Namaku Yuta Mayasaki, aku mempunyai seorang pacar bernama Giza, gadis cantik yang merupakan madona sekolah SMA Jayakarta.
Suatu hari saat aku pulang sekolah, Ayahku yang seorang duda membawa pacarnya dan juga seorang gadis yang merupakan anak dari pacarnya.
Namun saat aku melihat penampilannya... ya, benar sekali, anak dari pacar ayahku itu adalah Giza.
Bagaimana hubunganku dengan Giza seterusnya? Apakah masih boleh kita berpacaran walaupun kita kakak adik? Bukankah ini cinta terlarang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noya Clarissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.10 Ada apa ini?
Seandainya aku bisa berteriak sekencang mungkin, saat ini aku pasti akan melakukannya. Tapi tidak mungkin kan?
Kalau dipikir-pikir lagi sampai saat ini aku belum pernah masuk ke kamarnya Giza ya? Ini pertama kalinya buatku walau kami sudah tinggal bareng.
Hal pertama yang muncul dipikiranku adalah ... lucu. Beneran deh, warna pink menyelimuti seluruh bagian yang ada di kamarnya.
Seprei kasurnya berwarna pink, selimut kasurnya juga berwarna pink dengan motif Hello Kitty. Dia baru saja pindah ke rumah ini, loh? Aku tak menyangka Giza sudah merubahnya sedemikian rupa.
"A-ayo masuk ...."
"Permisi."
Giza kelihatan malu-malu banget hari ini, biasanya dia tidak seperti ini. Mungkin karena kakak kelasnya—Ayane—menjenguknya?
"Kamar kamu lucu juga ya," celetuk Ayane.
"A-ah, tidak, terima kasih ...."
Tidak, sepertinya Giza malu karena kita melihat isi kamarnya.
Ayane segera duduk di lantai kamar setelah Giza mempersilahkan kami untuk duduk. Aku masih berdiri sambil membawa plastik berisi buah-buahan yang tadi kubeli bersama Ayane.
"Giza, ini." Aku memberikan bingkisan yang kubawa kepada Giza. "Sebelum datang ke sini, aku dan Ayane-san sempat mampir ke minimarket terdekat untuk membeli buah-buahan untukmu."
Giza mengambil bingkisan yang kuberi dengan perlahan.
"Ini serius? Terima kasih banyak! Maaf jika aku merepotkan kalian ...."
Ayane menyangkal perkataan Giza sambil melambaikan tangannya. "Tidak, tidak, tidak. Itu tidak merepotkanku sama sekali. Lagi pula, aku senang setelah melihatmu baik-baik saja."
Giza menunduk-nundukkan kepalanya.
"K-kalian tunggu sebentar di sini ya, aku akan mengambilkan kalian minum–"
"Ah, tidak usah Giza, sepertinya Ayane tidak akan berlama-lama di sini, ya 'kan?"
Aku memotong perkataan Giza, dan ini memanglah hal yang sudah kurencanakan bersama Giza.
***
Beberapa saat sebelumnya, di minimarket.
Aku dan Ayane sedang memikirkan tentang buah apa yang harus kami beli untuk diberikan kepada Giza.
"Sepertinya semangka cocok," saran Ayane sambil mengangkat semangka yang berada di hadapannya.
Aku memikirkan sejenak saran Ayane itu lalu menjawabnya. "Tidak, kurasa semangka terlalu sulit untuk dimakan oleh orang yang sedang sakit."
"Maksud kamu?"
"Begini, jika kita membelikannya buah semangka yang utuh, maka Giza harus membukanya terlebih dahulu dan itu menggunakan tenaga yang cukup banyak."
"Kalau begitu apa saranmu?" Ayane meletakkan semangka yang ada di tangannya kembali ke tempat semula
"Hum ... mungkin seperti buah pisang atau anggur? Itu lebih mudah untuk dimakan."
"Kamu ada benarnya, kalau begitu ayo kita cari buah anggur"
Aku menganggukkan kepalaku.
Sambil berjalan di belakang Ayane, tiba-tiba dia memberitahuku sesuatu sambil melihat ke arah smartphone-nya
"Yuta, sepertinya aku tidak akan berlama-lama di rumah Giza."
"Eh, kenapa?"
Pasti keluarganya mencari dia.
"Keluargaku memintaku untuk cepat pulang."
Sudah kuduga. Aku pernah mendengar rumor bahwa Ayane sebenarnya adalah putri dari seorang pengusaha ternama.
Jadi wajar saja jika keluarganya mencarinya. Apalagi Ayane adalah seorang perempuan. Dan juga ... ini menjadi kesempatanku agar Ayane tidak mencurigai hubungan aku dengan Giza.
"Kalau begitu tidak apa-apa."
Aku segera mengambil smartphone-ku dari saku celana lalu membuka aplikasi Line. Aku memberitahu rencanaku ke Giza melalui chat.
———
^^^Giza.^^^
Ada apa Yuta?
^^^Nanti, setelah aku dan Ayane sampai dirumahmu, beraktinglah seperti kamu akan memberinya minum.^^^
Hee? Untuk apa?
^^^Ikuti saja perkataanku.^^^
———
Begitulah kira-kira isi chatnya.
***
Kembali ke masa sekarang.
Ayane mengangguk. "Iya, aku tidak boleh pulang terlalu malam."
"B-begitu ya ...."
Yes! Rencanaku berhasil!
"Kalau kamu bagaimana, Yuta-san?"
"Ah, aku akan menemani Giza lebih lama."
Dan tentu saja aku tidak akan pulang karena ini adalah rumahku.
"Kalau begitu aku akan pulang dulu."
"Baiklah–eh? Secepat itu?"
Tunggu, tunggu, aku tidak mengira akan secepat ini.
"Kenapa memangnya?"
"Tidak apa-apa, kukira kamu ingin membicarakan beberapa hal dulu dengan Giza?"
"Tidak ada yang perlu dibahas, kok?"
Aku sih senang karena Ayane bisa pulang dengan cepat, tapi karena hal itu entah kenapa aku merasa sedikit bersalah.
***
Di depan pintu rumah Giza.
"Kamu tak ingin mengantarku pulang?"
"Eh?"
Baru saja setelah aku berbalik badan dan ingin masuk kembali ke dalam rumah, perkataan Ayane membuat langkahku berhenti. Akupun menoleh kembali ke arah Ayane.
"Ini sudah malam, loh? Apa kamu sebagai seorang lelaki akan membiarkan seorang perempuan berjalan sendirian di malam hari?"
Ah, benar juga kata dia. Aku tidak menyadarinya karena terlalu memikirkan Giza yang sedang sakit.
"Ah, iya maaf. Tunggu sebentar di sini, aku ingin mengambil tasku dulu."
"Untuk apa? Bukankah kamu ingin menemani Giza lebih lama tadi?"
"Kupikir juga begitu, tetapi sebaiknya aku ikut pulang saja."
Ini bukan tanpa alasan, aku berasalan ikut pulang juga agar Ayane tidak mencurigaiku. Itu karena sejak pagi tadi aku selalu dicurigai olehnya.
Akan jadi masalah jika Ayane tahu bahwa aku dan Giza tinggal di rumah yang sama. Bukan hanya karena aku dan Giza berpacaran, tetapi fakta bahwa aku dan Giza sekarang telah menjadi kakak dan adik perlahan pasti akan tersebar dan menjadi masalah.
Bagaimanapun juga ini adalah cinta terlarang.
Akupun kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil tasku. Aku juga memberitahu Giza tentang rencana ini dan dia memperbolehkanku.
Saat aku kembali, Ayane masih berdiam diri membawa tas sekolah di tangannya. Tatapannya kosong ..., mungkin memang seharusnya aku mengantarkannya pulang.
Sambil mendekati Ayane—yang berada di depan rumah, aku memanggilnya. "Ayane-senpai, ayo pulang."
"Ayane-san."
"Ah, maksudku, Ayane-san." Aku menggaruk-garuk kepalaku.
Dia masih mempersalahkan hal itu ya? Jujur saja aku merasa kurang nyaman jika aku memanggil dia dengan sebutan 'Ayane-san' karena itu terdengar seperti aku yang menghormatinya.
Tapi yasudah deh, toh dia yang memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan seperti itu.
***
Di jalan, arah pulang ke rumah Ayane.
"Giza sepertinya sudah lebih baik ya, aku juga terkejut karena ia bisa sembuh secepat itu."
"Kamu benar, dua hari yang lalu Giza masih sempat masuk sekolah sebelum dia jatuh sakit kemarin. Dan sekarang dia sudah terlihat sembuh, benar-benar gadis yang kuat."
Pacar aku gitu loh.
"Nee, Yuta-san."
"Iya?"
"Kalau semisalnya aku sakit, apa kamu mau menjengukku?"
Pertanyaan yang sulit, dan juga ... aneh. Lagi pula apa-apaan dengan wajahnya itu? Tiba-tiba memerah layaknya api yang menyala.
Tsundere? Iya ... mungkin gadis ini tsundere. Tapi kenapa dia seperti itu kepadaku? Dia suka sama aku? Tidak, tidak, itu tidak mungkin.
Setelah memikirkan beberapa hal, akupun menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang menurutku paling benar.
"T-tentu saja, lagi pula kita ini teman, kan?"
"... Kamu benar, kita 'kan te ... man–"
"Ayane!"
***
diriku adalah masa depanku
setetes air diujung ranting
terjebak dalam masa lalu
happy Reading ❤️
kn kasian pacarin adik sendiri🥹