Tentang Anya yang harus menerima perjodohan dan menikah dengan lelaki kasar dan dingin bernama Dante, demi menghujudkan keinginan sang ayah yang sedang kritis di rumah sakit. Luka dan derita mengiringi setiap langkah kakinya setelah pernikahannya berlangsung. Bukan hanya harus menerima perilaku kasar dari sang suami, ia juga harus menerima kenyataan jika suaminya telah tega menghamili wanita lain dan berniat menikahi wanita tersebut.
Juga dendam dimasa lalu, yang menutut pembalasan membuat orang-orang yang Anya sayangi satu persatu jatuh dan terluka. Dapatkan Anya bertahan dengan hidupnya yang malang? Ditengah problema rumah tangga yang begitu rumit, serta kehadiran orang ketiga yang berusaha merusak rumah tangganya.
Akan banyak adegan kekerasan terhadap wanita di beberapa part, juga perkelahian serta umpatan-umpatan kasar mohon bijak untuk membacanya dan memberikan komentar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N.P Sukaryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang menyakitkan (part 2) (pembaruan)
Begini kah rasanya sakit hati? Seperti ditikam sebuah belati, yang tepat mengenai jantung hati. Tega, teramat tega suamiku sendiri berbohong dan mengkhianati pernikahan kami. Belum cukupkah ia melukai hatiku, dengan niatnya yang akan menikahi wanita lain? Sungguh, aku sangat mengutuki segala perbuatan yang dia lakukan kepadaku.
Anya menyeka airmatanya kasar, menyalahkan mobil Fortunernya, lalu menarik gas meninggalkan kediaman Dante.
Tidak lagi memperdulikan keselamatannya, Anya menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang begitu tinggi. Gadis itu bahkan menerobos begitu saja, rambu-rambu lalu lintas.
Pikirannya begitu kacau, amarah dan emosi telah berhasil mengambil alih tubuhnya. Ingin cepat-cepat rasanya bertemu Dante, meluapkan segala kemarahannya kepada lelaki itu.
Jam menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Jalanan ibukota yang biasanya terlihat ramai, kini begitu sepi dan gelap. Anya yang menyadari akan hal tersebut, menarik pegalnya dan menambah kecepatan laju mobilnya.
Arsilla yang masih begitu setia menunggu dirinya di halaman hotel, terlihat tercengang dengan kedatangan dirinya. Bagaimana tidak? Jarak yang seharusnya di tempuh dari kediaman Dante ke hotel tersebut seharusnya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit. Namun, Anya gadis itu tiba di hotel tersebut hanya membutuhkan waktu kurang dari 8 menit. Membuat Arsilla di rundung kegelisahan, dirinya meyakini jika Anya saat ini pasti sedang dalam keadaan marah.
Maka dengan gesit, Arsilla langsung menghambur menyusul mobil Anya yang berjalan memasuki basemen hotel.
Arsilla membungkuk tubuhnya, mengatur nafasnya yang sedikit tersengal akibat lari. Gadis itu menyekap keringat yang sedikit menetes dari pelupuk keningnya, sebelum ia kembali berlari menghampiri mobil Anya yang sudah terparkir.
Tok... Tok... Tok
"Nya, lo gak apa-apa, kan?" Arsilla mengetuk-ngetuk kaca mobil milik Anya. Dirinya tidak mampu melihat keadaan Anya dari luar sana, karena kaca mobil milik Anya di design begitu gelap.
"Anya, buka dong. Jangan bikin gue khawatir."
Anya termangu, duduk terisak sambil menatap lurus ke arah depan. Tubuhnya begitu gemetar, takut melihat kenyataan yang ada di depannya jika benar Dante saat ini sedang berada di dalam kamar hotel bersama Layla. Hatinya benar-benar tidak sanggup, sungguh tidak sanggup.
"Anya, keluar dong."
Diluar mobil Arsilla masih terus mengetuk-ngetuk kaca mobil Anya. Dirinya begitu sangat khawatir dengan keadaan Anya saat ini, Arsilla takut Anya akan meledak dan melakukan sesuatu diluar kendali dirinya.
Anya menghela nafas panjang, menatap raut wajah Arsilla yang terlihat begitu cemas. Anya menghapus airmatanya, tersenyum simpul dan memejamkan matanya beberapa detik.
Dirinya sungguh masih beruntung, walaupun dia tidak dicintai oleh suaminya, dan tidak dianggap di kehidupan Dante. Namun, Anya begitu beruntung masih memiliki sahabat seperti Arsilla. Gadis bar-bar yang memiliki hati bak malaikat. Entah, apa yang akan terjadi jika dirinya tidak memiliki sahabat seperti Arsilla, mungkin sudah sedari kemarin dia menandatangani surat perjanjian tersebut dan menyerah sambil meratapi nasibnya.
Anya menghapus kembali airmata yang terus turun membasahi pipinya, setelah meyakinkan airmata sialan itu terhapus, berlahan ia membuka pintu mobil Fortunernya dan turun dari dalamnya.
Arsilla langsung menghampur, mendekap Anya dengan sangat erat. Akhirnya gadis itu keluar dari dalam mobil, setelah hampir tiga puluh menit dia berdiam diri di dalam sana, dengan keadaan mesin mobil yang mati.
Ya! Arsilla sudah mengetuk-ngetuk kaca mobil Anya selama tiga puluh menit, selama itu pula dirinya berdiri dan berusaha membujuk Anya untuk keluar dari sana. Dirinya begitu takut, Anya kenapa-kenapa di dalam sana dengan keadaan mesin mobil dan AC yang tidak menyalah. Namun, syukur Arsilla dapat bernafas dengan lega melihat Anya turun dari dalam mobil dengan keadaan baik-baik saja, walau Arsilla melihat tubuhnya basah akibat keringat.
"Mana Dante, Sil?" tanya Anya dengan suara sendu.
"Eh..." Arsilla melepaskan pelukannya, gadis itu malah termangu menatap wajah sedih Anya. Dadanya seketika terasa sesak, tidak sanggup untuk Arsilla melihat sahabatnya seperti ini.
Tidak mendapatkan jawaban dari Arsilla, Anya menolehkan kepalanya menatap Arsilla nanar. Gadis bermata sayu itu kembali melontarkan pertanyaan, bertanya kepada Arsilla dimana keberadaan suaminya itu.
"Dante dimana, Arsilla Maharani..."
Arsilla terperangah, ketika mendengar Anya berteriak menyebut nama panjangnya. Reflek Arsilla langsung menjawab jika suaminya itu berada di lantai lima belas dan di dalam kamar nomer 1024.
Setelah mendapatkan informasi dimana keberadaan suaminya, Anya langsung melesat begitu saja meninggalkan Arsilla. Berjalan menuju lobi hotel dan masuk ke dalam lift.
Di dalam lift, Anya tidak dapat menyembunyikan rasa takut cemas dan juga marah. Terbukti Arsilla dapat dengan jelas melihat Anya yang terus menghela nafas panjang, sambil memainkan jarinya yang terlihat bergetar hebat.
"Lo gak apa-apa, kan?" tanya Arsilla yang hanya dibalas lirikan mata tajam oleh Anya.
Bodoh! Arsilla begitu bodoh menanyakan apakah Anya baik-baik saja atau tidak. Tanpa perlu di jawab tentu sudah pasti jawabannya, Anya begitu marah dan sakit hati saat ini.
Seketika keduanya termenung, tidak saling bicara dan larut dalam pikiran mereka masing-masing. Anya terus memikirkan suaminya yang kini mungkin tengah melakukan dosa diatas ranjang bersama, sementara Arsilla memikirkan bagaimana dirinya menghadapi Anya yang sedang dalam keadaan emosi.
Ting...
Pintu lift terbuka, menampakkan lorong hotel yang begitu panjang dan terlihat sepi. Anya tidak langsung keluar dari dalam sana, gadis itu malah menyenderkan tubuhnya ke dinding lift sambil memejamkan matanya. Entah, mengapa kaki-kaki kecilnya itu tiba-tiba terasa begitu berat untuk melangkah. Degup jantungnya pun, seakan ingin keluar dari dalam tubuhnya saking kerasnya berdetak.
Arsilla menekan pintu lift agar tetap terus terbuka, kemudian ia langsung menghampur menggenggam tangan Anya.
"Rasanya gue gak sanggup, Sil. Gue takut." Anya menatap Arsilla dengan airmuka sendu. Membuat Arsilla seketika mengingat ucapan Devan tadi.
Apa ini yang dimaksud Devan. Entah mengapa aku merasa akan terjadi sesuatu kepada Anya. Gumam Arsilla di dalam hati.
Arsilla berusaha mengendalikan dirinya, menyadarkan dirinya sendiri untuk tetap berpikir positif dan fokus kepada Anya.
"Lo harus kuat, demi rumah tangga lo, Nya. Lo gak boleh lemah, lo harus tunjukkin sama Dante jika yang seharusnya ada diposisi Layla sekarang itu lo, bukan dia." Arsilla terus berusaha menyuntikkan semangat kepada Anya.
Anya menganggukan kepalanya mengerti, dia pun berjalan keluar dari dalam lift dengan hati yang mengebu-gebu tidak sabaran, ingin melihat ekspresi wajah sang suami melihat kedatangannya.
Degup jantungnya semakin berdegup semakin kencang, ketika kedua mata hitamnya menangkap nomer kamar yang menurut Arsilla berisikan Dante dan Layla itu. Tanpa aba-aba, Anya langsung mengetuk pintu kamar tersebut begitu kerasnya.
Tok.... Tok... Tok
Tidak ada jawaban, kembali Anya mengetuk pintu kamar dengan ketukan yang lebih kencang.
Tok... Tok... Tok
Masih tetap tidak ada jawaban, membuat Arsilla yang tengah berdiri di sebelah Anya penasaran. Di tempel-kannya telinga miliknya di daun pintu kamar bertuliskan nomer 1024 itu, mencoba mendengarkan sedang apa Dante dengan Layla di dalam sana. Namu, nihil dia tidak mendengar suara apapun. Mungkin karena kamar tersebut di pasang peredam suara, atau memang telinga Arsilla yang bermasalah.
Anya yang terlihat kesal, dsn tidak sabar langsung menendang pintu kamar tersebut, hingga membuat Arsilla terperanjak kaget. Gadis yang masih menempelkan telinganya di daun pintu itu refleks langsung memundurkan tubuhnya.
Anya menghela nafas kasar, memijat keningnya yang mulai terasa sakit itu sambil mundar-mandir mencari cara agar Dante membukakan pintu kamarnya. Arsilla yang tidak tega melihat Anya, mencoba mengedor pintu kamar yang di singgahi Dante.
Tok... Tok... Tok
"Layanan hotel..."
Anya menoleh ketika Arsilla berucap demikian, ia terus menatap nanar kearah kamar yang ternyata mulai dibuka oleh penghuninya itu.
Ceklek...
Deg...
Anya dan Arsilla memundurkan tubuhnya, tak kala mereka mendengar suara pintu kamar terbuka. Arsilla mendongakkan kepalanya, tidak sabaran ingin mendari tau, siapa yang berada dibalik pintu berwarna coklat tersebut.
Betapa terkejutnya gadis itu, ketika mendapati Dante tengah berdiri dengan hanya mengenakan handuk yang melingkar pada pinggangnya. Tubuhnya juga amat sangat basah akibat keringat, yang terus keluar dari pori-pori tubuhnya.
"Arsilla..." Tidak kala terkejutnya Dante, ketika irisnya melihat tubuh mungil milik sahabat istrinya itu berdiri di depannya.
"Kamu ngapain kesini?"
TO BE COUNTINUE...
dan jgn mengedepankan dendam , serahin saja sama Allah .
jalani lah hidup dgn kerukunan , cinta kasih dan sayang yg tulus serta ikhlas , serta syukuri apapun yg pemberian Allah .
anda akan menang dlm menjalani kehidupan .
hidup Istiqomah dan menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan Husnul khotimah Aamiin