"Aku ingin bertanya kepada kalian yang menyebutkan tidak waras. 'Apa yang kalian berikan untuk orang yang kalian cintai?' Aku memberikan segalanya."
Gilang akhirnya menemukan kode terakhir dari Lutfi yang mengarah ke Jepang. Namun kode selanjutnya tersembunyi di antara perseteruan polisi dan mafia. Akankah Gilang berhasil menemukan Lutfi di tengah waktu yang terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danu Banu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Hujan Berlalu
i
Waktu istirahat kedua, aku sedang berjalan seorang diri menyusuri koridor untuk menuju masjid buat shalat Dzuhur. Mendadak aku melihat Pak Triyanto baru saja keluar dari ruang guru bersama teman-temannya yang lain.
“Pak Triyanto!” Aku berseru memanggilnya.
Beliau membalikan badan lalu menyalamiku. “Siapa ya?”
“Siswa kelas sepuluh sebelas.”
“Hmmm.... namanya?”
“Lutfi.” kataku senyum.
“Oooh.... yang duduk sama Gilang, ya?”
Loh kok tahu?
Tapi aku bilang: “Aku mau nanya sebentar, boleh?”
“Boleh, nanya apa?” kata dia akhirnya. “Gilang, ya?”
Aku kaget. Kok tahu lagi? Hatiku bertanya. Dan aku menjawab tanya Pak Triyanto dengan anggukan kepala.
“Tanya apa?”
“Itu, soal penyakitnya.”
“Kan Bapak udah bilang tadi, insomnia.”
“Iya. He he he.” Aku garuk-garuk kepala. “Maksudnya, malamnya ngapain gitu dok.”
“Kenapa ga nanya langsung?”
Aku agak bingung sebenarnya. Tapi aku mencoba mengeles. “Yaaa.... dia ga mau jawab. Dia tertutup orangnya.”
“Apa iya? Ke Bapak engga, tuh.”
Aduh? “Tapi, ke aku iya pak!” seruku mencoba meyakinkan.
Pak Triyanto ketawa. “Iya-iya, Bapak percaya deh.”
“Terus apa Pak?”
“Dia bikin novel.”
Aku tersentak kaget.
“Ga percaya, kan?”
Aku menggeleng.
Jadi yang diomongin sama Mang Uud benar. Gilang memang bikin novel.
Pak dokter kembali ketawa. “Awalnya bapak juga gitu. Tapi pas dia bilang novel bikinan Gimim, Bapak jadi percaya deh.”
“Gimim?” tanyaku memastikan.
“Iya, itu nama penanya.”
“Oooh.... tapi, belum pernah baca.”
“Hmmm.... coba kamu cari novel yang judulnya: Hujan Berlalu. Mungkin di perpus sekolahmu ada.”
“Kok Bapak tahu?”
Beliau senyum. “Bapak sering baca. Dan emang suka.”
“Buatan Gilang?”
Pak Triyanto mengangguk.
“Baik pak, makasih.”
“Sama-sama. Ada lagi?”
Aku mengangguk. “Selain itu, apalagi Pak?”
Belau senyum terus mengelus kepalaku seperti perlakuan seorang ayah pada anaknya. Lalu berkata setelah agak membungkuk. “Jaga dia, ya? Bapak ga mau ketemu Gilang di RS karena sakitnya.”
“Hah? Ma-maksudnya?”
Beliau kembali berdiri tegap. “Kamu pasti bisa bikin Gilang sehat.” kata Pak Triyanto terus pergi gitu aja.
Aku diam. Kebingungan soal maksudnya. Tapi saat itu, aku segera memutar langkahku dan berlari menuju perpustakaan.
♥ ♥ ♥
ii
Sampai di perpustakaan, segera aku meminta petugas untuk mencari judul buku: Hujan Berlalu. Tapi katanya, lagi kosong, soalnya lagi dipinjam, dan baru saja.
Aku menghembuskan napas kecewa. Dan, mau gimana lagi. Jadi, mumpung di perpus aku mencoba mencari buku lain yang mungkin aku suka.
Pas mau jalan masuk lebih dalam. Aku kaget karena buku itu dibawa sama Gilang.
Aku hanya mematung sambil melihati kepergiannya. Langkah-langkah panjang dari seseorang yang penuh misteri. Pria aneh yang tertutup, anti sosial, sangat memerhatikan hal kecil yang ada padaku, tapi kadang-kadang blak-blakan kayak pas di kantin tadi.
Saat itu aku sadar, tes kesehatan bukanlah satu-satunya yang terpenting darinya. Tapi jauh lebih penting bagaimana sikapnya, perbuatannya, dan cinta yang dia beri untukku seorang.
saya berharap author membalas nya
aku tunggu sampai tamatt
sampai gilang ketemu lagi sama lutfi
sampai mereka nikah dan punya anak
aku tunggu dan bakal menanti sampai author lanjut lagi cerita nyaaa
buat kaka kaka jika berkenan, mampir yuk ke lapaknya #AING MACAN🐯
lanjuuuut!
🆙🆙🆙🆙
up terus