Dastan berasal dari negeri petir terlempar ke bumi untuk menyelamatkan diri dari kejaran The Destroyer dan mengumpulkan serpihan kristal petir. Dalam petualangan nya mengumpulkan serpihan kristal petir, dia dipertemukan dengan Ayesha yang akan membantu nya.
Ayesha merupakan keturunan dari Dewi Sekartaji Kediri. Akankah cinta tumbuh di hati mereka setelah melewati petualangan bersama mengumpulkan serpihan petir, bagaimana dengan misi menyelematkan negeri petir dari serangan destroyer.
Bagaimana kisah kelanjutan cinta mereka?Apakah mereka akan bisa bersatu dan menyelamatkan kan negeri petir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ruby kejora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 11 Petunjuk Pertama
Kicau burung bernyanyi di ranting pepohonan menyambut pagi. Matahari yang bersembunyi di balik awan beranjak keluar menyebarkan sinarnya menembus lapisan bumi.
Ayesha memutar lagu favorit nya dari ponsel menyambungkan ke speaker bluetooth agar volumenya terdengar lebih nyaring sambil. Dia melantunkan tiap syairnya dengan penuh penjiwaan sambil memakan beberapa roti gandum dengan selai kacang di mejanya.
Ayesha memikirkan Dastan dan memanggilnya dalam hati.
Ku rindu disayangi, sepenuh hati
Sedalam cintaku, setulus hatiku
Ku ingin dimiliki kekasih hati
Tanpa air mata, Tanpa kesalahan
Bukan cinta yang melukai diriku
Dan meninggalkan hidup ku lagi
Tolonglah aku dari kehampaan ini
Selamatkan cintaku dari hancurnya hatiku
Hempas kan kesendirian yang tak pernah berakhir, dari kesepian ini
Dastan muncul di belakang Ayesha, namun Ayesha tidak menyadari kehadirannya karena terhanyut dalam lantunan lagu. Dastan ikut mendengarkan lirik yang di lantunkan Ayesha, menyentuh hati.
"Ayesha tidak memanggilku, namun aku bisa keluar sejak semalam. Apakah dia sukses memanggilku dengan membatin ku saja sekarang, berarti apakah dia..." gumam Dastan tidak melanjutkannya.
Dastan maju satu langkah ke depan. Kemudian membuat dirinya tak terlihat, menunggu Ayesha memanggilnya lagi. Ayesha menoleh ke belakang seperti merasakan kehadiran nya. Namun tak ada siapa-siapa. Dastan melangkah lagi dan berdiri di samping kiri Ayesha.
"Dastan, apa itu kau..." kata Ayesha menoleh lagi.
"Mungkin cuma perasaanku saja ya, aku kan belum memanggilnya, tapi rasanya Dastan berdiri di samping kiri ku." Gumam Ayesha meneruskan memakan roti gandum nya
Dastan bermaksud memastikan perasaannya. Ternyata walaupun tidak terlihat berada di dekat Ayesha tetap membuat nya berdebar.
Terdengar suara ayah yang kaget dari ruang tengah. Dan menjadi ramai setelahnya. Ayesha berlari dari kamarnya, membiarkan pintunya terbuka, menuju ruang tengah dan menghampiri Ayah.
"Ayah, berteriak ada apa?" tanya Ayesha kaget
"Lihat tayangan berita sekarang di Actual TV." kata Ayah sambil menunjuk TV.
"Aku kira ada apa Ayah..." kata Ayesha lega
Ibu datang membawakan secangkir cappucino untuk Ayah, menaruhnya di meja depan Ayah.
"Ayah, kopinya diminum dulu, nanti keburu dingin. Apa yang di ribut kan sepagi ini?" kata Ibu duduk disebelah Ayah.
"Lihat tayangan berita sekarang." ulang Ayah sambil menunjuk ke arah TV.
Mereka menyaksikan berita di TV bersama. Dastan pun keluar dari kamar Ayesha, berdiri di belakang Ayesha ikut menyaksikan, tanpa sepengetahuan Ayesha.
"Telah ditemukan meteor jatuh di daerah Poh Sarang di sekitar jalan masuk menuju Goa Maria Lourdes Kediri. Meteor tersebut diperkirakan jatuh kemarin malam Senin dua belas Desember pukul dua puluh tiga. Meteor seberat sekitar seratus kilogram jatuh menghantam dinding luar jalan masuk menuju goa dan menghalangi akses jalan. Tidak ditemukan korban jiwa. Pemerintah daerah Kabupaten Kediri menutup sementara area tersebut demi keselamatan warga sekitar dikarenakan kondisi meteorit yang masih panas serta masih dalam penyelidikan. Warga dilarang keras berada di lokasi sampai batas waktu yang belum ditentukan."
"Ayah, sudah hampir jam tujuh, nanti terlambat masuk." kata Bisma menarik-narik tangan Ayah.
"Iya nak, ambil tasmu dan panggil Ibu untuk segera berangkat." jawab Ayah berdiri sambil menyeruput habis kopinya
"Sebentar Ayah, aku betulkan dasi nya, terlalu pendek. Hari ini Ayah kelihatan muda memakai setelan jas warna coklat ini, senada dengan warna bola mata Ayah yang cokelat." kata Ayesha sambil mencium tangan Ayah
"Kita berangkat ke kantor sekarang, Ayah." Kata Ibu tertegun melihat Ayah yang tampak kelihatan seperti masa muda dulu. Postur badan yang tinggi masih tegap seperti dulu, walau warna rambutnya sebagian tidak hitam lagi, namun masih tertata rapi karena penggunaan pomade serta tumbuh kumis menutupi sebagian bibirnya yang merah.
"Ada apa memandangku begitu? Ayo ,Ibu hampir telat." kata Ayah berjalan menuju tempat parkir.
"Kau, tampak muda hari ini, sayang, sama saat pertama aku melihatmu." kata ibu tersenyum sambil menggamit pinggang Ayah.
"Hati-hati Ayah, Ibu dan Adik." kata Ayesha sambil melambaikan tangan.
Mereka berjalan menuju ke mobil disusul Bisma di belakangnya. Beberapa saat kemudian mobil meluncur keluar rumah. Ayesha kembali duduk dan melanjutkan menonton liputan berita mengenai meteor jatuh tadi dan teringat pada Dastan. Dia memegang liontin petir dan menaruh di ujung bibirnya.
"Dastan, datanglah." panggil Ayesha
Dastan menampakkan dirinya dan menghampiri Ayesha.
"Meteor yang ada dalam liputan ini meteor yang semalam, bukan? Bisakah kita ke sana untuk melihatnya? Mungkin saja itu U.F.O" kata Ayesha
"Jangan sekarang karena pasti masih banyak petugas di lokasi untuk meng ekskavasi meteorit. Mungkin malam hari saja. Apa itu U.F.O ?" tanya Dastan
"Unidentified Flying Object, pesawat terbang luar angkasa yang sampai sekarang masih dicari kebenarannya. Mungkin saja ada alien nya." jelas Ayesha pada Dastan
"Tidak ada benda yang seperti itu. Sepertinya kau korban cinema film." jawab Dastan dengan tertawa kecil
"Dastan, aku ambilkan roti dan susu untuk mu ya, duduklah dulu." tawar Ayesha sambil mengambil roti dari kamarnya.
Dastan duduk di kursi menunggu Ayesha kembali. Dia bermaksud mengungkapkan isi hatinya, mengumpulkan keberanian untuk mengakuinya.
"Ini roti dan susunya." kata Ayesha sambil menyerahkan pada Dastan.
Dastan menerima roti dan susunya. Dia makan dengan gugup dan tersedak.
"Pelan saja makannya Dastan, habiskan dulu baru kemudian bicara." kata Ayesha sambil menepuk kecil punggungnya.
Dastan mencoba menenangkan dirinya, dan melahap roti gandum dan susu sampai habis.
"Ayesha sebenarnya ada yang ingin aku ungkapkan padamu." kata Dastan
"Iya Dastan, bicaralah. Aku dengarkan." Jawab Ayesha memandangnya dan melihat TV
"Aku selalu merasakan hal aneh tiap di dekatmu. Tanganku bergetar tiap menyentuh mu. Kau seperti magnet bagiku. Lama aku memikirkannya, menganalisisnya, menurutmu ini apa..." kata Dastan terbata-bata dan berkeringat dingin
"Lihat itu Dastan, petugas berhasil meng ekskavasi meteorit dan memindahkan sementara di halaman pintu masuk Goa Maria Lourdes." kata Ayesha sambil melihat berita TV
"Kau tidak mendengar ucapan ku barusan?" tanya Dastan lemas
"Maaf, aku mendengarkan TV juga, tadi bilang aku aneh." Jawab Ayesha tertawa kecil
Dastan mengurungkan niatnya untuk mengulangi lagi. Dia mencoba mengalihkan pikirannya dan melupakan apa yang dia katakan barusan dengan melihat tayangan berita.
"Serpihan meteor itu bentuknya mirip kapal tempur." kata Dastan terkejut
"Bisa dipastikan itu U.F.O. "kata Ayesha
"Aku akan memeriksanya." kata Dastan
"Jangan gegabah Dastan. Kau sendiri yang bilang, nanti malam saja." kata Ayesha menenangkan Dastan.
Ayesha mematikan TV kemudian mengajak Dastan ke halaman belakang rumah. Di Sana terdapat kursi besi panjang di bawah pohon mangga besar dan beberapa tabulampot disisi kursi. Dastan dan Ayesha duduk di kursi. Angin berhembus kencang, daun-daun jatuh tersangkut pada rambut Ayesha. Dastan memunguti daun pada rambut Ayesha. Tak sengaja dia membalik daunnya, ada sebuah tulisan.
"Temukan serpihan kristal petir." baca Dastan keras sambil menunjukkan ke Ayesha.
"Coba cari kata petunjuk lanjutannya." pinta Ayesha
"Ini ada lagi. Di lokasi jatuhnya meteor." tunjuk Dastan sambil menaruh daun di atas kursi.
Ayesha dan Dastan memunguti daun jatuh lagi di sekitar mereka, membalik satu per satu daun, dan tidak menemukan kata petunjuk lagi, bahkan tulisan yang tadi ada pun sudah menghilang.
"Kita kembali saja ke dalam sambil menunggu malam tiba." saran Dastan.
Ayesha berjalan bersama Dastan dan berpamitan.
Dastan menghilang ketika liontin petir Ayesha berkedip namun Ayesha kembali duduk di kursi melihat daun-daun jatuh dan mendengar suara alam dari tumbuhan, membiasakan dirinya mendengar dan berbicara balik pada mereka.
...****************...
Mohon maaf lahir dan batin...
Sehat, bahagia dan sukses selalu ya..🥰
Semangat berkarya Kakak ⭐❤️❤️❤️❤️❤️⭐