NovelToon NovelToon
Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Keluarga & Kasih Sayang / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:918.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: aisy hilyah

Lanjutan novel Aku Yang Kau Buang. Baca dulu, supaya nyambung, ya.

Naina, gadis muda yang baru saja ditolak oleh keluarga laki-laki itu, membawanya pada takdir pahit yang harus ia telan. Ditinggal pergi oleh satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus tanpa pamrih.

Naina memutuskan pergi ke desa pamannya atas permintaan sang ibu. Memulai hidup baru sebagai kasir di sebuah minimarket, mencoba melupakan kepahitan yang ia alami.

Dipertemukan dengan seorang marbot masjid yang menjadi pelanggan setianya. Kebaikannya, kesopanannya, menarik hati Naina hingga keduanya menjadi dekat dan saling mencintai satu sama lain.

Sampai pada suatu saat, kenyataan bahwa laki-laki itu adalah anak orang terpandang, membuat Naina kehilangan kepercayaan diri meski diterima dengan baik. Semuanya berjalan lancar, sampai kejadian malam itu menimpa padanya.

Apakah takdir yang sama akan menimpanya lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

"Nai! Aku antar, ya," ucap sang manager ketika Naina sedang menunggu ojek yang dipesannya.

"Eh, Bapak. Nggak usah, Pak. Bentar lagi juga sampe ojeknya," sahut Naina tak enak dengan penawaran laki-laki itu.

"Nai, kenapa kamu selalu nolak setiap kali aku mau membantu?" tanya sang manager tak bisa lagi menahannya.

Naina tertunduk, sungguh rasanya tak enak. Dia tak ingin bermimpi terlalu tinggi, jika pada akhirnya akan kembali jatuh ke jurang yang dalam.

"Maaf, Pak. Sa-saya ...."

"Naina?"

Gadis itu mengangkat wajah ketika seseorang memanggilnya. Naina mengangguk pelan, menatap seorang laki-laki dengan jaket khas yang duduk di atas motor sambil memegangi ponsel.

"Ah, iya. Saya," jawab Naina seraya berbalik menghadap sang manager.

"Maaf, Pak. Lain kali kita ngobrol lagi. Saya pulang dulu, assalamualaikum," pamit Naina seraya berbalik dan naik ke atas motor tanpa menunggu balasan salam darinya.

Laki-laki tersebut menghela napas, menatap sayu sosok Naina yang pergi bersama tukang ojek. Ia melengos masuk ke dalam, kembali pada pekerjaannya.

Naina melirik saat melintasi masjid, melihat sang pemuda yang sedang membagikan makanan pada semua anak yang berbaris. Ia tersenyum, semakin kagum dengan sosoknya yang bersahaja.

Sadar ada yang memperhatikan, pemuda yang mengaku bernama Ahmad itu mengangkat kepala untuk memeriksa keadaan. Sayang, Naina sudah tak lagi nampak di sana.

Ia menggelengkan kepala, berharap gadis itu muncul sekali lagi sebelum hari beranjak. Namun, semua itu hanyalah keinginan nalarnya, sementara kenyataan tak sesuai dengan keinginan.

Naina menjatuhkan diri di kursi depan kamarnya, merenung sembari menatap langit-langit membayangkan pertemuan mereka. Bibirnya tanpa sadar tersenyum, lisannya bergumam pelan menyebutkan nama sang pemuda.

"Nai!"

"Eh, i-iya, Bi. Kenapa?" Naina gelagapan ketika suara Bibi memanggilnya dengan tiba-tiba.

"Kenapa, kok, senyum-senyum sendiri? Lagi seneng, ya?" goda sang bibi sembari tersenyum mengejeknya.

Naina melengos menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Nggak, kok, Bi. Nai biasa-biasa aja," katanya berbohong, padahal hati cenat-cenut tak menentu.

"Mudah-mudahan emang biasa-biasa aja. Nggak sampe kesambet setan sono." Sumiyati tertawa ketika Naina menoleh dengan mata melotot.

Sosoknya hilang dibalik pintu depan, melayani para pelanggan setia seblaknya. Naina menggeleng sembari tersipu malu. Dia memang kesambet, kesambet setan tampan di tempat kerjanya.

"Ahmad. Namanya bagus, agamis sesuai sama orangnya. Apa dia, ya, yang suka ngaji kalo Maghrib di masjid itu? Suaranya merdu banget, ya Allah," gumam Naina sembari terpejam mengingat-ingat suara ayat suci Al-Quran yang dilantunkan seseorang di masjid setiap kali ia berjaga malam.

"Tuh, 'kan ... kesurupan. Tadi senyum-senyum sekarang jingkrak-jingkrak. Kenapa, ih? Bibi, mah, jadi takut." Sumiyati bergidik sembari berjalan cepat melewati kursi tempat Naina duduk.

Gadis itu menggaruk rambutnya, melihat sekitar kemudian masuk ke kamarnya sendiri. Ia menjatuhkan tubuh, berbaring terlentang menatap langit-langit kamar. Tanpa terasa, rasa lelah membawanya pada alam mimpi. Dia terlelap di sore hari.

****

Di minimarket tempatnya bekerja, sepeninggal Naina dari sana sang manager dilanda gelisah. Menimbang rencana untuk datang ke rumah Naina sesuai alamat yang tertera pada dokumen lamaran kerjanya.

"Apa aku datangin dia aja ke rumahnya, ya?" gumamnya sembari melipat bibir berpikir baik dan tidaknya.

Ia tercenung ketika mendengar suara obrolan para karyawan di luar ruangan. Terbersit ide lain yang menerbitkan senyumnya. Laki-laki itu beranjak, langsung menuju meja kasir di mana teman Naina bekerja.

"Vit, aku mau tanya sama kamu," ucapnya ketika tiba di dekat meja kasir.

"Tanya apa, Pak? Soal Naina, ya?" goda sang karyawan yang membuatnya tak dapat mengelak.

"Ekhem. Tahu aja kamu." Ia tersipu.

"Tahu, dong. Bapak, 'kan, sering ngajak dia ngobrol. Kejar terus, Pak, kalo emang Bapak suka sama dia. Tenang aja, setahu aku dia masih jomblo. Belum ada yang punya," bisiknya menyemangati sang atasan.

Hati laki-laki itu berbunga demi mendengar jawaban yang ingin dia tanyakan. Senyuman semakin nyata, rona merah di pipi semakin menyebar. Dia benar-benar jatuh cinta kepada Naina.

"Oh. Ok. Makasih, ya. Kerja yang bener," katanya seraya melengos pergi begitu saja.

Teman Naina itu mendengus, kemudian tertawa. Naina gadis yang tertutup, tak banyak bicara jika tak perlu. Namun, dia gadis yang baik, suka menolong tanpa segan juga tanpa pamrih.

"Mudah-mudahan sukses, Pak. Kejar terus cinta Naina!" gumamnya seorang diri kemudian tertawa sendiri.

Sang Manager masuk ke ruangannya lagi, membuka ponsel dan memandangi gambar Naina yang dia curi.

"Aku nggak akan nyerah buat dapetin hati kamu, Naina. Sampai kapanpun aku akan terus mengejar kamu. Kamu berbeda dari kebanyakan perempuan, ramah dan sopan, tapi sayangnya tertutup."

Ia bergumam sembari memandangi ponselnya. Disapunya gambar Naina, sebuah gambar yang natural tidak dibuat-buat. Senyum yang apa adanya, membuat hati gelisah tak menentu.

****

Di masjid pula, pemuda yang baru saja selesai membagikan makanan pada semua anak-anak di sana, duduk tercenung di serambi masjid. Bersandar pada satu pilar, menatap arak-arakan awan yang sekejap lagi berubah warna.

"Naina ... Naina."

Lisan menggumamkan nama gadis yang berhasil mencuri hatinya. Tersenyum sendiri membayangkan perkenalan mereka yang singkat.

"Mungkin kita bisa ketemu tiap hari, ya. Rasanya aku pengen kenal lebih dekat sama dia." Dia terus saja bergumam sampai tak sadar jika seseorang sedang berdiri di belakangnya sambil tersenyum-senyum.

"Ekhem. Perempuan mana yang berhasil memikat hati seorang Alfinza? Saya mau tahu jadinya," seloroh orang tersebut mengejek pemuda yang bernama Alfinza.

Pemuda itu tersentak, meneguk ludahnya malu. Ia berbalik dan tersenyum malu kala melihat seorang laki-laki bersorban hijau tersenyum padanya.

"Eh, Pak Ustadz. Dari kapan berdiri di situ? Kok, nggak bilang-bilang?" katanya gugup.

Rona merah di pipi tak dapat ia sembunyikan hadirnya, rasa malu pun menjalar di seluruh bagian hati karena ketahuan sedang memikirkan seorang wanita.

Laki-laki yang dipanggilnya ustadz itu, duduk di samping Alfin. Menekuk lutut dan memeluknya, memandang ikan-ikan hias yang berada di kolam samping masjid.

"Ya, nggak apa-apa. Emang udah waktunya kamu mikirin soal istri. Umur kamu udah sangat cukup buat menikah, pekerjaan nggak perlu mikirin lagi. Rumah dan segala apapun yang berkaitan dengan rumah tangga insya Allah akan mengikuti. Nggak usah risau sama rezeki, semua ada takarannya nggak akan tertukar. Ya, kalo udah mantap, jangan sungkan bilang sama saya. Kita langsung lamar dia," cetus pak ustadz sembari menelisik wajah Alfin yang tampak muram.

"Ada apa?"

Ia menghela napas, memikirkan tentang Naina apakah dia memiliki rasa yang sama seperti dirinya.

"Aku nggak tahu, Pak Ustadz. Soalnya baru pertama ketemu dan baru kenal hari ini." Ia menghela napas lagi masih berpikir tentang Naina.

"Yah, tenang aja. Kalo dia emang jodoh kamu, nggak akan ke mana," ucapnya sambil menepuk-nepuk bahu Alfin memberi dukungan.

Pemuda itu tersenyum, mengangguk sangat mengerti.

1
Betty
bagus
Salma Suku
Aku suka karyamu thor...tetap semangat dan sukses selalu👍
Salma Suku
Banyak selamat untuk Alfin dan Naina
Salma Suku
Dedek bayinya sebentar lagi Otw
Salma Suku
Jodohkan aja thor mereka ber2
Salma Suku
Jodohnya Biya so OTW😁
Salma Suku
Akhirnya Alfin buka segel
Salma Suku
Akhirnya...mereka menikah jg alhamdulillah....
Salma Suku
Apakah itu Alfin yg datang
Salma Suku
Sedih terharu sampai menitik airmata😭
Salma Suku
Si Umi Aminah kenapa jadi eror
Salma Suku
😭😭😭😭😭
Salma Suku
Semoga itu hanya mimpi
Salma Suku
Coba kamu dengar dulu ceritanya dari Nai,Alfin ini sudah berprasangka buruk hadeew...
Salma Suku
Bilang cinta,tapi kenyataannya ada masalah mala menghindar...
Salma Suku
Atasan pemaksa dan pemarah nda cocok buat Nai...
Salma Suku
Semoga aja itu jodohnya Nai
Salma Suku
Sedih😭😭😭
Salma Suku
Aku mampir lagi thor...
baru baca sudah mewek😭
flower
kisah fathiya sama wildan tuh kaya nya seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!