NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Ikrar

Rahasia Dibalik Ikrar

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Ketos / Enemy to Lovers
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Mia Novita

"Gue sudah menepati janji untuk nikahin lo, dan lo juga harus menepati janji untuk tidak mengatakan apapun pada siapapun tentang kita di sekolah. paham!" ucap pria bernama Arga

Argantara antariksa Grahana namanya. sosok paling tampan dan populer di SMA Cakrawala. karna insiden malam itu membuat Arga harus menikahi teman kelasnya yang bernama Freya Dinata Frankie, biasa di panggil dengan sebutan Reya. anak keempat dari tuan Pramandika Frankie.

Akankah Freya bisa meluluhkan hati pria itu? ikuti yok

Slow up

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Budak kesayangan?

Malam itu terasa lebih dingin dan sunyi di kamar Arga. Freya terbaring miring, punggungnya terasa kaku karena mempertahankan posisi menghadap Arga—hukuman kejam yang terasa lebih menyakitkan daripada rasa kram yang sesekali datang. Beruntung, pereda kram dari Clara bekerja, meredakan ketegangan di perut menjadi nyeri ringan yang masih bisa ditoleransi.

Arga, seperti yang selalu ia lakukan, langsung tertidur dengan tenang, memunggungi Freya. Dengkurannya pelan dan stabil, ironisnya, suara yang seharusnya menenangkan itu malah terasa seperti direndam.

Freya menunggu. Ia menunggu hingga napas Arga benar-benar teratur, hingga ia yakin pria itu tenggelam dalam mimpi tanpa gangguan. Jam dinding menunjukkan pukul 02:17 dini hari.

Perlahan, hati-hati, seperti gerakan penjinak bom, Freya memutar tubuhnya. Ia melakukannya dalam satu gerakan lambat yang disengaja, memastikan pegas kasur tidak mengeluarkan bunyi ciet yang bisa membangunkan Arga.

Punggungnya kini menghadap Arga. Wajahnya, lega dan lelah, menatap dinding kamar yang kosong.

Rasanya seperti mendapat kebebasan singkat dari penjara. Dinding itu terasa lebih aman, lebih menenangkan daripada menatap wajah Arga yang penuh kebencian—bahkan dalam tidur. Freya memeluk bantalnya erat-erat dan memejamkan mata, membiarkan obat Clara dan kelelahan total menariknya ke dalam tidur yang sangat ia butuhkan.

Ia terbangun karena sentakan.

"Freya!" Suara Arga tajam, rendah, dan penuh amarah.

Sinar matahari pagi sudah memenuhi kamar. Freya mengerjap, bingung, lalu langsung menyadari kesalahannya. Ia kembali tertidur pulas dan tidak sempat memutar tubuhnya kembali sebelum Arga bangun.

Arga mencondongkan tubuh di atasnya, wajahnya gelap dan mengancam. "Apa yang Lo lakukan? Lo pikir Lo bisa melanggar perjanjian kita, hah? Gue bilang menghadap gue, Freya. Gue mau Lo ingat apa yang sudah Lo buat!"

Freya tidak panik. Ia mengingat kata-kata Clara, menarik napas dalam-dalam, dan membiarkan suaranya terdengar setenang mungkin, meskipun ia harus berpura-pura.

“Aku takut, Arga,” bisik Freya, suaranya serak. Ia tidak berbohong; dia memang takut.

Arga mengerutkan dahi, kemarahannya sedikit tersentak oleh nada suara Freya yang tulus. "Takut apa? Lo takut sama gue?"

“Aku takut dengan anakmu, Arga.”

Freya pelan-pelan duduk, menghadap Arga. Ia meletakkan tangannya di perut yang masih rata, gerakannya penuh perlindungan. "Malam sebelumnya, aku merasakan kram yang sangat sakit. Aku takut. Dokter bilang, stres bisa membahayakan kehamilan."

Ia menatap lurus ke mata Arga yang tajam, membiarkan sedikit udara menggenang agar terlihat lebih meyakinkan. "Aku tidak bisa tidur menghadapmu, Arga. Itu membuatku stres. Itu membuatku mengingat semua yang terjadi, mengingat kebencianmu. Dan itu menyakiti anakmu."

Kata-kata 'menyakiti anakmu' dan 'stres' langsung mengenai sasaran. Wajah Arga yang semula garang kini menunjukkan keraguan dan sedikit ketakutan yang sulit disembunyikan.

Arga tidak mencintai Freya, tetapi ia sangat sadar bahwa anak ini adalah keturunan yang diinginkan Papanya. Kehilangan anak itu berarti bencana besar, jauh lebih parah daripada jika rahasia pernikahan mereka terbongkar.

"Lo... Lo yakin itu karena stres?" tanya Arga, suaranya merendah. Ia pindah ke pinggir kasur, menjauh sedikit, seolah takut penyakit itu menular.

"Sangat yakin. Aku tidak mau mengambil risiko, Arga. Keselamatan anakmu—anak kita—lebih penting daripada hukuman konyol yang kau berikan. Aku tidak akan tidur di sofa karena Mama Rosa akan marah, dan aku tidak bisa tidur menghadapmu karena bayimu," Freya menegaskan, semoga kini sedikit lebih kuat.

Arga tak menjawab. Ia menimbang-nimbang. Jika Freya terus stres dan sampai terjadi sesuatu, Mama Rosa akan langsung marah.

Arga menghela nafas, kekalahan terlihat jelas di matanya. "Sialan," gumamnya.

"Baik," Arga memutuskan, nadanya dingin dan penuh pengekangan. "Mulai malam ini, Lo tidur menghadap dinding. Tapi gue akan memposisikan bantal guling di tengah kasur. Sebagai pembatas. Jangan pernah menyentuh guling itu, dan jangan pernah melangkahi wilayah gue."

Ia menoleh, matanya kembali dingin. "Gue tidak ingin ada kecelakaan lagi. Lo akan tidur seperti ada tembok yang tak terlihat di antara kita. Paham, Freya? Ini bukan kelonggaran. Ini adalah protokol untuk melindungi kepentingan gue."

Freya mengangguk. "Paham, Arga. Terima kasih." Freya berhasil. Ia tidak hanya terhindar dari sofa, tetapi ia juga mendapatkan kembali sedikit ruang psikologisnya.

Di mobil, perjalanan menuju sekolah terasa tegang. Keberhasilan Freya semalam membuat Arga semakin membencinya karena merasa telah dimanipulasi oleh wanita yang ia anggap sebagai beban.

"Jangan pernah coba-coba menggunakan kehamilan itu sebagai senjata lagi, Freya," Arga menggeram sambil memegang kemudi dengan erat. "Gue tidak akan ragu untuk membuat hidup Lo lebih sengsara dengan cara lain jika Lo terus seperti ini."

"Aku tidak menggunakan kehamilan ini sebagai senjata, Arga," jawab Freya dengan tenang. "Aku hanya melindungi anakku. Dan aku akan terus melakukannya, terlepas dari apa yang kau rasakan."

Arga meremehkan, meremehkan. "Terserah. Ingat peran Lo hari ini. Alice dan gengnya sedang mengincar. Kita hampir lulus. Jangan sampai Lo merusak sandiwara ini."

Saat tiba di gerbang sekolah, Arga dan Freya memasang topeng mereka: Arga si bintang sekolah yang populer dan dingin, Freya si asisten Arga yang diam dan rajin.

Freya menghabiskan jam pertama pelajaran dengan merasa sedikit lebih lega. Rasa kram sudah hilang berkat obat Clara dan janji tidur yang lebih baik. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Saat Freya sedang berjalan menuju loker Arga, ia melihat Alice dan dua temannya berdiri di dekat loker Arga. Kali ini, mereka tidak sedang merusak, namun justru terlihat kebingungan, menatap sebuah benda kecil yang tergeletak di lantai.

Freya mendekat, penasaran. Benda itu adalah sebuah gantungan kunci boneka beruang kecil berwarna biru muda—gantungan kunci yang sangat familiar.

Alice mengambilnya, menatap gantungan itu dengan ekspresi curiga. "Ini gantungan kunci Freya kan? Kenapa ada di loker Arga?"

Jantung Freya kembali berdetak cepat. Itu bukan sekadar gantungan kunci. Itu adalah hadiah kecil yang diberikan mama rosa setelah pernikahannya dengan Arga. dimaksudkan sebagai 'suvenir rahasia' agar Arga tidak salah memberi Freya hadiah publik.

"A-aku tidak tahu," jawab Freya, berusaha terdengar santai sambil mengambil alih gantungan kunci itu. "Mungkin... terjatuh saat aku mengambilkan buku di lokernya kemarin."

Alice membukakan mata. "Tapi kenapa di gantungan kunci ini ada tulisan... 'A+F'?"

Freya menegang. mama rosa yang meminta Arga menulis inisial itu di belakang gantungan kunci, dalam suasana hati yang mungkin paling dekat dengan 'kebencian' yang pernah ia rasakan.

"Ah, itu..." Freya mencoba berpikir keras, tapi sebelum dia sempat mengarang kejadiannya, suara Arga terdengar dari belakang.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" Arga datang, wajahnya kembali tanpa ekspresi, tetapi matanya memancarkan peringatan yang jelas kepada Freya. Ia pasti sudah mendengar bagian terakhir dari percakapan itu.

Alice dengan cepat menyodorkan gantungan kunci itu kepada Arga. "Arga, ini. Freya bilang ini gantungan kuncinya, tapi ada inisial 'A+F' di belakangnya. Tumben sekali, kalian kan tidak dekat."

Arga melirik gantungan kunci itu sekilas, dan dalam sepersekian detik, sebuah ide muncul di benaknya. Ide yang mungkin bisa menyelamatkan mereka dari kondisi buruknya, tetapi akan semakin membebani Freya.

Arga meraih gantungan kunci itu, lalu dengan gerakan cepat yang tidak terduga, ia menyematkannya di saku seragam Freya.

"Itu hadiah ulang tahun yang ketinggalan, Alice," kata Arga dengan nada yang sangat dingin, tetapi juga memiliki sedikit keakraban palsu yang bisa disalahartikan.

"Freya sudah menjadi asisten gue yang baik. Wajar jika gue memberi hadiah kecil agar dia termotivasi," Arga menjelaskan, lalu menambahkan kalimat yang menghancurkan Freya.

"Dan tulisan 'A+F' itu? Itu adalah singkatan dari 'Arga's Favorite' . Sebagai pengingat, dia adalah asisten yang paling lama bertahan, dan gue tidak ingin dia berhenti."

Alice dan teman-temannya terlihat sedikit kecewa tapi puas. "Oh, hanya asisten favorit," kata Alice, nadanya sedikit meremehkan Freya. "Syukurlah. Kami kira ada yang aneh. Ayo, teman-teman."

Setelah Alice dan teman-temannya pergi, Freya menatap Arga dengan mata berkaca-kaca.

"Arga Favorit? Budak kesayanganmu? Kau benar-benar membenciku sampai sejauh itu?" tanya Freya, suaranya tercekat.

Arga tidak menoleh. "Anggap saja begitu. Itu adalah harga yang harus Lo bayar untuk tidur memunggungi gue. Lo adalah 'Arga's Favorite' sampai kita lulus. Dengan begitu, Alice tidak akan curiga kita punya hubungan rahasia, dan dia akan fokus untuk menganggap lo 'asisten kesayangan' gue. Sandiwara kita aman, Freya. Untuk saat ini."

Arga berjalan pergi, meninggalkan Freya sendirian di depan loker yang dingin. Freya memegang erat saku di mana gantungan kunci itu tersimpan. Di balik senyum dingin Arga, ia tahu pria itu baru saja mengikatnya lebih erat ke dalam peran yang ia benci, hanya demi melindungi rahasia yang mengancam kehidupan mereka berdua. Ia adalah 'Budak Favorit' Arga, dan ia harus menanggung label itu hingga kelulusan tiba.

1
vania larasati
lanjutt
vania larasati
lanjut
vania larasati
lanjutt
vania larasati
lanjut
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
dasar Arga tak punya hati bukan salah Freya kalo tiba tiba mau pingsan wong emang kondisi lagi hamil muda pasti ada perubahan hormon di tubuhnya 😏
yul yul༺⬙⃟⛅
haduh .. arga.. Arga..
yul yul༺⬙⃟⛅
haduh... ada ada saja ya.. Arga ini
yul yul༺⬙⃟⛅
yang kuat Freya.. tetep semangat..
yul yul༺⬙⃟⛅
Halah... tr juga klepek-klepek Luh.. jatuh cinta sendiri.. awas ya.. pegang kata-kata gw..
yul yul༺⬙⃟⛅
baru nikah... udah ngomongin benci...
yul yul༺⬙⃟⛅
keren ya.. aku tunggu selanjutnya...
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Arga gue sumpahin Lo suatu saat nanti kau akan jatuh cinta sama Freya dan Freya tidak mau lagi sama kau huffft 😏
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
rasanya mau kutinju saja ini Arga jadi orang kok kasar banget orang memang Freya sakit kepala muak efek dari kehamilan malah dikatain dasarrrr 😏
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Freya kau harus bertahan jangan terlihat lemah di hadapan Arga kau masih punya kakak Alan yang mendukungmu jadi kuatlah dan tetap semangat menjalani hari
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
kasian Freya ternyata diam diam dari dulu suka sama Arga tapi sepertinya Arga tidak dan mungkin juga Arga menyukai orang lain Alice.....
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
waduh begitu dimintai tanggung jawab kagak mau ini Arga padahal kan kau yang ambil kehidupan Freya😏
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩMᷞᴇͧᴍᷡᴀͣ༄⃞⃟⚡
nasib mu freya cuma ngeliat seseorang yg menyukai org lain
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩMᷞᴇͧᴍᷡᴀͣ༄⃞⃟⚡
untung ada alan bisa sedikit legaa freya
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩMᷞᴇͧᴍᷡᴀͣ༄⃞⃟⚡
ta sumpahin arga ini, sosmed bet hd cowo, istri mu loo sekarang freya ini, maso uiya ttp cuekbebek
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩMᷞᴇͧᴍᷡᴀͣ༄⃞⃟⚡
maharnya gede juga cinber brp krt tuhh

freya punya keluarga baru setelah sah jadi istri arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!