NovelToon NovelToon
The Beginning : Ghost Detective Season 1.5

The Beginning : Ghost Detective Season 1.5

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / TKP
Popularitas:197.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hana Reeves

Cikal Bakal Tim Divisi Kasus Dingin

Ini GD setelah GD 1 sebelum GD 2 ( Shea n the gank ). Makanya aku kasih judul Ghost Detective Season 1.5.
Isinya awal tim gabut dibentuk. Masih the o.g tim ( bang Dean, mas Rayyan, mbak Nana, mbak Tikah dan pak Jarot ). Jangan cari mbak Lilis karena belum ada tapi ada awal mula mbak Susi ikutan. Ada mbak Nita juga, ada anomali lainnya ( belum musim Saja Boys versi tuyul ). Masih ada Hoshi dan Bima. Ini masih bersama L, Nyes dan Dendeng.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dokter Rahmat Mengawasi

Buat yang penasaran sama visualnya dok gabut muda

Mirip Kenzie atau Elina ya? Suka versi muda atau matang?

***

Surabaya

Setelah menempuh perjalanan cukup lama dari Papua, akhirnya keluarga Iptu Nana tiba di rumah duka. Para tetangga sudah menunggu di sana dan mereka bersiap untuk acara pemakaman. Rencananya kedua orang tua Lucky Buwono akan dimakamkan usai Ashar. Iptu Nana terkejut saat melihat karangan bunga dari Hoshi, PRC Group Surabaya, Valentino dan tim kasus dingin sudah ada di rumah duka.

"Kok ada PRC Group, Na? Kok bisa tahu?" tanya ayahnya.

"Papa macam tidak tahu saja bagaimana Pak Quinn."

Lucky Buwono melihat karangan bunga itu dan terkejut saat tahu siapa Quinn Reeves. Dirinya tidak tahu jika delapan belas tahun dari sekarang, akan dipertemukan dengan salah satu cucu Hoshi. Lucky Buwono akan menjadi cucu menantu yang paling absurd tapi family man. ( Baca Lucky Daisy ).

"Apa Papa dan Mama kenal petinggi PRC Group?" gumam Lucky.

"Nggak dik. Tim aku yang kenal. Bahkan aku sudah jadi bagian PRC Group karena sudah tanda tangan perjanjian." Iptu Nana menoleh ke Lucky.

"Kamu nggak perjanjian aneh-aneh tho?"

"Hanya tidak boleh korupsi, tidak boleh selingkuh, tidak boleh manipulasi data dan tidak boleh aneh-aneh," jawab Iptu Nana. "Bagus sih. Biar aku dan mas Rommy jadi lebih menghormati wadah pernikahan apalagi kita sudah ada Yoga."

Lucky mengangguk. "Yoga masih kecil mbak. Jangan macam-macam dah kamu!"

"Kagak lah! Rugi bandar kalau aku atau Mas Rommy cari perkara. Aku bisa didepak dari kasus dingin dan Mas Rommy bisa ditendang pak Dewa Hadiyanto." Suami Iptu Nana memang bekerja di Bank Artha Jaya milik keluarga Hadiyanto.

"Untung kamu paham."

Iptu Nana memeluk Lucky. "Kalau kamu dapat pacar atau istri nanti, jangan jahatin ya. Kamu sudah minta anak orang, kamu harus jaga dan cintai dia ya? Kalau kamu sampai jahatin anak orang, bisa-bisa bokap lu bangkit dari kubur macam film Suzanna lho!"

Lucky melirik sebal. "Gue lagi berduka ... Malah kena tauziah unfaedah sampai bawa-bawa Suzanna pula!"

***

RS Bhayangkara Jakarta

Dokter Rahmat sudah bersiap untuk memulai mencuci tangan sebelum operasi ketika melihat Dokter Westin masuk dengan baju scrub warna hijau. Dokter senior itu sempat menggoda salah satu suster yang akan menjadi asisten di dalam ruang operasi yang menurut Dokter Rahmat agak sedikit melecehkan.

"Ah Dokter Rahmat. Sudah cuci tangan?" ucap Dokter Westin.

"Sudah Dok. Saya sudah mempelajari kondisi pasien. Saya rasa kita tidak perlu mengangkat limpanya."

Dokter Westin mendelik ke arah Dokter Rahmat. "Berikan alasanmu."

"Itu termasuk pembengkakan kecil, Dokter Westin."

Seniornya hanya tersenyum simpul. "Kamu memang harus banyak belajar banyak Dokter Rahmat. Kamu nanti akan tahu saat kita sudah berada di ruang operasi."

"Tapi ...."

"Aku lebih senior dari kamu, Rahmat! Ingat itu!" potong Dokter Westin dengan tatapan dingin sedingin es kutub utara.

Dokter Rahmat merasa bergidik saat melihat tatapan itu. Tatapan yang ... mematikan!

Entah mengapa, Dokter Rahmat merasa operasi kali ini, dia harus mengawasi secara serius!

***

Lampu ruang operasi menyilaukan, memantul di permukaan alat-alat bedah yang tersusun rapi. Suasana tegang, bukan hanya karena prosedur pengangkatan limpa yang berisiko, tapi juga karena satu hal yang hanya diketahui oleh Dokter Rahmat.

Dia pun berdiri di sisi ruangan, mengenakan scrub hijau, matanya tajam mengamati setiap gerakan Dokter Westin.

“Scalpel,” ucap Dokter Westin tenang.

Perawat menyerahkan pisau bedah. Tangannya stabil, terlalu stabil, pikir Dokter Rahmat. Tidak ada getaran, tidak ada keraguan. Seperti seseorang yang sudah terlalu sering melakukan ini … bukan hanya di ruang operasi.

Dokter Rahmat melangkah mendekat, pura-pura memeriksa monitor pasien.

“Tekanan darah stabil?” tanyanya.

“Stabil,” jawab perawat singkat.

Dokter Westin mulai membuat sayatan dengan presisi tinggi. Gerakannya efisien, hampir dingin. Tidak ada komunikasi kecil, tidak ada instruksi tambahan selain yang benar-benar diperlukan.

Dokter Rahmat memperhatikan lebih dalam. Cara Dokter Westin memegang pisau, sudut sayatan, bahkan jeda sepersekian detik sebelum melanjutkan semuanya terasa … terlalu sempurna. Seolah dia menikmati kontrol penuh atas hidup dan mati seseorang.

“Clamp,” kata Dokter Westin lagi.

Dokter Rahmat menyadari sesuatu. Westin tidak pernah melihat wajah pasien terlalu lama. Fokusnya selalu pada organ, jaringan, bagian tubuh bukan manusia secara utuh.

“Kau sudah sering melakukan ini?” Dokter Rahmat mencoba membuka percakapan.

Dokter Westin tidak menoleh. “Cukup sering untuk tidak membuat kesalahan.”

Jawaban yang singkat. Datar. Tanpa emosi.

Jantung Dokter Rahmat berdetak lebih cepat. Ingatannya melayang pada laporan-laporan misterius, pasien yang meninggal tanpa penyebab jelas, pola luka yang … mirip.

“Perdarahan di sisi kiri,” ujar Dokter Rahmat, sengaja menguji.

Dokter Westin langsung merespons, tapi bukan ke arah yang Dokter Rahmat maksud. Dia justru menjepit pembuluh lain yang bahkan belum bermasalah.

Itu bukan kesalahan. Itu … antisipasi atau kebiasaan agar menutupi semua kejahatannya? Dokter Rahmat tidak tahu.

Dokter Rahmat menelan ludah. Kecurigaannya semakin kuat. Ini bukan sekadar dokter berbakat.

Ini seseorang yang tahu tubuh manusia … terlalu dalam. Dan mungkin, tidak hanya di ruang operasi.

“Dokter Westin,” suara Dokter Rahmat sedikit lebih rendah sekarang, “anda yakin ini hanya tentang menyelamatkan pasien?”

Untuk pertama kalinya, Dokter Westin berhenti. Dia seolah ingin tahu bagaimana reaksi semua orang di ruang operasi itu.

Hening sejenak lalu perlahan, tanpa menoleh, ia berkata, “Bukankah itu alasan kita semua ada di sini, Dokter Rahmat?”

Nada suaranya tenang. Tapi ada sesuatu di baliknya, sesuatu yang membuat bulu kuduk Dokter Rahmat berdiri.

Operasi masih berlangsung. Namun bagi Dokter Rahmat, ini bukan lagi sekadar operasi.

Ini adalah awal dari pembuktian … apakah ia sedang berdiri di samping seorang dokter hebat atau seorang pembunuh yang belum tertangkap.

Dokter Rahmat memperhatikan lebih seksama. Dia bertekad akan mengawasi pasien ini dan pasien lainnya yang sudah ada dalam daftar jadwal dioperasi oleh Dokter Westin.

Apalagi yang hendak anda lakukan?

***

Yuhuuu up Sore yaaaaa

Thank you for reading and support author

Don't forget to like vote and gift

Tararengkyu

1
Meeta Baggio
Bagus bang Dean ,hajar mereka sampe masa depan mereka suram
D_wiwied
masa depannya dibikin suram sm pak Dean 🤣🤣
Arfan Abdillah
sayang pak Jarot umurnya gak sampai tua 🥲
amilia amel
jiahhhh
mati masa depannya nggak tuh🤭🤭🤭🤭
Murti Puji Lestari
duuhhhh tambah deg degan ini bacanya
Ani
Ada typo Mbak Hana, di kata "supah"
Hana Reeves: oke ... revisi
total 1 replies
awesome moment
hrusnya dilempar ke dunia lain
awesome moment
terenyuh sm jonah. sesakit tu dia dgn dinah dan erik. yg berarti...sesayang dlunya di dgn dinah. tp...hati buzuk mempersepsinya...buzuk. jonah dipaksa pindah dunia.
Elsa Fanie
wajar lah Jonah marah besar dia korban keserakahan orang terdekat nya dan ada oknum jg dan butuh waktu 10 THN baru bisa mendapatkan keadilan ,,enak s purnama jg d kasih paham LG m arwah Jonah minimal sama lah kaya s Erik tapi jgnbd bikin mokat y Jonah, soalnya KLO mati terlalu enak buat s purnama
D_wiwied
ini kalo dijadiin film sdh pasti aku ga berani nonton, macam film horor barat itu yg sk bikin deg2 an, noway busway trimo turu merem aku 😆😅
Noey Aprilia
Waduuuhhh brjmaah....🤣🤣🤣....
Ayo tole....bkin tu orng jjeritan sprti biasa.....😁😁😁
amilia amel
serem kali kalo setan beneran sudah marah tapi memang pantas soalnya Dinah dan Erik kelakuannya melebihi setan
bisa jadi setan malah sungkem dengan mereka berdua
Noey Aprilia
Aku udh tgang bgt..tkut mreka jd krban,kcuali trsngkanya ya bdo amt...
Meeta Baggio
Alhamdulillah pak Jarot dan Rio selamat dari amarah dan amukan Jonah, kasihan Jona
Elsa Fanie
aaa syukurlah pak Jarot dan Rio bisa selamat dari amukan arwah Jonah KLO s Erik mah bodoh amat,,jgn kaget y Rio justru terbentuk detektif hantu berawal dari L yg nolongin nyes d kejar kejar arwah penasaran waktu itu,,sabar dan tenang y Jonah sekarang keadilan akan berpihak padamu
Elsa Fanie: aamiin 🤲,
total 4 replies
amilia amel
tenang ya Jonah, kali ini keadilan untukmu pasti akan datang
Alhamdulillah.... kangen ke mas L beraksi lagi terobati
awesome moment
jonah kasihan bgts. dinar mmg mursal. g cukup jd ani2 malah jd pembunuh jg. kakaknya pula. bnr2 hatinya digondhol kirik. untg L sigap. erik tu jgn sgra dimokatin. dinah jg. biar mrk ngerasain sakitnya jonah
sakura hanae @ mimie liyana❤️
Kekuatan uang klan kan ya, sebentar si Sisilia tiba-tiba udah di lantai 4, kantor kasus dingin🤣 kalo ga baca dari awal bisa-bisa dikira pinjem pintu kemana sajanya Doraemon 🤭
Gita Mitha Pertiwi
kangen mas L🤭🤭
Meeta Baggio
waduh....apa yv bakalan terjadi sama Rio yaa, apa bakalan jd korban di ruang introgasi ? apa kedatangan L ga bisa nyelametin Rio?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!