"Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."
Demi wasiat kedua kakaknya. Aruna dan Gavin terpaksa menikah saat itu juga. untuk menggantika peran kedua kakaknya pada keponakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Suara gelak tawa Gavin mendadak lenyap begitu ia melangkah masuk ke dalam unit apartemen. Atmosfer di dalamnya begitu pekat dan dingin, seolah-olah seluruh oksigen telah disedot keluar. Langkah Gavin terhenti di ruang tengah.Ponsel yang sejak tadi menempel di telinganya hampir saja jatuh.
Di sana, Aruna berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada. Tatapan matanya lurus, tajam, dan sedingin es—menghunus tepat ke arah jantung Gavin. Di samping sofa, duduk seorang pria paruh baya berstelan jas rapi dengan koper kulit di sampingnya. Pak Eza. Sementara Kenzie sudah tertidur kembali di dalam kamar setelah kelelahan menangis, menyisakan keheningan yang mencekam di ruangan itu.
"Eh... Aruna? Pak Eza? Ada apa ini ya?" tanya Gavin, mendadak gugup. Sisa aura kesenangannya dari kafe bawah menguap tak berbekas.
Plak!
Sebuah tamparan Aruna berikan pada pipi mulus milik Gavin. Membuat pria tersentak kaget mendapatkan sebuah cap lima jari dari Aruna.
"Dari mana kamu, Gavin?" tanya Aruna. Suaranya tidak meledak-ledak, namun justru nada rendah yang bergetar penuh amarah itu jauh lebih mengerikan.
"Aku... Aku cuma dari kafe bawah. Ngopi bentar sama teman ku. Kenzie kan lagi tidur tadi, Ru. Cuma bentar doang—"
"Bentar kamu bilang?!" Aruna maju satu langkah, napasnya memburu. "Mau sebentar atau lama ! Kamu telah meninggalkan anak usia satu setengah tahun sendirian di apartemen ini! Kamu tahu apa yang terjadi kalau dia terbangun dan memanjat balkon? Kamu tahu apa yang terjadi kalau ada korsleting listrik?! Kamu egois, Gavin! Kamu bajingan yang gak punya hati!"
Gavin tertegun, lidahnya mendadak kelu. Rasa bersalah mulai menggerogoti dadanya saat menyadari kebodohannya sendiri.
"Sudah, Mbak Aruna. Tolong tenangkan diri Anda dulu," sela Pak Eza dengan suara berat dan berwibawa. Pria paruh baya itu membetulkan letak kacamata minusnya, lalu menatap Gavin dengan tatapan menghakimi. "Saudara Gavin, silakan duduk."
Mau tak mau, Gavin berjalan dengan langkah berat dan duduk di sofa seberang Pak Eza, sementara Aruna tetap berdiri, enggan berada dekat-dekat dengan suaminya.
"Saudara Gavin," Pak Eza membuka suara, nadanya tenang namun menekan. "Tindakan Anda hari ini sudah memenuhi unsur kelalaian berat dalam pengasuhan. Berdasarkan perjanjian wasiat almarhum Rendy, hak asuh Kenzie dan seluruh aset yang menyertainya bisa dicabut secara mutlak jika salah satu pihak terbukti membahayakan keselamatan fisik maupun psikologis anak. Mbak Aruna punya hak penuh untuk mendepak Anda dari sini tanpa membawa sepeser pun harta peninggalan kakak Anda."
Gavin mengepalkan tangannya di atas lutut. "Saya mengaku salah, Pak. Saya teledor. Tapi saya benar-benar gak ada niat buruk—"
"Niat tidak merubah fakta bahwa Anda meninggalkan batita sendirian, Gavin!" potong Pak Eza tegas. "Saya di sini bukan hanya sebagai pengacara, tapi sebagai orang yang dipercaya oleh almarhum Rendy dan mendiang kedua orang tuan anda."
Pak Eza menghela napas panjang, tatapannya melembut namun menyiratkan keprihatinan yang mendalam saat memandang Gavin dan Aruna bergantian.
"Dengarkan saya, kalian berdua. Menikah di usia muda dan dipaksa mengasuh anak dalam situasi berduka memang tidak mudah. Saya tahu kalian berdua merasa asing satu sama lain. Tapi ego kalian harus diredam. Almarhum Rendy tidak bodoh dengan memberikan hak asuh Kenzie kepada kalian secara cuma - cuma, apa lagi sampai mengikat kalian dalam pernikahan."
Aruna mengerutkan kening. "Apa maksud Pak Eza? Bukankah Bang Rendy hanya ingin Kenzie diurus oleh keluarga kandungnya?"
Pak Eza tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh teka-teki yang membuat bulu kuduk Gavin mendadak meremang. Pria paruh baya itu condong ke depan, merendahkan suaranya.
"Rendy tahu persis apa yang dia lakukan sebelum kecelakaan tragis itu terjadi. Dia mengikat kalian berdua dalam satu atap untuk satu alasan utama: Perlindungan."
"Perlindungan?" Gavin mengulangi kata itu dengan dahi berkerut. "Dari siapa?"
Pak Eza tidak langsung menjawab. Ia membuka koper kulitnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat bersegel lilin hitam yang belum pernah dilihat oleh Aruna maupun Gavin sebelumnya.
"Rendy tahu posisinya di perusahaan sedang terancam. Dia tahu ada pihak-pihak yang menginginkan kejatuhannya, dan yang paling mengerikan... mereka mengincar aset terbesar yang nantinya akan jatuh ke tangan Kenzie sebagai ahli waris tunggal," ucap Pak Eza, matanya menatap Gavin dengan tajam.
"Gavin, saya ingin kamu mulai membuka mata lebar-lebar. Jangan terlalu naif. Berhati-hatilah dengan orang-orang terdekatmu. Terutama... mereka yang saat ini berada di jajaran direksi dan manajemen perusahaan milik keluarga mu."
Jantung Gavin berdegup kencang. Pikiran-pikirannya langsung melayang ke beberapa nama di kantor, yang tak asing dibenaknya. Mengapa Pak Eza tiba-tiba membahas soal ini?
"Pak Eza... apa maksud Bapak sebenarnya? Apakah kecelakaan Bang Rendy..." Aruna menggantung kalimatnya, matanya membelalak kaget saat sebuah spekulasi mengerikan terlintas di kepalanya.
Pak Eza segera mengangkat tangan, mengisyaratkan Aruna untuk berhenti bicara. Ia meletakkan amplop bersegel itu kembali ke dalam kopernya.
"Saya belum bisa bicara lebih banyak tanpa bukti fisik yang solid. Tapi satu hal yang pasti: jika kalian berdua sibuk bertengkar, sibuk dengan ego masing-masing, dan lalai seperti hari ini... kalian sedang membukakan pintu bagi 'serigala' itu untuk masuk dan melukai Kenzie."
Pak Eza berdiri, merapikan jasnya. "Pikirkan baik-baik wejangan saya. Mulai hari ini, Saudara Gavin, ini adalah peringatan pertama dan terakhir dari saya. Jika hal seperti ini terulang lagi, saya sendiri yang akan memastikan Anda kehilangan segala hak Anda, baik atas Kenzie maupun perusahaan."
Dengan langkah tenang namun berwibawa, Pak Eza berjalan menuju pintu keluar, meninggalkan pasangan suami-istri itu dalam keheningan yang jauh lebih mencekam daripada sebelumnya.
Aruna menatap Gavin dengan tatapan yang kini dipenuhi campur aduk antara amarah dan rasa was-was yang mendalam. Sementara Gavin terpaku di tempat duduknya, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Kata-kata Pak Eza terus berdengung di kepalanya.
'Orang terdekat? Siapa yang sebenarnya merencanakan semua ini? Dan apakah kecelakaan bang Rendy dan Kak Adisti... benar-benar murni kecelakaan?'
Bersambung...
tapi bagus run keren Badas Banggt dari pada pusing Meding enjoy sama ponakan
lagi dong Thor