Jauh di lubuk hatiku, aku menolak pernikahan ini. Tapi bagaimanapun, aku tidak bisa mengecewakan kedua orang tuaku.
Aku terpaksa menikah dengan laki-laki yang tidak aku cintai sama sekali. Ini di karnakan, pacarku yang akan menikah denganku, menghilang. Bisakah aku mengubah rasa terpaksa ini menjadi rasa cinta pada suamiku? Haruskah aku bertahan dengan orang yang dingin seperti Adya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Malam itu, setelah makan malam, mas Adya mengajak mama dan papa untuk bicara soal kami yang ingin pindah rumah.
"Papa, mama, Adya ingin bicara sesuatu sama mama dan papa," ucap mas Adya membuka pembicaraan.
"Mau bicara apa sih Ady, bicarakan saja sama mama dan papa," kata papa dengan lembut.
"Papa, kami ingin pindah rumah."
"Apa!" ucap mama kaget.
"Tidak, mama tidak setuju kalau kamu dan Kaila mau pindah dari rumah ini."
"Apa ini ada hubungannya dengan Bram, Adya?" kata papa.
"Tidak, tidak ada hubungannya dengan Bram kok pa, ma. Kami hanya ingin hidup mandiri dengan tinggal di rumah sendiri," kata mas Adya menjelaskan.
"Tidak, aku tidak setuju kalau kalian malah ingin keluar dari rumah ini. Aku tidak akan setuju kalau kamu membawa Kaila tinggal hanya berdua saja," ucap Bram yang tiba-tiba ikut bicara.
"Diam kamu! Siapa kamu yang bisa melarang mas mu membawa istrinya untuk tinggal di rumah lain berdua saja," kata mama membentak Bram dengan keras.
Bram terdiam, ia tidak berani menjawab apa yang papa katakan. Mungkin, ia sedang ketakutan saat ini. Apalagi kesalahan yang ia buat, belum dapat maaf dari papa.
"Adya, jika kamu dan Kaila ingin pindah. Papa akan membiarkan kalian pindah. Papa akan belikan rumah baru buat kalian berdua," ucap papa dengan lembut.
"Papa gimana sih pa, mama gak ingin pisah dari Adya dan Kaila. Mama ingin selalu melihat mereka."
"Jangan egois ma. Mungkin sudah saatnya mereka tinggal di rumah yang terpisah dengan kita. Karna mereka juga butuh mandiri dan belajar membena rumah tangga mereka berdua."
"Tapi pa ...."
"Tidak ada yang meminta kamu untuk bicara. Jadi, jangan bicara kalau tidak ada yang minta. Paham!" kata papa memotong perkataan Bram.
"Jadi Adya, Kaila, kalian mau rumah yang seperti apa untuk menjadi tempat tinggal kalian nanti?" kata papa sambil mengambil ponselnya.
"Jangan repot-repot pa, aku dan Kaila sudah punya rumah yang akan menjadi tempat tinggal kami nanti."
"Lho, kapan kamu beli rumahnya. Seperti apa rumah yang kamu belikan itu? Berapa harganya?"
"Harganya tidak terlalu mahal kok pa. Rumahnya juga tidak terlalu besar. Hanya memiliki dua lantai dengan ukuruan yang sederhana."
"Dan yang paling penting, Adya beli rumah ini dengan uang Adya sendiri."
"Ya ampun, kenapa gak minta mama aja yang belikan rumah buat kalian berdua sayang. Mama gak bisa kalian tinggal di rumah kecil yang sempit."
"Gak kecil kok ma, rumah yang Adya belikan ini, lumayan besar dan masih muat untuk tinggal lebih dari satu keluarga."
"Bukan seperti itu yang mama maksudkan nak. Ya setidaknya, rumah kamu itu gak kalah sama rumah kita yang saat ini."
"Yah, mama, namanya juga mau mandiri ma. Gak mungkin langsung sebesar ini rumahnya. Inikan sangat amat besar buat aku dan Kaila."
"Kaila, apa kamu sudah lihat bagaimana rumah yang Adya belikan. Maksud mama, apa kamu udah lihat rumah kalian?"
"Belum ma, tapi aku yakin kalau rumah itu bisa untuk tempat tinggal kami berdua. Aku percaya dengan pilihan mas Adya kok ma," ucapku sambil memaksakan senyum tipis.
"Ya sudah kalau gitu, mama hanya bisa berharap, kamu dan Adya baik-baik saja nanti setelah punya rumah sendiri."
"Mama terlalu mencemaskan aku dan Kaila ma. Kami akan baik-baik saja nantinya, mama tenang saja."
"Oh ya, ngomong-ngomong, kapan kalian rencana mau pindah?" kata papa.
"Rencananya, besok pagi kami sudah mulai membereskan rumah baru. Mungkin, besok malam kami sudah tinggal di rumah baru pa."
"Apa ngak terlalu cepat Ady?" kata mama.
"Lebih cepat, lebih baik ma. Karna rumahnya sudah bisa dihuni, tunggu apa lagi. Iyakan Lala?"
Aku mengangguk pelan saat mas Adya bertanya pendapatku.
"Lala?" kata Bram tak percaya.
"Iya Lala, ada apa Bram?" ucap mas Adya.
"Tidak ada, hanya saja, kenapa kamu malah memanggilnya dengan sebutan Lala."
"Terserah mas mu dong, mau ia panggil apapun, itu adalah istrinya. Kenapa kamu yang sewot ya?" tanya papa kesal.
"Sudah pa, mungkin Bram ada alasan tertentu," kata mas Adya.
"Alasan tertutu apanya, tidak ada urusannya alasan Bram dengan panggilan kamu dengan Kaila," kata papa.
Aku tahu apa alasan Bram, yang terlihat kaget ketika mendengar mas Adya memanggil aku dengan sebutan Lala. Itu karna Bram tidak aku bolehkan memanggil namaku dengan sebutan Lala, saat kami pacaran.
Tapi, ketika mas Adya ingin memanggil aku dengan nama Lala. Aku tidak keberatan, karna aku merasa, tidak ada yang aneh saat mas Adya menyebut nama Lala padaku.
Jauh berbeda dengan apa yang Bram ucapkan waktu itu. Aku malah merasa geli seperti ingin muntah, ketika ia memanggil aku dengan nama Lala.
APA KATA BRAM TADI? CINTA SESAAT.. PENGEN NGAKAK AKU,APA BRAM AMNESIA? MALAH WAKTU ITU DIA SENDIRI NGAKU DENGAN MAYA DIA GAK MENCINTAI KAMU,NIKAH JUGA ORTU YG MAKSA,DIA BILANG TERGILA-GILA DENGAN MAYA,UDAH MAU NIKAH AJA MASIH SELINGKUH,ORANG KALO SEKALI SELINGKUH TETAP AKAN SELINGKUH,APAPUN ALESANNYA,DIA SUDAH MEMPERMALUKAN PIHAK KELUARGA WANITA..🙄🙄🙄