Aisyah Safitri, menerima pinangan dari Hanif, seorang dosen yang terkenal soleh dan baik hati.
Awal pernikahan mereka, memang terlihat seperti rumah tangga orang lain pada umumnya, yang bergitu romantis dan harmonis.
Tapi siapa sangka, dibalik keharmonisannya itu, tersimpan sebuah rahasia, yang membuat rumah tangga mereka berada di ujung tanduk.
Akankah perceraian terjadi di antara keduanya? Dan mampukah, Aisyah mempertahankan rumah tangganya? Apa sih rahasia penyebab itu semua?
Yang penasaran, yuk lanjut baca aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demam
Pagi ini Aisyah bangun terlebih dahulu, seperti biasa ia akan melaksanakan solat tahajud dan beberapa solat sunah lainnya.
Selagi menunggu azan subuh, Aisyah mengisi waktunya dengan bertilawah 1 juz. Kemudian ia segera membangunkan suaminya, menyuruhnya untuk segera pergi solat subuh ke masjid. Hanif pun bangun, dan segera berlalu ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
^
Di meja makan, terlihat sarapan pagi, yaitu dua slice roti bakar sudah tersaji dengan begitu sempurna. Dan kotak makan, bekal untuk Hanif pun sudah Aisyah persiapkan.
Kini Hanif, keluar dari kamarnya terlihat sekali pakaiannya yang begitu formal dan rapi. Aisyah menyambutnya dengan senyuman yang begitu tulus dan manis.
"Uda, ayo kita makan dulu," ajak Aisyah, Hanif mengiyakan, dan segera mendudukkan tubuhnya disalah satu kursi yang ada didekat meja makan.
"Aisyah, sudah membuat roti bakar blueberry kesukaan Uda," ucap Aisyah dengan semangat. Tak lupa Aisyah menyiapkan satu gelas teh hangat untuk suaminya.
"Terima kasih," ucap Hanif, segera melahap makanannya.
Aisyah pun ikut duduk, dan menyantap sarapan paginya. Setelah selesai sarapan, Aisyah segera membereskan semuanya.
"Oh ya Uda, semalam Uda pulang jam berapa?" tanya Aisyah.
Hanif, yang sedang fokus memakai kaus kaki, sejenak ia menghentikan aktivitasnya.
"Em, tidak tahu ... Uda semalam tidak melihat jam," ucap Hanif, begitu datar.
"Oh ya Uda, terima kasih ya, semalam sudah memindahkan Aisyah ke kamar," ucapnya. Hanif menanggapinya hanya dengan tersenyum mengangguk.
Aisyah, tersenyum getir, ketika, hanya mendapat tanggapan seperti itu dari Hanif.
"Apa Uda, sedingin ini ya sikapnya? Kenapa Uda, selalu banyak diam, bahkan mengajak ngobrol Aisyah saja, jarang sekali," batinnya, sambil diam berdiri, memperhatikan suaminya yang sedang fokus memakai sepatunya.
"Uda," panggil Aisyah pelan. Hanif menoleh ke arah Aisyah.
"Ada apa Aisyah?"
"Emh ... apa Uda hari ini akan pulang malam lagi?" tanya Aisyah, memasang wajah melasnya.
Hanif segera berdiri, dan berjalan menghampiri Aisyah. "Aisyah maafkan Uda ya, kemarin Uda ada kepentingan mendadak, jadi tidak bisa pulang cepat. Kamu semalam baik-baik saja kan?" tanya Hanif.
Aisyah, sedikit tercengang, ketika mendengar suaminya, bertanya akan keadaannya. Karena biasanya Hanif tidak pernah menanyakan hal mengenai dirinya. Jangankan untuk bertanya mengenai Aisyah, menjawab pertanyaan yang Aisyah lontarkan saja, kadang di jawab kadang enggak.
"Ini, pertama kalinya Uda, menanyakan kabar Aisyah," batin Aisyah.
"Iya tidak apa-apa Uda, lagi pula Aisyah kini sudah terbiasa. Hanya saja ... Aisyah sedikit takut," ucap Aisyah sambil mencebikkan bibirnya.
"Takut? ... Takut kenapa?" tanya Hanif menautkan kedua alisnya.
"Aisyah takut, kalau turun hujan malam-malam. Maka dari itu, kalau turun hujan, bisakan Uda mempercepat kepulangan Uda ke rumah," ujar Aisyah, seakan memohon.
"Aisyah takut dengan hujan?" tanya Hanif, Aisyah menganggukkan kepalanya pelan.
"Baiklah Uda janji, kalau cuaca sedang hujan, Uda akan segera pulang, dan menemani Aisyah di rumah ya," ujar Hanif, memberikan senyuman manisnya. Begitu pun Aisyah, yang terlihat begitu senang mendengarnya.
Kini Hanif berpamitan kepada Aisyah. Namun sebelum itu, Aisyah terlebih dahulu mencium punggung tangan suaminya.
"Aisyah, kenapa tanganmu hangat seperti ini?" tanya Hanif. Ia juga langsung menempelkan punggung tangannya di dahi Aisyah.
"Aisyah, kamu demam," ucap Hanif, seakan panik tak menyangka.
"Hah?"
"Tidak Uda, Aisyah tidak apa-apa," sangkal Aisyah dengan memasang wajah polosnya.
"Aisyah, badan kamu panas," ujar Hanif, seakan cemas.
"Tidak apa-apa Uda, mungkin karena semalam kehujanan," tutur Aisyah dengan jujur.
Hanif seketika membulatkan matanya. "Kehujanan? Semalam Aisyah pergi keluar?"
"I-iya Uda, maaf soalnya mati lampu, jadi Aisyah pergi ke warung dan sepulang dari warung Aisyah kehujanan di jalan," ucap Aisyah, sedikit takut.
"Ya Allah Aisyah! ... Ya sudah, sekarang kita ke dokter ya," ajak Hanif menarik lengan Aisyah, namun Aisyah tak bergeming dari tempatnya, ia menolak jika harus dibawa ke dokter.
"Tidak usah Uda, Aisyah tadi sudah minum vitamin ko, Uda tidak perlu khawatir Aisyah pasti segera sembuh," tuturnya tersenyum, mencoba meyakinkan. Hanif hanya memandangi Aisyah, dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Sudah siang Uda. Uda sebaiknya segera pergi, nanti kalau telat gimana?" sambung Aisyah.
Hanif mendengus pelan. "Baiklah, Aisyah jaga diri baik-baik ya, Uda berangkat dulu," pamit Hanif.
***
Aisyah kembali masuk ke dalam rumah, setelah melihat kepergian suaminya yang berangkat kerja. Pagi ini Aisyah di buat begitu senang, karena pada akhirnya sekarang ia bisa melihat kekhawatiran diwajah Hanif akan dirinya.
"Ternyata, Uda bisa mengkhawatirkanku juga," gumamnya, tersenyum sendiri, dengan perasaan yang teramat berbunga-bunga.
Sementara itu, di dalam mobil, Hanif terlihat sedikit murung. Ia seakan merasa bersalah, dengan apa yang sudah ia perbuat hari kemarin.
"Ah ya Allah, ada apa denganku?"
"Kenapa aku bisa sampai ceroboh, dalam menjaga istriku sendiri," gumam Hanif, dengan perasaan yang begitu kalut, karena merasa bersalah kepada Aisyah.
"Aku bahkan, membiarkan istriku sendirian dalam ketakutannya." Seketika Hanif kembali mengingat permintaan Aisyah, mengenai hujan. Yang mengharuskan dirinya untuk segera pulang.
"Astagfirullah, maafkan aku ya Allah...."
.
.
Bersambung
Mau menyamakan. Aisyah ya beda level lah Nara kamu mah ga ada apa apanya
Kamu selingkuh Hanif
Biar Aisyah sama Adam aja
minta ke Aisah baik2
jngan pake cra yg keji , jahat