"Kau benar-benar sempit dan nikmat."
Akibat jebakan seseorang, Aksara tanpa sadar meniduri seorang gadis tidak bersalah. Gadis yang tidak dikenalnya, namun menjadi gadis pertama yang ia nikmati.
Bukan hanya gadis itu yang pertama, namun Aksa juga. Dia mengambil mahkota gadis itu secara paksa di bawah kendali obat.
Aksa menyelidiki gadis itu, yang ternyata hanya seorang pengantar makanan di restoran milik paman dan bibinya.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya, apakah Aksa akan bertanggung jawab atau justru lari??
Update setiap hari‼️
Follow Ig : Alfianaaa05_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia hamil!
Aksara memijat pelipisnya yang terasa pusing usai mendengar suara melengking omanya dari telepon. Ini masih pagi, dan Aksa sudah diminta untuk datang ke mansion.
Demi Tuhan, Aksara malas sekali. Aksa malas menemui dan mendengarkan ocehan oma nya yang pasti tidak jauh-jauh dari masalah pernikahan.
Namun jika Aksa tidak datang, maka oma nya itu akan melontarkan banyak ancaman. Persis seperti papanya, yaitu mengirimnya kembali untuk tinggal di Amerika.
Aksa turun dari ranjang, ia lekas bersiap untuk pergi ke mansion karena memang niatnya hari ini tidak mau datang ke kantor.
Sejak semalam Aksara merasa ada yang aneh dengan dirinya. Makan soto, minum teh jahe dan pagi ini ia merasa kepalanya benar-benar pusing.
Semua keanehan itu biasanya tidak pernah ia rasakan, mungkin jika pusing sudah biasa, tapi soto dan teh jahe? Aksa baru pertama kali memakannya dengan lahap semalam.
Selesai mandi, Aksa memakai kaos hitam dan celana pendek selutut. Tidak lupa ia memakai topi dan kacamata sebelum meninggalkan apartemen nya.
"Jika saja aku cucu durhaka, mungkin sudah aku kirim oma ke panti sosial." Cerocos Aksa seraya menekan tombol lift.
Aksa naik lift dan langsung turun ke basement dimana mobilnya terparkir. Sambil menunggu lift sampai di basement, ia mengecek ponselnya yang mendapat pesan dari Xyan.
"Tuan, anak buah kita tertangkap oleh anak buah Redic." Tulis Xyan dalam pesannya.
Aksa lagi-lagi merasa kepalanya berdenyut, apalagi membaca pesan dari asistennya.
Redic adalah mafia seperti Aksa yang menyelundupkan senjata api juga, sehingga mereka berdua terlibat persaingan berdarah.
Redic selalu berusaha untuk membunuh Aksa, namun tidak pernah berhasil sampai-sampai Aksa bosan mendengar anak buahnya tertangkap.
Aksa yakin siklus nya akan sama. Anak buahnya yang lain akan membebaskan anak buahnya yang tertangkap, lalu membakar tempat penyekapan tersebut.
Kejadian ini sudah dua kali terjadi dan Aksa selalu menjadi pemenangnya. Hal itulah yang membuat Redic semakin terobsesi menghancurkan Aksa.
Aksa masuk ke dalam mobilnya dan lekas pergi meninggalkan area apartemennya. Ia harus segera sampai di mansion sebelum oma nya kembali menghubunginya dan berteriak di telinganya.
Sementara itu di rumah Ayesha. Tampak gadis itu terduduk di pinggir ranjang dengan seluruh tubuh yang gemetaran.
Tangannya memegang dua buah benda yang ia beli kemarin. Keduanya menunjukkan hasil yang sama, yaitu dua garis merah.
"Hiks … aku hamil. Aku nggak mau hamil tanpa pernikahan, kenapa harus terjadi padaku …" erang Ayesha penuh rasa sakit.
Ayesha sengaja mengecek kehamilannya pagi-pagi setelah bangun tidur. Ia berharap hasilnya akan negatif, namun Tuhan berkata lain.
Kini Ayesha benar-benar mengandung, hasil dari kejadian malam itu. Ayesha mengandung anak dari pria yang tidak di kenalinya.
"Hiks … apa yang harus aku lakukan, bagaimana aku akan menjalani hidup setelah ini!!" Ucap Ayesha dengan lirih.
Keringat dan air mata sama-sama bercucuran, memperlihatkan penampilan Ayesha yang berantakan.
Wanita itu pusing, bingung dan takut. Khawatir jika bibi dan pamannya mengetahui tentang ini dan akan mengusirnya dari rumah.
Tapi jika Ayesha harus menggugurkan nya, ia tidak akan mau sampai kapanpun. Ayesha tidak berniat untuk menghilangkan bayi yang sudah tumbuh dalam perutnya, ia hanya pusing bagaimana cara menjalankan hidup kedepannya.
"Aku nggak akan gugurin kamu sampai kapanpun, setidaknya aku akan tetap melahirkanmu. Entah bagaimana, aku akan berjuang, hiks …" ucap Ayesha ditengah tangisannya.
Tangah gadis itu memegangi perutnya, dan memberikan usapan disana dengan penuh kelembutan.
"Ayesha!!!" Panggilan itu terdengar begitu nyaring dari luar kamar.
Ayesha buru-buru menyembunyikan alat tes kehamilannya di kolong kasur. Setelah itu bangkit dari duduknya.
"I-iya, Bi. Aku akan kesana," sahut Ayesha lalu menyeka air matanya dan lekas keluar dari kamarnya.
***
Aksa baru saja sampai di mansion oma nya. Kedatangannya yang penuh dengan senyuman dan tangan terbuka, nyatanya malah mendapat balasan buruk.
Satu tamparan berhasil melayang di pipi Aksara tatkala dirinya berlutut di depan sang oma untuk memberikan sapaan sopan.
Aksara terkejut bukan main, ia tidak pernah mendapatkan ini sebelumnya. Oma Nuri adalah nenek yang baik dan penyayang, tidak pernah sekalipun memukul cucunya.
Tapi hari ini, untuk pertama kalinya Oma Nuri melayangkan tamparan dengan cukup keras di wajah cucunya.
"Oma, ada apa ini?" Tanya Aksara memegangi pipinya yang terasa panas.
"Kamu masih tanya kenapa, Aksa? Kamu nggak mikir hah!" Bentak oma Nuri dengan mata yang melotot pada cucunya.
Aksa menghela nafas. "Oma, aku benar-benar tidak mengerti. Ada apa sebenarnya?" Tanya Aksa.
"Kamu pikir oma tidak tahu apa yang terjadi hah! Kamu pikir oma tidak tahu tentang kejadian di apartemen mu hmm?!" Cecar Oma Nuri dengan penuh penekanan.
Aksara terdiam. Ya, ia sadar telah melewatkan sesuatu yang begitu penting. Aksa lupa jika neneknya bukanlah wanita tua sembarangan. Oma nya ini selalu mengawasinya, dan ia lupa jika oma Nuri bisa saja mengetahui kejadian malam itu.
"Oma, aku bisa menjelaskannya." Ucap Aksara dengan wajah tanpa ekspresi.
"Apa? Apa yang mau kamu jelaskan heuh! Lari tanggung jawab dan hidup seperti tidak terjadi apapun, begitu?" Tanya Oma Nuri dengan tatapan murka.
"Aku tidak mungkin seperti itu, aku sudah berniat untuk mengganti rugi malam itu dengan memberikannya uang." Jawab Aksara dengan lantang.
Lagi, satu tamparan mendarat di pipi Aksa dengan begitu keras. Bahkan Aksa sampai terdorong ke belakang.
"Dimana pikiran kamu, Aksa. Tidak semua hal bisa di bayar dengan uang! Kamu itu harus bertanggung jawab, kamu harus menikahinya." Teriak Oma Nuri murka.
"Nggak mungkin, aku nggak mungkin menikahi gadis sepertinya. Dia itu hanya orang miskin, Oma. Aku tidak mau!" Sahut Aksara menolak tegas.
"Tidak mau? Kamu bilang tidak mau. Kamu tidak mikir akan bagiamana gadis itu menjalani kehidupannya dalam keadaan hamil tanpa suami hah!" Bentak Oma Nuri.
Aksa menatap oma nya terkejut. "Apa?" Tanya Aksara ketika telinganya seperti mendengar kalimat asing.
"Gadis itu hamil, Aksa. Dia hamil anak kamu, dan kamu haru bertanggung jawab menikahinya." Jawab oma Nuri pelan, seraya berusaha mengatur nafasnya.
Aksara terkejut bukan main, darimana oma nya tahu tentang hal itu, sementara dirinya saja tidak mendapatkan informasi sedetail itu.
"Kamu terkejut kan darimana oma tahu. Entah anak buah seperti apa yang kamu suruh itu sampai-sampai hal seperti ini saja tidak tahu." Ejek oma Nuri tersenyum remeh.
"Oma pasti salah, dia tidak mungkin hamil." Sahut Aksa menolak kenyataan yang baru saja di dengarnya.
"Terus saja kamu mengelak, Aksa. Pada intinya oma mau kamu menikahinya, kamu harus bertanggung jawab." Ucap oma Nuri dengan tegas.
Ya, selama ini oma Nuri ikut menyelediki tentang Ayesha setelah kejadian di apartemen Aksara. Bahkan dibandingkan Aksa, oma Nuri lebih tahu banyak tentang Ayesha, termasuk kehamilannya.
Sejujurnya ia belum yakin, namun anak buahnya bilang gadis itu pergi ke apotek membeli alat tes kehamilan, dan ia langsung menyimpulkan bahwa gadis itu sudah ada tanda-tanda kehamilannya, makanya ia berani membeli alat tes itu.
Ya, pria yang menabrak Ayesha di depan apotek adalah anak buah oma Nuri yang sengaja mengikuti Ayesha, sesuai perintah oma Nuri sendiri.
Selain itu, oma Nuri juga tahu tentang bagaimana Nety dan Wardi memperlakukan Ayesha. Ia tahu semuanya. Orang suruhannya adalah orang terbaik.
"Kamu harus bertanggung jawab, Aksa. Nikahi dia dan bebaskan dia dari penderitaannya." Ucap oma Nuri ambigu.
"Apa lagi ini?" Tanya Aksa mengerutkan keningnya.
Oma Nuri hanya menghela nafas, lalu meminta pelayan untuk membawanya ke kamar, meninggalkan cucunya yang masih kebingungan begitu saja.
TERNYATA OH TERNYATA ....
Bersambung.......................