Giovanni El Nino adalah seorang pemuda yang berprofesi sebagai pekerja seni di dunia hiburan, namun karena kepribadiannya yang angkuh dan tak acuh terhadap sesamanya membuat sang ayah terpaksa menjadikannya seorang guru di SMA Harapan Bangsa dengan harapan anaknya mengalami perubahan sikap yang lebih baik.
Akan tetapi tetap saja, kepribadian Nino tidak juga berubah, justru ia menjadi guru yang dibenci oleh murid-muridnya.
*****
Rhodophyta Algavian seorang pemuda yang lugu namun cerdas, selalu menjadi bahan perundungan teman-temannya di SMA Harapan Bangsa.
****
Suatu ketika hal besar menimpa Nino, ia mengalami kecelakaan hebat dan diberikan kesempatan oleh malaikat untuk memperbaiki hidupnya dan berbuat baik dengan masuk ke dalam tubuh Vian dan mengubah hidup pemuda tersebut.
Apakah Nino akan berhasil membantu Vian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Claudia Diaz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Rhodophyta Algavian
Tiga bulan sudah terlewati, kini Vian sudah kembali menginjakkan kakinya di tanah air setelah program pertukaran pelajar yang ia jalani telah selesai.
Kini ia kembali bersekolah di SMA Harapan Bangsa. Akan tetapi, ada yang berbeda dengan pemandangan pagi ini. Para siswi berbisik satu sama lain
“Dia ini siapa, kenapa tampan sekali?" batin para siswi.
“Ya ampun badannya terlihat sangat sexy, aku jadi ingin memeluknya." pekik siswi lain. Dan masih banyak lagi.
Ia melangkahkan kakinya dengan mantap di sepanjang koridor hingga masuk ke ruang kelas.
Sesampainya di sana ia langsung menundukkan diri di bangkunya yang ternyata sudah ada perubahan dan ia sebangku dengan Anna.
Jika Vian menyadari tatapan memuja para siswi, maka lain halnya dengan Anna yang nampak tak acuh.
“Aku benar, kan duduk di sini?" tanya Vian hati-hati. Ia masih mengingat interaksinya dengan Anna terakhir kali, dan Anna sangat galak menurutnya.
“Menurutmu bagaimana, apa matamu masih tidak bisa melihat dengan baik. Tidak ada lagi bangku kosong selain di sini, harusnya kau sudah mengerti jawabannya tanpa harus bertanya?!" jawab Anna dengan sinis.
“Astaga, masih saja ketus. Dia bahkan tidak berubah sedikitpun," batin Vian.
Karena merasa hening dan canggung, Vian memutuskan untuk bertanya pada Anna, “Apa kau memiliki catatan materi selama 3 bulan terakhir ini?"
“Hem!"
“Boleh kupinjam?"
“Jika kau meminjam bukuku, lantas aku menulis di mana, dan di mana aku mengerjakan PR-ku?" tanya Anna.
“Bagaimana jika aku yang mengerjakan PR-mu?" tawar Vian.
“Dan membuatku dihukum karena ketahuan aku tidak mengerjakan PR tetapi justru orang lain. Oh, tidak terima kasih, tidak perlu repot-repot, karena aku tidak mengizinkan," jawab Anna panjang lebar.
“Dasar pelit!" cibir Vian.
“Kau—apa kau bilang?!" pekik Anna tidak terima.
“Aku bilang pelit. P-E-L-I-T, pelit. Apa kau tidak dengar?" tanya Vian dengan mimik wajah menyebalkan.
“Dasar Alga merah menyebalkan!" tanpa aba-aba Anna memukul pundak Vian dengan keras.
“Auch, ya hentikan. Anna, hentikan, ini namanya kekerasan dalam kelas!' teriak Vian, tapi Anna tak peduli. Pertengkaran mereka sontak menjadi tontonan siswa lain.
“Vian!" seru seseorang.
“Dea?" beo Vian.
“Ini benar dirimu?" tanya Dea.
“Eum iya?" jawab Vian tak yakin.
“Aku merindukanmu sangat." ujar Dea sembari menerjang Vian dengan sebuah pelukan. Anna hanya mendengus malas melihat adegan telenovela lokal murahan di depannya itu.
“Pergilah dari sini kalian berdua!" Anna melempar tas Vian. “Membuat mataku iritasi."
“Bilang saja kalau kau, iri. Dasar manusia penuh iri dengki, ayo Vian," ujar Dea sambil menarik Vian, namun Vian menahan tangan Anna. “Maaf, aku duduk dengan Anna saja, lagipula kau sudah sebangku dengan orang lain."
Mendengar penolakan Vian secara halus membuat Anna dan Dea terkejut sampai-sampai Anna menatap tajam namun dengan pandangan penuh tanya.
“Apa anak ini salah minum obat?" batin Anna bertanya-tanya.
“Aku bisa mengusirnya, jika kau ingin duduk denganku," ujar Dea berusaha membujuk Vian agar Vian mau sebangku dengannya.
“Terima kasih, tapi kurasa itu tidak perlu," tolak Vian secara halus.
Anna dan Vian hanya berbicara lewat pandangan mata, kentara sekali Vian yang meminta tolong padanya untuk mengusir Dea agar tidak menempel padanya akan tetapi, Anna sendiri pun enggan melakukannya.
Vian yang kesal pun hanya meremat pelan tangan Anna, membuat Anna lagi-lagi mendelik padanya, namun pada akhirnya dia mengalah.
“Kalau Vian tidak mau, jangan dipaksa, lagipula kau sudah duduk dengan siswa lain, kan. Dasar ulat bulu beranak, pergi sana?!" usir Anna.
Dea yang merasa kesal dengan pengusiran yang dilakukan Anna hanya meninggalkan bangku Anna dan Vian dengan kaki yang dihentakkan, tapi Anna tidak memedulikan itu.
“Huft, selamat. Terima kasih sudah mengusirnya," ujar Vian.
“Lain kali jangan libatkan aku dalam drama picisan tak bermutu kalian, huh!" dengus Anna tak suka.
“Kau cemburu?" goda Vian.
“Aku cemburu? Ha-ha-ha, dasar Alga merah pemimpi, melihatmu berpacaran dengan Dea pun aku tak merasakan apa pun, apalagi melihat telenovela murahan seperti barusan," cibir Anna.
“Kasar sekali kata-katamu," ujar Vian.
“Masa bodoh," jawab Anna.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bel istirahat berbunyi, Vian merapikan bukunya dan hendak keluar kelas, sebelumnya ia sudah berbaik hati menawari Anna untuk makan bersama, namun sayang seribu sayang harus berakhir dengan penolakan.
Akan tetapi Vian bukan orang yang pendek akalnya. Ia membujuk Anna dengan puppy eyes attack andalannya, yang selalu ia gunakan untuk membujuk sang mama.
Melihat tingkah Vian membuat Anna mengernyitkan dahi, jujur saja dia merasa geli, jijik, dan kasihan di saat yang bersamaan. Mau tak mau dia menuruti permintaan Vian karena tidak tega.
Mereka berdua berjalan menuju kantin, hal ini menjadi pemandangan baru seluruh siswa pasalnya seorang Rhodophyta Algavian siswa nerd yang berubah menjadi pangeran negeri dongeng sedang jalan bersama Anna, siswi perempuan yang mendapat julukan preman pasar.
Bagaimana tidak? Penampilan Anna sangat sederhana, tidak memoles wajahnya dengan makeup seperti siswi kebanyakan rambut yang dibiarkan tergerai.
Anna juga suka berkelahi, dan pernah terlibat tawuran antar sekolah, jika makan di kantin saja kakinya selalu di naikkan satu di bangku, mungkin bagi orang lain itu terlihat sangat tidak sopan, tapi Anna tidak peduli. Satu lagi yang membuat siswa maupun siswi menghindarinya Anna sangat galak.
Bahkan ketua kelas pun sangat takut padanya. Termasuk Vian juga, dia juga sangat takut pada Anna sebelumnya. Meski begitu Anna termasuk siswa cerdas di sekolahnya. Ia selalu berada di peringkat kedua.
“Kau ingin pesan apa?" tanya Vian.
“Mie ayam bakso, lengkap dengan pangsitnya," pesan Anna.
“Minumnya?" tanya Vian lagi.
“Es teh jeruk."
“Ha, mana ada es teh jeruk?" tanya Vian.
“Ada saja, kau saja yang tidak tahu, dasar norak!" cibir Anna.
“Iced lemon tea kali, bukan es teh jeruk."
“Sama saja, dasar sok Inggris, sok bule!"
Vian hanya mendengus kesal, berdebat dengan Anna tak akan kunjung selesai. Yang ada, mereka nanti batal mengisi perut dan berujung kelaparan kronis.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Vian datang dengan membawa pesanan mereka berdua. Anna pun menerima dengan binar bahagia, maklum saja cacing di perut Anna sudah mengadakan demonstrasi anarkis.
Mereka makan dengan lahapnya. Di tengah mereka sedang menghabiskan makan siang, ada seorang siswi yang menghampiri meja Vian dan Anna.
“Kak Vian, ini untukmu." ujarnya sambil menyodorkan sebuah kotak bekal.
“Eh, ini untukku?" ujar Vian sambil menunjuk dirinya sendiri. Bukan tanpa alasan dia bersikap seperti itu pasalnya ia tidak pernah dapat seperti ini sebelumnya, ini adalah pengalaman pertama kali, ada seseorang yang memberinya bekal. Dan sayangnya di waktu yang tidak tepat.
Gadis itu mengangguk.
“Akan tetapi, aku sedang makan saat ini, ini saja sudah hampir habis." ujar Vian polos sembari menunjuk mangkuk mie ayam baksonya.
Anna hanya berdecak kesal, “Yang namanya rezeki, tidak boleh ditolak, kau ini sombong sekali?!"
“Bukannya sombong, tapi jika bekalnya tidak habis, akan mubazir, nanti," Vian beralasan dan balas mendecak, “aku, kan sudah kenyang."
Anna berbisik pada Vian, “Terima saja, perkara kau akan memakannya atau tidak itu urusan belakangan."
Vian hanya mengangguk saja dan mengiyakan saran dari Anna, “Baiklah aku terima bekalmu, terima kasih, eum—," ujar Vian terputus.
“Pelangi, Kak. Namaku pelangi," ujar gadis itu.
“—ah iya, terima kasih pelangi untuk bekalnya, aku akan memakannya jika aku lapar lagi," ujar Vian.
“Sayang sekali pelanginya tidak indah," celetuk Anna tiba-tiba merusak suasana. Vian hanya melirik Anna, sedang yang dilirik merasa masa bodoh.
“Ah, apa yang dikatakan kak Anna jangan diambil hati, ya! Dia memang suka bercanda meski sedikit keterlaluan," ujar Vian dengan senyum yang terkesan dipaksakan.
“Kenapa aku dibawa-bawa, aku memang benar kok kalau pelanginya tidak indah, tuh lihat?!" ujar Anna sambil menunjuk pelangi, di langit tentunya.
Vian mengikuti arah telunjuk Anna, dan memang benar ada pelangi tapi tidak begitu terlihat.
Karena celetukan Anna, Pelangi pun merasa malu sekaligus dongkol, pasalnya perhatian Vian tertuju pada Anna, bukan dirinya.
dah ga kuat hdup di dunia makanya buat ulah dulu sebelum ke alam lain
agak lain nih anak