NovelToon NovelToon
Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam

Status: tamat
Genre:Perperangan / Sistem / Harem / Penyeberangan Dunia Lain / Budidaya dan Peningkatan / Poligami / Fantasi Timur / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.7
Nama Author: dian_nurlaili

Arsaka Dirgantara harus menelan kenyataan pahit usai mendapat pengkhianatan dari rekan seperjuangan hingga tim yang dipimpinnya disergap musuh. Saat mengira dirinya akan mati, ternyata jiwanya pindah ke tubuh seorang pemuda lemah berusia 17 tahun dengan basis kultivasi yang rusak. Belum lagi, ia harus menghadapi hinaan dan pemutusan pertunangan karena ia yang sekarang dianggap sampah.

Di dunia yang tak dikenalnya itu, semua hal yang selama ini ia anggap mitos benar-benar ada. Kejutan belum selesai, Arsaka juga mendapatkan sebuah sistem yang selama ini hanya ia baca dari novel.

Tingkatan kultivator :
1. Prajurit (1-9)
2. Jenderal (1-9)
3. Raja (1-9)
4. Bumi (1-9)
5. Langit (1-9)
6. Immortal (1-9)
7. Saint (1-9)
8. Saint King (1-9)
9. Mahayana (1-9)
10. Dewa (1-9)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dian_nurlaili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi

Sepanjang malam, Saka dan Sinta bercengkerama tanpa peduli dengan ramainya acara pertunangan yang ada di kediaman utama. Apalagi, Saka secara sengaja memasang array kedap suara agar tak terganggu dengan suara-suara dari luar. Selama satu malam penuh, dihabiskan Saka dengan bercerita bagaimana kekuatannya bisa kembali. Dengan berdalih jika dirinya mendapat guru yang sakti dan tempat tinggal baru, Saka mengajak sang ibu untuk tinggal bersama dirinya saja di markas barunya.

"Ibu di sini saja, Ibu tidak mau membuatmu terbebani. Kamu harus fokus untuk terus latihan dengan gurumu dan menjadi lebih kuat," tolak Sinta.

Saka menggeleng. "Jangan menolak, Bu! Aku justru tidak tenang jika meninggalkan ibu sendirian di sini. Apakah ibu tidak menyadari kalau di sini sama saja berbahayanya dengan di hutan? Semua penghuninya sangat buas dan mementingkan diri sendiri."

Sinta terkekeh. "Baiklah, ibu akan ikut kemana pun anak ibu ini pergi."

Senyum Saka merekah. "Aku juga mau ibu menjadi lebih kuat. Kalau di sini, ibu tidak akan punya waktu untuk berkultivasi." lanjut Saka yang diamini oleh Sinta. Mengingat posisinya sebagai pelayan, jangankan sumber daya, bahkan sekedar berkultivasi saja tidak ada waktu saking sibuknya.

"Bagaimana kalau kita pergi pagi ini saja, Bu?"

"Pagi ini?"

"Ya, semua orang sedang sibuk di rumah utama, tidak akan ada yang menyadari jika kita pergi sekarang. Lagipula, cepat atau lambat, keluarga Hirawan akan menderita. Lebih cepat kita pergi, akan lebih baik."

Sinta tampak diam, mempertimbangkan segala sesuatu sambil menatap Saka dalam-dalam.

"Baiklah, masih ada waktu sebelum matahari terbit. Sebaiknya kita segera bersiap!"

Saka dan Sinta bangkit dari posisinya. Saka mematikan api naga abadi miliknya setelah membakar semua bekas pesta kecilnya bersama sang ibu.

Pagi masih dingin, tetapi Saka begitu bersemangat. Setelah Sinta selesai bersiap, Saka membawa sang ibu melesat menggunakan  langkah angin agar lebih cepat sampai di pegunungan berkabut. Siang nanti, ia masih harus ke Paviliun Bunga Mekar untuk mengikuti lelang.

Tak ada satu pun yang menyadari kepergian dari Saka dan Sinta. Semua orang tengah dimabuk dengan kebahagiaan pesta tadi malam.

Sinta sempat terkejut saat dibawa begitu saja dengan kecepatan yang sangat ekstrem. Namun setelah itu ia merasa sangat bangga dan bahagia.

[Ding! Selamat langkah angin naik ke level empat]

Senyum Saka semakin melebar, kecepatannya semakin bertambah. Sinta sampai harus memeluk Saka dengan sangat erat dan memejamkan mata.

Sekitar satu setengah jam kemudian, langkah Saka mulai memelan bersamaan dengan semburan kuning keemasan di langit timur.

"Kita sudah sampai?" tanya Sinta masih belum membuka mata.

"Hampir, Bu! Silakan buka mata terlebih dahulu!"

Sinta membuka mata perlahan dan apa yang tampak dalam visinya membuatnya terpana.  Lembah merah yang terkena sinar matahari pagi bagai permadani. Udara sejuk berembus melonggarkan paru-paru yang sempat sesak akibat musibah yang menimpa Saka.

"Indah sekali," decak Sinta kagum. Ia yang sejak kecil sudah mengabdi sebagai pelayan keluarga Hirawan, tak pernah memiliki waktu untuk menjelajahi seluruh kota. Ini adalah pertama kalinya ia melihat keindahan seperti ini.

"Memang sangat indah, Bu! Aku menemukan tempat ini kemarin," jawab Saka ikut menikmati keindahan yang tersaji di hadapannya.

"Lalu di mana rumahmu?" tanya Sinta sembari menoleh ke kanan dan kiri mencoba mencari bangunan atau pun sekedar gubuk yang layak huni.

"Di sana!" Saka menunjuk pegunungan berkabut yang tampak seperti tumpukan awan yang bersinar keemasan.

Sinta terkejut. Meski tak pernah melihat secara langsung, tetapi ia tahu jika gunung yang ada di hadapannya adalah pegunungan berkabut. Salah satu tempat terlarang yang telah memakan banyak korban karena pembatasan persepsi dan pandangan.

"Nak Saka, jangan bercanda!"

Saka tersenyum, ia maklum karena sebelumnya ia juga tak akan mampu memasuki pegunungan berkabut.

"Ibu tutup mata lagi, aku akan memberi kejutan."

Meski sangat penasaran, Sinta memilih untuk menurut. Ia kembali menutup mata sehingga Saka lebih leluasa bergerak menggunakan langkah anginnya.

Tak membutuhkan waktu lama hingga ia tiba di depan pintu goa. Meski menjumpai beberapa monster di perjalanan, Saka memilih untuk abai karena ranah monster yang rendah.

Saka menempelkan telapak tangannya ke dinding array hingga array itu menghilang. Mengadopsi sensor sidik jari di bumi, Saka memodifikasi array yang hanya akan mengenali sidik jarinya saja.

Saka tetap menggunakan langkah angin hingga kini ia sampai di tengah goa.

"Sudah sampai, Bu!" Saka melepaskan Sinta dan membiarkan wanita itu membuka mata secara perlahan.

"Kita di mana, Saka?" tanya Sinta keheranan. Ia memandangi sekeliling goa yang sudah diterangi oleh api naga abadi.

"Ini markas baruku, Bu!" jawab Saka sambil dua buah bedcover yang ia letakkan bersebarangan. Lengkap dengan dua bantal dan guling serta selimut. Sinta cukup heran melihat barang-barang aneh yang ia lihat. Meski tidak asing dengan bantal, tetapi bentuk kasur dan guling sangat asing untuknya. Tak lupa Saka juga mengeluarkan berbagai peralatan memasak, kursi dan meja, serta peralatan makan.

"Saka, darimana kamu mendapatkan semua barang aneh ini?" tanya Sinta saat mendapati berbagai barang aneh yang baru diketahuinya.

"Dari suatu tempat rahasia," jawab Saka singkat, memberi sinyal kepada ibunya agar tak bertanya lebih lanjut. Sinta yang memang sudah sangat mengenal Saka memilih untuk bungkam. Ia menurut dengan semua aturan yang dibuat Saka sehingga ruangan goa ini menjadi hunian yang nyaman.

"Bu, lihatlah!" Saka menunjuk ke ujung goa di mana berbagai eliksir langka tumbuh. Karena terlalu heran dengan barang-barang yang dikeluarkan Saka, Sinta sampai tidak menyadari dengan adanya harta karun di dalam goa.

"I-ini ...." Sinta tidak sanggup meneruskan ucapan kala netranya juga menangkap tumpukan batu roh tingkat surgawi.

"Ini memang tempat harta karun, dan selanjutnya akan menjadi rumah kita." Saka menjelaskan dengan senyum bangga melihat wajah shock ibunya. Saka sengaja tidak memberitahukan tentang  koin emas, ia takut Sinta akan pingsan jika mendengarnya.

"Ibu, di sini ibu bisa berkultivasi sepuasnya. Berkat eliksir itu energi di dalam goa sangat melimpah sehingga memudahkan ibu untuk naik ranah."

Saka kemudian menyerahkan satu pil peningkat kultivasi yang ia beli dari sistem. "Minumlah ini, Bu! Mulailah berkultivasi dan jangan takut, tidak akan ada yang bisa menemukan kita karena kita berada di tengah pegunungan berkabut. Aku juga sudah memasang formasi array ilusi dan penyerangan sehingga tidak akan ada monster yang menemukan goa ini."

Kembali Sinta dibuat menganga dengan deretan penjelasan Saka. Meski sangat penasaran, tetapi Sinta menelan kembali pertanyaannya. Ia hanya ingin ikut bahagia dan bangga melihat perkembangan Saka.

"Baiklah, aku pamit keluar dulu, Bu! Aku akan kembali sebelum malam!" pamit Saka setelah memetik tiga jenis eliksir berbeda yang rencananya akan ia ikutkan dalam lelang. Ia sungguh penasaran akan mendapat berapa koin emas dari tiga eliksir ini.

"Ibu, cepatlah berkultivasi, jangan mau kalah dariku!" Saka membocorkan auranya yang berada di ranah Raja tingkat dua.

Sak tertawa lebar sambil melesat pergi melihat wajah Sinta yang melongo lantaran selama di kediaman Hirawan, Saka menyembunyikan ranah kultivasinya.

1
ZAHRANI
apa gunanya pengetahuan tingkat SEMESTA thor???🤔
ZAHRANI
yang bener thor,kok ranahnya berubah ubah,padahal ceritanya bagus😏
Matisekali Hidupsekali
membosankan.
Matisekali Hidupsekali
novel ni lagi sampah dari yang pertama.
saniscara patriawuha.
mantaffff
@ᴹᴿ乂⁴⁵・☂
tes
Chella
Ditunggu karya selanjutnya kak
Abady Ehm
mulai membosankan ceritanya nih,.. gak seru lagi,..
Dir Dirman: mukamu gak seru dilihat goblok😄😄
total 1 replies
Ari Kkmr
makin gacor saka malam pertama 🤣
Bar Bar
kudune diarani BEJO
Bar Bar
enakan ciu yAa🤣
abdillah musahwi
nih MCnya males apa🤔 kok nggak ada point pengalaman
abdillah musahwi
asem nih banget nih MCnya, mulut nyerocos kayak sepur tanpa rem🤭😄
abdillah musahwi
nih, bocah kurang ajer🤭 nggak ada angin dan badai tiba-tiba mau jadi Mak comblang 😄😁
abdillah musahwi
Thor, kenapa harus ada revolver atau senpi di dalam cerita dunia kultivator. memangnya kultivator segitu gampangnya ditembus sama senpi🤔/Shy/
abdillah musahwi
itu sih bukan keuntungan lainnya, Thor. sebab nama lain dari langkah angin adalah Langkah Seribu🤭
abdillah musahwi
lah bukannya tadi Jendral, thor🤔
Hasan Udin
lanjut Thor
Eva
jangan makhluk Tuhan thor...ganti dengan makhluk Ilahi gitu lho...
Eva
bener" pikun...bukannya di dalam surat tadi ibunya menjelaskan bahwa ia berasal dari alam bintang kerajaan api yang melarilan diri dari lamaran kaisae elemen...😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!