Felicia Winarko bukan gadis biasa.
Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.
Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.
Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.
Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.
Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.
"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."
Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1 - Terbangun di Dunia Komik
Felicia Winarko membuka mata di langit-langit yang terlalu putih, terlalu bersih, dan terlalu asing.
Detik pertama, tubuhnya tidak bergerak.
Detik kedua, napasnya kembali teratur.
Detik ketiga, ia sudah menghitung lima titik yang bisa dipakai untuk menyerang kalau ada musuh masuk dari pintu.
Lemari kayu di kiri. Kursi belajar di dekat jendela. Gantungan baju besi tipis di belakang pintu. Gelas kaca di meja kecil. Dan sekrup longgar di sisi ranjang yang bisa dicabut kalau jarinya masih sekuat dulu.
Sayangnya, saat Felicia mencoba mengangkat tangan, yang terangkat hanyalah lengan kurus seorang gadis remaja.
"..."
Ia menatap pergelangan tangannya sendiri.
Putih. Halus. Tanpa bekas luka bakar, tanpa bekas gigitan makhluk mutasi, tanpa garis kasar dari latihan senjata selama bertahun-tahun.
Ini bukan tubuhnya.
Kesimpulan itu datang secepat peluru. Tidak ada kepanikan. Tidak ada teriakan. Di dunia lamanya, orang yang membuang waktu untuk panik biasanya sudah menjadi makanan makhluk mutasi sebelum sempat menyesal.
Felicia duduk perlahan. Kepala bagian belakangnya sedikit berdenyut, tetapi rasa sakit itu terlalu ringan dibandingkan pecahan baja yang pernah menembus bahunya saat ia mempertahankan pangkalan utara.
Ia masih ingat bau asap, alarm darurat yang meraung, dan suara bawahannya yang berteriak, "Komandan!"
Lalu cahaya putih.
Sekarang, yang ada hanya kamar sempit dengan seprai bersih, meja belajar kecil, lemari pakaian yang isinya tidak sampai setengah, dan jendela yang menghadap halaman luas. Dari luar terdengar suara burung, bukan raungan monster.
Mewah juga neraka yang baru ini.
Sebuah suara tiba-tiba meletup di kepalanya.
"Tuan Rumah! Akhirnya sadar juga!"
Felicia tidak berkedip. "Keluar."
"Eh?"
"Siapa pun kamu, keluar dari kepalaku."
Suara itu terdengar panik. "Tidak bisa, Tuan Rumah! Sis sudah terikat dengan Tuan Rumah berdasarkan kontrak transmigrasi dari Sistem Dewa Utama. Mulai hari ini, Sis adalah sistem pendamping Tuan Rumah!"
Felicia menurunkan kaki dari ranjang. Lantai terasa dingin di telapak kakinya. "Transmigrasi."
"Benar!"
"Dewa Utama."
"Benar sekali!"
"Sistem pendamping."
"Iya, iya!"
Felicia diam sebentar, lalu tersenyum tipis. "Jadi aku mati."
Di kepalanya, suara itu mendadak mengecil. "Secara teknis, tubuh lama Tuan Rumah sudah tidak bisa dipakai. Tapi jiwa Tuan Rumah berhasil diselamatkan dan dipindahkan ke dunia baru. Ini kesempatan kedua yang sangat langka, lho."
"Apa bayarannya?"
"Tuan Rumah tajam banget..."
"Jawab."
Udara di depan Felicia bergetar. Cahaya biru muda muncul seperti layar hologram tipis, melayang setinggi wajahnya. Di tengahnya ada judul yang membuat alis Felicia bergerak sedikit.
Dunia Komik Mary Sue: Akademi Bintang Mulia.
Di bawah judul itu muncul empat bentuk bintang, semuanya gelap. Tidak ada cahaya, tidak ada warna, hanya garis emas pucat seperti perhiasan mahal yang belum dipoles.
"Misi utama Tuan Rumah," kata Sis dengan nada yang berusaha resmi, "adalah membuat empat pemeran utama pria jatuh cinta pada Tuan Rumah sampai bintang mereka menyala penuh. Kalau keempat bintang menyala, Tuan Rumah bisa mendapatkan hak pilihan atas akhir dunia ini."
Felicia menyandarkan bahu ke tiang ranjang. "Empat pemeran utama pria."
"Iya!"
"Jatuh cinta."
"Cinta sejati, bukan sekadar suka. Sistem punya standar yang sangat ketat."
"Dan ini dunia komik?"
"Komik Mary Sue populer. Tokoh-tokohnya tampan, kaya, pintar, kuat, dan dikelilingi drama. Tubuh yang Tuan Rumah pakai sekarang adalah Felicia Winarko, gadis yatim piatu yang tinggal di Paviliun F4 Akademi Bintang Mulia."
Begitu nama itu disebut, potongan ingatan asing menusuk masuk.
Koridor sekolah yang panjang. Seragam mahal. Tawa merendahkan. Sebuah tangan mendorong bahu kecilnya sampai membentur loker. Suara perempuan yang berkata, "Anak pungut juga mau tinggal di Paviliun F4?"
Lalu kamar ini. Sunyi. Sempit. Terasing di dalam bangunan paling eksklusif di sekolah.
Felicia menyentuh pelipisnya.
Pemilik tubuh ini lemah. Bukan karena tubuhnya kecil, tetapi karena ia terlalu lama dipaksa percaya bahwa dirinya tidak punya tempat untuk berdiri.
Kasihan.
Tapi rasa kasihan tidak mengubah dunia. Kekuatan yang mengubahnya.
Felicia mengangkat tangan ke arah gelas kaca di meja. Biasanya, cukup satu tarikan pikiran, benda seringan itu akan melayang ke telapak tangannya.
Gelas itu tetap diam.
Ia mencoba lagi, kali ini dengan dorongan lebih kuat. Tidak ada gerakan. Bahkan air di dalam gelas pun tidak bergetar.
Sis batuk kecil di kepalanya. "Tentang itu... kekuatan telekinetik Tuan Rumah sementara disegel. Karena tubuh ini tidak sanggup menerima kekuatan penuh. Kekuatan akan kembali bertahap seiring kemajuan misi."
Felicia menatap layar bintang. "Persentase?"
"Saat ini nol persen."
"Hebat."
"Tapi Tuan Rumah tidak perlu khawatir! Tubuh ini memang lemah, tapi sangat cantik. Menurut data komik, wajah Felicia termasuk tipe imut menggoda yang mudah menarik perhatian pria."
Felicia turun dari ranjang dan berjalan ke cermin kecil di pintu lemari.
Gadis di pantulan kaca memiliki rambut hitam panjang yang agak berantakan, mata bening yang ujungnya sedikit naik, bibir merah muda, dan wajah mungil yang tampak tidak berbahaya.
Tidak berbahaya.
Felicia menyukai lelucon itu.
Ia membuka lemari. Seragam Akademi Bintang Mulia tergantung rapi: kemeja putih, blazer navy dengan bordir lambang emas, rok lipit gelap, dasi kecil, dan sepatu kulit yang jelas harganya bisa membeli persediaan beras untuk satu pos pengungsian di dunia lamanya.
Di sudut bawah lemari ada tas sekolah lusuh. Dalam kantong depannya, Felicia menemukan kartu identitas.
Felicia Winarko.
Kelas F.
Penghuni sementara Paviliun F4.
"F4 itu siapa?" tanya Felicia sambil mengganti pakaian.
Layar biru berkedip. Empat nama muncul satu per satu di bawah bintang gelap.
Nathan Salim.
Calvin Tanuwijaya.
Jayden Hartono.
Sebastian Widjaja.
"Empat pewaris keluarga konglomerat terbesar di akademi," jelas Sis. "Mereka adalah target misi. Masing-masing punya bintang cinta. Saat ini semuanya kosong."
"Kosong berarti belum tertarik."
"Belum ada data cinta. Tapi jangan sedih, Tuan Rumah. Dengan wajah ini dan bantuan Sis, kita pasti bisa mulai pelan-pelan..."
Felicia mengikat dasi di depan cermin. Gerakannya rapi, cepat, tanpa ragu. Tubuh ini memang tidak punya otot yang layak, tetapi koordinasinya masih bisa dilatih. Paling tidak, untuk menghadapi anak sekolah, ia tidak membutuhkan telekinesis.
"Sis," panggilnya.
"Iya, Tuan Rumah?"
"Di dunia lamaku, aku memimpin pangkalan berisi tiga ribu orang. Aku memilih siapa yang hidup di tembok, siapa yang turun ke medan, dan siapa yang tidak pantas memegang senjata."
Sis mendadak diam.
Felicia mengambil tas, lalu membuka pintu kamar.
Cahaya pagi dari koridor Paviliun F4 jatuh ke wajahnya. Di kejauhan, sekolah elit itu mulai hidup. Suara mobil mahal, tawa remaja kaya, dan langkah terburu-buru para staf bercampur menjadi musik baru yang jauh lebih ringan daripada sirene perang.
Felicia tersenyum.
"Empat cowok? Cuma itu?"
Ia melangkah keluar.