NovelToon NovelToon
Love And Scandal

Love And Scandal

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:174k
Nilai: 5
Nama Author: Nicegirl

Mendapati suaminya bercinta dengan adik kembarnya hingga hamil seolah belum cukup membuat Rana menderita, hingga Mamanya meminta Rana untuk berbagi suami dengan adik kembarnya itu, Rania. Karena merasa dirinya ikut andil menjadi penyebab perselingkuhan itu, Rana pun harus mengikhlaskan suaminya menikahi Rania, meski hatinya luar biasa hancur dan kecewa. Belum lagi sikap Rangga yang semakin lama semakin mengabaikan keberadaan Rana, demi Rania yang sedang mengandung anaknya.



Hadirnya sosok Ananta yang selalu menghibur dan membesarkan hatinya, membuat Rana sadar akan rumah tangganya yang mulai tidak sehat lagi. Rana pun menjadi bimbang, antara berpisah dengan Rangga dan kembali pada mantan kekasihnya itu, atau tetap mempertahankan rumah tangganya dan membuat Rania pergi dari kehidupan mereka?
Follow IG @si_nicegirl

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nicegirl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pindah Kamar

"Kenapa aku harus memindahkan semua pakaianku ke kamar tamu, Ma? Bukankah Rania hanya sementara saja menempati kamar ini?" tanya Rana.

Rana dan mama Tian izin pulang lebih dulu untuk memindahkan barang-barang Rana ke kamar tamu. Rana pikir hanya barang-barang yang terlihat saja, tapi ternyata mama Tian menginginkan Rana memindahkan hampir semua pakaiannya ke kamar tamu.

Hanya pakaian seksi yang biasa Rana kenakan saat menggoda Rangga saja yang harus ditinggal, dengan alasan supaya Rania tidak curiga karena pada dasarnya Rania memang lebih senang dengan pakaian yang seksi dan terbuka.

Sebenarnya selera pakaian Rana dan Rania tidak terlalu berbeda. Hanya saja cara berpakaian Rana masih sedikit tertutup dari Rania.

"Kalau melakukan sesuatu itu jangan setengah-setengah. Kamu mau Rania bertanya-tanya yang pada akhirnya akan membuatnya terpuruk lagi?"

"Tapi haruskah aku yang terusir dari kamar aku sendiri, Ma? Tidak cukupkah aku meminjamkan suamiku padanya?"

"Memangnya mau bagaimana lagi? Rania pasti akan curiga kalau dia dan Rangga yang tidur di kamar tamu. Kamu itu sebenarnya mau membantu adikmu atau tidak sih?"

Rana menghela napas pelan saat mama Tian mulai meninggikan suaranya. Selalu seperti itu tiap kali mama Tian sedang membahas apapun yang berhubungan dengan keselamatan dan juga kesehatan Rania, putri bungsunya.

Ini kamarnya, dan ini adalah rumahnya yang ia bangun dari hasil keringatnya bersama dengan Rangga. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk mewujudkan impiannya dan Rangga untuk memiliki tempat tinggal sendiri. Dan setelah itu barulah Rangga mau memiliki anak, karena perekonomian mereka sudah jauh lebih baik lagi sekarang.

Tapi sepertinya rencana mereka untuk memiliki momongan kembali tertunda karena masalah Rania. Rana hanya berharap semoga saja Rania bisa kembali menjadi dirinya sendiri lagi.

Tidak mau berdebat lagi dengan mama Tian, Rana mulai mengepaki pakaiannya, untung saja mbok Sri belum pulang, jadi masih bisa membantu Rana memindahkan barang-barangnya ke kamar tamu. Asisten rumah tangganya itu memang tidak tinggal di sana, jika pekerjaannya sudah selesai mbok Sri akan pulang ke rumahnya yang bisa di akses dengan hanya satu kali naik angkutan umum saja.

"Semua barang-barangku sudah aku pindah ke kamar tamu, Ma. Apa ada yang harus aku lakukan lagi? Apa aku juga harus menukar tanda pengenalku dengan milik Rania?" tanya Rana setelah apa yang mama Tian perintahkan selesai ia lakukan.

"Apa perlu bertanya dengan nada sinis seperti itu pada Mamamu, Rana?" Api seolah tengah membara di kedua mata mama Tian saat mengajukan pertanyaan itu.

"Ya Tuhan ... Aku hanya lelah Mama ... Tidak sedikitpun aku bersikap sinis padamu. Aku tidak akan berani melakukan itu, Mama sendiri tahu kan selama ini aku seperti apa?"

Alih-alih menjawab, mama Tian malah memeriksa setiap isi laci di kamar itu. Kalau ada barang lain selain milik Rangga, maka mama Tian akan meminta Rana untuk memindahkannya. Dan sekali lagi, Rana tidak dapat menolaknya. Meski begitu ia tetap mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya sekarang,

"Kalau isinya kosong, bukankah Rania justru akan bertanya-tanya, Ma?"

"Rania memang jarang sekali mengisi rumahnya dengan banyak barang, apalagi pernak-pernik yang tidak penting seperti ini. Mama tahu betul seperti apa kepribadian Rania, jadi kamu tinggal turuti saja perintah Mama!"

Pernak-pernik tidak penting yang mama Tian maksud adalah aksesoris yang Rangga berikan pada Rana. Setiap aksesoris lucu dan unik itu memiliki kenangannya sendiri. Jadi saat Mama menyingkirkannya begitu saja, rasa sedih seketika itu juga kembali menggerogoti Rana.

"Mbok Sri, tolong pindahkan barang-barang ini ke kamar saya," pintanya dengan suara yang terdengar parau.

"Kamar ini, Bu?"

"Bukan, maksud saya kamar tamu. Untuk sementara saya akan tinggal di sana. Dan kamu harus ingat kalau adik saya sudah berada di rumah ini, maka dialah yang akan menjadi nyonya di sini. Kamu paham kan?"

Mbok Sri mengangguk pelan sebelum membawa pernak-pernik itu keluar dari kamar. Sebelumnya Rana sudah menjelaskan permasalahannya, atas permintaan mama Tian tentunya, agar semuanya terlihat normal sebagaimana mestinya.

"Kosmetikmu, tidak ada yang tertinggal kan?" tanya mama Tian lagi yang sekarang telah berada di ruang make up yang menyatu dengan ruang ganti.

"Sudah, Ma. Yang ada di sana sekarang adalah make up Rania. Aku sudah memindahkannya dari dalam koper Rania," jawab Rana.

Begitu juga dengan pakaian Rania, sekarang sudah mengisi lemari pakaian yang sebelumnya berisi pakaian-pakaian Rana.

"Bagus! Ok, sempurna. Dengan begini Rania akan merasa nyaman dan tidak akan terusik dengan hal-hal yang tidak penting!" Seruan mama Tian membuat kesedihan Rana semakin mendalam.

Apa maksudnya yang tidak penting itu adalah Rana dan semua perlengkapannya?

Padahal baru ia dan barang-barangnya saja yang terusir dari kamarnya sendiri. Bagaimana saat melihat Rangga memasuki kamar ini bersama dengan Rana nantinya? Rasa sakitnya pasti akan terasa ribuan kali lebih berat dari sekarang ini.

Tuhan ... Tolong beri aku kekuatan untuk melewati semua ini ...

Saat itu terdengar nada dering di ponsel mama Tian. Dengan wajahnya yang semula masam seketika b eruah menjadi cerah saat melihat wajah Rania di layar ponselnya,

"Rania, bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah merasa jauh lebih baik?" tanyanya.

"Sudah, Ma. Untung saja Mas Rangga menemaniku, jadi aku semakin semangat untuk sembuh. Dan Mama, menurut keterangan dokter tadi, aku sudah boleh pulang besok."

"Kamu sudah boleh pulang? Syukurlah, Mama senang sekali mendengarnya, Sayang. Lihat, Mama sedang merapikan kamarmu, jadi besok saat kamu pulang, kamu bisa langsung istirahat."

"Senangnya ... Aku sudah bosan di sini, Ma. Aku mau segera pulang, mau merasakan masakan Mama, bukannya masakan rumah sakit yang hambar tak ada rasa. Aku mual melihatnya."

"Sabar, Sayang. Besok kamu juga sudah boleh pulang kan? Besok Mama akan masak makanan kesukaan kamu, bagaimana?"

"Yey! Iya aku mau!" pekik riang Rania.

Senyuman mama Tian berubah menjadi tawa lebar. Bahkan matanya pun ikut tertawa juga, hal yang jarang sekali Rana lihat saat mama Tian sedang bersama dengannya.

Saat berbincang dengan rania, mama Tian seolah bisa lepas dan menjadi dirinya sendiri. Namun jauh berbeda saat sedang berbincang dengan Rana, mama Tian terlihat kaku dan seolah sulit untuk didekati.

"Di mana Rangga? Kok Mama tidak melihatnya?"

"Oh, Mas Rangga lagi bikinin teh hijau untuk aku. Katanya itu bagus untuk menstimulasi otakku."

"Ya sudah, salam sama Rangga ya. Malam ini Mama dan Rana tidur di rumah saja. Mama dan Rana mau merapikan rumah dulu untuk menyambut kepulanganmu."

"Tidak apa-apa, Ma. Mas Rangga yang temani aku saja sudah cukup kok. Ok, sampai jumpa besok, Ma!"

Bibir mama Tian masih saja menyunggingkan senyuman lembutnya, meski layar ponselnya sudah tidak menampakkan wajah Rania lagi. Dan seperti biasa, wajahnya seketika masam saat kembali menatap Rana,

"Rania menyukai aroma musk. Sebaiknya sekarang kamu cari aromatherapy itu dan letakkan di kamar ini!" perintahnya.

1
Nia Rahmi
upp lg thor🙏
Nuryanto Yanto
lanjut kak 💪
Nuryanto Yanto
lanjut up kak
Yusi Lestari
akhirnya ketahuan juga perbuatan bejat rangga dan rania.ngapain kamu mikirin emakmu lha wong emakmu udah tahu semua
♨ˢᶜ⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
uppppppp
♨ˢᶜ⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
rangga rania klian akan sengsara
♨ˢᶜ⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
kasian kmu rana😭😭😭😭😭 smua pda nyakitin kmu termasuk mama mu
♨ˢᶜ⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
duhhhh ananta ago rebut lgi milikkk mu dri rangga
♨ˢᶜ⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
kan kan kthuan kan😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
♨ˢᶜ⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
berharap rana balik lagi krmh nya dgn bgitu kthuan
♨ˢᶜ⏤͟͟͞͞RL𝖎𝖓𝖆 𝕯𝖆𝖓𝖎𝖊𝖑🧢
gila kmu rangga aku sumpahin klian hancur se hancur nya nanti😭😭😭😭😭😭😭😭
raa
yey.. ketahuan...
Nia Rahmi
gak usah deh mikirin mama gila kamu itu,dialh biang semua kesengsaraanmu
Yusi Lestari
aku kok gak yakin kalau rangga dan rania bakal ketahuan kayaknya ini masih dibuat rahasia sama author
Nia Rahmi
benci banget dgn mereka bertiga ini...thor kasi karma yg setimpal ya sama rania rangga dan mama tian..mereka ini pengkhianat dan gak punya hati
raa
ketauan gk nih..
anggel
cerai ajah lki model gitu
Wasni
Hah sedih aq bacanya😭😭
falea sezi
males bertele. tele
Wasni
Kpn update lg kk??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!