"Aku benci diriku sendiri. Kulit gelap ini kutukan yang tidak bisa aku hilangkan. Sialan! Aku bahkan tidak meminta untuk dilahirkan. Memang siapa yang mau hidup seperti ini?!"
Hanya karena perbedaan warna kulit, Jia Li didiskriminasi di sekte. Mendapat banyak hinaan, bahkan keluarganya sendiri tidak pernah menganggap dirinya ada. Apalagi Jia Li tidak memiliki kemampuan apa pun, yang semakin dipandang remeh dan rendah.
Hati kecilnya itu, terluka parah. Setiap malam tiba, dia menangis memandang nabastala. Mengutuk takdir kejam. Menyumpahi diri sendiri agar cepat mati, karena tidak kuat menanggung rasa sakit.
Sampai, dia melarikan diri dari sekte. Banyak hal yang terjadi sampai nyaris nyawanya terenggut. Semakin banyak pula orang-orang yang mengucilkan hanya karena warna kulit. Semakin banyak pula cacian yang dia dengar.
Sejauh Jia Li melarikan diri, semakin dirinya putus asa. Tidak ada obat penyembuh untuk kutukan itu. Yang ada dia malah jadi incaran sekte aliran hitam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11 - PERTARUNGAN
Wang Chunying segera menangkis tangan murid itu. Jantungnya ikut berdetak cepat jika murid di depan ini berhasil menyingkap penutup wajah Jia Li.
"Maaf, Tuan Muda."
Wang Chunying menarik napas perlahan dan menghembuskannya. Kemudian dia berjongkok, menyamakan tingginya dengan tinggi Jia Li. Sementara Jia Li sudah berkeringat dingin. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya saat ketahuan. Jantungnya berpacu lebih cepat, dia merasakan tangan Wang Chunying yang semakin menekan bahunya.
Wang Chunying menggelengkan kepala pelan. Dan mengatakan sesuatu yang membuat kedua murid ini terkejut.
"Wajah cucuku itu sangat istimewa. Selama ini tidak ada yang lancang ingin melihat wajahnya. Sementara kalian ... ck. Jika memaksa, maka kalian harus melewati mayatku terlebih dahulu."
Tatapan mata kakek tua itu berubah sinis. Detik berikutnya tanpa di duga melesat ke arah dua murid Sekte Awan Petir dengan kecepatan tinggi. Sebelumnya, Wang Chunying mendorong keras tubuh Jia Li sampai bocah itu terdorong jauh. Bahkan Jia Li dibuat terkejut dengan tindakan ini. Dirinya langsung mendongakkan kepala.
Suara benturan antar pedang terdengar. Bahkan suara dua murid itu juga terdengar sedang berdebat dengan Wang Chunying. Kini debaman mulai terdengar sampai merobohkan pepohonan sekitar.
"Kakek Wang."
Jia Li mengintip sedikit bagaimana pertarungan satu lawan dua itu semakin menjauh darinya. Nampaknya Wang Chunying berniat membawa dua murid itu pergi bertarung sejauh mungkin dari Jia Li. Jia Li yang sadar dengan hal tersebut bukannya menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri malah mematung.
Perasaan dan pikirannya campur aduk. Ini pertama kali dalam hidupnya ada orang yang dengan tulus menolong dan melindunginya. Padahal Wang Chunying adalah seorang kakek tua yang jelas-jelas belum lama dia kenal. Tapi saat ini Wang Chunying sedang bertarung demi Jia Li?
Jia Li menyentuh dadanya yang berdetak lebih keras. Ada perasaan hangat di sana.
Di sisi lain, Wang Chunying masih sibuk meneladani dua murid keras kepala ini. Kakek Tua itu berharap Jia Li sudah pergi melarikan diri sejauh mungkin. Karena Wang Chunying bukanlah pendekar hebat yang akan bisa menahan kekuatan besar lawan.
Saat ini dia menggunakan pedang milik Jia Li. Ketajamannya tidak diragukan lagi, walau tubuh Wang Chunying sudah tua, tapi dia mampu menandingi dua murid Sekte Awan Petir. Dua murid itu tentu tidak tahu pedang tersebut milik Jia Li karena setiap Jia Li berlatih, sangat jarang ada orang yang melihatnya.
"Aku jadi bertambah curiga dengan wajah 'cucumu', Kakek Tua."
Wang Chunying melentingkan tubuh saat lesatan pedang nyaris mengenai dadanya. Beruntung dia merespon dengan baik. Tidak ingin terus disudutkan, kakek tua itu juga melesatkan serangan besar.
"Hmph. Sudah kukatakan, jika ingin melihat wajah cucuku maka lewati dulu mayatku!"
Tebasan angin kejut besar dari gerakan berpedang Wang Chunying mampu membuat lawan terdorong sampai menabrak pepohonan sekitar hingga tumbang. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Wang Chunying kembali melesatkan serangan secara berurutan selagi lawan belum siap.
Gerakan Wang Chunying memang terlihat brutal, tapi efek serangannya tidak main-main.
Dua murid tersebut langsung terbatuk darah karena tidak sempat membuat pengelakan. Wang Chunying yang melihatnya tersenyum sambil mengusap-usap jenggot panjangnya.
"Lebih baik kalian tingkatkan lagi etika, serta pengalaman bertarung. Sekarang lihatlah, bagaimana kondisi kalian."
Dua murid itu memegang dada yang terasa sakit, keduanya terbatuk darah. Mereka memang merasakan kesakitan, tetapi detik berikutnya malah tertawa. Hal tersebut jelas membuat Wang Chunying terlonjak kaget sambil berkedip.
"Kau lah yang seharusnya lebih mengerti pengalaman bertarung, Tua Bangka!"
Detik itu juga sebuah kekuatan besar yang melesat begitu cepat mengarah ke Wang Chunying. Kakek Tua itu segera menangkis, tetapi kekuatan lain dari arah atas langsung mengenai telak ke kepalanya. Wang Chunying yang tidak bisa menghindar memelototkan mata. Rasa sakit di kepalanya langsung menyebar ke seluruh tubuh sampai membuatnya terduduk lemas. Darah mengalir dari mata, telinga serta mulut.
Wang Chunying jelas tidak tahu bahwa sebelumnya dua lawan telah melakukan strategi. Sampai Wang Chunying lengah, dia langsung mendapatkan serangan telak.
Dua murid itu tertawa dan berdiri menghampiri Wang Chunying sambil memperlihatkan raut wajah memberi keprihatinan. Keduanya memakan sebuah pil yang membuat luka luar dan dalam yang sembuh setengah.
"Dasar pengecut."
Ucapan Wang Chunying membuat dua lawannya malah semakin tertawa keras. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa dalam pertarungan tidak ada aturan untuk menyerang dari arah mana.
"Pemenang adalah dia pemilik otak cerdas. Hei, bagaimana sekarang? Bukankah kau yang seharusnya lebih berpengalaman bertarung daripada kami?"
Dua lawan itu semakin tertawa lepas. Tanpa memikirkan ucapan dari Wang Chunying.
"Baiklah, sepertinya kami akan segera melihat wajah cucumu itu, Tua Bangka!"
Dua pedang panjang nan tajam sekaligus melesat dari arah depan dan belakang Wang Chunying dengan kecepatan tinggi. Bahkan Kakek Tua itu tidak mampu membuat segel pelindung atau sekadar menangkis karena luka dalam yang baru saja di dapat.
Wang Chunying terbatuk darah. Mengepalkan tangan pada pedang digenggamannya sambil menggerutukkan gigi.
"Jika aku tewas, ini adalah takdir. Li, kuharap kau sudah pergi jauh sekarang."
Wang Chunying sudah menutup mata pasrah. Sampai beberapa detik terdengar tabrakan antar pedang. Rasanya telinga Wang Chunying sudah ngilu.
*
*
*
An Qi Xuan, seorang bocah berumur 11 tahun dari Sekte Pedang Langit sedang berjalan di hutan bersama kedua senior bernama Zhi Yang dan Song Qian yang berumur 13 tahun. Nampak sebilah pedang terselip di pinggang kiri, memperlihatkan mereka adalah seorang pendekar. Ketiganya dalam perjalanan misi ke suatu daerah.
Penampilan ketiganya sangat ketara dari Sekte Pedang Langit karena mengenakan topeng giok dengan ukiran abstrak. Jubah sekte ini memiliki corak pedang dengan warna emas dan hitam.
Sekte Pedang Langit merupakan sekte menengah Aliran Netral. Dari isu yang beredar bahwa murid-murid dari sekte ini memiliki bakat luar biasa dengan keunikan tersendiri. Tidak diragukan lagi bagaimana mereka menjalankan misi yang jelas dapat diselesaikan dengan sangat baik.
Bahkan murid yang masih berumur 10 tahun saja sudah bisa mengambil misi. Tentu dengan tingkat kekuatan yang sekiranya sudah memenuhi syarat sekte.
An Qi Xuan menghentikan langkah secara mendadak saat indera pendengarannya mendengar benturan antar pedang. Bukan hanya dirinya, melainkan kedua seniornya juga demikian.
"Sepertinya ada yang sedang bertarung."
An Qi Xuan mengangguk dengan ucapan Song Qian. Zhi Yang mendengus melirik kedua temannya yang mungkin saja melakukan sesuatu yang membuang waktu tidak berguna seperti sebelumnya.
Dengan nada sinis, Zhi Yang mengatakan sesuatu yang membuat An Qi Xuan dan Song Qian tersenyum kaku.
"Tidak perlu ikut campur jika tidak menganggu perjalanan kita. Ingat, perjalanan kita masih sangat jauh. Jangan melibatkan diri lagi dengan masalah orang lain."
Song Qian menepuk bahu teman sebayanya, dia tertawa kecut. Dan lantas mengangguk mengerti. Mengajak mereka melanjutkan perjalanan.
Semakin dekat dengan suara pertarungan, bau anyir sangat tipis mulai terendus di hidung ketiganya. Mereka mencepatkan lari, samar-samar mulai terlihat tiga orang yang sedang bertarung sengit. Suara debaman keras terdengar, angin kejut tercipta oleh sebuah serangan dahsyat.
Seorang kakek tua baru saja mengalahkan dua anak muda sampai menabrak pepohonan. Tapi detik selanjutnya sebuah jurus tidak terduga muncul dan menyerang balik kakek tua tersebut.
An Qi Xuan menajamkan penglihatan. Jurus barusan pernah dia lihat disebuah sekte, dan saat mengingatnya dia tersentak. Begitu pula dengan kedua seniornya ini.
"Pertarungannya sepertinya akan segera selesai. Jadi kita tidak perlu---!"
An Qi Xuan melesatkan pedangnya dengan kecepatan tinggi. Dia juga menambahkan tenaga dalam agar pedang tersebut dapat menyerang dari jarak jauh. Tepat saat sebuah pedang yang hendak menancap di tubuh kakek tua, pedang An Qi Xuan menangkis dengan cepat sampai menciptakan angin kejut.
Zhi Yang dan Song Qian terkejut bukan main. Pasalnya keduanya tahu pedang tersebut merupakan milik An Qi Xuan.
"Apa yang kau lakukan?!"
Zhi Yang menatap tajam An Qi Xuan yang menatap balik tanpa merasa takut. An Qi Xuan malah menggaruk kepala yang tidak gatal dan mengatakan bahwa barusan merupakan respon tidak diduga oleh otaknya sendiri. Jelas saja jawaban barusan membuat mata Zhi Yang dan Song Qian melebar.
Pedang yang seharusnya menusuk Wang Chunying terpental jauh. Namun, Wang Chunying masih belum sadar bahwa dirinya tidak terkena tusukan. Dia malah ambruk saat merasa tubuhnya semakin sakit karena luka dalam dari serangan lawan sebelumnya.
Keterkejutan juga terpampang jelas di wajah kedua murid Sekte Awan Petir. Keduanya langsung mengedarkan pandangan untuk melihat siapa yang telah berani mengganggu mereka.