Karena sifatnya yang terlalu mudah percaya kepada orang lain membuat Nadira terjebak di sebuah kamar dengan seorang laki-laki yang tidak ia kenali. Saat sadar ia sudah tidak mengenakan sehelai benang pun.
Nadira Laura, atau yang kerap dipanggil Dira hidup sebatang kara di dunia ini. Kedua orang tuanya sudah meninggal saat dia berusia 10 tahun akibat kecelakaan. Hidupnya bertambah hancur saat ia dinyatakan positif hamil.
Keputusan yang ia ambil setelah kecelakaan itu adalah meninggalkan kota ini. Ia tidak berniat mencari lelaki yang telah merenggut kehormatannya. Nadira memutuskan mencari kebahagiaan dan membuka lembaran baru dalam hidupnya bersama calon buah hatinya.
Akankah Nadira mendapatkan kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkumpul
Raihan, Gavin, serta Gabriel sedang bersantai menikmati minuman yang berada pada genggamannya masing-masing. Tidak lupa juga dengan wanita-wanita yang berpakaian serba minim itu langsung menghampiri mereka setelah tau ketiganya datang. Tempat ini selalu menjadi tempat favorit mereka dikala sedang banyak masalah.
Aneh memang, jika kebanyakan orang memilih untuk langsung segera menyelesaikan masalahnya mereka malah memilih untuk bersenang-senang terlebih dahulu. Sebuah club yang cukup terkenal di ibu kota ini sering sekali didatangi oleh banyak pengusaha.
Hari ini Afnan berhalangan hadir karena sedang berjaga di rumah sakit. Ralat, laki-laki itu memang jarang sekali kumpul jika di tempat seperti ini. Kalaupun datang ia hanya akan memantau teman temannya takut kalap meminum minuman beralkohol itu.
Tangan Gavin terangkat ke atas meminta seseorang membawakan minuman alkohol itu lagi, meski di mejanya masih tersisa satu yang penuh. Bicara tentang laki-laki itu, setelah menikah Gavin bukannya mengurangi mengunjungi tempat seperti ini, Gavin bahkan bisa setiap harinya mengunjungi tempat haram ini. Jika sedang diberitahu oleh temannya ia akan bilang kalau istrinya sibuk belanja, padahal kenyataannya istrinya sedang menunggu di rumah.
Mereka bertiga masih dalam keadaan sadar walaupun sudah banyak alkohol yang masuk ke tenggorokan mereka. Katanya, mereka tidak akan mabuk hanya karena minuman seperti itu. Walaupun ya, keadaannya berbanding terbalik.
"Han, lo kenapa sih? Tuh cewek di pinggir lo dianggurin aja," ujar Gavin yang melihat temannya itu tidak seperti biasanya
"Gapapa, lagi gak selera aja," kilahnya
"Cielahh, pake gak selera lagi, biasanya juga langsung buka kamar!" seru Gabriel namun tak ditanggapi oleh Raihan
Botol kesatu, kedua, ketiga, dan entah ini sudah botol keberapa tapi mereka masih bisa mengatur kesadarannya.
"Eh, han, itu bukannya si Astrid ya?" tanya Gabriel sambil menatap salah satu sudut tempat itu yang diikuti oleh Raihan
"****!" Raihan mengumpat pelan, lalu menatap tajam ke arah sudut itu
"Kalah lo!" sindir Gavin
"Sialan! Sama gue gak mau!" umpat Raihan tanpa menanggapi ucapan temannya
"Berarti lo kalah skill sama tuh laki Han, buktinya dia bisa ngajak tu cewek ke sini," ujar Gabriel
"Sebelum gue kesini pun, gue udah ajak dia," balas laki-laki itu dengan sedikit amarah
"Kurang kaya kali lo," celetuk Gavin sambil menyeruput Vodka nya
"Nah, iya nih kayaknya, kurang kaya lo! Pelit sih jadi cowok, gak mau kan si Astrid sama lo!" tambah Gabriel
"Lo gak tau kalau yang biayain dia liburan beberapa bulan lalu siapa? Gue!" kata Raihan yang membuat teman-temannya tidak berkedip
Gavin dan Gabriel saling tatap, gila berapa duit yang dikeluarin si Raihan buat biayain tu cewek! Kira-kira seperti itu pikiran mereka berdua saat saling tatap.
"Lo gak mau cari cewek lain gitu? Gue cariin deh kalau gak bisa nyari," ujar Gabriel
Raihan menggeleng dengan lemah, "gue maunya dia, gimana?"
"Dasar batu!" ujar Gavin
"Gak ngaca lo! Suka gak sadar diri emang temen gue yang satu ini," ucap Gabriel dengan muka sombongnya lalu dengan cepat mengubah mimik mukanya menjadi serius. "Gimana kalau gue bantuin lo dinner sama Astrid, mau gak?" tanyanya
"Kalau bisa," balas Raihan dengan sedikit ketus, ia sudah emosi melihat gadis incarannya bersama laki-laki lain.
"Ye, gak percaya sama gue! Liat aja ya kalau gue bisa lakuin itu, lo harus turutin semua mau gue!" kata Gabriel yang hanya dibalas deheman oleh Raihan, "udah deh, gue mau senang-senang dulu bye!"
Gabriel berlalu dengan satu wanita bersamanya, sedangkan Raihan dan Gavin tetap menikmati minumannya sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang. Sebagai seorang CEO salah satu perusahaan besar Raihan memiliki jadwal padat dan besok harus menghadiri meeting, sedangkan Gavin besok harus bersiap untuk terbang ke negeri kincir angin.
***
Hari yang ditunggu tunggu oleh Raihan akhirnya datang juga. Setelah dua hari dari ucapan Gabriel di club itu, ia mengirim pesan kalau Astrid bersedia untuk dinner bersamanya. Yang artinya, ia juga harus mengikuti semua kemauan temannya itu. Dan itu bisa dipikirkan nanti, sekarang ia harus segera bersiap untuk dinner yang sudah lama ia tunggu.
"Bi! Ada yang nganterin barang gak?" tanya Raihan pada Bi Lastri - pembantu di rumahnya
"Ada den, itu sudah bibi siapkan di kamar aden," jawab Bi Lastri
Raihan menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya, disana sudah terlihat sebuah jas mewah yang sudah ia pesan. Jas itu bukan sembarang jas biasa, jas itu ia pesan langsung dari luar negeri dan hanya ada 3 yang memiliki nya di dunia. Hanya untuk sekedar dinner dengan pujaan hatinya Raihan sudah mengeluarkan banyak uang.
Jika ditanya kenapa Raihan bisa suka sama Astrid jawabannya pasti Raihan tidak tau, katanya Astrid wanita tercantik yang ia lihat saat itu. Mereka dulu bertemu di sebuah acara yang dimana Astrid sebagai model dari brand tersebut dan Raihan hadir disana. Raihan mulai tertarik saat jumpa pertama, ia mulai mencari tahu bagaimana latar belakang wanita itu, dan mulai menghubunginya. Dari situ mereka dekat dan mulai sering pergi bersama, tidak jarang juga Astrid meminta untuk dibelanjakan oleh Raihan. Tapi Raihan dengan ikhlas melakukan itu, karena cinta.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan lebih sepuluh menit. Sudah waktunya Raihan pergi menjemput pujaan hatinya. Dengan senyum yang tak pernah lepas laki-laki itu berjalan menuju garasi tempat dimana koleksi mobilnya disimpan.
"Pak, saya berangkat dulu ya. Do'ain semoga berhasil." Raihan berpamitan kepada Pak Surya yang kebetulan berada di pos satpam.
Sedangkan Pak Surya menatap heran majikannya itu, jarang sekali Raihan mau menyapanya saat akan pergi keluar. Biasanya ia akan keluar dengan wajah masamnya tak lupa senyum yang tak pernah mucul. Tapi sekarang, senyum itu muncul sangat lebar.
Setelah menjemput Astrid, Raihan melajukan mobilnya ke sebuah restoran yang telah ia boking satu lantai khusus untuk mereka berdua. Dan sesampainya disana, ia langsung disambut oleh pelayan disana menuju meja yang dituju.
Raihan menarik kursi untuk Astrid yang membuat wanita itu tersenyum. "Makasih," ucapnya yang dibalas senyum kecil oleh Raihan. Ia harus tetap stay cool.
"Raihan, lo ajak gue dinner gini ada maksud apa nih? Kenapa harus lewat Gabriel juga, kenapa gak ngomong langsung?" tanya Astrid dengan suara lembutnya
"Udah lama kan kita gak gini, kangen aja punya waktu berdua bareng."
"Terus kenapa gak ngajak langsung?"
"Gabriel aja yang terlalu inisiatif," tutur Raihan yang membuat Astrid terkekeh pelan
Seorang pelayan membawa beberapa makanan yang telah dipesan oleh Raihan sebelumnya ke meja mereka. Astrid yang melihat beberapa menu itu sedikit tidak menyangka, Raihan masih ingat semua makanan favoritnya. Jujur saja, ia dan Raihan memang cukup lama tak jalan berdua.
"Lo masih tau makanan favorit gue?!" tanya Astrid dengan senyum lebarnya
"Apa sih yang gue lupa tentang lo, yang ada lo kali yang lupa semua tentang gue," jawab Raihan
Astrid mengelus pelan tangan Raihan yang berada di dekatnya, dan itu mampu membuat jantungnya berdegup lebih cepat. "Maaf ya, soalnya gue kan sibuk pemotretan, dan gak kepikiran hal lain."
Deg..
Kata-kata Astrid yang terakhir sedikit mengganggu pikirannya. Apa gerak geriknya terlalu ketara? Sampai Astrid menyimpulkan bahwa ia akan mengutarakan perasannya. Tak mau terlalu memikirkan itu semua Raihan langsung mengajak Astrid untuk menikmati makanannya. Malam ini, harus menjadi malam yang indah untuk dia dan pujaan hatinya.