Mereka terpaksa menikah meski sudah berjanji tidak akan menikah lagi setelah menjanda dan menduda untuk menghormati pasangan terdahulu yang sudah tiada.
Tetapi video amatir yang tersebar di grup RT mengharuskan mereka berada dalam selimut yang sama meski sudah puluhan tahun hidup di kuali yang sama.
Ialah, Rinjani dan Nanang, pernah menjadi cinta pertama dan hidup saling membutuhkan sebagai saudara ipar. Lantas, bahagia kah mereka setelah menyatu kembali di usia kepala lima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nanang dan Anaknya
Nanang berusaha tak memikirkan Rinjani begitu dalam sebab semakin memikirkannya senyumnya semakin merekah dan konsentrasinya mengemudikan city car miliknya akan menimbulkan dampak negatif bagi pengendara lain atau dirinya sendiri.
“Pencurian tadi kalau ketahuan akan menghasilkan pertengkaran yang melebihi pertengkaran Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso.” Nanang meringis. “Tapi kita kalau tak pikir-pikir lagi, ciuman waktu muda dulu lebih enak dan masih enak diingat-ingat.”
Nanang tertawa, dan betul saja saking senangnya dia tidak menyadari ada sepeda motor yang berhenti mendadak di depan mobilnya karena ada yang rem mendadak pula di depannya.
“Asem... Baru mau seneng aku.” serunya. Kendati demikian Nanang masih bisa menenangkan diri sebelum keluar mobil.
Dia menemui pengendara motor yang tampak lebih syok dari dirinya dan takut.
Nanang tersenyum. Tidak akan minta ganti rugi, tapi akan siap mengganti kerugian yang dialami pengendara motor itu.
“Pokoknya di bikin santai saja, Bu. Aku kebetulan lagi seneng, lecet sedikit tidak masalah.” Nanang mengelus bodi mobil. “Aku baru saja nikah lagi, itung-itung ini traktiran di tengah musibah kita.”
Seorang ibu yang lebih muda dari Nanang itu meringis kikuk sekaligus heran dengan orang macam Nanang. Kok bisa ya semudah itu mengeluarkan kartu nama dan sejumlah uang hanya untuk kedamaian di tengah peliknya ekonomi hari ini. Harga beras melambung tinggi, harga cabai juga sama. Tapi Nanang itu seperti tidak punya beban hidup.
“Padahal ini murni ketidaksengajaan lho, Pak.”
“Sudah...” Nanang mengatupkan kedua tangannya. “Pokoknya pesanku kalau uangnya kurang buat servis, ibu datang ke alamat di kartu nama. Aku permisi ya, mau jemput anak sekolah.”
Ibu muda satu anak itu hanya melongo sambil memandangi kepergian Nanang sedang motornya masih tergeletak di aspal, tidak ada yang bantu saking jauhnya tempat kecelakaan sebentar itu dari keramaian.
“Baru cium kening lho aku tadi, hukumannya sudah seperti itu. Ah, Gusti... Cium istri sendiri tidak boleh.” Nanang terlihat merajuk, tapi kemudian tersenyum.
“Riri pasti mimpi buruk sekarang. Kasian dia, tapi rasanya semakin ingin kupeluk dan kukatakan, tenanglah sayang.”
Syukurlah, Nanang selamat sampai di pelataran sekolah dasar ternama tempat Arunika dan Swastamita sekolah.
Putri kembar besarnya masuk ke mobil dengan baru keringat yang membuat Nanang perlu menurunkan seluruh kaca mobil.
“Mobilnya kok lecet Pak, kenapa?” tanya Arunika.
”Bapak tadi nabrak motor.”
“Makanya Bapak itu kalau nyetir pakai kaca mata.”
“Iya.” Nanang mengangguk. Panjang urusannya kalau harus berdebat dengan Arunika apalagi jika dia bilang dia nabrak mobil karena memikirkan budhenya sebab di antara anak-anaknya hanya dia yang lebih lantang menunjukkan ketidaksukaan atau kesukaannya. Dan bagi Arunika ibunya adalah Sakila, tidak ada ibu yang lain, atau ibu pengganti. Termasuk Rinjani sekalipun.
“Sekolah aman? Ada gosip tentang bapak dan budhe Riri tidak?”
Arunika mencondongkan tubuhnya ke depan. Mendekati ayahnya. “Bapak dan Budhe bikin malu!” serunya.
“Tapi Bu guru bilang itu lumrah bagi orang dewasa, Runi.” sahut Swastamita.
“Sama saja, Mita. Bapak dan Budhe itu kan bukan Bapak dan ibu kita yang boleh bobok satu kamar. Guru agama bilang gitu kok. Barang siapa yang tidur satu kamar hukumnya dosa kecuali mereka yang bukan keluarga kita dan sudah menikah. Bapak dan Budhe kan nggak nikah, tapi emang keluarga!” kata Arunika, meniru ucapan guru agamanya.
Nanang mengangguk pendek dan terdiam.
‘Sudah terbukti belum darah siapa yang mengalir di tubuh Arunika? Darah Sultan Adiguna Pangarep. Si pemberani.’
Nanang menepikan mobilnya di kebun sekolah sebelum menoleh. “Terus kalian ini mau Bapak dan Budhe gimana? Dan bapak harus bilang, video itu tersebar karena Mas Jalu.”
Arunika menguncupkan bibirnya sampai Nanang ingin mencomotnya.
“Kamu mirip ibumu kalau ngambek begitu.”
Arunika memutar mata. “Bapak sama Budhe kenapa sih harus tinggal serumah? Budhe itu kan istrinya Pakde Kay. Nanti kalau Pakde Kay gentayangan gimana gara-gara Bapak ganggu Budhe terus?”
Nanang tidak bisa tidak tersenyum. Ayolah, sebagai pria sejati dan Bapak kesayangan anak-anak, harusnya dia berani untuk bilang Rinjani adalah cintanya dan istrinya. Tetapi dia hanya bilang.
“Guru agama kalian betul, seorang laki-laki dan perempuan dewasa tidak boleh tidur bersama kecuali sudah menikah.”
“Jadi Bapak nikah sama Budhe?” sentak Arunika.
Nanang mengusap wajahnya, “Kamu mirip Pak RT, ludahmu muncrat-muncrat.” keluhnya.
Arunika mendengus. “Kalau Bapak nikah sama Budhe mana buktinya? Eh, tapi itu artinya Bapak gak sayang ibuku kalau sampai nikah lagi. Mana sama Budhe.”
“Rencananya tadi Bapak mau ke mal, mau belanja-belanja. Tapi nggak jadi wes, ada yang ngambek, jadi nggak seru.”
“Runi nggak perlu di ajak, Pak. Sama aku aja. Aku nggak ngambek.” sahut Swastamita.
Nanang melirik Arunika yang membuang tatapannya ke angkasa.
“Runi Bapak ajak kalau senyum. Nanti Bapak belikan blinder baru.”
“Males.” Arunika mendengus. “Bapak nggak sayang sama ibu.”
Swastamita menghela napas. “Bapak sayang sama ibu kok, buktinya kita punya adik kembar.”
“Tapi gara-gara adik kembar itu, ibu jadi meninggal.”
Nanang ikut menatap angkasa. Tersenyum juga murung. ‘Sa, dulu aku bermimpi tidak ingin berkeluarga hanya untuk janda kakakku. Sekarang, kehadiran lima anak kita, hidupku benar-benar asyik sampai senyum pun kadang-kadang terlihat seperti orang gila.’
-