Kisah yang menceritakan tentang seorang gadis desa yang sangat sederhana. Dia berjuang untuk bisa mengangkat derajat orang tuanya dengan bersekolah hingga lulus kuliah. Suatu ketika, dalam sebuah kegiatan bakti sosial Gadis ini dipertemukan dengan sosok ketua pemuda yang bijaksana. Karena pisau dapur ibu si gadis hilang saat bakti sosial, dari situlah awal mula kisah cinta mereka bermula.
Semoga kisah ini menginspirasi kita anak muda dalam menyikapi jaman yang semakin menggila.
baarokallahufik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terimakasih Kakak
"Kamu serius dengan adikku?" tanya Amar saat betatap muka dengan seorang pria yang diajak Siti adiknya untuk duduk bertiga. Mereka bertemu disebuah warung bakso disekitar tempat Siti bekerja di jam istirahat.
"Iya mas. Saya sangat mencintai Siti, mas." Jawab Pras dengan hati-hati. Dia agak kikuk dengan kakak dari kekasihnya.
" Kalau kamu memang mencintai adikku, apakah kamu mau menerima dia apa adanya?" tanya Amar lagi.
" Saya siap mas." Pras menjawab mantab.
"Kamu tau siapa Siti? Dia dari keluarga miskin, kami 7 bersaudara." Amar masih mengintrogasi.
"Ya mas. Saya Sudah tau mas."
"Aku akan menerima kamu, kalau kamu berjanji, akan melamar adikku secepatnya." Todong Amar tanpa basa basi.
Pras terkaget dengan pernyataan Amar. Dia sempat berfikir sejenak, dia memang cinta pada Siti, tapi Pras ingin menjalani hubungan pacaran dulu dengan Siti. Tetapi kakak Siti meminta lebih.
"Sepertinya, aku tidak bisa jauh dari Siti. Iya, daripada aku pacaran terlalu lama, lebih baik aku lamar dia. Bismillah, aku juga sudah mantab dengan Siti. Aku yakin, Siti wanita baik-baik." batin Pras.
"Ehem..." Amar mendehem menuntut jawaban dari Pras. Siti yang melihat pemandangan itu tampak khawatir, tetapi dia pasrah, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Siti Yakin, kakaknya punya niat baik untuk dirinya.
"Eh, iya mas. InshaaAllah saya akan segera melamar Siti, mas." jawab Pras dengan jantung yang berdetak tak menentu. Keringat dinginnya mulai bercucuran.
"Okey Saya tunggu. Jangan lama-lama." Jawab Amar. Lalu dia mengambil jaketnya.
"Mas mau balik kerja dulu dek." Pamit Amar pada Siti.
"Ehm, iya mas. Terimakasih ya mas. Hati-hati." jawab Siti mengantarkan kakaknya keluar Warung, lalu mengecup punggung tangan kakaknya.
Pras masih sibuk dengan hatinya yang berkecamuk. Begitupun dengan Siti. Akhirnya mereka kembali ke tempat kerja mereka masing-masing. Siti dan Pras satu tempat kerja di sebuah toko jahit. Mereka saling membisu, saat mereka kembali ke toko.
***
Dua tahun ini, karangtaruna Desa tempat tinggal Maryam dikuasai oleh seorang ketua pemuda yang hobi mabuk, sehingga banyak pemuda yang dipaksa mabuk. Maulid yang mengetahui semua itu berusaha untuk melengserkan ketua pemuda yang buruk itu dengan tanpa hormat.
Maulid mengadakan pengajian akbar dan peresmian pengajian ibu-ibu di desanya. Dengan berpanitia beberapa remaja Masjid yang aktif. Maulidpun meminta sekretaris karangtaruna yang kebetulan dia juga salah satu remaja masjid yang aktif. Dia meminta ada pertemuan karangtaruna dengan mengundang kerua RT dan RW. Dalam pertemua karangtaruna itu, Maulid mengutarakan keluhan-keluhan dari teman-temannya para aktifis masjid di depan para tokoh Masyarakat. Maulid meminta ada kebijakan dari para tokoh masyarakat terkait masalah kampungnya yang semakin tidak baik keadaannya.
"Mohon maaf bapak, dan teman-teman semua. Saya memang baru datang dari Jakarta, tetapi disini saya ingin mengutarakan sebuah masalah besar yang membuat saya harus segera pulang dari tanah rantau. Nama desa kita sudah tercatat sebagai kampung kurang baik. Terutama karangtarunanya, karena disetiap acara hajatan, di tempat umum, para pemudanya banyak yang mabuk didepan umum, dan para pemudi juga beberapa ikut bejoget di antara para penghibur. Betapa sangat miris keadaan kampung kita ini pak, sedangkan adik-adik TPQ juga sudah tidak sesemangat dulu untuk mengaji. Banyak anak remaja yang ditinggalkan orangtuanya merantau, yang akhirnya beberapa remaja putri harus kehilangan kesuciannya karena alasan dirumahnya atau dirumah pacarnya tak ada orang. Apakah keadaan seperti ini akan terus berlanjut pak?" tanya Maulid ditengah-tengah acara rapat dihadapan para tokoh masyarakat.
"Iya mas, kami sebenarnya tau akan masalah besar yang menimpa desa kita ini, tetapi kita bisa apa mas? Mungkin memang ini sudah jamannya seperti ini." jawab pak RW mewakili para tokoh masyarakat.
"Semua ini bisa diatasi pak. Kita tidak boleh pesimis pak, kita harus yakin untuk bisa mengatasi masalah ini. Salah satu jalan yang harua kita tempuh adalah mengganti ketua Karangtaruna yang religius. Bukan ketua yang justru menjerumuskan pemudanya ke jurang kesesatan." Ujar Maulid yang tak terkendali lagi.
"Apa maksudmu, hah? dasar anak ingusan, tau apa kamu masalah kampung? Jadi kamu pikir kita ini ga pantas jadi ketua pemuda? Hah? a**" protes ketua pemuda yang tidak terima dengan kata-kata musuh bebuyutannya. Ya, Maulid adalah pemuda yang sangat dia benci sejak dulu, entah apa alasannya, ketua pemuda bernama Maman ini sangat tidak suka dengan Maulid. Dia mulai berdiri sambil menggenggam tangannya hendak menghabisi pemuda yang sok pintar dihadapannya.
"Aku hanya bicara realita." Jawab Maulid santai.
"Kurang ajar kamu." Maman sudah mulai maju hendak menghajar Maulid, namun segera dicegah para ketua RT.
"Sabar mas, sabar." ketua RT 3 mencoba menenangkan Maman.
"Sudah mas, kita ini sedang di forum, mohon hargai forum musyawarah." pak RW mencoba memberi penengahan.
"Musyawarah apa pak? A**." Maman masig mengumpat tidak terima.
Maulid sama sekali tidak gentar, justru dia masih duduk dengan santainya sambil tersenyum kecut.
"Kalau kamu mau ngehajar aku? hajar aja. ayo padu. Tali jangan di forum. Ayo di luar. Apa kamu pikir aku takut? hah? Ketua pemuda kok ga bisa nahan emosi. Ga bisa jaga etika." ejek Maulid lagi masih dengan santainya.
Maman semakin memanas dengan kata-kata Maulid. Semua pemuda dan pemudi yang hadir di forum hanua bisa diam melihat adegan tersebut. Mereka tidak berani berkomentar dengan adu mulut yang hendak beralih pada adu fisik itu. Namun, untunglah para tokoh Masyarakat bisa menetralkan suasana. Maman kembali ditenangkan dan didudukkan pada tempatnya semula oleh pak RT 3.
"Baiklah, dengan keadaan seperti ini, kami tidak bisa memutuskan sendiri, saya tawarkan pada para pemuda pemudi, apakah kalian mau ganti ketua?" tanya pak RW.
Ada kasak kusuk suara beberapa pemuda pemudi sambil berbisik. Salah seorang pemuda yang menjabat sebagai sekretaris karangtarunapun angkat bicara.
" Menurut kami, benar pak. Alangkah lebih baiknya kita ganti ketua. Meski masa periode kepemimpinannya belum usai, namun saya rasa dengan pemilihan ketua pemuda yang baru itu lebih baik." ungkap Trisno selaku sekretaris karangtaruna sekaligus remaja masjid.
" Iya pak, menurut kami juga begitu. Sebaiknya kami ganti ketua pemuda dan pemudi." Ujar Atin selaku remaja Masjid sekaligus Bendahara karangtaruna.
"Ada suara lain?" tanya Pak RW.
Dilain sisi, Maman masih menahan amarahnya tiba-tiba berdiri.
"Iyo, aku nyet bodo, aku seneng mendem, gantinen aku rapopo. Aku ra rugi 'nyuk', Aku bakal minggat soko kampung ra mutu iki. Jaman saiki arep ndandani deso. Ngipi kowe. A**" Maman bicara lalu pergi meninggalkan forum.
Mereka tak memperdulikan amarah Maman, mereka tetap melanjutkan forum. Dan akhirnya sepakat mereka untuk mengganti ketua pemuda dan terpilihlah Sekretaris Karangtaruna, Teisno sebagai ketua pemuda untuk periode 3 tahun kedepan. Dan Atin juga selaku ketua pemudinya.
Forum akhirnya bubar, Saat pulang, benar saja. Sampai di perempatan dekat rumah, Maulid dan adiknya Maryam terhenti langkahnya oleh Maman yang sudah menghadangnya di sana sambil mencekik leher botol minuman haram. Dia bersama 4 kawannya sudah dalam keadaan mabuk, mereka sengaja untuk menghadang Maulid, dan akan menghabisi Maulid sebelum dia benar-benar minggat.
"Ayo padu Su a**..." tantang Maman dengan keadaan melayang. "Mati koe Nyuk." Umpat Maman sambil maju selangkah hendak menghantamkan botol topi miringnya ke kepala Maulid. Seketika Maulid menghindar, dia meminta Maryam berlari untuk pulang. Dia tidak ingin Maryam kenapa napa oleh mantan ketua pemuda yang sudah mabuk berat.
"Heh, nyuk, bengi iki kowe mati. Sesuk adimu sing ayu kui bakal tak dadekne wedokanku. hahaha." ancam Maman sambil menahan amarahnya.
Mendengar ucapan Maman menyebut adiknya, dia semakin geram, dengan kepalan tangannya, Maulidpun menghajar mantan ketua pemuda itu. Terjadilah Adu fisik antara Maulid dengan Maman dan keempat kawannya.
Bug, bug, bug
Mendengar suara riuh-riuh, beberapa pemuda yang kebetulan lewat langsung melerai perkelahian yang sudah memanas. Wajah Maulid sudah terkena beberapa pukulan dan memar di wajahnya. Begitupun dengan Maman dam keempat temannya, mereka sudah sempoyongan sambil memegangi perut mereka karena pukulan dari Maulid.
Beberapa pemuda memapah Maman beberapa kawannya menjauh dari Maulid. Dan Trisno yang kebetulan juga mengetahui perkelahian itu segera memapah Maulid dibawa pulang ke rumah Maulid. Sesampainya di Rumah, Maulid segera diobati Maryam dan ibunya.
Dan keesokan harinnya, ada kabar bahwa Maman benar-benar minggat sambil membawa uang penjualan Sapi milik bapaknya. Sungguh kabar yang sangat miris didengar, bapak ibunya menangisi kepergian anaknya yang pergi dengan penuh amarah.
"Dek, Semoga dengan ini akan ada perubahan di desa kita." kata Maulid seusai sholat Maghrib.
"Iya mas. Tapi ga harus dengan babak belur juga kan mas." Jawab Maryam iba.
"Wis, kamu ga usah khawatirin mas. Yang penting jaga diri kamu baik-baik. Jangan sampai kamu gagal seperti teman-teman kamu dan Ani."
buat author semngt💪💪💪 teruslah berkarya
semangattt berkarya 💪🥰🥰
- My Teacher Is Mine-
next
- My Teacher Is Mine-
semangattt next 💪💪
My Teacher Is Mine selalu mendukungmu 🥰
next💪💪
- My Teacher Is Mine-
yuk mampir di karya aku yang berjudul " My Teacher Is Mine" menceritakan kisah cinta murid dan gurunya.
tinggalkan jejak ya kk🥰🥰💙💙💙
pasti aku feedback 😇😇😇