Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.
.
.
Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.
"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.
.
.
"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.
.
.
"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gara-gara Losyen, burung yang diam jadi sasaran
"Dokter bilang apa?" tanya Adam ketika aku baru keluar dari ruang pemeriksaan dan tanpa memikirkan orang di sekitar, dia memapahku menuju mobilnya di parkiran. Klinik ini tidak lah jauh dari kampus.
"Cuma demam biasa. Tadi udah di suntik. Sekarang saya ngantuk, mau tidur bentar sebelum kelas jam 3 nanti," jawabku.
"Saya antar pulang. Kamu harus istrahat di rumah, absen dulu. Dokter juga sudah memberikan MC juga kan?" ucap Adam sambil menyalakan mesin mobilnya, lalu mulai bergerak keluar dari kawasan klinik.
"Nggak mau! Aku gak ada ngambil MC. Lagian aku juga gak mau absen kelas nanti, Minggu kemarin udah absen, masa absen lagi. Aku hanya mau tidur sebentar." Aku menegaskan, tidak mau ketinggalan mata kulih sore ini.
Adam menghela nafas berat. "Begini saja, kamu istrahat dulu di ruang kerja saya. Nanti kalau sudah agak mendingan baru masuk kelas. Oke," katanya mengalah pada kehendaku. "Sekarang kita McD sebentar. Kamu belum makan kan?"
Aku diam saja dan memilih memejamkan mata, tak sanggup berdebat lama dalam keadaan pusing begini.
Ketika terbangun, mobil Adam sudah berada di parkiran kampus. Adam mau menggendongku ke ruang kerjanya, tapi aku tolak dan memilih berjalan sendiri.
Bisa kiamat kalau sampai di lihat rekan sekelas Adam menggendongku.
Sampai di ruang kerjanya, Adam menyuruhku berbaring di sofa dekat jendela. Pintu ruang kerjanya juga sudah di tutup. Segera aku duduk di sofa itu karna kepala begitu pusing. Tirai jendela di belakang kutarik menghindari silau cahaya dari luar.
Adam duduk di sebelahku dan mulai menyuapkan bubur yang di belinya di McD tadi. Aku hanya bisa menelan 3 suap karna rasa mual kembali datang. Aku menggeleng ketika Adam mengulurkan suapan keempat dan mengatakan ingin berbaring.
"Kalau ada yang masuk gimana?" tanyaku pelan.
"Jangan khawatir, saya sudah gantung tulisan 'jangan ganggu!' di pintu. Jadi gidak akan ada yang datang. Kamu tidurlah."
Penjelasan Adam mengurangi sedikit kekhawatiranku dan tidak butuh waktu lama aku sudah terlelap.
.
.
.
Dingin. Keningku terasa dingin. Kubuka mata dan lansung bangun. Pergerakan tiba-tiba itu membuat pandanganku berputar, aku mendesis kesakitan sambil mengurut kepala. Mata aku pejam menikmati pijatan.
"Kenapa tiba-tiba bangun? Mimpi ya?"
Suara Adam mengetuk gendang telingaku.
"Hmm...jam berapa sekarang?" tanyaku dan membuka mata.
"Sudah mau jam 9. Kita sudah di rumah, Winda," jawab Adam sambil menarikku agar kembali berbaring. Tangannya menggantikan tanganku memijat kepala.
"Hah? Jam 9? Kelas-"
"Jangan khawatir, saya sudah minta izin pada dosen mata kuliahmu. Dia hanya pesan ada tugas dalam portal. Kalau sudah sehat, baru kerjakan," potongnya dan menjelaskan. Lega sedikit pikiranku.
"Hmm...oke. makasih," balasku pelan. Kuperas otak memikirkan hal lain yang masih mengganjal di kepala.
Apa ya?
Cukup lama aku berpikir sebelum ingat sesuatu.
"Ah, mobilku-"
"Ada di depan." Adam kembali memotong seolah tau maksudku. Setelahnya dia bergerak, ingin turun ranjang, tapi aku lebih dulu meraih tangannya.
"Kamu mau kemana?"
"SYa kebawah sebentar. Tadi mama singgah, bawa bubur kesukaanmu. Jangan khawatir, saya tidak lari kemana," jawabnya sambil mencubit hidungku.
Lantas tangannya aku lepas, Adam pun menghilang di balik pintu dan kembali setelah beberapa menit kemudian.
Bubur yang di bawanya di suapkan padaku, tapi seperti siang tadi, aku cuma bisa menelan tiga suap saja setelahnya aku kembali merasa mual, rasa ingin muntah.
"Aaak lagi, baru juga 3 suap. Satu suap lagi ya?" Adam membujuk sambil mengulurkan sesendok bubur ke mulutku, tapi tangannya aku tahan.
"Gak mau! Aku mual, rasa mau muntah," tolakku sambil menutup mulut dengan sebelah tangan.
Adam mengalah, obot di berikan padaku sebelum aku berbaring. Handuk basah yang membuatku terjaga tadi, di letakkan lagi di kening.
.
.
.
Keesokan harinya, keadaanku masih sama. Aku tidak ke kampus, hanya istrahat di rumah. Bulan ini, tak terhitung berapa kali aku bolos. Memikirkan betapa banyaknya mata kuliah yangtertunggal membuat kepalaku pusing.
Sorenya, Adam pulang dan memasakkanku sup ayam. Kalau bubur mungkin perutku akan mual lagi, tapi sop, katanya mungkin tidak, karna cukup di telan seperti air.
Bahan dasar sup yang di buatnya bukan ayam saja. Segala macam sayur di masukkan ke dalam. Katanya biar kuahnya semakin berkhasiat untuk tubuhku. Aku iyakan saja.
Kali ini, aku mencegahnya yang ingin menyuapkan sup. Aku ingin makan sendiri.
Emang aku anak kecil harus di suapkan terus?
Kunikmati sup yang masih panas itu perlahan. Sedang Adam mencampurnya dengan roti.
"Emang enak di campur roti?" tanyaku keheranan.
Adam menoleh kearahku dan mengangguk.
"Mau coba?" Dia mengambil sepotong roti dan mengulurkan padamu.
Aku ambil roti tawar itu, lalu merobek sebelum mencelupkan kedalam sup di mangkok-ku yang hampir habis, lalu menyuap kemulut.
"Wek! Gak enak!"
Adam tertawa melihat reaksiku.
"Kamu kan lagi sakit, jadi mungkin pengecap lidahmu belum berfungsi normal."
Ada saja jawabannya. Padahal emang rasanya gak enak.
"Mau nambah lagi?" tanya Adam mungkin dia melihat sup di mangkok-ku yang hampir habis.
Aku menggeleng. "Gak, udah kenyang," jawabku bersama roti di tangan kuletakkan di atas meja.
Setelah mengemaskan mangkuk, Adam menggendongku ke kamar. Dia juga memijit kepalaku sampai aku tidur.
.
.
.
Jum'at pagi, Adam masih menyuruhku istrahat dirumah. Hari ini aku hanya ada satu mata kuliah, pratikal programming dengannya. Pertanyaan untuk kuiz yang di janjikannya telah di tinggalkan diatas meja kerjanya. Itupun setalah aku berkeras meminta.
Setelah serapan, aku mulai memeras otak untuk menjawab pertanyaan kuiz yang di berikan Adam. Pertanyaannya hanya 2, tapi sulitnya minta ampun. Butuh satengah jam untukku menyelesaikan 1 pertanyaan. Baru akan menjawab pertanyaan kedua, ponsel di sebelahku menyala dan mengeluarkan bunyi pertanda ada pesan masuk.
Kulihat di notif, pengirim pesan. 'Sayangku'?
Melihat nama pengirim keningku lansung berkerut. Rasanya aku tidak pernah menulis kontak nama orang dengan nama itu?
Tak ingin menduga-duga, lansung kubuka pesan itu.
Sayang, sudah sarapan? Bagaimana dengan kuiz, sudah di jawab? Teman-temanmu disini masih burjuang.
Waduh? Sayang gak tuh?
Aku tersenyum setelah mengetahui pesan itu dari Adam, lalu mengetik balasan.
Sarapan udah. Ini lagi ngerjain kuiz. Pertanyaannya susah banget. Tapi tenang, aku gak akan curang dengan melihat catatan.
Aku memang ego. Tapi kalau berhubungan dengan pendidikan, aku tidak mau main-main. Biarlah nilai seadanya, asal jawaban hasil pemikiran sendiri tanpa melakukan kecurangan.
Layar ponsel menyala lagi menandakan balasan pesan dari Adam masuk.
Saya tahu kamu tidak akan melakukannya, tetapi jika kamu melakukannya, percayalah saya tidak keberatan. Pengecualian untuk istriku yang sedang tidak sehat.
Aku malah tersenyum kecil setelah membaca balasan pesan dari Adam dan lansung mengetik pesan balasan.
Kita harus bersikap professional. Ingat itu!
Sengaja aku ingatkan peraturan dasar yang aku buat, yaitu peraturan ke 4.
Tidak lama, Adam membalas lagi.
Aturan dasar 4. Jaga hubungan profesional di lingkungan kampus. Coba kamu ingat lagi. Sekarang kamu tidak ada di sini. Maka aturan tersebut tidak berlaku.
Wah, dia ini kayak gak percaya aja sama aku.
Cukup lama layar ponsel kupandang, tak tahu harus membalas apa. Akhirnya ponsel kuletakkan, lalu kembali fokus menjawab pertanyaan kedua kuiz.
Baru hendak merangkai jawaban, timer 1 jam ganv aku set di ponsel sudah berdering.
Haih! Semua ini gara-gara Adam. Coba dia gak ngirim pesan ke aku, pasti aku bisa menjawab pertanyaan kedua tepat waktu.
Alarm yang berdering kumatikan dan 1 pesan lagi masuk ke ponselku. Dia au apa lagi sih?
Segera
Pesan itu bukan dari Adam, tapi dari nomor yang tidak tersimpan di kontak. Sepatah kata pesan yang masuk ke ponselku itu, membangkitkan memori tentang note yang kuterima di kaca mobil minggu lalu.
Apakah dari orang yang sama?
.
.
.
Siangnya, mama datang. Mama membawa rantang berisi bubur kesukaanku.
Aku dan mama makan bersama. Sup yang dibuat Adam semalam juga turut jadi hidangan makan siang kami.
Siang itu, aku makan cukup banyak, mungkin karna sudah lama tidak makan bareng mama, jadimya nafsu makan bertambah. Mama juga memuji masakan Adam. Dia turut menyatakan rasa leganya karna Adam menjagaku dengan baik.
Setelah makan siang dan mengobrol sebentar, mama kembali ke kantornya. Aku habiskan waktu membaca novel yang belum juga tamat kubaca. Notif pesan yang masuk ke ponsel mengganggu fokusku yang sedang membaca, tapi aku gapai juga benda pipih di dekatku dan membaca yang baru masuk.
Mungkin saya pulang agak sore. Saya ada bimbingan singkat dengan mahasiswa saya. Kamu sudah makan?
Dengan mahasiswanya? Siapa? Ana atau Alya? Cuma dua nama itu yang terpetik di kepalaku.
Cukup lama aku berpikir membalas pesan darinya.
Oke.
Pada akhirnya hanya kalimat pendek itu yang bisa aku ketik. Aku tidak ingin memperpanjang lagi dedikasinya yang berlebihan pada Ana dan mahasiswanya yang lain. Meski aku sendiri yang jadi istrinya belum pernah meminta bimbingan di luar jam kampus.
Hafh!
Aku lanjutkan membaca novel dan notif di hp berbunyi lagi. Dengan malas kubuka juga pesan yang baru saja masuk. Dua foto yang di kirim Adam membuat aku agak kaget. Foto suasana kelas dengan rekan kelasku di dalamnya. Ana pun ada di dalam foto yang di kirmnya itu. Sedang asyik memperhatikan, 1 pesan lagi masuk.
Saya berharap kamu juga ada di sini
Lama aku perhatikan pesan itu dan perlahan aku tersenyum. Walau tidak berada di depan mata, dia seolah bisa membaca emosiku. Sebelum otak ini berpikir yang bukan-bukan. Dia lebih dulu menjelaskan.
Kuakui, sejauh ini Adam bisa menjaga hatiku. Dia selalu jujur padaku. Masalahnya sekarang, aku yang tidak jujur. Aku tak dapat menduga reaksinya jika tahu yang di katakan dokter kemarin.
Tidak. Yang di sampaikan dokter baru kemungkinan dan akan tetap jadi rahasia. Adam tidak perlu tahu.
***
Malam itu, aku masih belum sehat. Tapi di karnakan Adam tiba-tiba ada acara di luar kota, malam ini juga dia kan mengantarkan aku kerumah papa.
"Buru juga seminggu menikah, tapi kamu sudah mau mengembalikan aku ke orang tuaku," ucapku sinis.
Sejak Adam bilang mau mengantarkan aku kerumah papa, emosiku sudah naik.
"Kamu bicara apa, Winda? Saya mengkhawatirkan kamu. Saya tidak mau kamu di rumah sendiri dalam keadaan seperti ini. Itu saja," jawab ya sambil memasukkan baju kedalam koper.
Kalau kamu gak mau sendirian kenapa kamu tetap pergi?" Aku masih nyolot. Masa bodohlah, dia mau mikir apa.
Adam menoleh padaku yang membungkus badan dengan selimut di atas ranjang.
"Winda." Namaku di panggilnya dengan intonasi mendayu sambil kakinya berjalan mendekatiku.
"Harusnya memang dosen lain yang pergi menghadiri acara itu, tapi dia berhalangan hadir karna ada musibah. Saya terpaksa menggantikannya. Bukan sengJa ingin meninggalkan kamu." Adam membujuk, berusaha menjelaskan alasannya pergi padaku. Tanganku yang berada di dalam selimut di genggamnya erat.
"Alasan. Kalau kamu memang gak mau ninggalin aku sendiri. Kenapa gak ajak sekali." Aku menarik tanganku dan memeluk selimut agar semakin ketat membungkus tubuh.
Aku juga sudah lama tidak ke pergi Bandung. Kangen juga mau kesana.
Adam menunduk dan melepaskan keluhan. "Sebenarnya saya mau saja membawa kamu. Tapi kita ada aturan yang wajib di tepati, kan? Kamu yang Ingin pernikahan kita ini di rahasiakan. Itu sebabnya saya tidak bisa mengajak kamu."
Aku terdiam, terjebak dengan aturan yang kubuat sendiri.
Adam melanjutkan mengemasi baju-bajunya.
.
.
.
Satu jam kemudian, kami sudah berada di rumah papa. Setelah di paksa makan malam dan menelan obat, mataku berat dan aku lansung tidur. Aku tak tahu kapan Adam pergi.
"Gimana keadaan princes Mama pagi ini? Udah baikan?" tanya mama seraya meletakkan sarapan pagi di meja nakas.
"Winda baik-baik aja kok, Ma. Adam aja yang berlebihan, mentang-mentang dia mau pergi, seenak aja dia mengantar Winda kesini. Mungkin dia ingin bebas menggoda Neng Geulis disana," jawabku panjang lebar.
"Winda ngomong apa sih? Keputusan Adam mengantar Winda kesini itu memang paling tepat. Lagian papa juga lagi gak di rumah, mama kesepian sendiri. Untung Adam antar Winda kesini, jadinya Mama ada teman," balas mama.
Sekilas tadi aku menangkap riak wajah mama berubah. Gak tau kenapa. Mau nanya, tapi gak ada mood.
Bubur Ayam yang di bawa mama masih belum kusentuh sampai tengah hari. Selera makan hilang. Pikiran hanya tertuju pada Adam. Sedang apa dia? Apa yang dia lakukan? Apakah dia sedang bersama gadis-gadis yang lebih cantik dariku?
Berusaha menghilangkan pikiran itu, aku turun kebawah untuk makan siang bereng mama. Tapi baru beberapa suap, rasa mual kembali menyerangku.
"Winda, kita ke klinik ya?" ajak mama, khawatir melihat keadaanku yang lemah.
"Gak usah lah, Ma. Kemarin Adam sudah membawa Winda ke klinik. Obat yang di berikan dokter pun belum habis. Dokter bilang Winda hanya kecapekan, butuh istrahat." Aku menolak ajakan mama sebisaku.
"Tapi demam Winda ini, sepertinya bukan demam biasa. Winda benaran demam? Atau jangan-jangan Winda-"
"Atau apa, Ma? Jangan ngomong sembarang bisa gak? Winda gak suka. Udah lah, Winda mau istrahat dulu." Kutinggalkan mama sendiri di meja makan. Kepalaku kembali pusing, apalagi setelah memeriksa ponsel, tidak satupun pesan atau pun panggilan tak terjawab dari Adam.
Itu yang dia bilang sayang? Benar yang kubilang kemarin, semua orang yang mengucapkan sayang padaku, pada akhirnya akan membuatku sedih. Adam baru seminggu menikahiku, tapi sudah pergi meninggalkanku.
Seharian aku tunggu kabar darinya, tapi sudah malam baru dianingat menghubungiku. Mungkin sudah puas menggoda gadis-gadis di sana baru ingat aku.
Kusilent ponsel karna moodku yang menggebu ingin bicara dengannya sudah lenyap. Kutarik selimut, memilih tidur.
.
.
.
Keesokan paginya, kuperiksa ponsel. Kirain bakal menelponku beberapa kali, taunya cuma sekali dan mengirim satu pesan.
Seharian ini aku benar-benar merindukanmu. Semoga kamu baik-baik saja, selamat malam. I Miss you.
Herannya hari itu demamku belum juga mau pergi. Pusing di kepala masih terasa, tapi aku kuatkan diri, tak mau Adam melihatku lemah saat pulang dari Bandung nanti.
Sorenya, aku baru selesai berendam air hangat di kamar mandi. Namun, baru saja keluar dengan hanya berkemben handuk, kulihat Adam sudah duduk diam di tepi ranjang sambil memandangku. Matanya tak berkedip.
Kenapa dengan dia? Tergodakah?
Mengabaikan tatapannya, aku berjalan menuju lemari pakaian mencari pakaian dalam. Satu tangan tiba-tiba lebih dulu masuk kedalam lemari yang pintunya sudah kubuka dan mengambil baju tidur yang biasa aku gunakan.
"Pakai yang ini saja." Adam mengulurkan pakaian tidur itu padaku. Aku hanya diam terpaku karna satu tangannya melingkar dari belakang pinggangku.
Karna aku tak merespon, Adam meletakkan lagi pakai itu kedalam lemari, lalu memutar tubuhku menghadap padanya.
"Hai. I Miss you," sapanya dengan senyum lebar. Kini kedua tangannya melingkar di pinggangku.
Aku mendongak memandang wajahnya. Matanya tanpa malu menikmati tubuhku yang hanya menggunakan handuk. Lama dia memperhatikan dadaku, seolah sedang menghapal dalam ingatan bentuk dadaku.
"Su-sudah lama datang?" tanyaku gugup.
"Lumayan. Tadinya ingin gabung sekali berdendang air hangat denganmu," jawab Adam. Satu tangannya naik mengusap bahuku dan mengusap lembut kulitku disana dengan ibu jarinya.
"Dari mana kamu tau aku berendam air hangat?" tanyaku lagi sedikit penasaran.
Matanya memperhatikan ibu jarinya yang mengusap bahuku.
"Karna kulitmu terlihat lembut, tapi kurang lembab." Usapannya berhenti dan matanya kini berpaling ke arah botol-botol di atas meja riasku. "Biar saya tolong sapukan losyen ke badan kamu." Tanpa menunggu persetujuanku, Adam lansung mengambil losyen Levender diatas meja dan membawaku duduk di ranjang.
"Aku bisa pakai sendiri," pintaku, tapi Adam tak peduli. Dia menuangkan isi losyen keatas tapak tangan, lalu di gosok dengan kedua tapak tangan untuk meratakan sebelum menyapukan ke badanku.
"Saya tahu, kamu bisa memakai sendiri. Tapi kali ini, saya ingin melakukan sendiri," ucapnya, lantas menarik tangan kananku dan mulai menyapukan losyen dari siku sampai ke ujung jari.
"Pasti ini hanya alasanmu saja kan, buat bisa menyentuhku?" sinisku menantangnya.
Adam tersenyum kecil saat wajahnya diangkat memandang wajahku yang pura-pura cuek. Kemudian, tanpa malu matanya turun kebawah dan berhenti di dadaku.
"Baguslah kalau kamu sudah tahu," balasnya dengan senyum yang teramat manis di mataku. Kini tangan kiriku diambil dan mulai menyapukan losyen di sana.
Sungguh, kehangatan tangannya membangkitkan segala rasa yang terpendam. Dadaku berumbak turun naik ketika tangannya mulai menyapu losyen di leher dan bahuku dan menyebabkan ikatan handuk di dadaku longgar.
Adam memperhatikan reaksiku yang semakin terbakar gairah dengan perlakuannya. Rasanya ingin sekali aku tarik handukku buat jatuh, biar terlihat olehnya putingku yang telah mengeras. Tapi mungkin lebih menarik jika handuk itu lepas sendiri dan melihat bagaiman reaksi wajah Adam terhadap-nya.
Adam masih coba bersikap biasa saja di situasi seperti ini, tapi aku tahu, gairahnya juga sudah terbakar sama sepertiku. Wajahnya semakin merah dan tulang rahangnya ketat. Dan ketika dia menarik tangannya untuk menuangkan losyen ketaoak tangan, handukku akhirnya lepas.
Mata Adam melotot, wajahnya kaku dengan jakun terlihat naik turun.
Kubiarkan handuk yang sudah turun itu, meski hembusan AC menyapa kulitku. Sedikitpun aku tidak bergerak untuk menutupi tubuh yang kini telah terbuka.
Adam masih mematung dengan mata semakin terbuka lebar melihat pemandangan di depannya.
Aku tersenyum menang melihat reaksi wajahnya itu. Ada sensasi tersendiri yang susah untukku ungkapkan.
Adam beralih memandang wajahku dan aku pun turut melakukan hal yang sama. Cukup lama kami bertentang mata, sambil aku menantu tapak tangannya menghangatkan tubuhku m. Tapi malah sebaliknya, handuk yang tadinya melorot kini kurasa kembali membelit di tubuhku.
Mataku turun kebawah, di sana tangan Adam sedang mengeratkan kuncian handuk di badanku.
Kecewa dan terhina, itu lah ya g aku rasakan.
Kemudian Adam berpindah duduk kebelakang. Tangannya yang telah di tuang losyen malai di sapukan di pundakku. Rambut yang telah tersanggul memudahkan aksinya itu.
Jika tadi dadaku turun naik karna menahan gairah, kali ini dadaku turun naik karna kecewa, kesal, marah dengan perlakuannya.
"Winda?" Namaku di panggilnya lembut.
Mungkin dia sudah merasa perubahan moodku, apalagi tubuh ini sudah tegang tidak seperti tadi. Lantas aku tepis kedua tangannya, handuk yang di pasangnya aku betulkan sebelum berdiri. Kaki kuhentakkan menuju lemari untuk mengambil baju.
"Winda, saya belum selesai menyapukan losyen."
Adam tiba-tiba sudah berdiri di belakangku. Jarak kami begitu dekat, bahkan kedua tangannya juga sudah memeluk pinggangku.
"Oh, masih mau menyapukan losyen? Tapi melihat tubuhku gak mau!" balasku sengit. Lalu kuambil baju tidur yang di pilihkan Adam tadi.
Baru akan beranjak, Adam tiba-tiba memutar tubuhku menghadap padanya.
"Siapa bilang saya gak mau?" tanyanya sambil melingkarkan kedua tangan di pinggangku.
"Udahlah, aku capek bermain-main denganmu. Aku gak tau apa tujuanmu, tapi aku udah capek. Kalau kamu hanya ingin menggodaku, mau mempermainkan perasaanku seperti tadi. Kamu udah berhasil dan sekarang tolong berhenti." Kuhamburkan kata-kata itu, lalu kutepiskan kedua tangannya.
Kuhentakkan kaki kembali ke kamar mandi untuk berpakaian. Adam tidak mencegahku, tidak juga berusaha membujukku. Saat aku keluar dari kamar mandi dia sudah menghilang.
Pusing yang tadinya telah hilang kembali datang. Aku terduduk beberapa saat sambil memijat kepala. Setelah merasa agak mendingan, aku turun kebawah.
"Bagus juga ide papa."
Suara Adam yang berasal dari ruang tamu menghentikan langkahku yang akan mengambil minum ke dapur. Entah kenapa kedua kaki ini malah menapak kesana.
"Ide apa?" tanyaku. Mama dan Papa yang juga berada diruang tamu menolah kearahku.
"Winda, ayo duduk sini. Papa tadi menyarankan Adam membawa Winda kerumah Oma di kampung. Waktu Winda menikah Oma tidak bisa datang, tau sendirilah bagimana Oma, tidak pernah mau meninggalkan rumah. Tapi dia selalu telepon Papa ingin melihat cucu dan menantunya," jawab papa panjang lebar.
Aku lihat Adam, wajahnya begitu riang. Sebenarnya aku juga kangen dengan oma, tapi karna rumah Oma bersebelahan dengan rumah bik Ria, aku pun malas mengunjunginya.
Karna aku benci dengan Sarah, anak tunggal bik Ria.
***
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam, Adam masih belum masuk juga ke kamar. Tadi mereka semua berjamaah isya di bawah, hanya aku yang berkurang di dalam kamar.
Sedang melamun, Adam masuk dan lansung berbaring di sebelahku. Kedua mata lansung kututup, pura-pura tidur, tapi Adam terus saja bicara, seolah tahu aku yang pura-pura tidur.
"Saya perhatikan, kamu seperti tidak suka pulang ke kampung Oma?"
Kubuka mata, wajah Adam berada tepat di hadapanku dan aku lansung berbalik membelakanginya. "Apa pedulimu?" ucapku, masih belum puas dengan kejadian sore tadi. Aku perlu di bujuk untuk melupakan semua itu, tapi dia seakan tak peduli.
Adam diam, pergerakannya pun tidak ada kurasa. Hatiku bertambah sakit. Kuremas selimut kuat-kuat sambil menghentakkan kaki diatas ranjang. Biar dia sadar kalau aku masih sakit hati.
"Tentu saja saya peduli. Kamu kan istri saya."
Adam tiba-tiba bersuara. Tapi kata-katanya itu sama sekali tidak menyentuh. Kata-kata murahan.
ingin sekali aku menjerit kuat dan ribut dengannya dengan menghamburkan kata-kata pedas, tapi sebisa mungkin aku tahan. Aku tidak mau seperti mama dan papa yang kadang menggunakan waktu untuk tidur untuk bertengkar.
"Winda, menghadap sini. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan," pintanya sambil menarik bahuku agar menghadap padanya.
Aku keraskan badanku, menolak perlakuannya itu, tapi dia kembali membujuk.
"Sinilah, saya mau bicara sambil melihat wajah kamu."
Aku telantangkan badan, tapi wajah masih kupalingkan darinya. "Jangan sentuh kalau sedang berdebat!" tegasku, mengingatkan aturan yang kubuat ketika dia coba meraih tanganku. Kemudian kulipat kedua tangan di dada.
Terdengar helaan nafas panjang Adam dan dihembuskan lagi.
"Winda, kamu marah dengan saya?"
Buatku itu adalah pertanyaan bodoh. Mati-matian aku bersikap seperti ini biar dia sadar kalau aku sedang marah. Tapi seenak jidat dia bertanya apa aku sedang marah.
"Gak ada pertanyaan yang lebih berbobot apa? Pertanyaan kamu itu seperti seperti orang bodoh yang menanyakan bisakah burung terbang," sinisku tanpa menolah padanya.
Cukup lama Adam mendiamkan diri, membuatku semakin sakit hati.
"Ka-kamu marah soal kejadian sore tadi ya?"
Kali ini suara Adam lebih pelan, mungkin dia takut pertanyaan itu kubilang pertanyaan bodoh lagi.
"Pertanyaanmu itu seperti orang bodoh yang menanyakan, apakah burung itu bertelur?" jawabku sinis.
Hai, Winda. Ada apa denganmu? Kenapa dari tadi selalu mengambil perumpamaan burung?
"Tentu saja semua burung bertelur. Karba semua jenis burung berkembang biak dengan cara bertelur (ovipar). Burung tidak melahirkan anak seperti mamalia. Mereka bertelur dan telur tersebut kemudian dierami sampai menetas."
Kenapa dia malah menjelaskan soal burung?
Kugigit selimut menahan geram. Oke, kayaknya dia mau main-main denganku. "Burung-burung apa yang gak makan daging?"
Adam diam, tak menjawab pertanyaan konyolku itu.
"Burungmu. Burungmu gak suka makan daging!" Kujawab sendiri. Biar dia tau kemana arah pembicaraan ini.
"Winda, itu tidak adil," ucapnya pelan.
Apakah dia sudah paham yang kumaksud?
"Apa yang gak adil?" tanyaku pura-pura tidak tahu.
Helaan nafas panjang Adam kembali terdengar di telingaku. Mungkin karna dia marah, tapi aku tidak tahu, sebab marahnya kenapa? Marah tersinggung atau marah karna bernafsu? Yang pasti kalau marahku, karna sakit hati dengan kejadian sore tadi.
"Kita kan sedang bicara baik-baik. Jadi tolong jangan gunakan sindiran seksual seperti itu pada saya, karna sama saja kamu melanggar peraturan pertama bila kamu bicara begitu dengan saya." Adam membalas dengan nada geram.
Marah yang semakin membuncah membuatku harus duduk sebelum membalas kata-katanya itu. "Oh, gitu ya? Jadi, dengan kamu menggodaku kayak tadi sore dan setelah aku pasrah menyerahkan diri, kamu boleh meninggalkan begitu saja? Apa menurutmu itu adil untukku?" Lalu kuangkat kedua lutut kedada dan memeluknya, coba menenangkan diri.
Adam pun turut duduk berhadapan denganku. "Winda, saya tidak tahu apa yang kamu inginkan. Saya bingung. Saya takut kamu marah seperti kemarin."
"Stop, jadi orang bodoh, Adam! Ini bukan sekali, tapi sudah dua kali kamu mengabaikan aku seperti tadi. Aku gak tau lagi harus berbuat apa. Apa itu yang kamu bilang sayang?" amukku dan air mata mulai mengalir.
"Ya, tentu saja aku sayang kamu, Winda," balas Adam dengan suara bergetar. "Baru kemarin kamu bilang, kamu masih belum bisa menerima saya. Kamu butuh waktu. Sampai saya tidak tahu dimana kamu tempatkan saya dalam hidupmu selain suami di mata agama. Kamu memberi signal yang aku tidak mengerti, aku tidak mau mengambil resiko. Aku takut membuatmu marah." Kemudian Adam berinsut mendekatiku.
"Bullshits! Jelas-jelas keesokan malamnya aku bilang agar kita lupakan semuanya. Aku hanya ingin kamu menyentuhku, tapi kamu masih menolak!" Air mataku semakin deras mengalir dan cepat-cepat aku seka dengan punggung tangan.
Adam coba menarikku, mungkin ingin memeluk, tapi aku tepis tangannya lalu berdiri.
"Jangan sentuh aku saat berdebat!" tegasku dengan suara lebih tinggi dari sebelumnya.
Kami bersitatap lama, tapi di balik penglihatanku yang agak kabur oleh air mata, aku menangkap kekesalan di wajahnya.
Dia beralih duduk di tepi ranjang. Kedua kakinya menyentuh lantai. Tubuh sedikit di bungkukkan, kedua siku di topang di atas lutut dan wajah di benamkan pada telapak tangan.
Aku oleng, duniaku serasa berputar, lalu aku juga duduk di pinggir ranjang. Air mata di pipi aku lap. Sebisa mungkin emosi aku tahan. Aku tidak mau keributan ini di dengar papa dan mama.
Cukup lama keadaan kamar sunyi, hanya sisa isakan tangisku yang terdengar. Aku bahkan tidak tahu perdebatan ini sudah selesai atau belum. Yang pasti suasana tegang sebentar tadi sedikit berkurang, meski keadaan diam begini membuat emosiku terganggu.
"Apakah kamu ingin saya sentuh karna kamu menginginkan saya? Atau keinginan itu hanya karna nafsu?"
Suara Adam tiba-tiba memecah kesunyian.
Aku terharu. Terdiam cukup lama dengan kata-katan yang meniti di bibirnya. Jujur, aku tidak tau harus menjawab apa. Apa bedanya aku benar-benar menginginkan dia, atau sekedar nafsu? Toh, keduanya tetap melibatkan aku dan dia. Tubuhku yang menginginkan sentuhannya. Tubuhku yang menginginkan tubuhnya.
Ya, itu dia jawabannya.
"Keduanya," jawabku setelah bergulat memikirkan.
"Tida tidak tidak. Kamu tidak boleh menjawab keduanya. Saya masih ingat, kemarin kamu pernah bilang, kamu tidak ingin kita melakukan itu lagi. Jadi jelas, disini kamu hanya terbawa nafsu. Tapi keesokan harinya, kamu meminta saya menyentuh kamu. Apakah itu yang jamh inginkan dari hati, atau masih terbawa nafsu. Jangan membuat saya bingung, Winda." Adam masih mendebat jawabanku membuatku terdiam lagi.
Jadi teenyata itu alasannya tidak mau melanjutkan menyentuhku? Aku merasa, di sini aku yang di pojokan atas semua ini.
"Jawab jujur, Winda. Saya benar-benar bingung. Kenapa kemarin kamu bilang lain, tapi besok malamnya kamu berubah pikiran? Saya mau tahu siapa saya dalam hidupmu? Kamu anggap saya ini apa?" Adam semakin mendasakku. Dia berdiri, lalu melutut di depanku.
Aku semakin gugup karna dua menggenggam kedua kakiku. Kepalanya mendongak, menikam tepat mataku.
Lidahku kelu dan peraturan agar tidak menyentuh saat sedang berdebat hilang dari pikiran. Adam masih setia menunggu jawabanku.
"Hm....karna." Aku coba membuka suara dan Adam mengangkat kening meminta aku melanjutkan. "Karna waktu itu kamu bilang.... Kalau."
Ah, kenapa berat sekali lidahku bicara?
Aku hela nafas dalam-dalam dan kuhembuskan perlahan. Mata kupejam dan nafas kembali kuhirup. "Karna kamu pernah bilang, kalau aku butuh perhatian..." Kata-kataku terhenti lagi. Aku buka mata dan memandangnya yang masih setia memandangku, "harusnya aku minta dari kamu, bukan pada lelaki lain. Karna itulah aku berubah pikiran. Tapi kamu tetap saja menolakku." Rasa haru datang lagi dan Adam menyembunyikan wajahnya di lututku.
"Winda, saya bukan sengaja menolak kamu. Saya bukan sengaja tidak menyentuh kamu," katanya penuh kekesalan, lalu mengangkat wajah memandang wajahku. "Seperti yang saya katakan, saya tidak tahu apa yang kamu mau. Tapi saya juga tidak bisa memaksa kamu, karna saya tahu sampai saat ini kamu belum menerima saya." Adam kembali menyembunyikan wajahnya di lututku.
Apakah dia baru saja mengakui kalau dia juga menginginkan tubuhku?
Perlahan aku berdiri. Bibirku yang kering kubasahkan dengan lidah. Aku ingin bukti dari kata-katanya itu.
Adam mengangkat kepala dan memandangku. Semakin lama matanya menusuk ke dalam mataku, membuat jantungku semakin cepat berdetak.
"Begini saja, saya beri kamu waktu. Saya ingin kamu pikir baik-baik, benarkah itu yang kamu inginkan dari saya. Apa pun keputusan kamu nanti, saya akan terima. Saya tidak ingin kamu menyesal di kemudian hari." Kemudian Adam berdiri, seolah menyudahi perdebatan malam ini.
Aku diam. Bingung dengan pernyataannga. Kenapa tadi dia seolah mengakui kalau dia juga ingin menyentuhku? Tapi sekarang dia malah memintaku berpikir terlebih dulu.
Adam sudah berbaring di ranjang, sedang aku masih berdiri dengan mata terpejam. Jujur, aku sangat sensitif. Aku merasa diri ini tidak di inginkan olehnya. Aku tahan nafas, agar tak menangis. Tapi rasa sedih yang datang tiba-tiba ini membuatku semakin sesak.
"Winda?"
Kuabaikan panggilannya itu. Mata kupejam sekuat yang aku bisa. Kaki masih berdiri, sedikit pun tidak beranjak.
Tiba-tiba tubuhku di peluk dan di dudukkan di ranjang.
"Ya Allah, kenapa menangis?"
Suara Adam terdengar panik. Kedua kakiku di letakkan diatas satu kakinya yang di selonjorkan ke tepi ranjang.
Aku masih coba menahan diri, tak mau melepaskan isakan walau air mata telah terasa mengalir membasahi pipi.
"Pergi sana! Kamu gak menginginkan aku," ucapku setengah berbisik. Hampir saja lepas isakan yang aku tangan.
"Winda. Itu tidak benar." Tapak tangan Adam menangkup pipiku.
Kubuka mata dan melihat wajahnya. "Di dunia ini gak ada yang menginginkan aku. Semua orang membuangku. Termasuk kamu."
Adam tersenyum memandangku sebelum berbisik. "Sekarang katakan, apa kamu menginginkan saya?"
Kata-katanya yang seolah menantang membuat sedihku tadi lenyap sekelip mata. Tanpa memberi aba-aba, lansung aku terkam dia. Bibirnya kucium rakus dan Adam membalasnya. Kedua tangan kulingkarkan ke lehernya.
"Katakan, Winda. Katakan kamu menginginkan saya." Adam masih bicara dan berhenti membalas ciumanku.
Aku yang masih menginginkan kehangatan bibirnya lansung menjawab tanpa ragu. "Ya, aku mengingkanmu. Sangat-sangat menginginkanmu, Adam."
Adam tersenyum, lalu kembali menciumku. Kali ini dia tidak menahan kemauannya.
Ciuman kami begitu panas, kubalas lidah Adam yang lebih dulu mengusik lidahku. Kami juga semakin merapatkan tubuh, kedua tanganku memegang erat kepalanya dan kali ini tak akan melepaskan sebelum kudapatkan apa yang kumau.
Kugigit bibir bawahnya dan dia mengerang. Kedua tangannya yang tadi berada di pinggangku sudah dia pindahkan mengusap punggungku dan di tariknya agar lebih mendekat lagi. Bagian sensitif kami juga sudah saling bergesekan dan ereksinya jelas kurasakan.
"Winda."
Adam mengenang dan melepaskan bibirku. Matanya di tutup rapat, ketikaku tekan pinggulku menikmati ereksinya di balik celana tidur. Gairah yang sudah lama kupendam semakin memuncak, menumpuk di pusaran sensitifku.
"Ahhh.... Winda, sebentar."
Adam seolah kembali bertarung dengan gairahnya dan tangannya seperti ingin menghentikanku.
Hilang moodku dengan gesture penolakannya itu.
Kujauhkan tubuh dan menatapnya tajam. Dan wajah Adam seketika berubah, seolah menyesali penolakannya barusan.