah apa yang terjadi dengan fikirannya. Ia hanya takut kejadian tadi menimpa Maura kembali. Ia mengingat momen bagaimana Maura menyentuh bibirnya hati-hati, ada desiran hangat di dadanya. Ada rasa ingin melindunginya. Tapi rasa apa itu? Benarkah jatuh cinta pada pandangan pertama itu ada ? Karena Dave pun bingung dengan rasa apa yang ia rasakan saat ini. Mungkin karena Maura adalah sahabat Valerie adiknya? Makanya ia ingin melindunginya seperti ia melindungi Valerie.
"Ah, apa yang aku pikirkan?" Dave menggelengkan kepalanya.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya,
"Masuk!" Perintah Dave seraya melepaskan kameja yang membalut tubuh kekarnya, kini ia hanya memakai kaos oblong.
Tampak Sekretaris Keenan berjalan memasuki kamar Dave dengan membawa nampan yang berisi air kompresan, perban, dan obat merah.
"Apa tuan baik-baik saja? Maafkan saya karena saya membiarkan tuan muda pergi sendirian!" Sekretaris Keenan duduk di tepi ranjang dan menyimpan nampan itu di atas nakas.
"Tidak apa-apa Ken. Aku memang sedang ingin pergi sendiri."
"Baiklah, biar saya obati luka anda tuan."
"Tidak usah, Maura tadi sudah mengobatiku."
Sekretaris Keenan mengerutkan dahinya ketika mendengar nama Maura, karena setahunya tadi Dave pergi keluar untuk menemui Becca di lokasi syutingnya. Hubungan Dave dan Sekretaris Keenan memang sangatlah baik, Dave sering bercerita apa saja mengenai masalahnya atau kegiatannya kepada Sekretaris Keenan. Tak jarang Dave juga selalu bercerita mengenai hubungannya dengan Becca. Dave menganggap Sekretaris Keenan adalah sahabat sekaligus teman untuk berbagi cerita suka dan dukanya.
"Mengapa Nona Maura? Bukannya Tuan Muda bertemu dengan Nona Becca?" Sekretaris Keenan masih terlihat bingung.
"Tidak jadi, aku melihat Maura di ganggu pria hidung belang, lantas aku segera menolongnya."
"Becca pasti akan sangat marah kepadaku karena aku tidak jadi datang, tadi aku mengirimkan Whatsapp akan menemuinya di lokasi Syuting," lanjut Dave lagi dengan sedikit gusar.
"Tuan menurut saya, anda harus melepaskan Nona Becca. Nona Becca sudah tegas untuk mengakhiri hubungannya dengan anda. Dia lebih memilih kariernya. Menurut saya anda tidak layak untuk mendapatkan wanita seperti itu. Anda berhak menemukan wanita yang lebih baik," Sekretaris Keenan mencoba menasehati Dave.
"Tapi waktu itu dia memutuskanku, namun menyuruhku untuk menunggunya sampai dia siap untuk menikah dan melepaskan karirnya."
Memang benar apa yang dikatakan Dave, saat Becca memutuskan Dave, dia berkata akan kembali padanya saat ia sudah siap untuk menikah. Sehingga membuat Dave mempunyai harapan untuk kembali bersama Becca.
"Tuan, itu namanya Nona Becca memberikan harapan kosong. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Apa anda berani menjamin bahwa Nona Becca akan setia?" Pertanyaan Sekretaris Keenan, mengusik hatinya. Namun ia tidak menyangkal dengan nasihat Sekretaris Keenan, karena hatinya membenarkan apa yang diucapkan Sekretaris kepercayaannya itu.
"Baiklah, Mulai detik ini aku akan belajar untuk melupakan Becca," Dave menghembuskan nafasnya kasar.
*
Maura di antarkan oleh Dave, sampai gerbang rumahnya. Ia segera membuka pintu, terlihat orang tuanya sedang menonton acara berita.
"Kau sudah pulang, nak?" Sophie, Ibu Maura langsung menyambut kedatangan putri semata wayangnya.
"Iya mom, mom maafkan Maura! Maura tidak berhasil mendapatkan Bouillabaisse pesanan daddy," Maura menatap Sophie dan Leo dengan tatapan sendu.
"Tidak apa-apa, nak. Melihat putri kesayanganku pulang dengan selamat daddy sudah sangat senang," Jaksa Leo menimpali.
Maura tidak menceritakan apa yang ia alami tadi bersama Dave, ia tidak ingin mommy dan daddy nya mengkhawatirkannya.
"Kalau begitu Maura ke kamar dulu ya mom, dad?"
"Iya nak jangan lupa cuci tangan, kaki, dan sikat gigi!" Sophie mengusap kepala Maura dengan penuh kasih sayang.
"Baik mom."
Maura memasuki kamarnya yang bernuansa rose pink itu, ia segera mencuci tangan dan kakinya di toilet yang ada di kamarnya. Tak lupa ia segera menyikat gigi. Setelah beres, Maura merebahkan tubuhnya di kasur. Ia menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal.
udara malam ini benar-benar sangat dingin. Ia menatap langit-langit kamar. Pikirannya berlarian mengingat insiden tadi yang menimpanya. Ia sangat bersyukur karena ada Dave yang menolongnya. Maura segera mengambil ponsel di dalam tasnya yang tergeletak di atas kasur, ia segera menghubungi Valerie untuk meminta no ponsel Dave. Setelah chattan yang sangat panjang bersama Valerie dengan di bumbui cie cie. Akhirnya Maura mendapatkan nomor ponsel Dave.
Ia segera membuka aplikasi Whatsappnya, mengetik dengan sangat cepat dan akhirnya sebuah pesan terkirim.
"Dave, Bagaimana lukamu ? Apa sudah membaik ? Oh ya, Aku ingin mengucapkan terima kasih karena kau sudah menolongku malam ini, Terimakasih juga karna sudah mengantarkanku pulang sampai rumah !" Maura.
Maura segera meletakan ponselnya di atas nakas, ia memperbaiki posisi bantalnya dan mulai mencari posisi yang nyaman. Tak lama matanya terasa berat, dan ia sudah berada di alam mimpi.
Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung novel terbaru author. Terima kasih 🤗