NovelToon NovelToon
Langit Pasar Subuh

Langit Pasar Subuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:19.4k
Nilai: 5
Nama Author: Attalla Faza

Dinara Sasikirana kembali memulai hidup baru dari nol pasca perceraiannya dengan Tri Bayu. Rumah tangga yang ia bangun selama 5 tahun harus kandas karena mantan suaminya berniat melakukan poligami.


Dinara mundur demi menyelamatkan harga dirinya, meski ia tak punya apapun yang jadi tujuan hidupnya.

" Kamu nggak mau pulang ke Ngawi aja, Di? " tanya Mela sahabatnya

" Pulang dengan status janda? Yang ada aku di caci maki sama ibu dan bapakku, belum lagi cibiran warga yang anti banget sama janda.

Padahal belum tentu juga aku tertarik sama suami mereka. Makanya aku milih untuk tetap di kota ini, aku harus kerja dan berdiri di kaki sendiri, Mel"

" Bagus Di, aku suka prinsip hidupmu yang nggak menye-menye. Buktikan kalau kamu bisa bangkit dan nggak jadi beban buat mantan suamimu "

Dinara memang sarjana lulusan S1 di bidang marketing, tapi sayangnya ijazah itu tak pernah ia pakai sejak lulus 3 tahun lalu.

Ia terus mencari pekerjaan meski tak mudah, hingga akhirnya ia diterima kerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langit Dingin

Jam menunjukkan pukul setengah lima pagi saat Dinara sampai pasar. Langit malam belum sepenuhnya beranjak, masih gelap pekat dengan sisa-sisa kabut tipis yang membuat udara terasa menusuk sampai ke tulang. Namun di Pasar Induk Kasturi, riuh rendah aktivitas sudah berjalan kencang seolah siang hari. Suara teriakan, deru mesin truk, dan cipratan air menjadi musik pagi yang khas di tempat itu.

Dinara dan Ferdi melangkah hati-hati menyusuri jalanan yang basah dan becek. Keduanya sudah siap tempur dengan mengenakan sepatu bot karet tebal yang baru dibeli kemarin sore khusus untuk tugas ini. Ferdi berjalan di depan membelah kerumunan, sementara Dinara mengikuti di belakang sambil memegang ujung jaket rekan kerjanya itu agar tidak terpisah.

Di bawah sorot lampu-lampu terang yang menggantung rendah, terlihat sosok Langit berdiri tegak di antara tumpukan peti kayu dan balok es. Pria itu masih dengan gaya khasnya: kaos oblong yang sudah agak kusam terkena percikan air laut, celana pendek kain selutut, dan topi yang sedikit miring. Wajahnya datar, tatapannya tajam mengawasi setiap gerak-gerik anak buahnya yang sibuk menurunkan barang dari bak truk. Di tangannya tergenggam buku catatan kecil dan pulpen, sesekali ia mencatat sesuatu dengan tulisan tangan yang rapi.

Langit bukanlah pedagang eceran biasa, ia adalah pemasok utama hasil laut di daerah itu. Pelanggannya beragam, mulai dari pemilik warteg pinggir jalan, rumah makan sederhana, kafe kekinian, hingga restoran besar dan ternama seperti Kembang Desa. Tak heran jika lapaknya menjadi pusat perhatian dan ramai didatangi pembeli.

"Peti untuk warung Bu Neni sudah oke?" tanya Langit dengan suara berat namun jelas.

"Sudah Mas, tadi saya cek sesuai daftar, quality dan quantity sudah pas semua," jawab salah satu anak buahnya sambil membersihkan tangan di kain lap.

Langit menggeleng pelan, wajahnya tak menunjukkan tanda puas. Ia menunjuk satu peti di hadapannya.

"Buka! Aku mau cek sendiri! " perintahnya tegas.

Dengan sigap peti itu dibuka. Langit berjongkok dan tangannya yang besar itu menyelusup ke tumpukan ikan yang masih segar bercampur es. Ia memeriksa satu per satu, mengangkat ekornya, melihat kejernihan mata ikan, hingga mencium aroma khas laut yang segar. Bagi Langit, kepercayaan pelanggan adalah harga mati. Sekali saja ada barang yang tak sesuai standar, nama baiknya hancur.

Dinara mengamati adegan itu dari jarak beberapa langkah. Ia menopang dagu sedikit, matanya tak lepas dari gerak-gerik Langit yang begitu teliti dan berwibawa. Ada rasa kagum yang perlahan tumbuh di hatinya. Di tempat yang kotor, amis, dan penuh lumpur ini, pria itu berdiri begitu kokoh, seolah memegang kendali penuh atas lautan dan segala isinya. Tanpa sadar, bibir Dinara melengkung membentuk senyum kecil, cengiran iseng yang entah muncul dari mana.

"Kowe nopo to, Mbak? Naksir ya sama Mas Langit?"

Tiba-tiba suara Ferdi memecah lamunan Dinara. Laki-laki itu berbisik sambil menyenggol bahu Dinara dengan bahunya, wajahnya penuh senyum jail yang tak bisa disembunyikan.

PLAK!

Tanpa pikir panjang, Dinara langsung menggebuk lengan Ferdi cukup keras sampai membuat laki-laki itu meringis tertahan.

"Sembarangan aja mulutnya! Mana ada aku naksir sama dia." elak Dinara.

Ferdi tertawa kecil sambil mengusap lengannya yang terasa panas.

"Iya aku tau. Kalau dibanding sama mantanmu yang kemarin nyamperin ke resto, emang Mas Langit kelihatan agak down grade dikit sih Mbak. Mas Kamprett kan rapi, wangi dan baju kerja kantoran."

Ferdi mendekatkan wajahnya lagi, nada bicaranya berubah jadi serius tapi tetap bercanda. "Tapi inget loh Mbak, penampakan bisa dibohongi. Mas Langit itu punya belasan perahu, punya kapal sewaan, stoknya paling besar di sini. Dia itu lebih sugih jauh dibanding mantanmu si Mas Kamprett itu. Setidaknya dia bos di bisnisnya sendiri, ngatur rezeki sendiri. Bukan budak korporat yang kalau disuruh maju nggak boleh mundur, disuruh mundur nggak boleh maju."

Dinara mendengus kesal, tapi di dalam hati ia mengakui kebenaran kata-kata Ferdi. Mas Tri, mantan suaminya, memang terlihat mapan dan berwibawa di luar sana. Pakaian rapi, jabatan Supervisor terdengar mentereng. Tapi nyatanya?

"Bodo amat Mas, udah jangan bahas soal itu. Bikin pusing aja," potong Dinara cepat. "Kita harus kelar nyortir barang cepet-cepet, biar keburu sholat Subuh di Masjid dekat pasar."

"Oke oke, siap Bos!" Ferdi mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.

Mereka pun melangkah mendekat ke lapak Langit. Saat jarak tinggal beberapa meter, Langit menoleh. Tatapannya masih sama, datar, dingin, dan tajam. Seolah menilai mereka berdua sebagai pelanggan, bukan sebagai manusia yang bisa diajak bercanda.

"Mas Langit, kita mau cek pesanan Kembang Desa," sapa Ferdi ramah sambil nyengir lebar, berusaha mencairkan suasana beku di sekitar pria itu.

Langit hanya mengangguk singkat, lalu menunjuk ke arah tumpukan peti yang sudah diberi tanda warna merah. "Barang kamu ada di sana. Belum saya pindahkan, biar kalian cek sendiri. Saya baru percaya kalau kalian sudah pegang sendiri."

"Siap, Mas! Eh, Mas, aku izin ke toilet dulu boleh? Kebetulan kebelet banget nih, tadi buru-buru lupa mampir," kata Ferdi sambil memegangi perutnya sedikit. Ia memang punya kebiasaan 'kamar kecil' yang sering dan mendadak.

Langit menunjuk sebuah bangunan kecil permanen di ujung lapaknya, terpisah dari keramaian pasar utama. Bangunannya catnya masih putih bersih, kontras banget sama sekitarnya yang penuh lumpur.

"Toiletnya sebelah sana. Itu bangunan khusus punya saya. Insya Allah bersih, ada air mengalir sama sabun. Hanya saya dan anak buah saya yang pakai, jadi tidak seperti toilet umum yang becek dan bau," jawab Langit singkat lalu kembali menunduk memeriksa catatannya.

" Nggih Mas, makasih ya," Ferdi melenggang pergi dengan langkah cepat meninggalkan Dinara sendirian berhadapan dengan 'Es Batu Berjalan' alias Mas Langit.

Suasana jadi hening sejenak. Hanya terdengar suara orang lewat dan bunyi air yang dibuang. Dinara menelan ludah, berusaha memecah kebekuan itu dengan pertanyaan santai, basa-basi standar yang biasa dilakukan kalau lagi transaksi jual beli. Ia membuka buku catatannya, pura-pura sibuk tapi matanya melirik ke arah tumpukan ikan yang bermacam-macam jenisnya.

"Ehm... Mas Langit," panggil Dinara pelan.

Langit mengangkat wajah sedikit, menatap sekilas. "Ya?"

" Sekarang ini lagi musim ikan apa ya, Mas? Soalnya saya lihat banyak banget ikan kembung dan layang yang masuk, tapi ikan tenggiri ukuran besar agak jarang ya?" tanya Dinara berusaha ramah. Ia berharap jawaban Langit bisa panjang lebar biar obrolan nyambung.

Langit meletakkan pulpennya, wajahnya yang dingin sedikit berubah jadi lebih hidup saat membahas soal laut, seolah itu satu-satunya topik yang ia anggap penting.

"Itu tergantung anginnya, Mbak. Di laut sini, segala sesuatu diatur sama Angin Barat dan Angin Timur," jelasnya dengan nada suara yang tenang tapi lugas. "Sekarang ini lagi masuk musim Angin Barat. Anginnya kencang, bawa arus yang dingin dan banyak zat hara dari dasar laut naik ke permukaan. Nah, itu yang bikin ikan-ikan kecil kayak kembung, layang, selar, dan tembang berdatangan buat makan plankton. Jumlahnya melimpah sampai-sampai nelayan bisa dapat ratusan kilo sekali jalan."

Langit berhenti sebentar, lalu menunjuk ke arah peti lain yang tertutup kain.

"Kalau tenggiri besar yang kamu cari? Itu ikan pemburu, suka air yang agak tenang dan hangat. Biasanya banyak pas Angin Timur datang, lautnya tenang, ombaknya kecil. Kalau sekarang dipaksa cari tenggiri ukuran besar, dapetnya dikit, harganya mahal, dan belum tentu dagingnya padat. Laut lagi kasar, Mbak. Kita harus ikut iramanya, nggak bisa memaksa."

Dinara mengangguk-angguk antusias, mencatat penjelasan itu ke dalam buku kecilnya. "Oalah... jadi gitu ya konsepnya. Kirain ikan ada terus tiap hari, ternyata ngikutin angin ya. Pinter juga angin di sini, ngatur-ngatur ikan."

Langit diam saja, nggak tersenyum juga nggak marah. Cuma diam.

Dinara merasa penjelasan tadi cukup lancar, jadi ia memberanikan diri nanya lagi, kali ini agak sedikit nyelip ke ranah pribadi. Kan lumayan, biar akrab, biar nanti kalau ada apa-apa enak ngomongnya.

"Mas Langit ini tinggalnya di daerah mana sih? Pasti di pinggir pantai ya? Biar deket sama kapal, pagi-pagi gampang berangkatnya. Apa rumahnya ada dermaganya sendiri gitu?" tanya Dinara sambil nyengir manis, berharap dapat cerita seru.

Langit berhenti menulis. Ia menatap Dinara lekat-lekat, sorot matanya kembali sedingin es yang ada di peti-peti itu.

"Kenapa Mbak tanya-tanya soal kehidupan saya?" tanyanya balik, nadanya dingin banget, persis kayak lagi ngomong sama orang asing yang mau pinjam uang. "Kita di sini kerja sama cuma terkait masalah bahan baku dan pasokan ikan. Soal tempat tinggal atau kehidupan pribadi saya, itu di luar kontrak kita. Fokus aja sama barang yang mau dibeli, Mbak. Nggak perlu basa-basi berlebihan."

Deg!

Dinara langsung membeku. Senyum manisnya hilang seketika, diganti ekspresi tertohok parah. Mulutnya menganga sedikit nggak percaya. Dalam hati, Dinara sudah teriak kencang.

'Ya Allah... padahal cuma nanya doang lho! Apa susahnya jawab 'iya' atau 'deket kok'?! Dia ngerti nggak sih bahasa basi-basi, pergaulan, dan sopan santun?! Masak nanya alamat rumah dikit langsung diserang gitu, kayak aku mau nyulik anaknya aja!'

Dinara membalikkan badan sedikit sambil menggerutu pelan banget, cuma bisa didengar sama dirinya sendiri. "Dih...ini orang nyebelin banget sih. Udah kaya patung bisu dikasih nyawa, kalau ngomong seperlunya aja kayak nanggung dosa."

"Iya, saya dengar loh apa yang Mbak ucapkan."

Suara berat itu tiba-tiba terdengar persis di belakang telinga kanan Dinara. Dinara kaget setengah mati sampai badannya meloncat ke depan saking kagetnya.

"Allahuakbar! Ya Allah Mas!" jerit Dinara sambil memegangi dada yang berdebar kencang. Mukanya pucat campur merah.

Langit berdiri di belakangnya dengan wajah tetap datar, tidak ada rasa bersalah sama sekali karena sudah bikin pelanggannya hampir kena serangan jantung subuh-subuh begini. Di tangannya sekarang ada satu peti kecil berisi ikan tenggiri ukuran sedang yang cukup mulus.

"Kamu butuh tenggiri kan? Ini sisa stok bagus yang ada. Harganya saya kasih pas, karena kamu rajin datang sendiri pagi-pagi begini. Ambil ini, kualitasnya masih oke meski lagi bukan musimnya," ucap Langit tenang, seolah tadi nggak baru aja mendengar Dinara menggunjingnya.

Dinara menatap ikan itu, lalu menatap Langit, lalu menatap ikan itu lagi. Ia menghela napas panjang, menelan gengsi dan kekesalannya.

"Oke... makasih, Mas. Yang penting dagingnya padat ya? Jangan yang lembek Mas, nanti saya komplain loh." ancam Dinara setengah bercanda setengah serius.

Langit hanya mendengus pelan, ada sedikit kerutan di dahinya yang seolah berkata 'Ribet banget sih cewek satu ini'.

"Ambil aja. Kalau barang saya jelek nggak usah dibayar."

Dinara mengangguk patuh, buru-buru mencatat harga dan jumlahnya. Di ujung sana, Ferdi sudah terlihat berjalan kembali dengan wajah lega.

" Nah gitu dong, kalian ngobrol biar chemistry nya makin kuat" ledek Ferdi yang sengaja membiarkan Mas Langit dan Dinara ngobrol.

Dinara melotot tajam ke arah Ferdi. "Diem kamu Mas, jangan memperkeruh suasana! Dia cuma jelasin soal arah angin doang kok, nggak lebih! Udah ayo cek barangnya, nanti Mas Langit marah loh. Dia orangnya sensitif, dikit-dikit tersinggung dikit-dikit ngambek!"

Langit yang sedang berjalan pergi membawa catatan berhenti sebentar, menoleh tanpa ekspresi. "Saya dengar lagi loh."

"Ya Allah ampun... kok pendengaran dia sejelas itu sih? Apa dia punya radar kecebong atau gimana sih?!" keluh Dinara dalam hati sambil menundukkan wajah di balik buku catatan.

Di kejauhan, matahari mulai menyembul malu-malu, memancarkan sinar emas yang memantul di genangan air pasar yang becek. Di antara bau amis, suara gaduh, dan pria dingin bernama Langit itu, Dinara merasa hari ini bakal jadi hari yang panjang, melelahkan, tapi seru buat jadi bahan cerita nanti malam dengan Mela.

1
my beee🐝
kak atta lagi dong
Aylan
cieee aku juga GK pernah di bawain martabak🤭 kalo pengen beli sendiri😄
ɴᴏᴠɪ
astaga semoga si mas Amad gak muntaber beneran ya 🤣🤣🤣
ɴᴏᴠɪ
kasian mas Tri buang berlian demi batu kali 😄😄
Hatnah Batulicin
jgn lama lama ya Thor..aku selalu nunggu up nya 🥰🥰🥰
ɴᴏᴠɪ
dukung kakak nya mas Tri biar kapok si Haura 🤣🤣 karma berjalan
ɴᴏᴠɪ
curiga mas Langit udh mulai ada rasa sama mba Dinara 🤭🤭
ɴᴏᴠɪ
gitu dnk suka sama Dinara yg strong ,jangan lemah lagi ya .
ɴᴏᴠɪ
Malaikat mah pasti lebih menang dari jin dasyim Din, tenang aja
agnesty ferdiana
cie mas langit jalur ordal🤣
Loly Askhara
ceritane mas langit ngapel sekalian ngobrol sama pak Djarot, aah mas langit pinteran jah 🤭🤭
nurul @zna
Mas Langit mulai PDKT sama camer biar langsung goool... 🤭
Ma Em
Sudah jelas itu Langit emang menyukai Dinara , ayolah kalau emang langit suka sama Dinara cepat lamar lalu resmikan jadi pasangan suami istri agar jin Dashim tdk akan ganggu Dinara lagi .
Vips_momsky: buru2 amat mba...ga sabar pgn kondangan ya 🤭🤭🤭
total 2 replies
gina altira
Mas Langit beneran suka sama Dinara, ayolah gaskeunn
rasahaz
waaahh yg mau pdkt ny ja lngsung lwat Bpk ny dlu bru nnti ank ny,, 😂😂😂💪
Lailatul Qadriah
waduh mas es..gercep bener😍🤭
Aku aja
Thorr.... aku tu males lho Baca Ceritamu yg masih baruu. Krn selalu bikin Penasaran, hrus nunggu tiap hariiii.
mau ku Author nulis sekali UP 10 Eps 🤭🤭🤭 But I Luv you Thor😍😍😍
Farida Dewi
ealahh kak atta,,LG menggebu bacanya ,,,kok y secimit 🤭🙏💪
my beee🐝
kak atta lagi dong
Yulia Hifziah
untung bgt kamu ditemani bpk ya Dinara.. dan mas langit tau..klw tidak.. tuh fitnah kn nempel di kamu.. semangat trs Dinara.. temani Dinara trs ya pak..jangan pulang dulu sebelum Dinara lepas dr pasangan edan itu..
buat KA Atta.. mkasih dah buat cerita yg menarik ini, sehat trs dan idenya makin lancar...🙏🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!