Season 1
Pelangi adalah gadis cantik yang pernah mengalami kepahitan hidup karena perceraian orang tuanya.
Saat ia bertemu Bintang yang bernasib sama dan sering dijadikan bahan olok olok teman temannya karena perceraian kedua orangtuanya menumbuhkan simpati di hatinya.
Rasa simpati itu lambat laun berubah jadi sayang.
Bintang yang merasakan kasih sayang Pelangi berharap Pelangi bisa menjadi ibunya.
Akankah harapan Bintang terwujud?
Season 2
Bintang dan Pink kini telah dewasa. Bintang yang tumbuh besar bersama Pink, sangat menyayanginya.
Akankah Bintang tetap menganggap Pink sebagai adiknya ataukah perasaannya berubah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Rohyati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama di Sekolah
Pagi pagi sekali seperti biasa Anggi bangun. Setelah menyelesaikan rutinitas paginya.Anggi berjalan ke rumah utama. Ia langsung menuju dapur. Dilihatnya Nani sedang sibuk menyiapkan sarapan.
"Assalamualaikum mbak Nani!" sapa Anggi.
"Waalaikumsalam, Mbak Anggi sudah bangun?" jawab dan tanya Nani.
"Belum." jawab Anggi. Nani nampak bingung
"Ya sudahlah mbak.Kalau belum mana mungkin ada di sini."
Nani terkekeh mendengar gurauan Anggi.
"Masak apa mbak?"
"Ini ..nyiapin sarapan buat den Bintang dan Nona Pink sama Oma. Untuk den Bintang kalau pagi selalu minta telur arak arik..Nona Pink biasanya minta roti bakar sama telur..kalau Oma lebih suka sayur sama quaker, mbak Anggi mau sarapan apa?Biar aku buatin."
"Hmm sudah kayak rumah makan ya mbak..pesannya beda beda. Aku bikin nasi saja mbak. soalnya aku mau kerja biar ada energi..maklum mbak..aku kalau nggak makan nasi kayak belum makan gitu." jawab Anggi sambil senyum.
"Oh gampang mbak. Aku sudah masak nasi hanya belum buat sayur sama lauknya."
"Mbak Nani mau masak sayur apa?biar aku bantu."
"Mau bikin opor ayam ."
"Sini biar Anggi yang masak Mbak!"
"Nggak repotin mbak Anggi nih.nanti mbak terlambat kerja karena bantuin saya."
"Nggaklah mbak.masih terlalu pagi juga"
"Yo wes.. terima kasih mbak."
Anggi berkutat di dapur membantu Nani. Tepat jam setengah enam sarapan sudah tertata rapi di meja makan.
"Mbak aku ke paviliun dulu mau ganti baju." pamit Anggi kepada Nani
"Iya mbak silahkan."
Sepeninggal Anggi, Oma keluar dari kamarnya.
"Nin...bangunin anak anak!" perintah Oma.
Nina melaksanakan perintah Oma. Dia membangunkan tuan dan nona mudanya. Membantu mereka bersiap ke sekolah.
"Nin..ajak Anggi makan bersama!"
" Iya Nya..tadi mbak Anggi ijin ganti baju dulu setelah itu ia mau kesini lagi."
"Anggi itu siapa oma?" tanya Bintang.
"Nanti kau juga akan tahu."
"Assalamualaikum Oma..Pink..Bintang!" Anggi datang dan memberi salam.
Bukankah dia wanita yang kemarin pagi ketemu di toko buku. Mengapa bisa ada disini dan makan bareng kami, bathin Bintang heran.
"Waalaikumsalam"
"Waalaikumsalam Tante Anggi"
Oma dan Pink menjawab berbarengan, sedangkan Bintang masih menatap Anggi penuh rasa heran.
"Bintang kok nggak membalas salam Tante. Kalau ada yang mengucap salam hukumnya wajib membalasnya." Anggi berkata kepada Bintang.
"Waalaikumsalam." Bintang menjawab dengan ekspresi datar. Oma tersenyum penuh arti.
Sepertinya usahaku membawa Anggi ke sini tidak akan sia sia. Aku yakin Anggi akan mampu mengubah perangai Bintang dan memberikan kasih sayang seorang ibu yang didambakan oleh cucu cucuku yang diabaikan oleh ibu kandungnya sendiri. Oma membatin.
"Anggi nanti berangkat bareng Bintang saja, toh tujuannya sama kan." kata Oma.
"Maaf Oma..saya nanti dijemput Mila. Kami sudah janjian mau berangkat bareng karena hari ini sama sama hari pertama kami kerja."
"Oh..ya sudah tidak apa apa."
Setelah selesai sarapan,mereka berangkat ke tempat tujuan mereka masing masing.
♊♊♊♊♊♊♊♊
🏰🏰🏰🏰🏰Di sekolah🏰🏰🏰🏰🏰
"Pak..apa bapak pimpinan sekolahan ini sudah datang ya?" tanya Mila kepada satpam setelah mereka tiba di sekolahan.
"Belum mbak..memang kenapa mbak?"
"Hari ini hari pertama kami berkerja di sini jadi kami ingin menghadap beliau untuk meminta arahan dan tugas." jelas Mila.
"Oh kalau itu mbak mbak berdua tidak perlu ke bapak pimpinan tapi bisa ke kepala sekolah."
Anggi dan Mila sedikit bingung.
"Bukankah pimpinan sekolah itu juga kepala sekolah,Pak?" kali ini Anggi yang bertanya.
"Beda mbak..kalau pimpinan itu pemilik sekolahan ini tapi kalau kepala sekolah yang mengurus manajemen di sekolahan ini."
"Oh..terus bapak kepala sekolahnya sudah datang, Pak?" tanya Mila.
"Nggak ada Bapak Kepala Sekolah Mbak."
Lho...Anggi dan Mila dibuat pusing oleh si satpam.
"Lha tadi bilangnya ada kepala sekolah..kok sekarang bilang nggak ada bapak kepala sekolah. Bagaimana sih." Mila sudah mulai kehilangan kesabarannya. Anggi menepuk dan mengelus punggung Mila meminta gadis itu bersabar.
"Iya mbak..bapak kepala sekolah nggak ada. Yang ada ibu kepala sekolah."
Duh nih satpam..bikin orang darting aja bathin Mila. Anggi hanya senyum senyum. Ia tahu pak satpam nggak bermaksud mengerjai mereka namun ya mungkin memang karakter orangnya saja yang lugu.
"Dimana ruang ibu kepala sekolah Pak? Kami mau menghadap." Anggi bertanya
"Jangan bilang nggak ada ruang ibu kepala sekolah ya." Mila berkata masih dengan nada tidak sabar.
" Jangan hawatir mbak, kalau itu ada kok." jawab Pak Satpam.
Mila melotot. Siapa yang hawatir tentang ruangan..aku hawatir jawabanmu muter muter lagi batinnya.
Melihat mata Mila membola..Anggi tertawa.
"Puas banget kamu lihat aku jengkel begini."
Anggi hanya senyum senyum saja.
"Mari mbak saya antar."
Pak Satpam itu berjalan menuju ruang kepala sekolah diikuti Anggi dan Mila.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Di Ruang Kepala Sekolah
"Silahkan duduk!"
"Terima kasih,Bu." Anggi dan Mila membalas berbarengan.
"Perkenalkan nama saya Shaleta tapi biasa di panggil Bu Eta. "
" Saya Mila Rosa Bu dan biasa dipanggil Mila."
"Kalau saya Pelangi Bu. Tapi ibu bisa memanggil saya Anggi."
"Saya sudah mendengar tentang kalian dari Pak Reza. Namun untuk penempatan kalian beliau sepenuhnya menyerahkannya kepada saya. Kalian baru lulus ya jadi belum memiliki pengalaman mengajar."
"Benar Bu, kami baru lulus. Soal pengalamanengajar kami dapat sedikit saat praktek Bu." jelas Anggi.
"Baiklah..karena Pak Reza sudah menerima kalian jadi saya tempatkan kalian di kelas V. Kebetulan kemari ada dua guru kelas V yang mengundurkan diri karen pindah domisili ke luar kota. Untuk Bu Anggi di kelas V B sedangka Bu Mila di kelas V H.
tok tok tok
"Masuk!"
Pintu terbuka. Nampak Pak Satpam dan seorang guru pria berpakaian olah raga membawa dua orang anak dan salah satunya adalah Bintang. Penampilan Bintang sangat memprihatinkan. Rambutnya acak acakan, bajunya keluar dan tidak dimasukan. Dan pelipisnya berdarah. Matanya menatap tajam penuh amarah ke anak laki laki yang satunya. Sedangkan anak laki laki yang satunya mukanya lebam lebam, sudut bibirnya juga berdarah. Matanya sembab karena menangis.
"Ada apa ini?" tanya Bu Eta.
"Mereka berkelahi Bu." jawab Pak Erik.
Matanya sekilas melirik Mila dan Anggi.
" Dudukan mereka di kursi!"
Kemudian Bu Eta menghubungi seseorang melalui ponselnya. Dua kalai Bu Eta menelepon.
" Pak Satpam..antar Bu Anggi dan Bu Mila ke kelasnya masing-masing."
"Baik Bu."
Anggi keluar ruangan. Matanya menatap Bintang. Ia bertanya tanya apa yang dilakukan anak itu. Kenapa ia berkelahi?
mngkin Amelia anak temannya mama senja