Tangan Scarlett gemetar, ia berusaha meraih celana yang lelaki itu kenakan sambil memejamkan mata.
"Aaa ...," jerit Scarlett. Ia terkejut saat tangannya tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang keras.
"Kenapa?" Ethan ikut-ikutan terkejut mendengar teriakan Scarlett yang memekakkan telinga.
"I ... itu! Ada yang keras," ucapnya sambil menunjuk sesuatu yang dimaksud dengan ekspresi malu bercampur takut.
***
Akibat hutang yang ditinggalkan sang ayah, Scarlett harus bekerja keras melakukan apa saja yang dia bisa, termasuk menjadi pelayan di klab malam. Karena sering membuat kekacauan, ia diberi pekerjaan lain untuk merawat seorang kakek tua bernama Kakek Adam. Siapa sangka lelaki tua kaya raya itu akan menjodohkan Scarlett dengan cucunya. Tidak disangka, Cucu sang kakek adalah Ethan, mantan pelatih panahan saat SMA dan merupakan cinta pertamanya. Namun, kondisi Ethan ternyata lumpuh.
Scarlett kira orang lumpuh tidak akan punya hasrat apapun. Ternyata ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Merasa Tidak Berguna
Jantung Scarlett masih berdebar kencang, badannya gemetar ketakutan. Ethan dengan lembutnya memberikan pelukan, mengatakan padanya untuk tenang.
"Semua akan baik-baik saja, jangan khawatir," begitu ucap Ethan.
"Aku tidak tahu kalau dia kakakmu. Bagaimana kalau dia memberitahukannya kepada orang tuamu, apa itu akan berpengaruh buruk padamu?" Scarlett berbicara dengan suara yang bergetar.
Ethan menaruh telunjuknya di bibir sang istri, agar tidak berbicara lagi. "Sudah, jangan dipikirkan lagi. Tidak akan ada apa-apa, aku akan menjagamu selama di sini."
Ucapan Ethan membuat perasaan Scarlett lebih tenang. Lelaki itu memang tak sekejam kelihatannya. Meskipun wajahnya terkesan galak dan angkuh, sebenarnya Ethan punya rasa peduli.
Lelaki itu bahkan menyuruhnya tidur kembali. Sembari memegang tangannya, Scarlett bisa tenang memejamkan mata.
***
Peristiwa semalam masih terngiang-ngiang dalam benak Ethan. Sejenak hatinya bimbang untuk terus melibatkan Scarlett dalam kehidupannya. Wanita itu sudah punya jalan hidup penuh penderitaan. Tidak adil rasanya menambah penderitaannya jika terus berada di sampingnya.
"Zigra, tolong antarkan aku kepada Kakek," pintanya kepada sang asisten.
"Baik, Tuan."
Zigra mendorong kursi roda milik Ethan melewati jalanan penghubung ke bangunan samping tempat kakek tinggal. Sesampainya di sana, Theo sudah menunggu dan membukakan pintu agar Ethan bisa masuk.
Zigra kembali keluar setelah mengantarkan tuannya menemui kakek.
"Tumben kamu mengunjungi kakek jam segini. Apa pekerjaanmu di kantor sudah selesai?" tanya kakek sembari membaca majalah bisnis di tangannya.
"Ini masih jam istirahat, Kek. Aku sengaja pulang karena ada dokumen yang perlu diambil," jawab Ethan.
"Oh, begitu ... Lalu, dimana istrimu?" tanya kakek lagi.
"Em, dia masih di kampus."
"Seharusnya kamu ajak dia makan siang sesekali kalau ada waktu luang," ujar kakek. Ia memang sangat berharap cucunya bisa punya hubungan yang baik dengan wanita yang ia pilihkan.
"Iya," jawab Ethan singkat.
"Perlakukan dia dengan baik, jangan galak-galak. Buat dia merasa nyaman dan betah tinggal bersama kita. Dia itu anak yang baik."
Ethan terdiam sejenak mendengarkan nasehat kakeknya.
"Kakek, bolehkah aku menceraikan dia?" tanya Ethan dengan nada ragu.
Kakek terkejut. Ia menutup koran yang sedari tadi dibacanya dan menatap ke arah sang cucu.
"Kenapa? Apa dia melakukan sesuatu yang membuatmu tidak suka?" kakek balik bertanya. Raut wajahnya benar-benar tidak menyukai permintaan Ethan barusan. Ia yakin Scarlett merupakan wanita yang paling tepat untuk Ethan.
Ethan menghela napas. Keputusan yang ingin diambil seakan sangat berat sampai semalaman ia berusaha mempertimbangkan.
"Aku merasa tidak sanggup menjaganya, Kakek. Aku merasa masihan padanya harus ikut menderita karena menikah denganku," ucap Ethan dengan raut wajah penuh rasa bersalah.
Ia sadar diri keberadaannya di rumah itu merupakan ancaman bagi ibu tiri serta saudara tirinya. Meskipun kakek menjadi pendukung utama dirinya sebagai calon pewaris, tidak bisa dipungkiri jika keterbatasan fisiknya membuat sang ayah bahkan ragu untuk menyerahkan perusahaan kepadanya.
Sejauh ini, Ethan hanya dipercaya untuk mengurus salah satu cabang perusahaan yang kecil, tidak dilibatkan dalam perusahaan utama. Ia sudah dikeluarkan sejak kecelakaan tiga tahun lalu.
Kakek meraih tangan Ethan. "Aku yakin Scarlett tidak akan pernah punya pikiran seperti itu. Bahkan setiap dia bercerita, kelihatannya dia menyukaimu. Katanya kamu itu sebenarnya baik meskipu. Sedikit galak," ucapnya.
Ethan mengangkat kepalanya seakan memastikan kebenaran kakek.
"Dia itu anak yang sangat ceria dan suka melucu. Semangat sekali menceritakan tentang hari-harinya di kampus. Yah, walaupun memang kadang dia mengeluh tentang sikap menyebalkanmu. Makanya kakek bilang, perlakukan dia dengan baik, Ethan," pinta kakek.
"Bukankah kakek tahu sendiri kondisi keluarga ini seperti apa? Kakek tidak kasihan kepadanya?"
Kakek tertawa kecil. "Aku dengar dia sempat membuat Suliya tidak bisa bicara karena masakan Scarlett."
"Ah, itu." Ethan kembali mengingat peristiwa sarapan pertama saat itu.
"Kamu mungkin hanya belum menyadari saja kalau sebenarnya Scarlett itu wanita yang kuat. Dia sudah tahu posisinya di rumah ini. Jadi, dia pasti tidak akan mundur sebagai istrimu. Makanya kamu juga tidak boleh menyerah, Ethan."
Perkataan kakek kembali membuatnya merenung. Sebenarnya dibandingkan dengan tidak percaya Scarlett, ia lebih tidak percaya pada dirinya sendiri. Dengan kondisi cacatnya, mana mungkin ia bisa melindungi Scarlett. Apalagi kakak tirinya seperti menjadikan Scarlett target. Ia merasa dirinya sendiri tidak berguna.
"Jadi, kapan kira-kira kakek akan punya cicit?" tanya kakek tiba-tiba.
Lamunan Ethan langsung buyar. "Kakek ini apa-apaan, kenapa bertanya hal seperti itu?" protesnya.
"Hahaha ... Kalian kan sudah menikah, wajar kan kalau kakek menanyakan tentang cicit." Kakek tertawa melihat respon lucu yang Ethan perlihatkan.
"Kakek kan tahu bagaimana hubungan kami. Pernikahan ini sangat tiba-tiba dan tentu saja kami belum memikirkan sampai ke arah sana."
"Belum memikirkan ke arah sana atau memang kamu yang tidak berniat ke arah sana? Kamu masih memikirkan wanita itu, ya?" sindir kakek.
Ethan terdiam.
semoga sehat2 ya
ceritanya tamat...ternyata belum to?
ayuk Thor...ojo sue2...aq menunggu lanjutannya♥️
lanjoottt