NovelToon NovelToon
Transmigation "Save The Male Lead"

Transmigation "Save The Male Lead"

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Romansa Fantasi
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lyn_11

Kianara Shernon Abraham

Seorang gadis berfrofesi aktrist berkarakter periang yang begitu tergila-gila pada novel berjudul “Save The Male Lead” tiba-tiba bertansmigrasi menjadi salah satu karakter novel yang sangat dibenci para pembaca yaitu Kianara Genevivie Anwealda.

Ya, karakter antagonis yang menjadi salah satu sumber penderitaan pemeran utama pria. Pun dengan suami yang sangat tidak peduli dengan istri bahkan anak nya. Bagaimana perjalanan kisah selanjutnya, ikuti jalan penuh lika-liku novel ini yang akan membawa kejutan ditiap plotnya.

Update 2-3 kali dalam seminggu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyn_11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11

Pagi itu terasa tenang, terlalu tenang untuk hati Kianara yang masih dipenuhi gema mimpi semalam. Ia duduk di tepi ranjang, menatap Arcellio yang masih terlelap.

“menggeser, ya…” bisiknya pelan.

“Bukan menghentikan…” Tangannya mengusap rambut anak itu.

“Aku tidak akan menjauhkanmu…” gumamnya.

“Tapi aku juga tidak akan membiarkan semuanya sama.”

Arcelio menggeliat. “Ibu…”

“Bangun?”

“Iya… ini pagi?”

“Sudah. Mau lanjut tidur?”

Arcelio langsung duduk. “Enggak! Alcel mau ketemu Cylil!”

Kianara menatapnya. “…cepat sekali.”

“Dia bilang nunggu!”

“baiklah. Mandilah dahulu, minta pelayan menemani, Tapi jangan lari.”

“Alcel ga bisa lali cepet…”

“…iya,” jawab Kianara tipis.

...*****...

“Alcel! Kamu lama sekali!” Cyril Varenne Delcair berlari menghampiri.

“ma-maaf…”

“Kenapa minta maaf?”

“ta-takut kamu bosan…”

“Bos—? Aneh deh kamu,” Cyril mendekat. “Kalau kamu lama, ya aku tunggu.”

“be-benalan?”

“Iya! Aku temen kamu!”

Hening.

“…Alcel la-lambat…”

“Ya kita pelan-pelan.”

“…ka-kamu ga marah?”

“Enggak dong! Kenapa harus marah?”

“…ka-kalau orang lain…”

“Ya aku bukan orang lain,” potong Cyril cepat. “Aku Cylil.”

Arcelio menatapnya lama.

“iya…”

Cyril langsung tersenyum. “Ayo main!” Ia menarik tangan Arcelio.

Arcelio sempat kaku… tapi tidak melepas.

Dari kejauhan, Kianara memperhatikan. “terlalu cepat,” gumamnya. “Terlalu cepat untuk jadi sedekat itu…”

Di sisi lain, Agerald Anwealda berdiri. “Dia berubah,” ucapnya pelan.

Kianara tidak menoleh. “Siapa?”

“Arcelio.”

“itu buruk?”

Agerald menggeleng. Sekilas bayangan melintas. Seorang anak. Tangisan.—

Agerald menekan pelipisnya. “tidak.”

“Tapi terasa… aneh.”

Kianara melirik. “…aneh bagaimana?”

“seperti pernah melihatnya.”

“tapi tidak ingat?”

Agerald tidak menjawab. Tangannya turun ke dada.

“tidak nyaman.”

Kembali pada interaksi kedua anak kecil berbeda karakter itu.

“Alcel! Lihat ini!” Cyril menunjukkan sesuatu.

“e-eh… ti-tidak…”

“Hah? Kenapa?”

“ta-takut…”

“Ini nggak gigit!”

“…te-tetap takut…”

Cyril terdiam… lalu membuangnya. “Ya udah, nggak usah lihat.”

“…ka-kamu buang?”

“Iya. Kamu takut kan?”

“…te-terima kasih…”

“Selamat pagi.” Suara halus itu membuat Kianara langsung mengangkat kepala.

Elira Vionette Lumeris berdiri di sana. Tenang. Rapi. Sempurna.

Cyril melambai. “Elira! Sini!”

“Kalian terlihat akrab,” ucap Elira.

“Iya dong! Kami temenan!”

Elira menatap Arcelio. “Bolehkah aku ikut?”

“…e-eh…”

“Jawab dong,” bisik Cyril.

“…bo-boleh…”

“Terima kasih.”

Elira melangkah mendekat.

Arcelio tanpa sadar mundur sedikit.

Kianara menyipitkan mata. “tunggu,” bisiknya pelan. Tatapannya menajam. “kenapa…?”

Agerald melirik. “Apa?”

Kianara tidak langsung menjawab. “ini tidak benar.”

“Apa maksudmu?”

Kianara menatap Elira. Lebih dalam. Lebih lama. “Seharusnya…” gumamnya. “Dia bertemu Arcelio dulu.”

Agerald mengernyit. “apa?”

“Lalu baru… Cyril.”

Hening.

“…tapi sekarang—” Kianara mengepalkan tangannya pelan. “…terbalik.”

Agerald menyipitkan mata. “Kau tahu dari mana?”

Kianara terdiam sesaat.

“insting,” jawabnya singkat.

Namun pikirannya bergejolak. Tidak… ini bukan sekadar insting. Ini alur. Ini… cerita. Tatapannya kembali ke arah mereka.

Cyril tertawa.

Arcelio diam.

Elira tersenyum.

“…kenapa berubah?” bisiknya sangat pelan.

Agerald menatapnya.

“Kianara—”

“Kalau awalnya saja sudah berbeda…” lanjut Kianara, suaranya hampir tak terdengar. “…bagaimana dengan akhirnya?”

Hening.

Di sana—Elira menoleh sedikit. Tatapannya bertemu dengan Kianara. Senyumnya tetap sama. Namun—

untuk sepersekian detik—kosong. Dingin. Lalu kembali seperti semula.

“Apakah aku membuatmu tidak nyaman, Tuan muda Arcelio?”

“…ti-tidak…”

“Lalu kenapa mundur?”

“…ti-tidak tahu…”

Cyril menarik tangan Arcelio. “Ayo! Kita main bertiga!”

“…iya…”

Namun genggaman itu— tidak seerat sebelumnya.

Agerald menghela napas pelan. “Kau lihat?”

“…iya.”

“Ada yang berubah.”

Kianara menatap lurus ke depan. “…bukan berubah.”

Sedikit jeda. “…ini sudah mulai menyimpang.”

Hening.

Dan untuk pertama kalinya—

Kianara benar-benar merasa…

takdir mulai bergeser… ke arah yang tidak ia kenal.

...*******...

Langkah Kianara terhenti. Bukan karena ia ingin berhenti. Tapi karena sebuah sentuhan. Hangat. Pelan. Ragu. Tangan Agerald menggenggam pergelangan tangannya. Tidak seperti biasanya. Tidak dingin. Tidak kasar.

Namun juga… tidak sepenuhnya yakin.

Kianara menoleh perlahan. “…Agerald?”

Agerald tidak langsung menatapnya. Pandangannya masih tertuju ke arah halaman.

Arcelio. Cyril. Elira.

“…apa maksudmu tadi?” tanyanya akhirnya.

Nada suaranya tetap rendah.

Namun tidak setajam biasanya.

Kianara mengernyit tipis. “Maksudku?”

“‘Seharusnya’,” ulang Agerald. “Kau bilang… semuanya terbalik.”

Hening.

Angin pagi berhembus pelan. Kianara menatap tangan yang masih menahannya. Lalu perlahan mengangkat pandangan. “…kau memperhatikannya?” tanyanya.

Agerald menarik napas pelan. “…aku tidak suka sesuatu yang terasa salah.”

“…atau sesuatu yang tidak pada tempatnya.”

Kianara terdiam. Tatapannya melembut sedikit. “kau juga merasakannya?”

Agerald mengerutkan kening tipis. “aku tidak tahu harus menyebutnya apa.”

“…tapi sejak tadi…” ia berhenti sebentar. Tangannya sedikit mengendur… tapi belum melepas. “…seperti ada yang tidak sinkron.”

Kianara menatapnya dalam. “déjà vu?” gumamnya.

Agerald tidak menjawab. Hanya diam. Namun tangannya masih di sana. “Kau belum menjawab,” ucapnya lagi.

Kianara menghela napas pelan. “aku hanya merasa…”

“…awal dari semuanya tidak sesuai.”

Agerald menoleh. “Tidak sesuai?”

Kianara mengangguk pelan. “Urutannya salah.”

“Urutan apa?”

“pertemuan mereka.”

Agerald menyipitkan mata. “Jelaskan.”

Kianara terdiam sejenak. “seharusnya Arcelio bertemu dia dulu.”

“…baru kemudian Cyril.”

Hening.

“…tapi sekarang kebalik,” lanjutnya pelan.

“Cyril lebih dulu… lalu dia masuk di antara mereka.”

Agerald menatapnya lama. “…kau tahu dari mana?”

Kianara terdiam.

“perasaan,” jawabnya singkat.

Agerald menghela napas pelan.

“kau bukan orang yang hanya mengandalkan perasaan.”

Kianara tersenyum tipis. “…dan kau bukan orang yang biasanya peduli.”

Hening.

Namun kali ini tidak terasa canggung.

Agerald akhirnya melepas tangannya. Tapi tidak menjauh. Tatapannya kembali ke arah Arcelio. Lama. “anak itu,” ucapnya pelan.

Kianara ikut menatap. “iya.”

“dia berbeda.”

“berbeda bagaimana?”

Agerald mengernyit. “dia terlihat… nyaman.”

Kianara tidak langsung menjawab. “itu hal yang baik,” katanya akhirnya.

Agerald menggeleng pelan. “bukan itu.” Sedikit jeda. “…denganmu.”

Kianara terdiam.

Agerald melanjutkan, suaranya lebih rendah. “…itu yang aneh.”

Hening.

“Selama ini…” lanjutnya pelan, “…kau tidak pernah seperti itu.”

Kianara tidak bergerak.

“Bahkan…” Agerald sedikit mengernyit, seolah enggan mengingat.“…kau hampir tidak pernah menyentuhnya tanpa alasan.” Kata-kata itu jatuh pelan. Namun berat

“…kau marah padanya.”

“…kau menjauhinya.”

“…kau—”

Ia berhenti. Namun maknanya jelas.

Kianara menunduk sedikit. “aku tahu.”

Agerald menatapnya. “tapi sekarang,” lanjutnya, “kau membiarkannya mendekat.”

“Bahkan…” ia sedikit ragu. “…kau terlihat… terbiasa.”

Kianara terdiam. Tangannya perlahan mengepal di sisi gaunnya. “…itu buruk?” tanyanya pelan.

Agerald langsung menjawab, “…tidak.”

“…justru itu yang membuatku merasa aneh.”

Kianara mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu. “…aneh?” ulangnya.

Agerald mengangguk tipis. “…terlalu tiba-tiba.”

“…terlalu berbeda.”

Hening.

Suara tawa Arcelio kembali terdengar dari kejauhan.

Ringan. Tulus. Namun— tidak sepenuhnya lepas.

Agerald menatap ke arah itu lagi. “aku merasa…” gumamnya pelan. “…seperti ada sesuatu yang berubah… tanpa aku sadari.”

Kianara ikut menatap.

Arcelio tersenyum.

Cyril tertawa.

Elira berdiri di antara mereka..

Terlalu sempurna.

“…bukan hanya kau,” bisik Kianara.

Agerald melirik. “…apa?”

Kianara menyipitkan mata. “…aku juga merasakannya.”

Sedikit jeda. “…dan itu bukan perasaan yang baik.”

Agerald tidak langsung bertanya lagi. Namun kali ini— tatapannya tidak lagi sekadar mengamati.

Melainkan…mencari. Mencari celah. Mencari jawaban. Mencari sesuatu yang tidak terlihat.

Dan untuk pertama kalinya— ia benar-benar berpikir.

“Kianara.”

“hm?”

“…aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Sedikit jeda.

“…tapi… ada yang salah.”

Kianara tidak menjawab. Hanya menatap lurus ke depan. “iya.”

Satu kata. Pelan. Namun pasti. Dan tanpa mereka sadari— di antara tawa kecil itu… jarak yang tak kasat mata mulai terbentuk.

Perlahan. Diam-diam.

Namun nyata.

1
Siska Sutartini
wowo. penuh misteri. kira2 siapa nihbpara pelaku yg terlibat dalam jaringan tersebut ya? 🤔
Siska Sutartini
hah, untunglag arcelio cepat ditemukan dan belum disiksa. pelakunya mesti dijerat pasal. berlapis ini. jahat sekali
Siska Sutartini
ini yg satu countess bibinya agerald ya, satu lagi siapa ya?. asli tegang baca part ini, penuh misteri 😱
Siska Sutartini
intrik antar sesama bangsawan, wah sungguh melelahkan 😁😁
rose lilian
lanjut
waw jadi tegang banget baca nya ih🤭🤣
janggal Thor,bukan ganjil🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣,tapi ga papa malah lucu kok semngt thorrr😍😍
Lia.nara: thks ya /Smile/
total 1 replies
Wahyuningsih
thor buat duke menyesal d buat segan matipun tk mau enak aja
Wahyuningsih
thor buat kianara badaz abiz bla prlu dot bonus ruang dimendi biar mkin sru n buat duke menyesal d buat segan mtipun tk mau biar nyakho dia
Lia.nara: teeimakasih atas sarannya, ikuti alurnya saja...akan banyak kejutan di depan
total 1 replies
Wahyuningsih
mampir q thor.....
Intan Aprilia Rahmawati
lanjut dong kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!