-TAMAT-
Muhammad Faiz Al Ghifari atau Gus Faiz adalah seorang anak laki-laki dari seorang Kyai besar yang memiliki pondok pesantren di pedalaman Jawa. Dia adalah sosok yang sempurna dan selalu menjadi bahan incaran para gadis dan ibu-ibu di manapun dia berada.
Suatu ketika Gus Faiz bertemu dengan Anindya Athaya Zahran, seorang santri putri angkuh yang selalu mencari 1001 cara untuk mengakhiri hidupnya.
Gus Faiz yang selalu tergerak untuk menggagalkan upaya bunuh diri Nindy tidak sengaja terlibat dalam perjanjian yang di luar nalarnya. Perjanjian yang benar-benar mengubah jalan hidupnya, perjanjian yang tidak berterima oleh akal sehatnya, dan perjanjian yang menyalahi aturan hidupnya.
Akankah Gus Faiz menepati janji itu? Bolehkah Gus Faiz melaksanakannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Upi1612, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 11 - Pulang ke Rumah
Sesampainya di parkiran pondok pesantren milik keluarga Gus Faiz, merekapun turun. Gus Faiz memandu keluarga Ilham ke rumah Abahnya. Diam-diam Gus Faiz sangat merindukan rumah. Bagaimana tidak, sejak masuk ke pesantren yang ada di Jakarta ketika SD, dia jarang sekali pulang, meski mempunyai jatah libur saat Hari Raya Idulfitri.
“Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, Abah, Umi.” salam Gus Faiz.
“Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.” Abah dan Umi menjawab salam Gus Faiz.
Gus Faizpun mencium tangan kedua orang tuanya. Abah memeluk anaknya untuk melepaskan rindu. Umipun mencium pipi putra semata wayangnya itu. Air mata beliau menetes melihat putranya pulang kembali ke rumah. Sudah bertahun-tahun Gus Faiz belum pulang. Komunikasi mereka hanya melalui telepon saja.
“Abah, Umi. Ini keluarga sahabat Faiz.” kata Gus Faiz.
Tersadar kalau bukan hanya ada putranya di rumah ini, Abah dan Umipun tersadar.
“Maafkan kami ya, ayo, silakan duduk.” kata Abah, sambil terkekeh.
“Hahaha iya tidak apa-apa. Gus Faiz tentu sudah bertahun-tahun belum pulang kan?” kata Adi.
“Iya, betul sekali. Mari, Mas, dan semuanya duduk dulu.” kata Abah.
“Saya permisi sebentar.” kata Umi.
Umi pun pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk tamu di dapur sudah ada beberapa santriwati yang siap membantu Umi.
“Farha, Umi minta tolong bawakan ini ya, untuk tamu di depan.” kata Umi.
“Baik, Umi.” kata Farha.
Farhapun langsung melaksanakan tugas. Setelah membawakan minuman. Saat sedang menghidangkan minuman, Farha menangkap sosok Gus Faiz. Meski ada tiga laki-laki muda di sana namun satu laki-laki ini terlihat sangat tampan. Jantung Farhapun berdegup dengan kencang. Dia gugup.
“Hati-hati.” kata Aaron. Langsung refleks menangkap gelas yang hampir terjatuh. Karena tangan Aaron yang cekatan, akhirnya gelas dan isinya itu terselamatkan.
Tak sengaja tangan Aaron menyentuh tangan Farha, Farha buru-buru beristighfar dalam hati dan menjauhkan tangannya.
“M-maaf.” kata Farha.
Farha merasa tak enak pada semuanya, “Maaf, Abah. Maaf semuanya.” kata Farha.
“Iya, tidak apa-apa, Nak.” kata Abah.
“Farha permisi, Abah.” kata Farha.
Abah mengguk. Lalu Farhapun kembali ke dapur. Ini kali pertama dia bertemu dengan Gus Faiz. Sebelumnya, dia hanya bisa melihat Gus Faiz dari foto yang terpajang di rumah ini. Dibanding foto, nyatanya Gus Faiz jauh lebih tampan dan memesona secara nyata.
Farha mengatur nafasnya yang memburu. Setelah dia bisa menetralkan dirinya. Dia pun menghampiri Umi.
“Sudah, Umi.” kata Farha sambil tersenyum pada Umi.
“Baik, terima kasih, ya. Umi mau minta tolong lagi, boleh?” tanya Umi.
“Dengan senang hati, Umi.” kata Farha. Farha selalu bahagia bisa membantu Umi.
“Tolong bantu Umi siapkan makan malam ya,” kata Umi.
Umi sangatlah baik. Umi sebetulnya tidak suka meminta tolong, namun karena beliau sedang mengurusi makanan yang lain jadi beliau terpaksa meminta tolong Farha. Umi sangatlah bijaksana. Meski dia meminta tolong Farha dan beberapa kawan Farha, namun Umi tetap di sana membantu menyiapkan. Tidak lepas tanggung jawab begitu saja.
“Nah, sudah selesai. Umi ke depan dulu ya.” kata Umi.
Farha mengangguk. Umipun ke depan. Bergabung dengan Abah.
“Kami juga punya sahabat dekat di Jakarta Selatan. Betulkan, Umi?” tanya Abah kepada Umi.
“Betul, Abah.” kata Umi sambil tersenyum.
“Di daerah Cipete ya, Umi?” kata Abah.
Umi tersenyum dan mengangguk.
“Namanya Rina, dan suaminya bernama Lukman. Barang kali Mas kenal.” kata Abah lagi.
“Wah, dekat ya. Rumah kami di kawasan Blok M. Tapi sepertinya kami tidak mengenal mereka.” kata Adi.
“Iya tidak apa-apa.” kata Abah sambil terkekeh lagi.
Gus Faiz sangat senang melihat Abah dan Uminya yang terlihat sehat. Abah masih ramah seperti bisanya, dan Umi masih lembut dan penyayang. Mata Umi masih teduh seperti dulu. Gus Faiz sangat bersyukur memiliki kedua orang tua yang sangat baik.
“Abah, tamunya diajak makan dulu yuk.” kata Umi pada Abah.
Mereka pun sarapan bersama. Gus Faiz, Ilham, Aaron, dan Linda, lebih banyak diam, hanya menjawab bila ditanya saja. Setelah selesai makan, Umi menunjukkan dua kamar untuk keluarga Ilham.
“Linda, mari Umi antar kamu ke Pondok.” kata Umi.
“Saya ikut, Mbak.” kata Yeni.
“Mah, Aaron ikut.” kata Aaron.
“Jangan, Sayang. Kan pondoknya isinya perempuan semua.” kata Yeni.
Umi tersenyum membetulkan ucapan Yeni.
“Ayolah, Ma. Mau liat doang. Ya kan ya, De?” kata Aaron pada Linda.
Linda mengangguk setuju. Namun, seketika pikirannya tersadar. Dia merasa harus menuruti apa kata Umi yang tak lain adalah Ibu Gus Faiz. Bukankah dia datang ke mari untuk menarik perhatian Gus Faiz.
“Eh, nggak usah Bang Aaron. Abang di sini aja sama Bang Ilham, sama Bang Faiz, maksud aku Gus Faiz.” kata Linda.
“Yaudah deh.” kata Aaron. Menyerah.
Linda, Umi dan Yeni pun menuju pondok pesantren.
“Linda, karena hampir semua pondok kami sama, setiap pondok ada namanya, pondok ini dimanai Darul. Biasanya santri menyebut satu pondok dengan pondok yang lain sebutan kompleks. Jadi, nanti ketika kamu tidak tahu pondok kamu di mana, kamu bisa sebutkan nama Kompleks Darul ya.” Umi mencoba menjelaskan.
“Baik, Ibu.” kata Linda.
“Panggil Umi saja ya.” kata Umi.
Linda cepat mengangguk. Baginya panggilan Umi sangat istimewa. Lindapun mulai berpikir Umi mulai menerimanya. Umi. Dia diizinkan oleh Ibu Gus Faiz untuk memanggil beliau Umi. Sama seperti Gus Faiz. Memikirkan betapa istimewanya dirinya, Linda pun terus tersenyum, hatinya bahagia.
Umi mengantarkan Linda ke kamar paling pojok lantai dua.
“Ini, kamar kamu, namanya Kamar Khadijah.” kata Umi.
“Assalamualaikum.” salam Umi setelah mengetuk kamar.
Linda dan Yeni ikut memberikan salam.
“Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh. Umi-Umi!” seru Arum yang langsung bangun melihat ada Umi di kamarnya.
Melihat kehadiran Umi, semua anak-anak kamar Khadijah bangun dan bergegas mencium tangan Umi.
Linda merasakan ada yang salah.
Tunggu! Mereka semua panggil Umi juga? – batin Linda.
“Biar kami bantu, Umi, Bu.” kata Arum.
“Umi?” tanya Linda tanpa sadar.
“Iya, Nak?” tanya Umi.
“Ah, bukan Umi. Maksud Linda…” Linda mulai memutar otak mencari jawaban. Tidak mungkin dia mengatakan kalau dia kecewa karena sudah merasa dia satu-satunya yang memanggil Umi namun nyatanya dia hanyalah salah satunya.
Atin dan Dinda buru-buru membantu Arum.
Semua santri berkumpul. “Ini Linda dari Jakarta. Umi harap kalian bisa berkawan baik dengan Linda ya.” kata Umi.
“Baik, Umi.” kata semua anak kamar.
Mereka pun mulai menjabat tangan Linda dan memperkenalkan namanya masing-masing dengan sangat ramah. Diam-diam Linda bersyukur.
Arum, Atin dan Dinda membantu Linda mengeluarkan pakaiannya dan menatanya ke dalam lemari.
***
“Aaron! Ahela, kenapa si baget banget dibilangin!” seru Ilham.
“Aaron, kita tidak boleh ke sana. Di sana pondok khusus untuk santri putri!” kata Gus Faiz.
“Ah, bodo amat. Gue mau liat pokoknya.” kata Aaron.
Aaron tahu harus kemana, karena Aaron mengamati kemana Linda pergi. Aaron pun lari tak mau kehilangan jejak. Gus Faiz dan Ilham pun mengejarnya.
Sampai di depan kompleks Darul, tanpa peduli apa-apa lagi, Aaron langsung masuk ke sana.
Ilham hendak menyusul adiknya namun Gus Faiz menahannya. “Kita tidak bisa ke sana. Kita di sini saja.” kata Gus Faiz.
“Tapi, adek gue.” kata Ilham.
“Dia akan cepat kembali.” kata Gus Faiz.
“AAAAAA!” teriak santri putri.
Kini suara teriakan sahut-menyahut terdengar.
Ilham bertanya pada Gus Faiz, dengan menunjuk pondok itu. Gus Faiz mengangguk. “Biarkan saja, kalau kita ke sana akan lebih parah.” kata Gus Faiz.
“Mbak-Mbak, ana Putra. Jilbabe dinggooo!” teriak seseorang.
“Aaaaaaa! Ana putra! Ana putra!” teriak santri putri.