Cerita ini hanya kehaluan author.
Kehilangan suami dan harus menikah dengan adik iparnya harus Khairunnisa jalani.
Kebahagiaan yang baru Abian Maulana dan Khairunnisa rasakan harus terusik karena satu persatu misteri kematian Andreas Rafasya terungkap.
Maaf banyak typo bertebaran, tahap revisi 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ismiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
memulai awal yang baru
Renovasi rumah yang bian bangun dari awal akhirnya selesai semua barang dan furniture serta pajangan maupun hiasan sudah tertata rapi sesuai keinginan Bian. Bian sudah menyiapkan rumah jauh-jauh hari, pengerjaan rumah memakan waktu satu tahun akhirnya selesai.
Bian membeli tanah sewaktu kerja di Kalimantan karena ada teman yang menawari tanah di daerah dekat perumahan sang kakak, akhirnya bian memilih untuk membangun rumah untuk keluarga nanti setelah dia menemukan pasangan hidup, dan memboyong sang mama untuk tinggal bersama.
Sampai akhirnya kejadian tragis itu terjadi sang kakak menitipkan istri dan anaknya untuk bian jaga, akhirnya bian mempercepat proses pembangunan rumahnya, bian ingin memulai sesuatu yang baru dan ingin memberikan yang terbaik buat keluarganya.
******
Seminggu berlalu.
Keesokan harinya Nisa sekeluarga sudah siap membawa beberapa barang-barang yang penting saja. Nisa mengendong Raka di temani Mama Mertuanya, ya Mama Rini selalu sigap berada di samping Nisa untuk menggantikannya mengendong Raka, Mama Rini tidak selalu ingin dekat dengan cucunya.
"Nak kalau capek biar mama yang gendong Raka," Kata Mama Rini menawarkan diri.
"Mama duduk saja biar tidak capek, nanti kalau Raka sudah puas menyusu nanti mama bisa mengendong nya," Kata Nisa dengan lembut seolah tau keinginan Mama Mertuanya yang tidak bisa lepas dari sang cucu, sungguh Nisa merasa senang.
Sedangkan bik Mirna dan pak Ujang memasukkan barang yang akan mereka bawa ke rumah baru.
Setelah Raka kenyang ,Nisa memberikan Raka ke mama Rini untuk di gendong,
"Mas Bian," panggil Nisa sambil berjalan masuk rumah mencari sang suami.
"Abi di sini Bun," Balas bian dengan suara keras
"Lho Nas kok ada di taman belakang, mau ngapain??," Tanya Nisa penasaran.
"eeemmm Mas mikir apa mau di bawa sekalian bunga kesayangan Bunda kan sayang kalau di sini nanti tidak ada yang merawat dan layu terus mati bagaimana!!," Kata Bian.
"Iya terserah Mas saja," Jawab Nisa tertawa kecil, merasa lucu karena sang suami memikirkan hal kecil seperti bunga.
"Bawa saja, nanti minta orang mengambilnya," jawab Nisa lagi berjalan menuju kamarnya.
"Oh iya ya Bun, Abi lupa," Kata Bian tertawa.
"Bunda mau kemana tunggu Abi?," Tanya Bian mengekor sang istri.
"Ke kamar mengecek takut ada barang yang tertinggal," Kata Nisa menaiki anak tangga.
"Abi tunggu di sini ya Bun," Kata bian.
"Iya," Jawab Nisa menoleh dan tersenyum manis.
"Aduh senyumnya buat aku pengen peluk aja Bun," Kata Bian cengengesan menggoda Nisa.
Dan di balas gelengan Nisa.
Sepuluh Menit berlalu Nisa menuruni anak tangga membawa tas kecil, dengan sigap bian mengambil tas itu dan membawanya.
"Mas,"
"Iya Bun, kenapa??," Tanya Bian.
"Nanti kita mampir ke rumah tetangga dan rumah pak RT sama RW sebentar untuk berpamitan," Pinta Nisa
"Iya, baiknya juga begitu," Kata Bian.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju mobil, pak Ujang membuka pagar ternyata banyak tetangga yang sudah berkumpul,
Nisa dan almarhum suaminya di kenal sebagai sosok yang ramah kepada tetangga dan sering ikut kegiatan yang di selenggarakan warga sekitar komplek.
Nisa melihat banyak tetangga berkumpul segera berjalan menuju depan rumah berpamitan di ikuti Bian dan Mama Rini.
" Pak Dimas, Bun Eni, Bu Wina, Pak Sidin, dan Bapak Ibu semua Nisa mohon maaf kalau selama menjadi tetangga, saya ada salah baik perkataan maupun tindakan saya," kata Nisa mengantupkan kedua tangannya kepada semua orang yang di sana.
Di ikuti mama Rini mengantupkan tangannya di belakang.
"Saya ucapkan banyak terimakasih selama ini bapak dan ibu semua sudah baik kepada mama dan istri saya, saya pamit mau mengajak Nisa dan Raka untuk pindah kerumah saya dan jika Ibu dan Bapak berkenan silahkan datang berkunjung," Kata Bian tersenyum menyodorkan alamat rumah mereka.
"Iya sama-sama mbak Nisa kami juga minta maaf dan mbak Nisa juga baik kepada kita semua," Jawab ibu Wina memeluk Nisa.
"Iya mbak, insyallah kalau ada waktu kita mampir," Kata Bu Eni.
Para ibu-ibu memeluk Nisa dan menyalami mama Rini.
"Iya Mbak Nisa dan Mas Bian jangan lupa main ke sini kalau ada waktu," Kata Pak Dimas.
"Iya kita pasti kangen Raka, tiap pagi pasti sepi tidak dengar celotehan Raka tiap jalan pagi" Saut Pak Sidin.
"Insyaallah kita semua akan sering main kesini lagi," Kata Bian mewakili keluarga nya.
Setelah berpamitan mereka semua masuk kedalam mobil, di dalam mobil Nisa membuka kaca depan sambil mengantupkan tangannya ke arah warga sedangkan Bian juga membuka kaca menundukkan kepala sambil membunyikan klakson sebagai tanda hormat.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah pak R dan RW, Bian, Nisa dan Mama turun sedangkan Raka di pangkuan Bik Mirna di dalam mobil tertidur.
Sedangkan pak Ujang masih berada di rumah menunggu mobil membawa beberapa barang dan bunga kesayangan Nisa.
Setelah semua selesai berpamitan mereka menuju rumah baru mereka.
Perjalanan memakan waktu 30 menit , akhirnya mereka sampai.
Bian menuntun Nisa keluar mobil,
Nisa memandang takjub rumah bercat putih nan megah, meskipun sama dengan rumahnya dulu berlantai 2 tetapi bergaya minimalis, sedangkan bian memilih bergaya elegan nan mewah dengan taman yang luas.
Semua masuk ke rumah dengan mengucapkan salam, setelah itu mereka menyusuri satu persatu ruangan yang sudah Bian isi dengan perabotan, Bian mengantar sang mama dan Raka ke kamar mamanya setelah itu bian menemui Nisa.
"Mas rumahnya apa tidak terlalu besar untuk kita tinggali ber enam,??" Tanya Nisa.
" Tidak kok Bun, nanti aku ingin memiliki banyak anak supaya rumah kita ramai," Jawab Bian membuat pipi Nisa merona karena malu.
"Amiin," Jawab Nisa berjalan meninggalkan Bian karena malu.
Sedangkan bian hanya geleng-geleng melihat tingkah Nisa.
Nisa menyusuri setiap tempat berhenti di belakang rumah tetapi anehnya.
" Kenapa Bun," Tanya Bian.
"Mas ini kok masih tanah belum ada tanaman atau apapun?," Tanya Nisa penasaran.
"Mas maunya bunda yang mengatur taman belakang ini," Kata Bian memeluk Nisa dan mencium aroma wangi di tubuh Nisa.
Deg tubuh Nisa menegang.
"Bun mari kita mulai awal kebahagiaan kita di rumah ini," Kata Bian.
"Maaf mas selama ini Nisa belum bisa melakukan kewajiban Nisa sebagai seorang istri," Jawab Nisa menangis.
Bian membalik tubuh Nisa menghadap Bian, dengan lembut Bian menghapus sisa air mata di wajah Nisa, sungguh bian merasa sedih telah membuat Nisa menangis.
"Bun apa pernah mas meminta bunda melakukan itu, mas tidak akan memaksa bunda, Mas akan menunggu bunda siap ," Kata Bian.
"Tolong jangan menangis, melihatmu sedih hatiku tidak sanggup, tersenyum lah kalau bunda tersenyum kelihatan cantik dan manis," kata bian sambil menggoda Nisa.
" Terimakasih," jawab Nisa langsung memeluk Bian.
"Ayo Bun ikut," Kata Bian menarik tangan Nisa.
"Kemana?," tanya Nisa pasrah di tarik Bian.
Bian membawa Nisa ke kamar.
"Bun suka gak dengan kamar kita," Tanya Bian.
Nisa masuk dan menyusuri kamarnya yang luas dan besar.
Nisa mengangguk kepala tanda suka.
" Ayo," Ajak Bian mengandeng tangan Nisa.
"Kemana?," Tanya nya nisa lagi.
"Ayo sholat dulu sudah siang ," Kata Bian tersenyum.
Bersambung.
LIKE
KOMEN
GIFT
TERIMAKASIH 🙏
PADAHAL TEMANNYA SAMA, YAITU JEFRI
KLO HENDRI MLEPASKN TASYA, DN MNRIMA CALISTA, BETAPA HNCURNYA TASYA, YG SDH MO DRI BIAN, GAGAL PULA DGN HENDRI YG TLH BRJUANG UNTUK DPTKN TASYA
TRNYATA BAHAYA MSH BLM SIRNA DARI RMH TGG NISA & BIAN,, DN ERICK JUGA JGN DIREMEHKN..
SEMOGA REYHAN DIHUKUM BERAT, KRN DALANG PEMBUNUHAN DN PENCULIKAN