NovelToon NovelToon
Kesalahanku Menyakitimu

Kesalahanku Menyakitimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Perjodohan
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Divty Hardyfani

Namaku Aliqa Mardika, setelah lulus SMA orangtuaku menjodohkan ku dengan putra dari sahabatnya, yang bernama Davin Aryasatya dia berprofesi sebagai seorang Dokter Spesialis di Rumah Sakit Swasta.

Dengan berat hati aku menerima perjodohan ini, dengan harapan seiring kita bersama cinta akan hadir dengan sendirinya.

Ternyata aku memasuki hubungan yang salah, pria yang di jodohkan dengan ku telah memiliki hubungan dengan wanita lain.

Akan kah pernikahan ini berjalan dengan semestinya?

Ini adalah novel pertama ku, mohon maaf jika mengalami kesalahan dalam penulisan, mohon koreksinya.

Ditunggu like, komen & vote nya ya reader.. terimakasih 🙏🙏🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divty Hardyfani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertengkaran

Kehidupan rumah tangga yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya, tidak seperti pernikahan pada umumnya yang setelah menikah akan merencanakan honey moon. Hingga cuti suamiku berakhir tidak ada pembicaraan mengenai destinasi mana yang akan kita kunjungi.

Tiga minggu kami bersama tidak membuat hubungan kami semakin membaik selalu saja terjadi pertengkaran-pertengkaran kecil. Terus ku coba untuk meluluhkan hatinya, dengan selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik namun belum terlihat hasilnya.

Semenjak hari pertama aku membuatkan sarapan untuk nya, yang menurutnya tak layak konsumsi, hingga saat ini suami ku tak pernah memakan masakan yang aku buatkan untuknya. Meskipun setiap hari aku selalu mendapatkan penolakan, tapi tak pernah lelah untuk ku terus mencobanya.

Ketika aku sedang membersihkan dapur, terlihat mas davin menuju arah meja makan, hatiku mengembang membayangkan mas davin akan dengan lahap menyantap masakan buatan ku.

"Mas sudah mau berangkat kerja? makan dulu Mas.." tanya ku. "Duduk Mas, kita makan bersama." Ku tarik kursi agar suamiku duduk di kursi yang telah ku sediakan. Suamiku hanya berdiri dan meneguk segelas air putih hingga tandas.

PRANGGG" suara piring penuh dengan udang goreng tepung pecah berserakan.

"Kau ingin membunuh ku?" tanya pria itu dengan suara yang meninggi.

"Apa keuntungan ku jika membunuh mu Mas?" tanya ku tak mengerti atas ucapannya.

"Aku alergi udang. Aku bisa muntah-muntah dan mengalami bengkak-bengkak kemerahan jika memakannya."

"Aku tidak tahu dan kau tak mengatakan apapun padaku, jika kau memberitahu, mungkin aku tak akan melakukan kesalahan dengan memasak udang dan meletakkannya di atas meja makan. Tapi tidak seharusnya kau melempar piring berisi udang itu Mas, mubazir kan jadinya dan hanya akan menambah tugas ku saja untuk membersihkannya."

"Tak ada waktu untuk menanggapi ocehan mu, lebih baik aku segera pergi bekerja. Sudah berapa menit waktu ku yang berharga terbuang olehmu."

"Sampai kapan kau akan memperlakukan ku seperti ini? aku ini istri mu Mas!!" tanya ku dengan meninggikan suara. "Sudah tiga minggu kita menikah namun sikap mu terus-menerus seperti ini, marah-marah dengan alasan yang tak ku ketahui sedangkan aku mencoba mati-matian untuk selalu bersikap baik padamu meski tak pernah kau hiraukan. Jika kau berpikir dengan senang hati aku menerima perjodohan ini, kau salah. Aku tidak pernah meminta untuk menikah dengan mu."

Tak bisa tertahan lagi, sesak rasanya jika aku terus-menerus menahan rasa marah dan kesal ku atas perlakuannya. Aku bukanlah orang yang sabar, yang begitu saja menerima setiap perlakuan buruk yang di berikan kepada ku, aku juga berhak untuk membela diriku sendiri bukan.

"Kau tidak memiliki jawaban atas pertanyaan ku? setidaknya jika kau tak menganggap ku sebagai istri, bisa kah kau memperlakukan ku selayaknya seorang teman?" tanyaku lirih.

"Bisa ku pertimbangkan, asal kau bisa berjanji tak akan terlibat perasaan apapun dengan ku, begitupun aku hanya akan menganggap mu sebagai seorang teman tak lebih."

"Terimakasih." Hanya itu yang aku ucapkan, semoga sikapnya sedikit berubah dan menganggap ku ada di rumah ini.

Suamiku telah pergi menuju rumah sakit tempatnya bekerja, ku bereskan piring yang berserakan, tak terasa ada setitik air yang meluncur bebas dari sudut mataku. Ya aku memang tak sekuat itu, aku hanyalah seorang wanita biasa. Tak ku sangka hubungan rumah tangga ku berawal seperti ini, tidak ada kehangatan di dalamnya. Rumah ini bagaikan medan perang, selalu saja terjadi keributan, suara pelemparan suatu barang dan suara pintu yang di tutup dengan begitu kencang sehingga terdengar seperti dentuman.

***

Sepertinya aku membutuhkan teman untuk berbagi, bisa gila jika aku terus-menerus memendam nya sendiri. Tak mungkin aku membicarakan prihal rumah tangga ku kepada bunda, tak tega rasanya di usianya yg sudah tak lagi muda harus di buat pusing oleh rumah tangga anaknya, terlebih bunda begitu menyimpan harap atas pernikahan ini, bunda menginginkan cucu. Bagaimana aku mengabulkan nya sedangkan hubungan ku dengan Mas Davin tidak baik-baik saja.

Ku ambil ponsel yang berada di atas sofa, ku cari kontak seseorang yang akan ku hubungi. "Tut.. tut.." terdengar nada panggilan telah tersambung. Sudah larut malam semoga panggilan telpon ku di angkat.

"Hallo..." terdengar suara serak dari sebrang sana, sepertinya aku telah mengganggu tidurnya.

"Hallo Rin... lo udah tidur?"

"Hmm.. iya Al, yakali lo nelepon tengah malam gini. Ada apa Al?"

"Menepati janji untuk menceritakan awal mula pernikahan itu terjadi."

"Yang udah jadi istri, ampe lupa sama sahabatnya sendiri. Sekalinya ada waktu nelepon tengah malem gini. Sibuk ya lo bikin ponakan buat gue."

"Jadi lo mau denger gak cerita gue."

"Oke... oke bentar Al, gue ngumpulin dulu nyawa biar gak ketinggalan satupun cerita lo."

"Udah belum nih, gue mau mulai ceritanya."

"Udah Al coba cerita, detik-detik yang mendebarkan buat gue ngedengerin cerita dari penganten baru."

"Tapi kayanya gak sekarang deh Rin."

"Aahh lo Al nyebelin... gue udah siap-siap jadi pendengar yang baik malah gak jadi ngomongnya."

"Belum saatnya lo tau, tapi gue janji bakalan ngasih tau lo ko. Gue mau tidur dulu ya Rin. Bye..."

"Ok. Bye.."

Ku letakan kembali ponsel yang telah selesai ku pergunakan. Ku lihat kearah jam dinding waktu telah menunjukan pukul 01.36 dini hari pantas saja mata ini terasa sangat lengket. "Jam segini Mas Davin belum juga pulang" gumam ku. Aku sering menunggu Mas Davin di atas sofa ruang tamu, tapi orang yang selalu ku tunggu terkadang pulang bahkan tidak sama sekali. Sekalinya pun pulang, pagi-pagi sekali dia telah berangkat. Tak pernah ku tanyakan kemana dia akan pergi, karena aku tidak boleh mencampuri urusannya, entahlah mungkin aku terlalu bodoh membiarkan suamiku pergi tanpa mencari tahu keberadaannya.

Mataku sangat berat untuk di buka, sehingga aku tertidur dengan pulasnya di atas sofa. Terasa ada seseorang yang memasangkan selimut untuk menutupi tubuh ku, tapi mataku enggan untuk terbuka.

***

Cahaya pagi menyelinap masuk melalui sela-sela tirai, membuat ku terbangun dari tidur lelapku. Seperti mimpi, teranyata benar aku tengah mengenakan selimut saat ini, padahal saat aku tertidur tidak mengenakannya. "Mungkin saja Mas Davin pulang." gumamku, sambil beringsut menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi dan bersiap membuat sarapan.

Sesampainya di lantai dua, pintu kamar Mas Dacvin sedikit terbuka, terlihat Mas Davin sedang berada di dalam kamarnya. Alhamdulillah aku mendapatkan sebentuk perhatian kecil dari suamiku, ternyata dia yang menyelimuti ku disaat ku tertidur.

"Jangan terlalu sering tidur di luar, angin malam tidak baik untuk kesehatan tubuhmu."

Suara itu menghentikan langkah ku, membuat getaran aneh di dalam hatiku. Baru kali ini Mas Davin menyapa ku terlebih dulu, hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

"Jika aku tak pulang, tidak perlu menungguku. Beristirahatlah di kamar mu."

"I..iya mas." hanya itu jawaban yang aku berikan untuk Mas Davin.

Pagi hari yang indah, tidak ada pertengkaran di pagi hari. Semoga saja setiap hari yang ku lewati akan selalu seindah ini.

1
Oktavia Ratuliu
haaa balikan??? Ogaaaaahhh
Oktavia Ratuliu
satu kata untuk Davin sukurin
Yulia Rongkang
iya Thor aliga ama Bima aja setujuu
Yulia Rongkang
cerai aja laa aliqa
Yulia Rongkang
sayang banget kok cepet kali udah kumpul harusnya jangan dl Thor jual mahal dl laaa jangan sampe nyesel
Buncit
Kayanya authour lagi lupa sama novel yg ini ya makanya uda setahun gak update bab
Buncit
Pokoknya biarkan saja davin sama mila dan agila sama Bima. Di dunia nyata aja mana ada istri yg mau balik sama suami yg kaya davin 😂😂😂 ya kan Thour
Buncit
Agila sama Bima aja thour🙏🏻🙏🏻
Memyr 67
hiih, cowok bego. mengikuti istri egois, tersiksa sendiri.
Rena Agustina
kalau aku sih daripada dimadu mending nyelamatin hatiku agar tak terlalu sakit
Rena Agustina
dengar sendiri kan Al ..makanya buka mata Lo dan hati Lo lebar lebar jgn oon
Rena Agustina
makanya punya otak di pake ngapain lu yg berjuang bertahan sedangkan suami lu lebih cinta madu lu oon bangeett
Rena Agustina
si Mila pintar dan si aliqa bodoh
Rena Agustina
makan tuh otak tololl mu Aqila.
Lany Lan
kak ini ceritanya berhenti ya dilanjut dong kak ceritanya bagus
Sartika Bertha
mila2 kasih kamu😒😒
Mariatul Qibtiah
Bima aja
Ani Nurlia
ini cerita udh lama ga up apa ada lanjutan nya ga sih
Woro Kenthir
sayangnya author terus menghilang tanpa menyelesaikan 😭😭😭
Yani mulyani
aku mau bima aja sama aliqa.....jngn balikan lg ah sama davin....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!