Berawal dari kesalahan Mike dan Sandra yang menyebabkan Sandra harus hamil di luar nikah. Mike pun di usir dari rumah. Lalu Mike membawa Sandra kabur dari rumah orang tua Sandra dan menikah tanpa restu orangtua. Lalu papa Mike berusaha membuat hidup mereka menderita agar Mike meninggalkan Sandra dan balik padanya.
Suatu saat Sandra kontraksi. Tak satu pun warga mau menolong mereka. Mike hanya menemukan gerobak dan membawa Sandra dalam kondisi hujan ke rumah sakit. Mike meminta tolong pada pihak rumah sakit untuk menolong Sandra dengan kekuatan terakhirnya lalu Mike pun pingsan. Lalu keduanya langsung di tangani. Mike pun meninggal. Sandra melahirkan bayi laki-laki yang lucu.
Mengetahui anaknya meninggal, Pak Anwar pun mengambil mayatnya Mike beserta anak mereka. Sandra yang masih lemah tidak dapat mengejar Pak Anwar dan terjatuh.
“Jangan Ambil Anakku” Ucap Sandra saat dia terjatuh .
Bagaimanakah nasib Sandra dan anaknya? Apakah Sandra masih bisa bertemu dengan anaknya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Jenius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Mike Diskusi Dengan Sandra.
Sepanjang jalan ke kamarnya Mike menggerutu hingga sampai di depan kamarnya.
“Aku harus memberitahukan pada Sandra hal ini. Supaya kami bisa mendiskusikannya lagi dengan dia untuk mencari jalan keluarnya.” Pikir Mike.
Mike pun lalu masuk ke dalam kamarnya dan melemparkan tas pinggang dan topi yang dia pakai ke tempat tidurnya. Mike pun mengambil handphonenya dan menelpon Sandra.
******Kring… Kring.. Kring…*********
Handphone Sandra pun berbunyi. Namun karena Sandra sedang dalam kamar mandi, dia pun nggak mendengar handphone nya.
“Aishhh.. Kemana sih Sandra?? Kok telponku nggak diangkat sih? Padahal kan aku pengen menyampaikan sesuatu yang penting” Mike pun kesal dengan sikap Sandra yang sering tidak mengangkat telponnya di saat-saat genting.
Mike pun menelpon Sandra lagi.
******Kring… Kring.. Kring…*********
Sandra yang baru keluar dari kamar mandi pun mendengar handphone nya berdering dan melihat siapa yang menelponnya.
“Ngapain sih si Mike ini menelpon lagi? Padahal tadi kan baru ketemu sih? Dasar..!!” Omel Sandra namun tetap mengangkat telponnya.
“Halo..!!” Jawab Sandra ketus.
“Astaga Sandra. Kok galak gitu sih angkat telpon aku. Nggak senang ya aku nelpon kamu?” Ucap Mike pada Sandra
“Kamu nya sendiri nggak lihat jam kalau mau telpon orang. Ini udah jam berapa coba? Lagian tadi kan kita juga baru ketemu sih. Ngapain lagi nelpon sih?” Omel Sandra.
“Hmmm maaf kalau kamu merasa terganggu. Tapi aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu.”
“Apa? Kalau sampai nggak penting yang kamu omongin, aku langsung matiin telponnya.” Ancam Sandra.
“Ini penting loh Sandra..!!” Mike mencoba meyakinkannya.
“Okey ngomonglah. Aku akan mendengarkannya.” Titah Sandra.
“Tadi sepulang dari rumah kamu, aku langsung bertemu dengan papa aku dan menceritakan rencana kita.” Mike mengatakannya dengan hati-hati lalu melihat ekspresi Sandra di handphone nya saat mereka sedang video call sekarang.
“Trus?”
“Hmm.. Papa nggak setuju kalau kita menikah. Sama dengan pendapat papa kamu kalau kita itu belum sepantasnya menikah karena kita masih kuliah dan sama-sama belum punya pekerjaan.” Jelas Mike dengan lesu.
“Sudah kuduga. Trus sekarang gimana? Apa kita ikuti saja omongan mereka dan kita batalkan rencana pernikahan ini?” Tanya Sandra.
“Trus anak kita gimana Sandra? Kamu mau membuangnya?” Tanya Mike dengan ekspresi lemah dan suara pelan.
“Mau nggak mau lah Mike. Percuma juga kita terus bersikeras untuk melanjutkannya kalau semuanya nggak setuju. Nggak ada gunanya. Kan katanya restu dari orangtua dari sebuah pernikahan itu perlu demi kelanggengan dan kebahagiaan keluarga kita nanti.” Sandra sudah mulai menyerah dengan keputusan mereka untuk menikah. Sandra nggak yakin bisa melanjutkan rencana mereka kalau kedua orangtua mereka sama-sama nggak setuju dengan pernikahan mereka tersebut.
“Apa kamu mau menyerah gitu saja Sandra? Padahal ini masih awalnya loh. Masih ada waktu untuk membujuk kedua orangtua kita untuk mengizinkan kita menikah.” Bujuk Mike.
“Waktu?? Waktu kamu bilang? Apa kamu nggak tahu kalau makin lama perutku akan semakin membesar dan akan kelihatan kalau aku sedang hamil. Dan kalau kamu terus memaksa aku menunggu kamu terus lama-lama aku nggak bisa menggugurkan anak ini lagi dan aku harus menderita mengurusnya seorang diri kelak. Aku nggak mau seperti itu.” Sandra mengeluarkan pendapatnya.
“Trus mau kamu apa? Menyerah sekarang? Nggak mau usaha dulu?”
“Usaha apa yang harus kita buat Mike? Aku benar-benar nggak bisa mikir sekarang ini.” Ucap Sandra pada Mike.
“Kamu mau dengar apa rencanaku?” Mike bertanya pada Sandra.
“Apa? Jangan macam-macam ya.” Ancam Sandra.
“Gimana kalau kita kawin lari saja. Aku punya sedikit uang untuk bekal hidup kita nanti untuk hidup kita beberapa bulan. Kita lari ke kota lain saja. Dan memulai hidup baru kita di sana”
“Hah?? Lari ke kota lain?”
“Iya. Kamu setuju?”
“Kamu yakin? Gimana kehidupan kita nanti setelah beberapa bulan. Trus bagaimana uang untuk melahirkanku nanti?”
“Kamu punya uang tabungan Sandra? Kita pakai itu dulu. Jadi untuk setahun ke depan. Walau kita hidup pas-pasan, kita masih bisa hidup.”
“Aku memang ada uang sedikit sih. Tapi nggak tahu entah itu cukup untuk melahirkan nanti atau nggak. Kan nggak menutup kemungkinan nanti kita sakit atau apa di sana. Mana cukup untuk dana cadangan kita nanti.”
“Tenang Sandra. Kan nanti aku akan cari kerja untuk memenuhi kebutuhan kita,.” Mike meyakinkan.
“Memangnya kamu pikir cari kerjaan itu gampang? Apalagi kita sama sekali belum lulus kuliah.”
“Iya kamu benar. Tapi kan kalau kita nggak usaha gimana kita bisa tahu sih?”
“Hmm.. Aku benar-benar bingung kalau gini. Bagai makan buah simalakama. Serba salah.” Keluh Sandra.
“Jadi gimana? Apa kamu setuju Sandra?” Mike melihat ekspresi Sandra. Dia berharap Sandra setuju dengan pendapatnya sehingga mereka bisa menikah dan membesarkan calon anak mereka bersama.
“Beri aku waktu untuk berpikir Mike. Ini bukan suatu hal yang bisa diputuskan secepatnya. Aku harus berpikir matang-matang. Karena ini berhubungan dengan masa depanku kelak bersamamu. Ditambah lagi kita akan punya anak yang harus kita besarkan dan urus. Tanggung jawab kita semakin berat Mike. Kita nggak boleh hanya membawa perasaan kita namun tidak memikirkan konsekuensinya kelak.” Jelas Sandra panjang lebar.
“Iya kamu benar. Baiklah aku akan memberikan kamu waktu untuk berpikir sembari merencanakan segalanya dan mencoba mencari pekerjaan online agar kita tahu akan pergi ke kota mana. Intinya aku nggak akan membawa kamu pergi tanpa arah dan tujuan.” Mike meyakinkan Sandra.
“Baiklah. Nanti kamu kabari aku kalau semuanya udah siap. Aku akan memikirkan apa aku akan ikut dalam rencana kamu atau tidak.” Sandra memutuskan hal itu mala mini.
“Iya Sandra. Kamu tenang saja. Selama masih ada aku, kamu dan calon anak kita pasti baik-baik saja. Aku akan bertanggung jawab penuh akan kalian selama aku hidup.” Janji Mike pada Sandra.
“Baiklah. Aku akan coba percaya sama kamu. Tolong jangan kecewakan aku dan membuat aku menyesal telah memilih hidup bersama kamu dan meninggalkan masa depan aku.” Sandra mengingatkan Mike.
“Iya sayang. Aku akan berusaha yang terbaik untuk hidup kita nantinya. Percayalah padaku.”
“Oke. Kalau gitu aku tutup telponnya dulu. Kepalaku sakit memikirkan semuanya. Aku mau istirahat dulu agar besok aku bisa pelan-pelan memikirkan semuanya.”
“Baiklah sayang. Kamu tidur ya. Jaga Kesehatan kamu juga dan Kesehatan calon anak kita.”
“Iya. Udah ya Mike. Bye.”
“Selamat malam sayang. Mimpi yang indah ya.”
“Hmmm…!!”
Sandra pun menutup telponnya sebelum Mike melanjutkan omongannya lagi yang akan membuat kepalanya semakin pusing.
Setelah Sandra mematikan handphonenya, Mike menyandarkan kepalanya di dipan tempat tidurnya sembari memeluk handphone yang dia pegang tersebut sambil bergumam sendiri.
“Aku janji Sandra. Aku akan berusaha mencari jalan keluar terbaik agar kita bisa menikah. Aku akan bertanggung jawab atas kehidupan kamu dan anak kita nantinya. Aku janji.” Batin Mike di dalam hatinya.
telat mikir nya, makanya mikir sebelum berbuat
"aku dan teman kamarku"
terima kasih