NovelToon NovelToon
Cinta Tak Ada Dalam Pasal

Cinta Tak Ada Dalam Pasal

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Duda
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kiky Mungil

Shira adalah pengasuh ke-14 yang berhasil bertahan lebih dari dua bulan dan satu-satunya pengasuh yang berhasil membuat Lulu - gadis kecil pemurung yang diasuhnya - tersenyum. Ia menyukai pekerjaannya, karena dia setulus itu mengasuh Lulu. Sampai suatu malam, Ruan - ayah Lulu - yang sedingin es kutub, memberikannya tawaran kerjasama dengan gaji lima kali lipat dan bonus gaji setiap hari! Tawaran fantastis yang tidak bisa diabaikan oleh seseorang yang sedang membutuhkan suntikan dana darurat seperti Shira.
Masalahnya kerjasama itu berupa pernikahan kontrak dimana Shira harus berperan sebagai istri sungguhan di depan semua orang. Kontrak itu akan diatur dalam pasal-pasal tertulis yang disepakati bersama, salah satunya adalah "Tidak boleh melibatkan perasaan pribadi dalam menjalankan peran."
Tapi masalahnya, ketika sandiwara membuat peran terasa nyata, Shira menyadari perasaannya telah melanggar pasal. Ia tidak lagi bisa meneruskan, apa lagi ketika ibu kandung Lulu datang kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Cerita Masa Lalu Yang Berakhir Basah-Basahan

Hari ini rasanya sudah begitu panjang, padahal di atasnya langit masih terang, hanya saja energi Shira terkuras habis-habisan untuk bersandiwara di depan Mama Ratna dan sepupu Ruan yang datang tanpa diundang tadi. Dan ternyata, berpura-pura menyukai pria yang hampir tidak pernah tersenyum padanya itu lebih sulit dari pada pendekatan pertama dengan Lulu. 

“Waktu dua jam yang saya berikan sudah lewat dari tiga puluh menit, saya harap kamu sudah memutuskan.” Suara Ruan masih terngiang jelas seperti mimpi buruk setelah tidur di waktu sore. 

Tepat setelah mereka berpisah dari Mama Ratna dan Beno usai makan siang tadi, Ruan langsung mengingatkan Shira bahwa memiliki hutang jawaban untuk menentukan pilihan. 

“Saya pilih… pasal yang baru.” jawaban Shira pada akhirnya telah menentukan masa depannya. 

Kini dia hanya duduk termangu di pinggir kolam renang, kakinya bergerak pelan di dalam air. Dia tidak menyangkal bahwa ada kesedihan yang dia rasakan. Impian sederhananya untuk jatuh cinta dan dicintai sepertinya sudah harus dia kubur dalam-dalam. Harapan untuk bertemu dengan pangeran tampan yang membuatnya jatuh cinta seperti drama-drama yang dia lihat sepertinya tidak akan pernah menjadi kenyataan. 

Shira menghela napas panjang yang berat. Kepalanya menunduk tak bersemangat. 

“Jangan sampai Lulu melihatmu lesu begitu.” Suara Ruan membuat Shira seketika menegakkan kepalanya. 

Ruan melangkah mendekat, pria itu sudah menanggalkan jasnya dan menyisakan kemeja hitam dan dasi yang bagian atasnya sudah dilonggarkan. 

“Lulu kecapean, Pak, sekarang masih tidur di kamarnya.”

Ruan tidak menyahut, dia kemudian menempati kursi yang berada tak jauh di belakang Shira. 

“Apa yang kamu dan Mama saya bicarakan saat menggunakan bahasa isyarat tadi?”

“Ih, kepo banget.”

“Sepertinya saya sudah terlalu membuatmu melunjak, ya?”

Shira nyengir sembari mengengok ke pada Ruan. Ia kemudian mengeluarkan kakinya dari dalam kolam agar bisa duduk menghadap Ruan. 

“Tadi intinya Mamanya Pak Ruan sudah menerima saya sebagai calon mantunya karena Lulu menyukai saya dan Pak Ruan juga memilih saya. Dan memastikan kalau Pak Ruan memperlakukan saya dengan baik.”

“Lalu menurut kamu, apa saya memperlakukanmu dengan baik?”

“Sebagai orang yang bekerja dengan Pak Ruan, saya merasa interaksi saya dan Pak Ruan terbilang baik-baik aja. Selama ga ada tindak kekerasan dan gajian selalu tepat waktu, Pak Ruan bisa dikategorikan sebagai majikan yang baik.” ujar Shira memberikan pendapatnya yang jujur. 

“Tapi kalo saya boleh jujur, bisa ga kalo melihat saya jangan dingin-dingin banget, kadang saya suka merinding kalo Pak Ruan melihat saya dengan tatapan yang dingin gitu.”

“Lalu kamu mau saya melihatmu dengan cara seperti saat saya menatapmu di depan nenek?”

“Wah! Ga perlu sampe begitu juga sih.” Shira terkekeh garing. “Dingin aja deh, ga apa-apa.”

Ruan mengeluarkan ponselnya, sementara Shira bergerak mengubah posisi duduknya menjadi miring agar sebelah tangannya bisa memainkan permukaan air kolam renang. 

“Kalo saya boleh tau, sebelum kita pulang dari rumah Nenek, saya lihat Pak Ruan sempat ngobrol berdua sama Nenek di teras.”

“Kenapa? Kamu juga kepo dengan pembicaraan kami?” Ruan membalas kata-kata Shira, matanya hanya melirik dari balik layar ponselnya. 

“Iya saya kepo." jawab Shira tanpa sungkan. "Boleh dikasih tau ga apa yang dibicarakan? Kan, tadi saya udah kasih tau Pak Ruan apa yang saya omongin sama Mamanya Pak Ruan.”

“Nenek kamu membicarakan masa kecil kamu.”

Shira tersenyum getir. 

“Apa Nenek cerita kalo ayah saya meninggal dalam kecelakaan saat menuju sekolah saya untuk melihat saya pentas?”

“Ya.”

Hening sebentar. Kemudian Shira menarik napas, sebelum dia membuka mulutnya lagi,

“Waktu itu saya seumur Lulu. Mungkin setahun di atas Lulu. Saya ingat dulu, Ayah sebenarnya punya usaha, punya bisnis juga, tapi saya lupa bisnisnya besar atau ga, tapi seingat saya, dulu waktu ayah masih hidup, saya serba berkecukupan.”

Ruan menurunkan ponselnya. 

Shira menekuk kakinya dan memeluknya, matanya lurus melihat permukaan air yang bergerak pelan karena permainan tangannya tadi. 

“Lalu entah kenapa setelah ayah pergi, ibu berubah. Ibu melarang saya keluar rumah, ga bolehin saya berteman dan bermain, ibu bahkan pindahkan saya ke sekolah yang gratis dan bobrok bangunannya. Ibu ga pernah ada di rumah, ga pernah jemput dan antar saya sekolah. Sejak saat itu saya mulai belajar untuk mandiri, mencuci baju, menyetrika, bahkan mulai mencari uang untuk makan karena di rumah ga pernah ada makanan dan saya ga pernah dikasih uang saku untuk jajan.” Shira terdiam sebentar, pikirannya menerawang pada kilasan masa lalu yang tidak pernah benar-benar dia lupakan rasa sakitnya. 

“Saya mulai mulung kardus, botol-botol plastik, apa pun untuk bisa saya jual lagi dan dapat uang untuk makan. Saya pernah nekat jual tumpukan majalah-majalah kesukaan ibu, beberapa pajangan, pakaian ayah, sepatu ibu, dan hasilnya saya dikurung di gudang tiga hari, tanpa makan, minum dan jadinya bolos sekolah juga.” Shira terkekeh mengingat saat itu yang dia pikirkan adalah dia tidak perlu datang ke sekolah dan bertemu anak-anak yang membulinya dan sering mengatainya sebagai anak buangan. 

Shira tidak menyadari, di tempatnya duduk, Ruan sudah mengepalkan kedua tangannya. 

“Jadi saat itu saya pikir ga apa-apa lapar dan haus, tidur saja nanti juga hilang haus dan laparnya. Tapi tau ga, Pak, apa yang terjadi?” Shira melihat kearah Ruan dengan senyuman pada wajahnya. “Tiba-tiba ketika saya buka mata, saya sudah ada di rumah sakit. Rupanya saat saya pikir saya tertidur di gudang, ternyata saya pingsan, dan saat itu nenek datang karena dikabari dari sekolah dan tetangga.”

“Lalu ibumu?*

“Ibu menghilang sejak hari itu." Shira mengedikkan bahu.

"Bisnis milik ayah juga ternyata dijual oleh ibu ga tau bagaimana caranya. Sampai akhirnya ketika saya SMP, saya mencoba mencari ibu ke rumah saudara ibu karena nenek sakit. Tapi mereka malah mengusir saya dan mengancam saya supaya saya ga lagi mengganggu hidup ibu, karena ibu sudah bahagia dengan keluarga barunya.” Shira tidak lagi menangis, meskipun rasa sakitnya masih sangat terasa. 

“Lalu, ketika SMA saya pernah jadi SPG di PRJ, dan saat itu saya melihat ibu dengan keluarga barunya. Mereka terlihat bahagia. Anaknya dua, laki-laki, mereka kelihatan bersih, pakai baju-baju bagus, jelas sekali ibu sangat mengurus dan menyayangi mereka. Saat itu, saya nekat menghampiri ibu, tapi ibu malah ga mengenali saya dan memaki saya di depan banyak orang. Ah, rasanya saat itu…” Shira menggelengkan kepalanya dengan bibirnya yang masih menyunggingkan senyuman. 

Sementara tangan Ruan semakin erat terkepal. 

“Makanya saya sangat menyayangi Lulu, karena kami memiliki persamaan, bedanya, Lulu masih mempunyai seorang ayah yang akan selalu menjaganya.”

Ruan melepaskan kepalan tangannya saat mata Shira kembali tertuju padanya. 

“Karena itu, pasal yang pertama membuat saya begitu bimbang, saya ga mau Lulu merasa dikhianati. Dan itu lah kenapa saya memilih pasal yang baru karena seenggaknya saya ga akan mengkhianati orang yang saya sayang dan sayang ke saya, meskipun saya ga akan tau bagaimana rasanya jatuh cinta, rasanya punya pacar, rasanya dicintai oleh pasangan. Ga apa-apa deh, asalkan Nenek bisa berobat dan sehat. Lulu ga akan dikhianati oleh sosok ibu untuk kedua kalinya.”

Setelah mengungkapkan sedikit kisah masa lalunya, Shira baru menyadari perubahan ekspresi pada wajah Ruan yang diartikan Shira sebagai bentuk rasa jengkel karena Ruan harus mendengarkan ocehannya yang panjang dan tidak penting bagi Ruan. 

“Aduh, maaf Pak, saya jadi kepanjangan ngomongnya.” katanya jadi terasa canggung. 

Ruan membuang napas, Shira mendengarnya cukup jelas.

“Barusan saya dihubungi oleh dokter spesialis paru kenalan saya.” Ruan membuka suara. Kali ini nadanya tidak terdengar sinis, dingin apa lagi galak. 

Nadanya cukup tenang untuk orang yang Shira pikir sedang jengkel kepadanya.

“Besok beliau ingin Nenek kamu mulai medical chek up.”

“Besok? Tapi kan Nenek sendirian, apa boleh saya ajak Lulu?”

“Saya sudah utus dua orang untuk menemani Nenek dan membantu Nenek selama masa pengobatan sampai selesai dan sehat. Nenek kamu ga akan sendirian lagi di rumah. Jadi, kamu ga perlu terlalu khawatir lagi.”

“Dua orang? Saya harus kasih upah mereka berapa, Pak?”

“Saya yang mengutus mereka, kenapa kamu yang mau menggaji mereka?”

“J-jadi Pak Ruan yang gaji dua orang untuk jagain Nenek saya?!” Shira membeliakkan mata seolah melihat para member EXO datang ke rumah itu.

“Hm,”

“Pak Ruan juga yang akan membiayai pengobatan Nenek.” Suara Shira mulai gemetar, ketika keterkejutan berubah menjadi rasa syukur.

“Ga perlu melow begitu, fokus saja pada tugasmu.” ucap Ruan seraya bangkit dari duduknya. “Pastikan kamu ga akan mengkhianati Lulu.”

“Pasti Pak, pasti!” kata Shira seraya ikut berdiri dengan penuh semangat sampai dia lupa dimana dia berdiri. 

“Saya ga akan mengkhianati…  woaa!” Shira kehilangan keseimbangan karena permukaan lantai yang basah, dia menggerakkan kedua tangan ke depan dan ke belakang dengan cepat untuk menjaga keseimbangan. 

Sebagai bentuk refleks, Ruan dengan cepat mendekat mengulurkan tangan untuk menarik Shira, tapi karena gerakan Shira yang tidak stabil dan posisi yang sudah terlalu miring, mereka berdua akhirnya sama-sama nyemplung ke dalam kolam renang! 

Bersambung

1
Humaira izzatunisa
luar biasa
ms. S
up lagi kak. ceritanya seru lho
Anonim
😍😍😍😍
Anonim
😍😍😍
Anonim
/Drool/
Anonim
Lanjut thor cerita nya fresh beda dengan yang lain😍😍😍
Oksy_K
lanjut kak.... penasaran kisah selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!