Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.
Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.
Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Topeng di Balik Persembunyian
Suasana di dalam aula utama semakin mencekam seiring berjalannya waktu. Keheningan yang berat dsn dingin itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara langkah sepatu bot militer yang terburu-buru dari arah koridor kamar pelayan.
Dua ajudan Nyonya Besar kembali dengan wajah tegang, membawa sebuah kantong plastik transparan berisi sehelai kain hitam dsn sebuah botol kaca kecil yang masih menyisakan setetes cairan bening di dalamnya.
"Lapor, Nyonya Besar! Kami menemukan barang-barang ini tersembunyi di dalam tumpukan baju kotor di kamar pelayan!" seru salah satu ajudan dengan tegas seraya mengangkat kantong plastik transparan berisi botol kimia dsn kain hitam.
Seketika, di aula utama yang tadinya sunyi langsung pecah oleh kasak-kusuk dsn helaan napas tertahan dari puluhan pelayan. Seluruh pandangan dsn mata di ruangan itu serentak beralih, tertuju tajam pada satu titik—seorang pelayan bertubuh mungil yang berdiri di barisan tengah.
Wajah pelayan itu langsung memucat seputih mayat, dsn seluruh pasokan udara di parunya seolah lenyap seketika.
Tanpa perlu ajudan menyebutkan nama pemilik kamar, semua pelayan di mansion itu sudah tahu persis bahwa tumpukan baju kotor yang baru saja digeledah dsn diperiksa itu adalah area tugas dsn tanggung jawab milik satu pelayan, yaitu Ika.
"I-Ika...?" bisik salah satu pelayan di sebelahnya, langsung melangkah mundur dsn menjauh seolah Ika adalah wabah penyakit yang menular.
Tubuh Ika bergetar hebat dsn bergoncang hebat. Sebelum tangan kekar ajudan militer sempat menyentuh kulitnya, kedua lutut Ika sudah lemas kehilangan seluruh daya tumpunya. Ia langsung ambruk dsn jatuh terjungkal ke depan, bersujud dsn menangis histeris di atas dinginnya lantai marmer, tepat di hadapan kaki Nyonya Besar Laksmana, Bi Asih, dsn Ica yang menatapnya dengan tatapan syok dsn tidak percaya.
"Mohon ampun, Nyonya Besar! Ampun! Saya mengaku salah, saya yang melakukannya! Tolong jangan bunuh saya!" tangis Ika pecah, suaranya melengking panik memenuhi ruangan.
Nyonya Besar Laksmana tidak beranjak dari kursinya, namun tatapan matanya begitu menusuk dsn dingin bak bilah es. "Jadi kau tikus di rumahku, Ika? Berani-beraninya kau meracuni makananku dsn putraku!"
"B-Bukan Nyonya... target saya bukan Nyonya Besar dsn Tuan Muda Radit! Saya tidak berniat menyakiti keluarga Laksmana!" ratap Ika dengan dahi yang terus membentur lantai, air matanya bercampur debu.
"Lalu kenapa kamu memasukkan racun itu ke semua panci, Ika?! Nyonya Vina dsn Tuan Muda bisa mati!" bentak Ica yang berdiri di samping Bi Asih, menunjuk Ika dengan kemarahan dsn kekecewaan yang meluap-luap. "Kamu tega sekali!"
Ika mendongak perlahan, wajahnya yang semula penuh ketakutan mendadak berubah menjadi sinis dsn dipenuhi gila kebencian saat nama Vina disebut. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas lantai.
"Iya! Aku memang ingin Vina sengsara! Aku ingin dia lenyap dari mansion ini!" teriak Ika histeris, tidak lagi memedulikan tata krama. "Aku membencinya! Siapa dia? Hanya perempuan kampung tidak berpendidikan, tapi dengan mudahnya merebut Tuan Muda Radit! Bertahun-tahun aku bekerja di sini, memperhatikan Tuan Muda dari jauh, dsn berharap suatu saat dia akan melihatku jika aku mengabdikan diriku sepenuhnya! Tapi perempuan sialan itu datang dsn merusak segalanya!"
Bi Asih menggelengkan kepalanya dengan pandangan ngeri dsn jijik. "Kamu sudah gila, Ika. Kamus hanya pelayan, dsn obsesimu ini sudah melampaui batas!"
"Aku tidak gila, Bi Asih! Vina yang membuatku gila!" sahut Ika, napasnya memburu dsn matanya memerah menatap Nyonya Besar. "Rencanaku tidak seperti ini... Aku hanya ingin memasukkan zat itu ke makanan Tuan Muda agar dia jatuh sakit, dsn Vina yang akan disalahkan karena dia yang memasaknya! Aku ingin Nyonya Besar mengusir Vina dsn menganggapnya pembawa sial! Tapi aku tidak tahu kalau racun itu begitu mematikan sampai membuat Vina muntah darah... aku... aku hanya ingin dia sengsara dsn diusir!"
Nyonya Besar Laksmana menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan perlahan. Kemarahan di wajahnya kini berganti menjadi kedataran yang mengerikan. "Hanya karena kecemburuan dsn obsesi menjijikkan seorang pelayan, kau berani mengacaukan rumahku dsn mengancam nyawa menantuku yang baru saja menyelamatkan hidupku. Kau tidak hanya bodoh, Ika, tapi kau juga sangat binal."
"Nyonya Besar, tolong kasihani saya... saya hanya khilaf... seseorang... saya hanya ingin Vina pergi..." ratih Ika lagi, suaranya mulai melemah dsn memohon belas kasihan.
Nyonya Besar berdiri dsn berbalik membelakangi Ika, memberikan tanda kepada ajudannya. "Bawa dia ke ruang bawah tanah. Siksa dsn introgasi dia sampai dia memberikan detail dari mana dia mendapatkan zat kimia militer berbahaya seperti itu. Pelayan miskin dsn bodoh seperti dia tidak akan mungkin bisa membelinya sendiri tanpa bantuan orang lain."
"Baik, Nyonya Besar!"
Dua ajudan langsung mencengkeram lengan Ika dengan kasar dsn menyeretnya keluar dari aula. Jeritan dsn tangisan minta ampun dari Ika perlahan-lahan menjauh dsn menghilang di balik lorong menuju ruang bawah tanah, meninggalkan keheningan baru yang tak kalah mencekam di aula utama.
Sementara itu, jauh di luar aula utama, atmosfer koridor samping yang remang-remang terasa begitu sunyi dsn dingin.
Sella berdiri mematung di balik salah satu pilar besar, menyandarkan punggung dsn seluruh bobot tubuhnya pada dinding tembok jati yang dingin. Kedua tangannya meremas ujung celemeknya begitu kuat hingga seolah-olah kain itu bisa robek kapan saja.
Keringat dingin berukuran bulir-bulir besar perlahan bercucuran dari pelipis dsn dahi Sella, menetes melewati pipinya yang kini sama pucatnya dengan mayat. Napasnya ditahan sedemikian rupa agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun yang bisa memancing perhatian para penjaga di depan.
Dengungan suara tangisan Ika yang diseret ke ruang bawah tanah tadi masih terngiang-ngiang dengan sangat jelas di telinganya, membuat jantung Sella berdegup begitu kencang dsn bertalu-talu di dalam dadanya seolah ingin melompat keluar.
Sella memejamkan matanya rapat-rapat, menggigit bibir bawahnya sendiri demi menahan tubuhnya yang mulai gemetar hebat karena ketakutan yang luar biasa murni.
"Apa pelayan bodoh ini akan menyebutkan namaku?" bisik Sella di dalam hatinya dengan penuh kepanikan yang mendalam, menyadari bahwa posisinya kini berada di ujung tanduk kematian jika Ika tidak bisa menjaga mulutnya di bawah siksaan ajudan militer.