Aku masih berusia 17 tahun dan mereka dengan santainya mengatakan niatnya untuk menjodohkanku dengan putra sahabat ibuku. Apakah dunia hanya sebesar daun kelor? Bagaimana tidak. Calon suamiku adalah wali kelasku sendiri! Dimanakah aku harus menyembunyikan wajahku dari anak-anak satu sekolah? Bagaimana mungkin seorang Carlina Deani menikah dengan Krisan Yosia yang adalah wali kelasnya?
Tak pernah terpikir bahwa aku akan kehilangan masa remajaku. Semua orang seusiaku umumnya baru mengenal cinta -meskipun itu cinta monyet, berpacaran, ya menjalani masa penjajakan. Tapi aku sekarang sudah harus menikah? Apakah aku bisa menjadi istri yang baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eunike lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Kedua pria itu hanya bisa terdiam menatap gadis yang dicintainya terbaring lemah di dalam ruang ICU bagaikan seorang yang tak bernyawa lagi. Mukanya pucat. Begitu banyak alat medis yang melekat di tubuhnya. Wajah cantiknya entah sejak kapan sirna. Namun keduanya masih sama: masih mencintainya.
Krisan –yang baru saja pulang dari sekolah dan masih dengan kemeja rapinya berdiri di depan ruang ICU. Ingin rasanya ia mengatakan apa yang tengah memenuhi kepalanya, yaitu kebimbangan akan nyawa kedua orang yang sangat dicintainya: Carlina dan calon bayinya.
“Kamu harus segera memilih, Kak.” kata Krisna mengikuti langkah Krisan yang mulai menjauh dari jendela ruang ICU. “Usia kandungan sudah memasuki bulan ketiga.”
Apa?
“Aku tidak bisa memilih, Ino. Mereka isteri dan anakku. Anak pertamaku.”
Krisan kini menyesali atas permintaannya pada Carlina waktu itu. Dan mengapa lagi-lagi isterinya itu menyembunyikan perkara yang begitu penting. Ini kehamilan, Alin, kenapa kamu sembunyikan dariku?
Bocah kecilnya kini bukan lagi gadis polos. Ia benar-benar merasa bersalah mengingkari janjinya dan sekarang berakibat buruk bagi keduanya. Siapa yang harus kupilih?
“Iyan, kalau aku jadi kamu, aku pasti lebih mempertahankan Carlin. Karena dia isterimu. Soal anak suatu hari nanti kalian bisa memilikinya lagi.”
“Tapi, dek, melakukan aborsi sama juga membunuh. Meski janin itu belum berbentuk tapi di sana sudah ada nyawa.”
Maafkan saya
“Dengerin aku, Yan. Aku ini seorang dokter dan aku paham apa akibat jika seorang penderita kanker masih mempertahankan kandungannya. Bisa berakibat fatal bagi sang ibu.”
Krisan tak tahu harus berbuat apa. Pikirannya benar-benar kacau. Rasanya ia ingin pergi dari kenyataan dan mengakhiri nyawanya. Tapi isterinya masih sangat membutuhkan semangat darinya. Tidak mungkin Krisan pergi dan membiarkan Carlina berjuang sendiri.
“Adakah cara lain menyembuhkan Carlina selain kemoterapi?” tanya Krisan pada saudaranya itu.
Krisna menatap saudara kembarnya. Kanker darah alias leukimia yang Carlina derita adalah jenis Chronic Lymphocytic Leukemia (CLL). Carlina diketahui mengidap kanker ketika telah memasuki stadium lanjut. Sudah tidak ada cara lagi menyembuhkan Carlina selain memberi obat-obatan untuk memperpanjang hidupnya. Kemoterapi untuk membunuh sel kanker sudah tidak mempan lagi. Dan kini dibutuhkan donor sumsum tulang yang tidak mudah mencarinya dan juga tidak kecil biayanya.
“Donor sumsum tulang bisa dilakukan. Namun itu memiliki resiko dan biaya yang besar. Untuk mencari pendonor pun membutuhkan waktu yang tidak singkat.”
Aku hanya ingin melihat isteriku sembuh dan bisa kembali tersenyum seperti sediakala. Aku tidak ingin masa depannya hilang karena penyakit yang dideritanya. Tapi apa yang bisa aku lakukan?
“Bisakah aku mendonorkan sumsum tulangku untuk Alin?”
***
Aku sangat bersyukur pada Yang Kuasa. Hari ini aku kembali bisa melihat senyum wanitaku setelah satu bulan ia terpejam.
Mobil fortuner putih memasuki halaman parkir sebuah SMA swasta tempat Carlina bersekolah. Kali ini Krisan tidak lagi canggung jika warga sekolah mengetahui mereka datang dan pergi bersama. Mengapa? Karena semua rahasia itu telah terbongkar dan Krisan telah menjelaskan semua itu.
“Mas kok –”
“Jangan khawatir, sayang. Mereka semua sudah tahu kamu itu isteriku.” katanya sambil menggenggam tangan isterinya.
“Tapi kan mas nggak enak aja kalau –”
“Udah. Kamu tunggu bentar aku bukakan pintu buatmu.”
Krisan membuka pintu kemudinya lalu menutupnya. Ia berjalan ke sisi kiri dan membukakan pintu untuk Carlina. Gadis itu hanya tersenyum. Ya ia sangat merindukan perhatian tingkat tinggi dari suaminya. Krisan mengulurkan tangannya. Namun Carlina hanya menatapnya.
“Kenapa diem dek?”
“Mas jangan berlebihan deh. Aku bisa turun sendiri.” kata Carlina sambil mengambil map dan ranselnya.
“Kamu lagi hamil, dek. Aku harus jagain kamu. Dan –” segera Krisan merebut tas hitam itu dari pangkuan Carlina. “Biar tasnya aku yang bawa.”
“Tapi Mas –”
“No tapi tapi!”
Semua mata tertuju pada mereka ketika mereka menyusuri jalanan yang masih dalam satu kompleks sekolahnya yang memotong taman sekolah di kanan dan kiri. Senyum dengan santainya Krisan tebarkan. Berbeda dengan Carlina. Ia sangat malu dan risih dengan perlakuan Krisan di depan umum yang membuat dirinya menjadi trending topic di sekolahnya.
“Ciee ada yang udah nggak malu lagi nih jalan bareng.” goda Pipin yang baru saja dari kantin bersama Sharla.
“Beneran nih kalian udah nikah? Nggak nyangka tau!” kata Sharla.
“Apa saya harus menunjukkan bukti ke kalian kalau Carlina adalah isteri sah saya?” Krisan menatap Carlina dengan senyuman jahilnya.
“Maksud bapak apaan sih? Buku nikah? Cincin nikah?” kata Sharla.
“Bukan. Tapi –” Krisan mengelus perut Carlina yang mulai terlihat membuncit.
“Mas malu ah!” bisik Carlina.
“Ngapain juga malu. Orang saya ini bapak dari anak yang ada di kandunganmu!”
“MAAS!!”
“Waduh waduh panggilnya ‘mas’ lagi. So sweet!” kata Sharla.
“Ssstt ini di sekolah, Lin. Jangan panggil saya 'mas’. Oke?”
“Oya bapak mau buktiin apa tadi?” kata Sharla.
“Sini saya bisikin. Katanya Alin malu.”
“Ya elah, mas –eh maksud saya pak– maksud saya jangan dibilangin dong. Ntar jadi trending topic lagi!”
“Biarin. Biar mereka semua tau sekalian kalau kamu HAMIL ANAK SAYA!”
“Apa? Kamu udah berbadan dua, Lin?”
“Yah nggak perawan lagi dong!”
“Heh vulgar banget sih mulutmu, La!” bentak Carlin.
“Yeeh ibu hamil sensi!” kata Pipin.
“Aduuh jangan pake embel-embel ibu dong. Aku masih 17 tahun kali!”
“Dah sudah. Saya masuk ke kantor dulu.” kata Krisan. “Masuk kelas gih. Di luar banyak angin ntar masuk angin.”
“Iya, sayangku!” godanya. “Kerja yang bener ya! Buat dedek bayi kita!”
“Ee buset pagi-pagi udah pacaran!” kata Nabila sambil menerobos masuk ke kelas.
“Aduh! Hati-hati atuh, Bil!” bentak Sharla. “Untung aku yang kesenggol coba kalau Carlina.” katanya sambil mengajak Carlina ke kelas.
“Yah jangan dong. Ntar Pak Krisan bisa bunuh tuh Nabila.” kata Pipin.
Belakangan ini Krisan benar-benar luar biasa. Perubahannya 180 derajat. Ia lebih perhatian ya bisa dibilang berubah jadi cerewet. Dan kehamilannya yang berusia empat bulan bukan Carlina yang ngidam, melainkan sang calon bapak yang ngidam. Dan ngidamnya nggak tanggung-tanggung.
Dek nanti belikan aku siomay di kantin ya. Tapi nggak pake sausnya. Lagi pengen niih.
Oya isinya cuma tahu sama kentang ya! Aku minta kamu yang anterin plus suapin aku!
“Ya Allah! Bisakah ngidamnya nggak ribet gitu?” gumam Carlina.
haii mampir ke karyaku yu.. ENDINGKU BERSAMAMU
kisah romansa dua insan manusia
jangan lupa like, vote, rate dan komennya..
sumpah bingung
thor klw penjelasaan ceritanya beraturan bagus loh critanya...ini kesannya dipotong2 critanya pingin cpt2 selesai kah thor?
sama judulnya jg jd g pas...
ujung2nya ke sana jg
g ada ketegangan nih...tp klw itu tulang sumsum krisan, jd dia g boleh capek2 loh..