seorang gadis cantik yaang bernama Zaleta Zee yang tak sengaja bertemu dengan psikopat kejam bernama El Beethoven.Bagaimana kisah Meraka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eti Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mencium
Tatapan antara Zee dan Ken semakin dalam, membuat suasana di sekitar mereka menjadi semakin tegang dan romantis. Mereka saling mendekatkan wajah mereka, hingga jarak di antara mereka hanya beberapa sentimeter saja.
Zee dapat merasakan detak jantung Ken yang semakin kencang, dan Ken juga dapat merasakan napas Zee yang semakin cepat. Mereka berdua sepertinya tidak dapat menahan diri lagi.
Akhirnya, Ken mencium bibir Zee dengan lembut namun penuh gairah. Zee merasa terkejut saat tiba-tiba Ken menciumnya. Dia hanya diam, tak bergeming, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ken terus mencium Zee, tidak peduli dengan reaksi Zee yang terkejut.
Saat itu, Ken melirik ke arah luar, dia tahu bahwa El sedang mengamatinya dari jauh. Ken tersenyum miring ke arah El, seolah-olah dia sedang mengatakan "Aku telah mengambilnya".
Zee, yang masih terkejut, tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Dia hanya merasa bahwa Ken sedang menciumnya dengan penuh gairah, dan dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
El, yang sedang mengamatinya dari jauh, merasa marah dan cemburu. Dia tidak ingin Zee jatuh ke tangan Ken, dan dia akan melakukan apa saja untuk menghalangi itu.
Ken melepas ciuman itu dan memandang Zee dengan mata yang penuh penyesalan. "Maafkan aku, Zee. Aku tidak bisa menahannya," katanya dengan suara yang lembut.
Muka Zee memerah bagaikan tomat, tapi dia tidak marah sama sekali. Sebaliknya, dia terlihat terkejut dan bingung, seperti tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Zee memandang Ken dengan mata yang lebar, seperti mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, tapi hanya memandang Ken dengan ekspresi yang bingung dan terkejut.
Ken memandang Zee dengan mata yang penuh harapan, seperti berharap Zee tidak akan marah padanya. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, tapi hanya memandang Zee dengan ekspresi yang lembut dan penyesalan.
Ken mengantarkan Zee pulang dan berpamitan dengan sopan. "Makasih ya, Kak, udah nganterin Zee pulang," ucap Zee sambil tersenyum.
"Iya, sama-sama, Zee," jawab Ken sambil tersenyum kembali.
Setelah Ken pergi, Zee masuk ke dalam rumahnya dan ingin bekerja, tetapi dia merasa ada seseorang yang mengikuti di belakangnya. Dia merasa tidak nyaman dan mencoba untuk mengabaikannya.
Tapi, sebelum dia bisa melakukan apa pun, tiba-tiba seseorang menyerangnya dari belakang dan membekap mulutnya menggunakan kain yang sudah diberi obat bius.
Zee berusaha untuk melawan, tetapi obat bius tersebut terlalu kuat dan membuatnya kehilangan kesadaran. Dia jatuh ke lantai, tidak bisa bergerak atau berteriak.
Zee mulai tersadar dan menyadari bahwa dia berada di ruangan yang tidak asing di ingatannya. Dia mencoba untuk mengingat bagaimana dia bisa berada di sana, tapi ingatannya masih kabur.
"Kau sudah sadar," tanya El dengan nada dingin, membuat Zee merasa merinding.
DEG! Zee sangat terkejut dan langsung duduk tegak. Dia tau sekarang bahwa dia berada di kamar El. Dia tidak bisa percaya bahwa El bisa melakukan hal seperti ini padanya.
"Apa yang kau lakukan, El?" tanya Zee dengan suara yang gemetar. Dia merasa takut dan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Aku sudah memberikanmu kesempatan untuk bermain-main," kata El dengan nada tegas dan dingin, membuat Zee semakin takut.
El menghampiri Zee, mata mereka beradu dalam suasana yang tegang. "Kau memang gadis yang sangat nakal, tapi aku tidak akan membiarkanmu kabur lagi," ucap El dengan nada mengancam, membuat Zee merasa seperti terjebak dalam situasi yang tidak bisa dihindari.
Zee mencoba untuk mundur, tapi dia terhalang oleh dinding. Dia tidak bisa bergerak, tidak bisa melarikan diri. Dia hanya bisa menatap El dengan mata yang penuh ketakutan.