NovelToon NovelToon
BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eunoia Fashion

Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Matahari pagi menembus jendela apartemen dengan sangat terang, membuatku mengerjap-ngerjap silau. Hal pertama yang kurasakan saat kesadaranku penuh adalah rasa hangat yang luar biasa di sekeliling tubuhku. Dan hal kedua adalah... suara detak jantung yang beraturan tepat di bawah telingaku.

Aku mendongak perlahan. Wajah Arkan yang sedang tidur tanpa beban berada tepat beberapa sentimeter di depan wajahku. Lengan kekarnya melingkar erat di pinggangku, mengunci tubuhku sampai tidak ada jarak tersisa. Kami berdua ketiduran di sofa setelah badai semalam, dengan posisi aku yang meringkuk di atas dadanya seperti bayi koala.

Ingatan tentang pengakuan Arkan semalam soal "baju tidur seksi" langsung terngiang-ngiang di otakku. Pipiku mendadak terasa panas. Pria sok dingin ini ternyata bisa se-gesrek itu kalau sudah urusan bucin.

Aku mencoba melepaskan tangannya pelan-pelan agar tidak membangunkannya. Tapi begitu aku bergerak sedikit, pelukannya malah semakin mengerat. Mata elang Arkan terbuka perlahan, menatapku dengan pandangan sayu khas bangun tidur yang—sialan—terlihat sangat tampan.

"Mau kabur ke mana, Nyonya Mahendra?" suara baritonnya terdengar sangat serak dan berat, membuat bulu kudukku meremang.

Aku berdehem, mencoba mengumpulkan sisa-sisa gengsiku yang sempat hilang semalam. "Lepas, Arkan. Sudah pagi. Aturan lima meter kita kemarin belum sepenuhnya batal ya."

Arkan mendengus, lalu perlahan melepaskan pelukannya dan duduk tegak di sofa sambil meregangkan otot lehernya. Wajahnya langsung berubah datar dan kaku lagi, kembali ke mode bos besar yang angkuh.

"Aturan lima meter itu sudah hangus sejak kamu memeluk leherku erat-erat sambil menangis ketakutan semalam," ketus Arkan, meskipun sudut bibirnya sedikit berkedut menahan senyum. "Jadi, jangan coba-coba membuat aturan aneh lagi. Itu membuatku... maksudku, membuat aktivitas di apartemen ini jadi tidak efisien."

"Alasan saja! Bilang saja kamu tidak bisa jauh-jauh dariku, kan?" godaku sambil menjulurkan lidah, berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.

Arkan berdiri dari sofa, memalingkan mukanya yang mulai merona merah samar. "Jangan terlalu percaya diri, Naura. Aku hanya mengkhawatirkan kesehatan psikologis istriku. Sebagai suami yang bertanggung jawab, aku harus memastikan kamu tidak stres."

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah *tsundere* akutnya. Pria ini kalau disuruh mengaku sayang secara langsung, rasanya seperti disuruh menelan batu kerikil. Gengsinya benar-benar setinggi Monas!

***

Tepat jam delapan pagi, bel pintu apartemen berbunyi. Aku membuka pintu dan menemukan Hadi berdiri di sana dengan setelan jas rapi, memegang sebuah kotak karton berwarna hitam eksklusif dengan pita merah besar di atasnya.

"Selamat pagi, Bu Naura," sapa Hadi dengan senyum sopan yang terlihat agak canggung. "Saya mengantarkan dokumen penting... eh, maksud saya, pesanan khusus milik Pak Arkan yang sempat tertunda kemarin."

Arkan yang baru selesai mandi dan sudah memakai kemeja kerja tanpa dasi, langsung muncul di ruang tamu. Begitu melihat kotak yang dipegang Hadi, wajah Arkan yang tadinya putih bersih langsung berubah merah padam seperti kepiting rebus.

"Hadi! Siapa yang menyuruhmu mengantarkan kotak itu ke sini pagi-pagi?!" seru Arkan dengan nada suara yang naik satu oktaf, sangat panik.

Hadi mengerjap bingung. "Lho, bukankah Bapak kemarin bilang lewat pesan singkat kalau barang ini harus sampai sebelum Ibu Naura berangkat ke kantor, agar bisa langsung dicoba—"

"Hadi, diam atau kupotong gajimu tiga bulan!" potong Arkan cepat, langsung menyambar kotak itu dari tangan Hadi dengan gerakan secepat kilat.

Aku menyipitkan mata, insting kepo-ku langsung meronta-ronta. "Tunggu dulu. Kotak apa itu? Jangan-jangan itu baju tidur seksi yang kamu ceritakan semalam?"

"Bukan!" bantah Arkan keras, menyembunyikan kotak itu di belakang punggungnya sambil berjalan mundur. "Ini... ini adalah sampel kain pembungkus kursi kantor yang baru! Sangat rahasia dan sensitif untuk proyek masa depan!"

"Kain pembungkus kursi kantor pakai pita merah besar dan kotak eksklusif begitu? Jangan bercanda ya, Arkan Mahendra!"

Aku langsung menerjang maju, mencoba merebut kotak itu dari belakang punggungnya. Arkan yang bertubuh jauh lebih tinggi dariku terus berputar-putar menghindar, membuat kami berdua malah terlihat seperti anak TK yang sedang rebutan mainan di tengah ruang tamu. Hadi yang melihat pemandangan itu hanya bisa memijat pelipisnya, pura-pura menatap langit-langit apartemen dengan pasrah.

*Bruk!*

Karena terlalu asyik menghindar, kaki Arkan tersangkut kaki meja dan tubuh besarnya jatuh telentang di atas karpet, dengan aku yang ikut jatuh tepat di atas perutnya. Kotak hitam itu terlepas dan terbuka lebar di lantai.

Sebuah pakaian tidur berbahan sutra tipis berwarna merah menyala dengan potongan yang sangat—amat sangat—minim dan transparan terhampar dengan indahnya di depan mata kami. Di atasnya, ada kartu ucapan kecil dari butik bertuliskan: *“Semoga malam Anda menyenangkan, Pak Arkan.”*

Keheningan yang luar biasa canggung langsung menyelimuti ruangan.

Aku menatap baju itu, lalu menatap Arkan yang sekarang sedang menutup matanya dengan sebelah tangan karena terlanjur malu tingkat dewa. Wajahnya benar-benar sudah merah total sampai ke leher dan telinganya.

"Arkan..." bisikku dengan menahan tawa yang sudah di ujung tenggorokan. "Ini kain pembungkus kursi kantor model baru ya? Kreatif sekali desainer perusahaanmu."

Arkan membuka matanya, menatapku dengan pandangan frustrasi yang sangat lucu. "Hadi yang memilih ukurannya! Aku hanya membayar! Sudah, jangan dibahas lagi atau aku akan membakar butik itu hari ini juga!"

Dari arah pintu, Hadi berdehem pelan. "Maaf, Pak Arkan, saya pamit menunggu di dalam mobil saja sebelum saya benar-benar dipecat secara tidak hormat."

***

Setelah drama baju tidur sutra merah selesai dan kami sudah bisa bersikap sedikit normal, meskipun Arkan masih menolak menatap mataku secara langsung karena malu, kami duduk di meja makan untuk menyusun rencana.

Kami berdua tahu kalau saputangan dan parfum semalam adalah ulah licik Valerie untuk membuat kami bertengkar.

"Jadi, apa rencana kita?" tanyaku sambil mengoleskan selai ke roti bakarku. "Kita tidak bisa membiarkan mereka merasa menang."

Arkan menyesap kopi hitamnya, mencoba mengembalikan wibawa bos besarnya yang sempat hancur lebur tadi. "Mereka ingin kita bermusuhan, kan? Kalau begitu, kita berikan saja apa yang mereka mau. Kita akan berpura-pura sedang perang dingin di kantor."

Aku menaikkan sebelah alis. "Maksudmu, kita pura-pura bertengkar hebat?"

"Benar," angguk Arkan dengan wajah serius. "Biarkan Valerie berpikir kalau jebakan parfumnya berhasil. Dengan begitu, dia akan lengah. Kita lihat apa rencana yang ingin dilakukannya dari jebakan ini."

Aku tersenyum miring, menyukai ide ini. "Wah, menarik juga. Jadi aku harus bersikap galak dan mengabaikanmu di depan umum?"

"Ya," jawab Arkan, namun tiba-tiba matanya menatapku dengan tatapan bucin yang agak tersiksa. "Tapi ingat, Naura. Ini hanya akting di depan orang lain. Begitu di dalam ruangan tertutup atau di dalam lift yang sepi, kamu tidak boleh mengabaikanku. Mengerti?"

"Idih, bilang saja kamu tidak tahan kalau diabaikan olehku," ejekku sambil tertawa.

Arkan langsung memasang wajah ketus andalannya. "Ini demi menjaga kestabilan emosiku agar bisa memimpin perusahaan dengan baik. Tidak ada hubungannya dengan perasaan pribadi."

"Iya deh, terserah Pak CEO saja!"

***

Drama akting musuhan ini dimulai begitu kami menginjakkan kaki di lobi kantor Mahardika Group. Biasanya, Arkan akan berjalan di sampingku sambil menggandeng tanganku dengan posesif. Tapi hari ini, sesuai rencana, aku berjalan lima langkah di depannya dengan wajah cemberut dan langkah yang dihentak-hentak, seolah-olah aku sedang sangat marah besar.

Arkan berjalan di belakangku dengan wajah yang ditekuk sedalam mungkin, memancarkan aura menyeramkan yang membuat seluruh karyawan di lobi langsung merinding dan menepi.

Di dekat meja resepsionis, aku bisa melihat Dimas sedang berdiri bersama Valerie yang mengenakan seragam logistiknya. Begitu melihat kami berjalan terpisah dengan wajah penuh permusuhan, aku menangkap senyum kemenangan yang sangat lebar di wajah Dimas. Valerie pun tampak menahan senyum puasnya, mengira umpannya semalam benar-benar memicu perang dunia di rumah tangga kami.

"Selamat pagi, Pak Arkan, Bu Naura," sapa Dimas dengan nada suara yang dibuat seolah-olah prihatin, padahal matanya berbinar senang. "Wah, kok suasananya tegang sekali pagi ini? Ada masalah di rumah?"

Aku menghentikan langkahku, membalikkan tubuh, lalu menatap Arkan dengan pandangan super tajam—yang tentu saja hanya akting.

"Tidak ada masalah, Pak Dimas," jawabku dengan suara ketus yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh orang-orang di sekitar. "Hanya saja, ada beberapa orang di kantor ini yang tidak tahu diri dan suka membawa sampah masuk ke dalam ruangan pribadi. Permisi!"

Setelah mengucapkan kalimat pedas itu, aku langsung berbalik dan berjalan cepat menuju lift Divisi Pemasaran, meninggalkan Arkan yang sedang berdiri kaku.

Arkan yang harus membalas aktingku langsung menatap Dimas dengan pandangan membunuh. "Urus saja pekerjaanmu sendiri, Dimas. Jangan mencampuri urusan pribadiku kalau kamu masih ingin melihat meja kerjamu besok pagi!" gertak Arkan, lalu melangkah lebar menuju lift eksekutifnya dengan emosi yang tampak meledak-ledak.

Begitu pintu lift eksekutif tertutup rapat dan hanya menyisakan Arkan dan Hadi di dalamnya, Arkan langsung merosot dan bersandar di dinding lift sambil memegangi dadanya.

"Hadi..." keluh Arkan dengan wajah yang mendadak melas.

"Ya, Pak Arkan?"

"Akting Naura tadi... kenapa rasanya sangat nyata ya? Tatapan matanya tadi benar-benar dingin sekali. Apakah dia sebenarnya masih marah padaku soal baju tidur merah itu?" tanya Arkan dengan nada panik yang sangat kekanakan.

Hadi menghela napas panjang, merasa kalau bosnya ini sudah benar-benar kehilangan kewarasannya akibat terlalu bucin. "Pak, itu namanya akting yang totalitas. Bukankah Bapak sendiri yang meminta beliau untuk bersikap galak?"

"Tapi itu terlalu galak, Hadi! Jantungku rasanya mau copot melihatnya memelototiku seperti itu," gerutu Arkan sambil merapikan jasnya saat lift berdenting tiba di lantai atas. "Aku tidak suka rencana ini.

1
Kristina Sambas
alur cerita lucu, menarik, tapi aneh kenapa yg baca nya dikit yaa
pokonya terus semangat author
Eunoia Fashion: Terimakasih ya 🥰🙏
total 1 replies
Maya Sari
Semangat💪
Eunoia Fashion: Terimakasih 🥰
total 1 replies
Read_Forever👄
bagus kak novelnya, semangat sampai tamat
Eunoia Fashion: terimakasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!