NovelToon NovelToon
Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:304.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Vhy'dHeavy Putri

Setelah mengarungi dunia pendidikan di bidang fashion design, Jelita akhirnya lulus dengan baik. Kehidupannya dimulai dari sini, membuka usaha dengan modal yang diberikan oleh ayahnya. Ia dipertemukan dengan Reza dan mulai pendekatan. Namun, ketika orang aneh yang tidak lain adalah mantan ibu tirinya yang berhasil kabur dari rumah sakit jiwa, hidupnya menjadi tidak baik-baik saja.

Jelita selalu berusaha menyembunyikan segala kesulitannya dari siapapun, tanpa terkecuali teman-teman dan kekasihnya. Alhasil, Reza merasa diabaikan dan tidak dipercayai karena perubahan sikap Jelita yang menjadi tertutup. Reza justru menganggap bahwa Jelita tidak menerima apa adanya dirinya, terlebih merupakan pria dengan tubuh yang gendut. Kisah asmaranya harus kandas oleh kesalahpahaman.

Lantas, apakah Jelita bisa menghadapi teror dari sang ibu tiri? Juga membuat kekasihnya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhy'dHeavy Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11-Desir

“Pembunuhan? Hati-hati, Kak, jangan sampai salah langkah. Takutnya Kakak justru masuk ke dalam masalah berbahaya.”

Episode 11-Desir

Pertanyaan yang sempat dilontarkan oleh Jane siang tadi, berhasil membuat Jelita merasakan kebimbangan yang luar biasa. Rasa bersalah menyelimuti hatinya, mengepungnya sampai membuatnya kesulitan dalam membuat keputusan. Perihal memaafkan ibunda Jane? Apakah benar ia telah memaafkannya? Sedangkan menjenguk di rumah sakit jiwa saja, ia sangat enggan.

Bertahun-tahun, Jelita menahan segala macam rasa tidak nyaman yang masih setia meliputi hatinya. Berikut rasa takut yang juga bercampur dengan kelegaan. Namun, kelegaan untuk apa? Mendapatkan tubuh ramping, tak selayaknya sebelumnya? Hatinya justru hampa, juga perihal rasa tidak nyaman jika Jane—sang adik—membahas nama Riris.

Jelita menelan saliva. Dengan ingatan yang mendadak muncul memenuhi benaknya. Luka lama kembali menganga, sampai sukses membuat tubuhnya gemetar luar biasa. Kendati, sudah berlalu bahkan ia sempat berani memberikan perlawanan atas sikap Riris, tetap saja menyisakan kenangan buruk yang membentuk sebuah trauma dalam dirinya.

“Maafkan aku, Jane,” gumam Jelita diiringi satu bulir air mata yang membasahi pipi kirinya.

Jelita menyesal sebab ia yang belum bisa mewujudkan permintaan Jane—memaafkan ibunda gadis itu secara sempurna. Jelita tahu, sikapnya justru akan membuat Jane merasa sulit, bahkan ketika adik tirinya itu masih menyimpan sejumlah rasa canggung serta bersalah. Ia tahu semua perasaan Jane, dan membuatnya kerap menunjukkan rasa sayang yang tidak sedikit pada gadis itu.

Jelita terus berupaya membuat Jane merasa tidak asing di dalam rumah ayahnya. Menyamakan posisinya dengan Jane. Baginya, ketika Jane belum juga membuang rasa bersalah, ia tidak akan pernah bahagia secara sempurna.

Ingin sekali Jelita membahagiakan Jane selayaknya kakak kandung, tanpa membawa-bawa status asli adiknya itu. Tidak peduli tentang siapa Jane yang notabene adalah anak dari penjahat yang mempersulit hidupnya. Jelita hanya ingin Jane bahagia dan melepas belenggu rasa bersalah, itu saja. Namun, justru dirinya sendiri penyebab belenggu itu masih mengunci hati Jane. Sebab ia yang tidak pernah menunjukkan rasa prihatin, bahkan sukar untuk membahas Riris.

Jelita tahu dan paham betul. Sayangnya, ia belum bisa membendung perasaannya sendiri.

Dering ponsel tiba-tiba terdengar, membuat Jelita mau tidak mau menyudahi renungannya bahkan gemetar di tubuhnya. Ia menghela napas dalam, lalu membangunkan dirinya yang masih merebah. Diambilnya sebuah ponsel dari atas nakas sebelah kiri.

Semua nomor tanpa nama menghias layar benda kotak kecil nan pintar tersebut. Menimbulkan semacam kerutan samar di dahi sang pemilik. Jelita gusar, membuatnya tidak langsung menjawab, melainkan bergeming penuh tanya yang tersirat di wajahnya. Perihal pemilik dari nomor itu, ia sama sekali tidak tahu, bahkan menduga saja tidak bisa.

Namun tiba-tiba terlintas nama Reyna di dalam benaknya. Benar juga, ia belum sempat menyimpan nomor ponsel nyonya itu. Mungkin saja Fanni atau Mita yang memberikan. Tanpa pikir panjang lagi, Jelita bergerak menjawab. Sayangnya, gerakannya terlambat lantaran panggilan tersebut berakhir.

“Aduh! Apa gue telepon balik ya?” tanya gadis itu bimbang.

Seolah mengetahui kebimbangan hati Jelita, tiba-tiba saja nomor tanpa nama itu kembali menyebabkan dering muncul di ponselnya. Dengan gesit, Jelita menekan tombol berwarna hijau.

“Ha-halo?” sapa Jelita sarat dengan keraguan.

“Jeli?” Suara berat khas milik pria terdengar dari kejauhan sana.

Dahi Jelita semakin dihias kerutan yang sebelumnya samar, kini menjadi lebih jelas. “Siapa?”

“Aku, Jel, maaf udah ganggu. Ka-kalau gitu, ma-matiin aja!”

Suara pria itu terdengar tegang berikut gemetar, seolah tidak siap menghadapi gadis yang ia hubungi detik itu juga.

Alhasil, senyum Jelita mengembang, lalu berakhir menjadi tawa bersuara. Gadis itu langsung tahu. Sudah pasti Reza, tidak ada lagi pria dengan suara gemetaran ketika menghadapinya. Kehadiran pria itu, meski sebatas via suara sukses membuat gemetar di tubuh Jelita sebab ingatan masa lalu, kini berangsur sirna.

“Kamu kok tertawa? Kamu tahu aku siapa?” tanya Reza terheran-heran dari dalam kantor forum yang menaungi dirinya sebagai pengacara saat ini.

“Iya, Jeli tahu. Pasti Kak Reza, ‘kan?” Tubuh Jelita berangsur melorot ke belakang. Hingga akhirnya kembali merebahkan diri lagi. “Malam, Kak. Lagi di mana? Sepi banget kayaknya?”

Reza tersenyum, seiring rasa lega yang saat ini mendekap hatinya sebab respon Jelita terbilang positif. “Aku masih kerja, Jel. Kamu udah pulang?”

Mata Jelita berangsur menilik pada jam dinding berhias kerang yang terpasang di kamarnya. “Jam segini? Ini ‘kan udah lewat jam makan malam, Kak! Kakak udah makan?”

Hati Reza berdesir-desir, mendengar suara Jelita yang begitu antusias sarat dengan kekhawatiran. Rasanya ingin percaya diri, tetapi ia segera menepisnya lantaran takut dianggap gede rasa.

“Iya, ada kasus soal pembunuhan. Jadi, mau enggak mau aku lembur ngamatin berkas bukti, Dek!” jawab pria itu.

“Pembunuhan? Hati-hati, Kak, jangan sampai salah langkah. Takutnya Kakak justru masuk ke dalam masalah berbahaya.”

“Mm ... bukan hal aneh lagi bagi kami, Dek.”

Dek? Sama halnya Arlan pada Fanni, sebutan itu sukses membuat hati sang designer muda menjadi berdesir-desir. Keinginannya untuk mendapatkan tambatan hati layaknya kedua temannya, kini berangsur tercapai. Namun, ia masih menepis anggapan hatinya. Takut jika Reza tidak merasakan hal yang sama. Kendati, pria yang baru ia temui lagi setelah sekian tahun mampu meluluhkan perasaannya.

Haruskah Reza? Tipikal pria bertubuh tinggi dan berisi. Seorang selebritas seperti Jelita, sebenarnya tidak akan kesulitan menemukan tambatan hati layaknya oppa-oppa Korea. Namun, entah mengapa, justru sosok pria tinggi besar itu mampu menembus dinding hatinya yang selama ini ia bangun secara kokoh, nyaris tidak terjamah hati pria lain.

“Mm ....” Jelita tampak berpikir. “Kak?”

“Ya, Dek?” balas Reza yang saat ini kembali menyibukkan fokusnya pada materi kasus yang ia pegang, juga telinga yang telah dipasang earphone agar tetap mendengar suara gadis itu.

“Ayo makan malam bareng.”

Mata Reza berhenti bergerak, bahkan kedua tangan dan otaknya. Ia lebih merekatkan earphone di telinga. “Makan bareng?” tanyanya demi memastikan.

“Iya, Kak. Aku bakal samperin Kakak, kirim aja alamatnya. Kebetulan aku belum makan malam dan Kak Reza pasti juga belum, ‘kan?”

“Bo-boleh, aku akan segera kirim chat ke kamu, Dek!”

Tanpa menunggu lama lagi, Reza mematikan panggilan itu, tanpa pamit terlebih dahulu. Tawaran Jelita sukses membuat hatinya melambung tinggi. Bahkan, ia melupakan perihal sikap salah tingkah yang akhir-akhir ini menghampiri hatinya jika bertemu gadis itu.

Sementara, Jelita yang dibiarkan begitu saja oleh Reza menjadi terkesiap. Namun, tawa kecil justru menyertai perasaan itu. Kelihatan sekali, Reza sangat antusias atas tawarannya.

“Makasih Kak Reza, udah datang pas aku lagi kalut,” gumam Jelita seiring senyum yang menggantikan tawa di bibirnya.

Lalu, tanpa menunggu lama lagi, gadis itu bangkit. Ia berangsur turun dari ranjang empuk bernuansa merah muda lantaran sudah diganti oleh salah seorang pelayannya.

Jelita membasuh wajahnya, menghilangkan segala kotoran di kulitnya yang putih berikut mulus dan lembut. Perawatan yang ia lakukan memang meliputi hampir seluruh tubuh. Terlebih, ketika gelar sebagai designer membuatnya harus siap dengan tampilan cantik dan modis. Bukan hanya untuk dirinya saja, melainkan menambah kesan yakin di hati para pelanggan ketika melihat dirinya sebagai seorang perancang begitu memakau, apalagi semua produk yang ia hasilkan nanti.

****

jempolnya ya.

1
Revina Darajati
haduh aneh keluarga ini...orang kaya tp kenapa gk cari orang punter untk njaga dan selidiki semuanya.. bapaknya juga kebpaa cuek bgt siih
Hetnawati Simbolon
jeli tak punya harga diri aku selaku wanita malu
VhyDheavy: Namanya anak muda kebacut cinta memang suka lupa daratan Kak. Hehehe.
Terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
Afid Diyah
apa judul novelnya kak
VhyDheavy: Halo, Kak. 😊

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

itu judulnya ya, Kak. Mari mampir. atau klik saja nama saya, dan nanti tersedia beberapa judul lain. Terima kasih 😊🥰
total 1 replies
rina purwati
lanjutanya kpan thor
reza gaming 30
tetap semangat ya thor, semoga nnt bnyk yg mampir 💪🏾💪🏾💪🏾💪🏾
reza gaming 30
tenang Jel, Reza lg merasakan indahnya dicium gadis cantik
reza gaming 30
disini ada kesalahan org berasymsi bahwa daging mengandung kalori tinggi, pdhl yg berkalori itu karbohidrat, org bilang diet gak makan nasi, tp makan roti, makan mie, justru roti mie itu kalorinya lebih tinggi dr nasi, krn roti itu bs dibilang tdk ada serat, jd semuanya menjadi glukosa, yg terbaik adalah diet gizi seimbang + olga 30menit/hari
Kecombrang
🤣🤣🤣🤣🤣
reza gaming 30
sebaiknya jgn ditiru diet seperti Jelita, diet yg baik diet seimbang ptoteinnya karbohidratnya sayur buah
reza gaming 30
abis cerita cewe endut sekarang cowo endut 😁
reza gaming 30
basahamu itu lho thor, membuat karyamu enak dibaca d tdk bertele2,. perlu dilanjut unt dibaca
Oh Dewi
mampir ah mana tau seru.
Btw, aku pernah baca novel yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, itu keren banget. Kalo search jangan lupa tanda kurungnya
Hendri Astiti
gemes sama reza
Noorhied
Reza gembul tapi ganteng persis anak lelakiku... 😍😍😍
mbak i
ini cerita jeli,,,nggak lanjut lagi ya😥😥😥
Syifadini Atira
kok aku jadi bingung alur ceritanya 🤔
Han da Yani
maaf, banyak pembaca yang kayak saya..
saking asyiknya baca sampai lupa kasih like.

bukan berarti tak suka ceritanya.
bahkan semua cerita favorit lainnya juga begitu.
mungkin kebetulan sebagian besar pembaca karya kakak sama seperti saya, saking asyiknya baca sampek lupa kasih jempol.
maaf ya kak.. semangat terus berkarya.
Aruna Zahrani
duuuh sayang tuh bibir. blm jg diperawanin ama yayang willi udah terkontaminasi aja ama bibir laki2 lucknut
Aruna Zahrani
jgn2 yg nangkep dery mereka ber3 secara tdk sengaja tp bertemu pd saat n sikon yg sama 🤣🤣🤣🤣
Aruna Zahrani
kata2 om galak josss 👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!