Area Dewasa
Sebagai putri kesayangan dari pengusaha kaya keluarga Alexander membuat hidup Sea Caroline Alexander menjadi begitu bebas dan liar. Tidak ada yang berani melarangnya untuk melakukan ini dan itu. Karena kebebasan itu membuat Sea menjadi wanita nakal dan mesum. Setiap hari pekerjaannya hanya ke kampus dan bersenang-senang bersama sahabat prianya, seperti balapan liar dan club malam.
Melihat kebebasan Sea, membuat Jhon berinisiatif untuk menikahkan putrinya dengan anak sahabat lamanya, Seorang presedir tampan namun sangat polos.
Sea menolak keras pernikahan itu. Dia tidak suka dengan pria polos. Walaupun begitu Jhon tetap melangsungkan pernikahan itu.
Bagaimana dengan nasib pernikahan Sea? Akankah Sea akan mencintai presedir polos itu? Atau maukah suaminya menerima keadaan Sea sebagai wanita nakal dan liar?
.
.
.
Akan banyak kata-kata vulgar serta beberapa adegan dewasa dalam cerita ini. Bijaklah dalam membaca!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EbieMai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasehat Bunda
Ruang keluarga yang tadinya bersih dan rapi, kini dalam sekejab berubah menjadi berantakan seperti kapal pecah. Gucci mahal serta pajangan-pajangan mewah hancur berkeping-keping akibat ulah iblis cantik yang menjelma sebagai putri keluarga Alexander.
Para pelayan, tukang kebun dan satpam yang bekerja di kediaman keluarga Alexander bekerja sama untuk menangkap kodok-kodok yang melompat ke sana ke mari yang berpesta ria menikmati kebebasan yang tiada tara. Kelincahan dalam melompat membuat para pekerja itu kesusahan untuk menangkap.
Sedangkan sang pelaku sedang asik menonton TV di temani dengan secangkir coklat dingin serta kue coklat sebagai pelengkap. Ia tidak peduli karena pertunjukannya sudah selesai dan tidak seru lagi karena si korban telah pingsan sebelum pertunjukan selesai. Kedua kakinya di letakkan di atas meja, matanya yang bulat menatap lurus kedepan. Sekali-kali tangannya memasukan makanan kedalam mulut lalu mengunyahnya dengan perlahan menikmati sensasi coklat manis yang meleleh di dalam mulut.
Huh membosankan.
Kaki jenjangnya berjalan menaiki tangga menuju kamar ayah dan bundanya.
Ceklek
Di dalam kamar Sea dapat melihat ayahnya yang masih belum sadar dari pingsannya. Bundanya duduk di pinggiran ranjang sambil mengompres ayahnya yang mendadak demam tinggi. Ada sedikit rasa bersalah yang bersarang di hatinya melihat keadaan sang ayah. Andai saja ia tidak melakukan itu pasti ayahnya tidak akan pingsan dan demam seperti itu. Tapi semua telah terjadi dan ia harus segera minta maaf.
"Bunda." Sea mendekat ke arah bundanya. Clara hanya menatap sekilas lalu melanjutkan kegiatannya.
"Sea salah, Sea minta maaf. Tidak seharusnya Sea melakukan itu." Menjatuhkan tubuhnya lalu memeluk kaki bundanya dengan air mata yang bercucuran.
"Putri cantik bunda jangan menangis." Clara membawa putrinya untuk duduk di atas ranjang. Jarinya menghapus air mata putrinya yang membasahi pipi. "Kita keluar dulu, ayah sedang istirahat"
Clara dan Sea keluar dari kamar agar tidak menggangu Jhon dari tidurnya. Sebenarnya Jhon telah sadar dari pingsannya, ia kembali tidur karena merasa tidak enak badan.
Clara dan Sea kini berada di taman belakang. Ibu dan anak itu duduk di kursi taman menikmati sepoi-sepoi angin. Kicauan burung-burung terdengar begitu jelas. Hamparan-hamparan bunga cantik begitu memanjakan mata, mulai dari bunga tulip, anggrek, lavender, Lily dan mandevila. Tumbuh dengan subur dan bunga yang bermekaran mempercantik suasana taman tersebut.
Sudah 15 menit mereka duduk di kursi taman itu, namun belum ada yang membuka suara. Clara masih asik menikmati sepoi'an angan dengan memejamkan mata, sedangkan Sea hanya diam menatap sang bunda tidak berani untuk membuka suara.
5 menit...10 menit....15 menit, suasana masih tetap hening hanya terdengar kicauan burung dan suara angin. Sudah 30 menit mereka di taman itu tapi belum aja juga yang memulai untuk berbicara.
Sea tidak tahan dengan kebudayaan yang tercipta, dengan mengumpulkan keberanian sebanyak-banyaknya Sea membuka suara, "Apa bunda marah pada Sea?"
"Kamu pasti tahu jawabannya, sayang." Ucap Clara masih dengan mata terpejam.
"Bunda bisa memarahi Sea."
"Namun Bunda tidak bisa melakukannya." Clara membuka matanya. Memiringkan duduknya menatap sang anak. " Kamu tahu sayang, bunda juga ingin seperti para ibu lainnya. Memarahi anaknya ketika anaknya berbuat salah. Membentak anak mereka ketika emosi sudah tidak bisa di kuasai lagi. Memukul anak mereka ketika kesabaran telah habis. Namun bunda tidak bisa melakukan seperti itu kepada Sea."
"Mengapa?"
"Karena cinta dan kasih sayang bunda terlalu besar kepada Sea, begitu juga dengan Ayah. Ayah dan bunda terlalu menyayangi kamu sehingga kami tidak bisa marah ataupun membentak Sea. Jika kami melakukan hal itu maka kejadian 18 tahun yang lalu pasti akan terulang lagi dan bunda tidak ingin seperti yang dulu terjadi kembali. Lebih baik ayah dan bunda marah pada diri sendiri daripada harus marah pada putri nakal kami."
Sea kembali mengingat kejadian 18 tahun yang lalu, dimana ia masih berumur 4 tahun. Pada waktu itu Sea kecil tidak sengaja memecahkan Gucci kesayangan Clara. Clara marah, benda berharga satu-satunya pemberian mendiang ibunya telah hancur tidak terbentuk lagi hingga tanpa sadar ia membentak putri kecilnya yang sedang menangis dalam diam. Jiwa Sea kecil sedikit terguncang sehingga Sea kecil jatuh sakit dan tidak sadarkan diri.
Sea kecil harus di rawat di rumah sakit selama dua bulan dalam keadaan belum sadarkan diri. Jhon dan Clara semakin bertambah khawatir melihat keadaan putri mereka. Sudah berbagai rumah sakit terbaik mereka kunjungi, namun tetap saja putri kecil mereka belum sadarkan diri. Bahkan Jhon sudah memanggil para dokter terbaik mulai dalam negeri sampai luar negeri dan penjelasan dokter masih tetap sama. Dokter menjelaskan bahwa putri kecil mereka tidak memiliki penyakit yang serius, bahkan dokter tidak menemukan adanya penyakit dalam tubuh putri kecil mereka. Yang membuat para dokter bingung mengapa anak kecil itu belum juga membuka kedua matanya. Tidak mungkin meninggal, pernafasannya saja begitu sangat bagus, begitu pemikiran para dokter.
Hingga ada salah satu dokter menyuruh Jhon dan Clara mencoba membawa Sea kecil kepada dokter spikolog. Dokter spikolog bilang kalau jiwa Sea kecil terguncang hal itulah yang menyebabkan Sea kecil enggan membuka matanya. Ini salah satu penyakit khusus yang seseorang yang jarang di temui. Jika ada yang mempunyai penyakit langka seperti ini di sarankan untuk tidak memarahinya atau membentak bahkan sampai memukulnya. Hal itu dapat menyebabkan jiwa seseorang terguncang , dapat mengalami depresi berat bahkan sampai membuat nyawanya tidak tertolong.
Dokter menyarankan kepada Jhon dan Clara untuk selalu mengajak bicara sang anak agar jiwanya kembali normal sehingga Sea kecil mau untuk membuka matanya dan jangan pernah mengulangi hal seperti itu lagi.
Jhon dan Clara melakukan saran dokter dengan baik. Setiap detik mereka selalu mengajak berbicara, walaupun putri mereka tidak merespon mereka tetap melakukannya. Hingga dua hari kemudian putri kecil mereka mau membuka matanya. Mulai pada saat itu, Jhon dan Clara tidak pernah lagi memarahi atau membentak putri mereka hingga pada saat ini.
"Maafin Sea bunda." Sesalnya sambil menunduk kepala.
Clara mengangkat dagu putrinya, menatap dalam bola mata putrinya yang berkaca-kaca. " Sebelum Sea memintanya, bunda sudah melakukannya. Boleh bunda minta sesuatu sama Sea?".
"Apapun itu."
"Sekarang Sea sudah menikah, sudah mempunyai Suami. Sea harus lebih dewasa lagi, kurangi kebebasan kamu. Sea harus menjalani kewajiban kamu sebagai seorang istri, turut dengan perkataan suami jangan pernah membantah. Sebab surga seorang istri berada di bawah kaki suami. Sea paham maksud perkataan bunda?"
Sea mengangguk mengerti, "Sea paham bunda. Sea akan mencoba melakukannya."
"Harus!"
tapi endingnya sad😭