Mu Yongsheng adalah jenderal Kekaisaran Dalu yang sangat setia. Tiba-tiba kekaisaran Dalu yang tenang itu menjadi kacau dengan kematian sang putri dan pengkhianatan yang di lakukan oleh sang perdana mentri.
Saat Mu Yongsheng membantu sang kaisar menyelamatkan diri dari kekacauan itu, dirinya terjatuh di dasar jurang hitam, hingga akhirnya bertemu dengan Zhaoyang seorang pendekar suci.
Pertemuan itu mengubah jalan hidupnya.
Bagaimana kisahnya?
Simak terus PENDEKAR PEDANG DARI TIMUR, dan dukung penulis dengan:
👉Like,
👉Rite dan
👉koment.
🙏Terima Kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudhistira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Tersesat Di Hutan Terlarang.
Huanran dan prajurit lainnya sangat terkejut.
Huanran sangat geram, dia tidak pernah menyangka kedua prajurit tawanan itu telah membawa mereka masuk ke dalam hutan terlarang.
Tanpa dapat menahan diri lagi, salah satu prajurit yang berada di sisi Huanran menombak salah satu prajurit tawanan itu hingga roboh.
"komandan Lian, apa yang kau lakukan?"
"Maaf jenderal aku sudah tidak dapat menahan diri," jawab Komandan Lian dengan tangan bergetar ingin menombak salah satunya lagi.
"Biarkan salah satunya hidup, dia masih b berguna bagi kita."
"Baik Jenderal," jawab komandan Lian sambil berusaha menenangkan dirinya.
Lari dari kejaran prajurit kota tetapi masuk ke wilayah terlarang itu sama saja bunuh diri dan konyol. Situasi huanran ibarat lari dari kandang ular tetapi justru memasuki ke kandang singa.
"Apakah kamu itu *****, sehingga tidak mengetahui bahwa mata panah yang telah ditancapkan di tubuhmu itu sebelumnya adalah mata panah biasa!?"
Prajurit itu terkejut, dirinya tidak menyangka bahwa sebenarnya mereka telah diperdaya oleh Jenderal Yongsheng.
"Jika mata panah itu beracun, apakah kamu masih bisa berdiri hingga saat ini?" sela komandan Lian geram.
Prajurit itu terkesiap, dirinya bahkan tidak menyadari hal itu.
"Hais, mengapa aku bisa begitu bodoh."
"Kamu tidak hanya bodoh, tapi benar-benar *****. Karena kamu telah membawa kami masuk ke hutan terlarang, maka kamu pula yang mencari jalan keluar!" ucap Huanran dengan geram.
Sang prajurit yang awalnya telah putus asa, kini memiliki semangat hidup, tetapi sekarang justru dalam situasi yang sulit. karena telah memasuki wilayah hutan terlarang.
"Jenderal, kita akan berdiam diri dan tidak bergerak kemanapun, karena sangat sulit untuk kita mengetahui posisi dan keberadaan kita saat ini. Aku harap dua ras yang merupakan musuh manusia itu tidak mengetahui keberadaan kita."
"Hais.. Prajurit kota ini....," ucap Huanran kesal. Satu-satunya hal yang dia cemaskan saat ini adalah kondisi Kaisar Hongli.
"Semoga Yang Mulia Kaisar tidak terbangun," batinnya sambil meminta prajurit untuk tetap waspada.
Mereka lalu berdiam di tempat itu sambil menunggu pagi tiba.
***
Di pojok ruangan yang gelap Yongsheng telah selesai memulihkan tenaganya.
"Sepertinya sudah menjelang pagi." Yongsheng lalu keluar dari bangunan tua itu dan melangkahkan kakinya dengan tenang menuju wilayah utara kota untuk menyusul Huanran dan yang lainnya.
Orang-orang yang berpapasan denganya menatap Yongsheng
dengan penasaran, karena jarang ada pendekar yang membawa panah di kota itu.
Yongsheng adalah pendekar pedang, tapi terlihat seperti pemanah, karena busur panah selalu ditangannya, adapun pedang yang merupakan senjata utamanya menyatu dengan tabung anak panah yang tergantung di punggungnya.
Setelah cukup jauh berjalan, Yongsheng lalu singgah di toko senjata yang dia temui.
Kedatangannya segera disambut oleh pelayan dengan ramah.
"Selamat datang tuan, ada yang bisa kami bantu?"
"Tuan, Aku ingin anak panah dalam jumlah yang banyak. Apakah ada?"
"Mari Tuan ikut saya, nanti taun bisa memilih jenis anak panah yang tuan inginkan."
Sang penjaga toko lalu membawa Yongsheng memasuki ruangan khusus. Di dalam ruangan itu, tersedia berbagai jenis senjata, ada senjata biasa hingga tingkat tinggi.
Di benua Awan Biru, kualitas senjata dibagi ke dalam lima tingkatan yaitu senjata tingkat perunggu, tingkat perak, tingkat emas, tingkat suci dan tingkat Dewa. Selain itu, tingkatan tersebut terbagi lagi dalam tiga kelompok kecil yaitu tingkat rendah tingkat menengah dan tingkat tinggi.
"Pelayan aku ini anak panah ini," ucapnya sambil meraih anak panah yang tersusun rapi di dalam tabung bambu yang di ukir dengan indah.
"Tuan apakah anda yakin, ini adalah anak panah dengan kualitas perak tingkat menengah dan harga satu batangnya lima keping perak, anda perlu berapa banyak tuan?"
"Seratus batang," ucapnya sambil menyerahkan lima keping emas.
"Baik Tuan."
Dengan segera pelayan tersebut lalu menghitung jumlah anak panah yang telah dibayar.
Benua awan biru menggunakan perak dan emas sebagai alat pembayaran. Satu keping emas sama dengan seratus keping perak, sehingga saat Yongsheng membeli seratus batang anak panah, dia cukup menyerahkan lima keping perak saja.
"Tuan Apakah ada lagi?"
Mata Yongsheng tertuju pada sebuah pedang tua yang terlihat tidak terurus tetapi diletakkan di tempat yang paling bagus.
"Pedang yang menarik," batinnya sambil memincingkan matanya memeriksa pedang tersebut.
"Tuan itu adalah pedang kuno yang merupakan senjata tingkat emas dengan kualitas tingkat puncak. Apakah anda tertarik, harganya hanya seratus keping emas."
"Apakah tidak bisa dikurangi lagi?"
Penjaga toko itu tersenyum, "Sembilan puluh delapan keping emas tuan, itu sudah harga pas."
"Itu adalah harga yang sangat mahal, apakah tidak dapat dikurangi lagi?"
Pelayan itu menggelengkan kepalanya.
"Sebenarnya aku sangat tertarik dengan pedang itu, tapi ... "
Yongsheng menjeda kata-katanya, lalu mengambil anak yang telah dihitung oleh pelayan itu lalu menyimpannya pada tabung panahnya.
Mata pelayan toko itu terbelalak saat melihat pedang yang ada di dalam tabung anak panah.
"Tuan anda sudah memiliki pedang yang luar biasa, lalu mengapa anda tertarik dengan pedang itu?"
"Aku hanya heran saja, karena pedang aneh dan jelek itu di letakkan di tempat yang bagus."
"Tuan, Itu bukan karena bentuknya, tetapi karena kualitasnya. Jika tuan masih menginginkannya maka aku akan memotong harganya sekali lagi. Bagaimana jika delapan puluh keping emas?"
Yongsheng tersenyum, "Tuan aku hanya seorang pengembara. Mana mungkin aku memiliki uang sebanyak itu."
Pelayan toko itu mengangguk-anggukkan kepalanya dan memahami, "Seorang pengembara memang jarang memiliki banyak uang," batinya.
"Jika demikian, berapa banyak uang yang Tuan dimiliki?"
"Saat ini hanya tersisa lima puluh keping emas saja." jawab Yongsheng
Sang penjaga toko itu lalu mengeluarkan pedang itu dari kotaknya dan memberikannya pada
Yongsheng.
"Ambilah Tuan," ucapnya sambil tersenyum ramah.
"Ah.. Tuan, anda jangan bercanda. Ini adalah pedang dengan kualitas terbaik Mengapa bisa begitu murah?"
"Tuan, pedang itu sudah bertahun-tahun di tempatnya. Pedang itu sebelumnya di jual oleh seorang kakek yang kehabisan uang. Aku membelinya dan meletakannya di sana, tetapi tidak ada seorang pun yang tertarik memilikinya, sehingga aku yang menjualnya juga kebingungan, karena tuan menginginkannya, mengapa tidak aku lepas saja."
"Jika demikian, baiklah aku akan mengambilnya," ucap Yongsheng sambil menyerahkan kantong hitam yang berisi lima puluh keping emas.
Setelah membayar pedang dan berbasa-basi, Yongsheng lalu meninggalkan toko itu lalu melanjutkan perjalanannya ke arah utara.
Dalam perjalanan.
Yongsheng terlihat sangat senang.
"Jika informasi yang kubaca itu benar, maka dapat dipastikan bahwa pedang itu adalah pedang suci yang telah menjadi rebutan para kultivator pedang ratusan tahun yang lalu." batinnya senang.
***
Hutan terlarang.
Huanran dan rombongannya berusaha mencari jalan keluar dengan terus mengikuti prajurit tawanan sebagai pemimpin jalan.
"Apakah kita tidak tersesat?"
"Tenang Jenderal, aku sedikit mengetahui wilayah ini, walaupun aku tidak sering memasukinya tetapi aku tahu ini adalah rute terdekat menuju jalan keluar."
Huanran merasa tidak yakin, karena sepertinya mereka semakin memasuki wilayah bagian dalam hutan terlarang itu.
Mereka terus melangkahkan kaki, hingga prajurit yang mimpin jalan itu menghentikan langkahnya.
"Jenderal, lihat!"
Prajurit tersebut terlihat senang sambil menunjuk sebuah arah yang sepertinya telah dilewati banyak orang.
Dengan segera Huanran menghampiri prajurit tersebut dan melihat arah yang ditunjuknya.
"Apa!?"
Wajah Huanran tiba-tiba menegang, sehingga membuat semua prajurit itu penasaran.
Phak.. Pukulan keras mendarat di kepala prajurit itu, sehingga mengejutkannya.
"Bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa itu adalah rute jalan dan tanda yang di lewati oleh manusua. Mundur!" ucap Huanran pada prajurit yang ada di belakangnya sambil bergerak secara perlahan.
krn cintanya tertuju pd jia li
sungguh mengharukan