Skywa Caeloryn Isyra
Seorang gadis hidup tanpa ibu. Di besarkan oleh orang tua tunggal membuatnya menjadi kepribadian yang mandiri. Dari kalimat yang asal di ucap namun bermakna serius. Mengantarkan Cael—begitu orang memanggilnya ke pernikahan yang dingin. Cael bak kasat mata dalam istana megah. Cinta sepihak menghancurkan seluruh mimpi dan harapannya setelah suaminya—Kavi Danendra Bimantara. Membawa wanita lain sebagai adik madu nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jasa dibalas perjodohan
Hubungan yang sempat menghangat, seperti kopi yang baru saja dituang ke cangkir. Namun, entah mengapa, tiba-tiba suhu di antara mereka merosot tajam. Kavi kembali ke setelan pabriknya: dingin, jauh, dan irit bicara.
Duduk berhadapan di ruang yang sama, suasana justru terasa lebih asing daripada saat mereka pertama kali bertemu. Cael mencoba memancing percakapan dengan tawa kecil yang dipaksakan, namun hanya dibalas dengan anggukan singkat atau tatapan yang lebih banyak tertuju pada layar ponsel daripada ke matanya. Setiap kalimat yang dilempar Cael seolah membentur dinding kaca yang tebal; terdengar, tapi tidak benar-benar masuk.
Ada jeda panjang yang menyesakkan di antara denting sendok dan hiruk-pikuk orang di sekitar. Kavi tidak marah, dia hanya... tidak lagi di sana. Kehangatan yang kemarin sempat menjanjikan, kini menguap begitu saja, meninggalkan rasa canggung yang membuat napas terasa berat. Mereka berada di satu meja, namun terasa seperti sedang berada di dua benua yang berbeda.
"Mau pesan apa?" tanya Cael, mencoba memecah keheningan yang sejak tadi mencekik.
"Sama saja," Kavi menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari jendela.
"Aku perhatikan kamu lebih banyak diam hari ini. Ada masalah di kantor?"
"Tidak ada."
"Atau... aku ada salah bicara ?" Cael mencoba tertawa kecil, meski jarinya gelisah memainkan ujung taplak meja.
Kavi akhirnya menoleh, tapi matanya terasa kosong. "Tidak ada yang salah. Cuma lagi malas bicara saja."
"Tapi kita sudah duduk di sini hampir satu jam dan kamu bahkan tidak bicara apapun."
...----------------...
Sinar lampu kantor yang putih pucat terasa menyilaukan bagi Cael. Di atas mejanya, tumpukan berkas laporan tidak tersentuh sama sekali. Pikirannya masih tertahan di butik tadi siang—saat pantulan dirinya di cermin mengenakan gaun pengantin putih yang anggun terasa begitu kontras dengan kenyataan.
Bayangan saat fitting baju tadi terus berputar seperti kaset rusak. Bukannya pujian atau binar kagum, Kavi hanya berdiri di pojok ruangan dengan tangan terlipat di dada.
Saat Cael bertanya, "Bagaimana menurut kamu?", pria itu hanya menjawab, "Bagus, terserah kamu saja," tanpa melepaskan pandangan dari jam tangannya.
Rekan kerja Cael di sebelah sempat menyenggol bahunya. "Cael? Bengong terus. kenapa?"
Cael hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. "Tidak apa-apa hanya... lelah saja."
Dalam diamnya, Cael mulai bertanya-tanya: untuk apa dia menyiapkan pesta besar jika pria yang akan berdiri di sampingnya justru terasa seperti orang asing? Ruangan kantor yang dingin itu seolah menjadi gema dari sikap calon suaminya; ada, tapi tidak memberikan kehangatan.
Haruskah Cael mengusulkan pembatalan atas perjodohan ini ?
Suara sepatu menggema di atas lantai yang dingin dan sunyi. Sebagian orang sudah pulang hanya tersisa beberapa staf. Cael membawa langkah ke arah pintu keluar gedung kantor. Tatapannya kosong dengan perasaan kacau. Respon Kavi pada perjodohan ini jauh dari bayangannya. Pria itu mendadak berubah kembali.
Angin luar menerpa sedikit kencang wajah Cael. Menerbangkan rambutnya yang masih utuh di carly. Ia menghirup udara sedikit rakus untuk menekan beban yang bergelayut di hati. Malam ini Cael ingin membicarakan kembali masalah perjodohan itu kepada Shania dan juga Sadipta.
Taksi berhenti tepat di hadapan Cael. Tanpa menunggu lama ia menarik daun pintu roda empat itu lalu mendaratkan tubuh di kursi. Sepanjang perjalanan matanya hanya tertuju pada lampu-lampu kuning yang menerangi jalan. Pendar kekuningan itu tampak anggun jatuh di atas aspal. Bayangan memanjang pohon-pohon berjejer terlihat nyata tercetak dijalanan.
"Terimakasih." Bisik Cael kepada sopir taksi. Ia membawa tubuh lelahnya keluar. Membiarkan roda empat itu berlalu di belakangnya. Gadis itu tidak langsung masuk namun berdiri di depan pintu besar yang selama ini tempatnya pulang. Dadanya sedikit sesak menyadari bahwa diri nya hanya orang asing yang di pungut dari kesunyian. Sambil menarik nafas panjang. Cael mendorong daun pintu sehingga memberikan decitan halus menandakan terbuka.
"Kamu sudah pulang?" Shania menyambut dengan senyuman seperti biasa. Ia berniat keluar untuk melihat siapa yang datang.
"Iya..." Cael tersenyum tipis. "Aku bersih-bersih dulu." Pamitnya lagi.
"Iya, jangan lama kita makan malam bersama." Shania menangkap gurat lelah di wajah putri mendiang Prayoga itu.
Membiarkan Cael menaiki anak tangga. Shania memilih pergi ke ruang tengah dimana Sadipta dan Kavi duduk menunggu. Manik matanya langsung tertuju kepada putra semata wayangnya.
"Bagaimana gaun pengantinnya?" Shania memulai obrolan sambil menunggu Cael. "Kalian sudah mencobanya, 'kan?"
"Hm..." Kavi menjawab tanpa merubah posisinya. Mata pria itu hanya tertuju pada benda pipih di tangannya.
"Pernikahan ini bukan main-main, Kavi..." Sela Sadipta. "Pernikahan ini, bukan tentang rasa tanggung jawab semata tapi pernikahan ini bentuk rasa peduli papa pada Cael. Di dunia ini dia tinggal sendiri."
Kavi mematikan layar ponselnya lalu membawa pandangnya ke arah sang ayah. "Rasa peduli tidak perlu membayar dengan pernikahan, Pa... Bisa di lakukan dengan yang lain. Selama ini kita sudah memberikan yang terbaik, menampung dan memberikan pekerjaan."
"Benar... Hari itu sebelum Yoga meninggal. Papa yang lebih dulu bicara padanya. Mengingat penyakit papa ini rasa takut meninggalkan kalian itu sangat besar. Papa bicara padanya jika papa lebih dulu pergi maka papa minta Yoga menjaga dan mendidik kamu seperti anaknya sendiri sampai kamu menjadi orang hebat. Dia juga berkata jika itu terjadi pada nya. Maka papa akan merawat dan menjaga Cael sampai dia tumbuh dewasa. Prayoga tidak meminta pernikahan cukup mengawasi putri nya saja. Tapi... Papa ingin kalian menikah dengan begitu Cael tetap disini bersama kita dengan status yang kuat. Hasil yang kamu nikmati saat ini adalah campur tangan Prayoga. Membalas jasanya tidak akan pernah cukup, karena itu papa ingin kalian menikah agar tidak ada batasan lagi."
Kavi terdiam, amarah di dalam dada nya hanya membatu disana. Suasana seketika hening baik Sadipta mau pun Shania tidak ada yang bicara lagi. Membiarkan sunyi itu turun menjeda. Hingga akhirnya suara langkah terdengar mendekat.
"Aku sudah selesai, ayo kita makan." Cael berkata pelan sambil membaca situasi.
"Ah, ayo..." Shania gegas berdiri menghampiri Cael lalu menggandeng lengan gadis itu. "Tante, meminta bibi memasak makanan kesukaan kamu."
Cael tersenyum. "Terimakasih tante, nanti selesai makan malam aku ingin bicara sama tante dan om..."
Shania hanya mengangguk. Di meja makan itu sudah tersaji beberapa makanan favorit Cael dan Kavi. Tidak ada respon antusias hanya denting sendok yang tidak nyaring hadir sebagai penghangat meja itu. Canda dan tawa yang pernah ada waktu lalu lenyap begitu saja.
Semoga kelak, Kavi akan dihinggapi rasa sesal yang mendalam karena telah memilih Sheza