Tatapannya masih menusuk tajam, tangannya mengunci dua lenganku ke atas. Menghimpitku ke dinding, aku seperti dejavu dengan posisi ini.
Mimpi itu ...
"Kamu kira aku bodoh, Gauri? Jika seseorang ingin menghancurkanku, maka bukan Yosita kuncinya." katanya penuh penekanan.
"Pria itu sudah kamu libatkan dalam masalah serius seumur hidupnya jika berhasil meniduri Yosi. Apa kamu tahu? Kenapa dia tak kunjung hamil, heh?"
Dengan kasar dia menarik bajuku hingga robek. Tubuhku terekspose hanya tertutup tanktop saja. Dia mencengkeram dagu dengan kuat. Menciumku secara brutal. Mataku mulai basah dengan sikapnya.
"Kamu terlalu naif dan gegabah, Gauri! Jangan salahkan aku jika kamu akan benar-benar tak bisa lepas dariku!" bisiknya di sela hembusan nafas.
"Kamu sudah ada dalam genggamanku. Adik-adikmu tak akan bisa memperbaiki kondisimu sekarang. Hanya aku. Aidam Ishwar Sura! Aku tak akan pernah membiarkanmu terluka, Gauri! Jadi, bersikaplah yang manis, hm?"
Klik Subscribe dulu sebelum baca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iftiati Maisyaroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Tak Ada Lagi Nama Gaurika Yada
Bab 11 Tak Ada Lagi Nama Gaurika Yada
"Uuuwwweeeek!"
Cairan pahit yang pekat keluar dari mulut wanita yang berlari menjauh dari tubuh mantan kekasihnya. Meski berhasil menutup mulut agar tak mengenai jas yang dikenakan pria itu. Tetap saja menyisakan sebuah bercak lengket di pakaian berwarna navy yang dipakai pria berwajah oriental itu.
Wanita dengan lembar hijab yang masih melekat di kepalanya itu membungkuk pada wastafel toilet ruang kantornya. Tenggorokan tercekat, susah untuk menghirup udara. Tekanan dari kerongkongan begitu menyiksanya. Berkali-kali memuntahkan isi perutnya susah payah.
"Ri? Kamu sakit? Ayo ke dokter!" tanya pria tadi panik.
Dalam hitungan detik tanpa basa-basi lagi pria berambut hitam kecoklatan itu membopong Gauri.
"Turunkan aku, Ken! Aku mual mencium parfummu!" serunya menutup hidung dan mulut, meronta minta diturunkan sebelum pria itu membuka pintu ruang kantornya.
Dengan ditemani Arkaan, Gauri ke klinik dekat kantor. Setelah perdebatan panjang, karena Ken memaksa untuk membawanya ke rumah sakit. Menolak diantarkan karena memang merasa baik-baik saja. Hanya merasa aneh tak bisa mencium wangi tubuh pria yang tadi memakaikan hijab untuknya.
"Kapan hari terakhir Ibu haid?" tanya seorang dokter perempuan menatap Gaurika yang masih berbaring di brangkar dengan senyuman ramahnya.
Wanita itu menatap bingung pada tenaga medis yang baru saja memeriksanya. Tak menjawab pertanyaan yang terasa aneh baginya.
"Selamat, Pak! Dari hasil pemeriksaan Istri Anda hamil! Mual muntah itu sudah biasa terjadi di trimester awal hingga kedua." terang wanita dengan seragam putih itu menatap Arkaan yang membantu kakaknya duduk.
Dia bergeming sesaat lalu mengerjapkan mata. Antara harus bahagia ataukah sedih mendengar kabar kehamilan kakaknya ini.
"Mbak Gauri, hamil?" desisnya menatap sendu pada sang kakak yang menggeleng kuat.
Sementara di tempat lain, sepasang anak Adam sedang duduk berhadapan di sebuah ruangan dalam rumah mewah.
"Kenapa Mas bersikap tak adil pada Mbak Gauri? Mas Aidam harus katakan kejujuran tentang Papa dan keluarga Sura--"
"Kamu cukup bahagia saja menikmati hidupmu, Yos! Tak perlu memikirkan apapun yang terjadi padaku. Kamu tahu aku telah menghancurkannya malam itu. Jika dia ingin lepas, aku akan melepaskan. Tapi bukan aku yang menceraikannya. Biarkan dia ajukan khuluk. Dengan begitu dia akan mudah kembali padaku nanti. Tak perlu muhalil untuknya." jelas seorang pria yang terus menatap layar laptop.
Menampilkan sebuah video istri keduanya dengan Kenzie di dalam kantor perusahaan Aradzila. Pria itu sedang menutup kepala Gauri dengan hijab yang terlihat disembunyikan di balik tubuh Kenzie saat memasuki ruangan tersebut.
"Kenapa memaksa melihat hal yang akan membuat sakit hati, sih Mas?" tegur seorang perempuan di hadapannya yang sedikit mengintip pada layar.
"Aku akan tahu seberapa besar cintanya pada laki-laki itu selama ini. Jika memang perasaanku tak berbalas aku ikhlas melepaskan Gauriku, Yos ...." Aidam menunduk dan tak melihat pada layar yang menampilkan istrinya sedang lari ke toilet.
Dia memilih menutup laptopnya dan bersandar di kursi dengan mata terpejam. Mencoba merelakan cintanya yang telah dia pupuk bertahun-tahun lamanya. Terlalu naif untuk mengakui perasaannya lebih dulu.
Berusaha menutup aib keluarganya. Tak siap dengan segala bentuk penolakan seorang Gaurika. Menyembunyikan apa yang ada dalam hatinya. Memang menyiksanya, tapi tetap harus dijaganya demi mendiang sang Mama. Itulah mengapa membuat cinta pertama dan satu-satunya dalam hati itu semakin jauh dan tak terjangkau lagi.
"Kenapa Mas harus mengorbankan perasaan Mas, demi aku? Aku tak akan bisa membalas semua yang Mas berikan ...." isak wanita itu tertunduk, berdiri dengan lututnya persis di depan Aidam.
"Kamu adikku, Yos ... Mama memberikan tanggung jawab atasmu padaku. Tanpa menikahimu, aku nggak bisa melindungimu!" tegasnya mengangkat bahu Yosita dan membawanya dalam dekapan.
"Kamu menjadi halal untuk kupeluk, Yos ... Maafkan aku jika ini menyakitimu ...."
"Harusnya Mas beri penjelasan dan jujur pada Mbak Gauri tentang ini, Mas!" ucapnya merenggangkan pelukan.
"Aku nggak mau aib keluarga kita terbuka. Meski itu pada istriku sendiri, Yos ...." balas Aidam menyeka pipi Yos lalu mengecup keningnya.
"Maafkan aku ... aku menyayangimu, menyayangi Mama. Bertahanlah sebentar lagi, hm? Tak akan lama lagi Papa benar-benar bebas--"
Kalimat Aidam terpotong dengan ketukan yang memburu berasal dari pintu.
"Nona Gaurika sedang hamil, Tuan." kata Aoron, asisten pribadi Aidam setelah diijinkan masuk.
"Apa? Darimana kamu tahu?" pekik Aidam tak percaya.
"Ini rekaman dari orang kita, Tuan!" balasnya menyerahkan sebuah ipad.
"Bagaimana bisa hamil, Dok? Saya mengalami pendarahan hebat ketika terakhir kali melakukannya dengan suami saya!" Suara Gauri terdengar dari sebuah rekaman yang dikirim anak buah Aidam.
"Bisa saja terjadi, karena gerakan--"
"Alhamdulillah ... Yos! Gauri hamil! Itu anakku! Aku akan jadi ayah, Yos!" teriakan Aidam mengacaukan keterangan suara wanita lain yang keluar dari speaker ipadnya.
Pria berusia tiga puluh tujuh tahun itu kegirangan. Memeluk sambil memutar tubuh adik angkat yang dinikahinya sejak lima tahun yang lalu. Senyuman lebar dan pekikan syukur dia teriakkan berulang kali.
Berbeda dengan sang artis yang tersenyum kaku di balik punggung Aidam.
"Dan aku akan benar-benar menjadi istri pura-puramu selamanya, Mas." batin Yosita menjerit pedih.
Aidam memang menyayangi Yosita hanya sebatas adik. Hatinya hanya diisi oleh sosok wanita tomboy yang menolongnya dulu. Jauh sebelum dia memutuskan menikahi Yosita. Gaurika, adalah ratu yang berhasil menempati tahta tertinggi cinta Aidam.
Menikahi adik angkatnya sekadar memenuhi amanat sang Mama dan bentuk kasih sayangnya. Terpaksa untuk menghalalkan interaksi tanpa dosa. Hanya status dan penyempurna sebuah misi balas dendam Aidam pada laki-laki yang dipanggilnya Papa.
...***...
"Ar ... jangan katakan apapun tentang keadaan Mbak, ya? Termasuk Ken, berjanjilah untuk merahasiakan kehamilan ini!" tegas Gauri mengelus perutnya yang masih rata menatap adiknya yang sedang mengemudi.
"Tapi Mas Aidam harus tahu, Mbak. Dia--"
"Aku akan menyerahkan gugatan ke pengadilan besok, Ar ... biarlah Mbak jadi single parent. Tolong bantu Mbak, Ar ... hanya kamu sekarang. Bukan Ken apalagi Aidam."
"Lama kelamaan mereka akan tahu, Mbak! Perut itu akan membuncit dan ... nggak mungkin bisa ditutupi, kan?" tolak Arkaan menoleh penuh ke arah sang kakak saat lampu lalu lintas sedang menyala merah.
"Mbak akan--" jeda Gauri, diam sejenak lalu melanjutkan dalam hatinya, "mengasingkan diri. Di sebuah pesantren yang dikelola Ayah dulu. Jadi ...."
Wanita dengan sudut mata berair itu sengaja tak melanjutkan kalimatnya. Dia berpikir akan membuat rencana lain yang hanya diketahui dirinya sendiri. Tak mau percaya siapa pun kali ini.
"Benar kata Ken, sudah saatnya aku menutup yang seharusnya tertutup." Akhirnya dia mengatakan kalimat yang lain.
"Apa yang akan Mbak lakukan? Mulai hijrah dengan memakai hijab?" tanya Arkaan melirikkan ekor matanya dan fokus kembali ke jalanan.
"Ya! Dan akan menghilang dari kehidupan semua orang. Tak akan ada lagi nama Gaurika Yada di dunia ini."
...***...
^^^Bersambung ....^^^
mgkn lbh baik
Sendiri...
🤭😵💫🤕
okelah, Thor...
Lanjutkan. kebingunganku ini.. 😁🤣