Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Jamuan sarapan pagi yang hangat itu akhirnya selesai. Kelvin segera bangkit dari kursi kebesarannya, merapikan sedikit jas hitam mahal yang membungkus tubuh tegapnya. Di hadapan seluruh anggota keluarga yang masih duduk di meja makan, ia berpamitan dengan nada suara yang formal dan dingin.
"Eyang, Papa, Mama... Kelvin berangkat ke kantor sekarang. Ada rapat penting dengan dewan direksi jam sembilan ini," pamit Kelvin sembari mengancingkan jasnya.
"Iya, berhati-hatilah, Kelvin. Ingat pesanku, kurangi stresmu dan dengarkan kata istrimu soal kesehatan," sahut Eyang Arka dengan nada yang jauh lebih lembut dari biasanya, membuat Kelvin hanya bisa mengangguk kaku.
Kelvin berbalik dan melangkah lebar menuju pintu utama, berniat untuk segera keluar dari rumah yang atmosfernya kini telah dikuasai oleh Denada. Namun, baru beberapa langkah ia berjalan mendekati lobi, sebuah suara lembut yang sangat kukuh menghentikan pergerakannya.
"Mas... tunggu sebentar," panggil Nada cukup keras, sengaja agar suaranya terdengar sampai ke ruang makan.
Kelvin menghentikan langkahnya secara refleks. Ia berbalik dan mendapati Nada tengah berjalan cepat ke arahnya dengan senyuman yang sangat manis dan teduh. Siska dan Eyang Arka yang melihat hal itu dari kejauhan langsung saling melempar senyum menggoda, menyaksikan interaksi sepasang pengantin baru tersebut.
Sebelum Kelvin sempat mengeluarkan sepatah kata pun untuk memprotes, Nada sudah berdiri tepat di hadapannya. Dengan gerakan yang sangat alami dan luwes, Nada mengulurkan kedua tangan lembutnya, meraih tangan kanan Kelvin yang terasa kaku dan dingin.
Grep.
Kelvin tersentak kecil saat jemari hangat Nada mengunci tangannya. Detik berikutnya, Nada sedikit membungkukkan tubuh anggunnya, membawa tangan kanan Kelvin mendekat ke wajahnya, lalu mengecup punggung tangan suaminya itu dengan sangat takzim dan lembut. Aroma wangi melati yang masih tersisa dari rambutnya seketika berembus, menyapa indra penciuman Kelvin untuk kesekian kalinya.
Setelah menyalami suaminya, Nada menegakkan tubuhnya kembali. Ia menatap lurus ke dalam manik mata hitam Kelvin yang sedang menatapnya dengan pandangan syok yang tertahan.
"Semangat kerja ya, Mas Kelvin. Jangan lupa makan siangnya nanti, aku tidak mau maag-mu kambuh lagi seperti semalam," bisik Nada dengan nada suara yang dibuat seolah-olah ia adalah istri paling perhatian di dunia. Namun, jika dilihat dari jarak dekat, ada kilatan jenaka yang menantang di dalam sepasang mata indahnya.
Kelvin terdiam mematung di tempatnya berdiri selama beberapa detik. Jantungnya sempat melewatkan satu detakan karena serangan afeksi yang tiba-tiba ini. Namun, sedetik kemudian, rasa kesal yang luar biasa langsung bergejolak di dalam dadanya. Pria itu sadar, ia kembali dijebak oleh sandiwara sempurna milik wanita ini di depan keluarganya.
Rahang Kelvin mengeras, dan tatapan matanya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan tajam. Ia ingin sekali menyentakkan tangannya dan mengomeli Nada saat itu juga, menegaskan kembali batasan di antara mereka.
Akan tetapi, lirikan mata Siska yang penuh pengawasan dari arah ruang makan membuat Kelvin terpaksa menelan bulat-bulat harga diri dan amarahnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan ekspresi wajah tampannya agar tetap terlihat normal di depan keluarga besarnya.
"Ya. Aku pergi," jawab Kelvin pendek dengan suara baritonnya yang ditekan serendah mungkin, memberikan nada peringatan yang terselubung.
Kelvin langsung menarik tangannya dari genggaman Nada dengan gerakan yang agak cepat namun tetap terlihat sopan dari jauh. Ia berbalik dan melangkah lebar-lebar keluar menuju mobil limosin hitamnya yang sudah menunggu di lobi dengan pintu terbuka.
Begitu masuk ke dalam mobil dan pintu ditutup rapat, Kelvin memukul kemudi di depannya dengan kesal. Di balik kaca mobil yang gelap, ia bisa melihat Nada masih berdiri di ambang pintu rumah mewah itu, melambaikan tangan padanya dengan senyuman kemenangan yang penuh arti. Kelvin mengepalkan tangannya kuat-kuat; gadis desa itu benar-benar tahu bagaimana cara mengendalikan setiap situasinya.