Demi membalas orang-orang yang membuatnya terpaksa terpisah dengan orangtua, Nayyara telah merencanakan sebuah pembalasan.
Dia menyamarkan dirinya dengan sempurna, menyembunyikan wajah indahnya menjadi wajah buruk yang menggunakan kacamata tebal!
Namun dalam proses balas dendamnya, Nayyara berbuat salah yang fatal—— dia telah menarik perhatian CEO dingin.
""Semua wanita itu murahan"" Harry Balwis
""Kau hanya pria arogan yang haus akan cinta"" Nayyara.
Mampukah Naya mencapai tujuannya? atau dia malah jatuh cinta pada pria itu sebelum tujuannya tercapai?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom yara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 penculikan
Menunggu bus yang akan melewati halte. Sebelum sampai dikontrakan Naya mampir ke supermarket terlebih dahulu. Sewaktu berjalan melewati depan gang tiba - tiba ada beberapa orang menghadangnya, tepatnya tiga orang laki - laki yang bertubuh kekar dengan berpakaian serba hitam.
"Bawa dia" laki - laki yang paling depan memerintahkan dua anak buahnya untuk membawa Naya.
"Siapa kalian?" masih sempat bertanya.
"Jangan terlalu banyak tanya" Naya hendak berlari tapi langkahnya tertahan karena tangannya sudah ditarik paksa oleh kedua pria itu.
Naya dipaksa untuk masuk ke dalam mobil hitam diujung jalan, terdengar suara mobil lain berhenti tepat disebelah mobil yang akan membawa Naya.
Sreg
bug
bug
Dua orang pria keluar dari mobil itu dan menghajar tiga laki - laki yang membawa Naya. Setelah perkelahian singkat yang terjadi Mereka semua tergeletak dibawah mobil. Dua pria yang menolong Naya segera masuk ke dalam mobil setelah melumpuhkan lawannya. Diikuti Naya masuk ke dalam mobil.
"Kalian cepat sekali, aku belum bermain dengannya"
"Maaf nona" laki laki yang di sebelah kemudi meminta maaf.
Mobil melaju kencang ke sebuah rumah mewah yang selama ini ditempati oleh paman Jody.
Melangkah masuk kedalam rumah yang pintunya sudah terbuka lebar, sepertinya pamannya sengaja menyambutnya.
"Sayang kau sudah sampai" melihat anaknya sudah duduk manis disofa, paman Jody turun dari lantai dua. Rumah mewah itu tidak terlalu besar. Tapi sangat elegan menandakan itu milik orang kaya.
Paman Jody hanya menyewa nya untuk beberapa bulan kedepan. Karena ia tidak berkeinginan tinggal menetap, setelah semua selesai ia akan kembali bersama Naya.
"Paman aku sudah tidak sabar untuk bertemu mereka dan mengejutkan mereka"
"Tenanglah sebentar lagi, disaat pembacaan warisan kau akan hadir disana dan kejutkanlah mereka"
"Paman sepertinya aku tidak suka berperan sebagai Naya"
"Kau ingin mereka langsung mengenalimu, wajahmu terlalu mirip dengan ibumu, sekali lihat mereka akan tahu siapa kau sebenarnya"
"Aku merindukan mereka"
"Mereka pasti juga merindukanmu, kau harus bahagia agar mereka juga bahagia. Bagaimana hubunganmu dengan Harry"
"Tasya melihatku berciuman dengan Harry dan akhirnya datanglah tiga pria kekar membawaku"
"Berciuman" Paman tertawa terbahak sampai memegangi perutnya. Paman tidak menyangka kau yang selalu galak dengan semua pria tapi bisa berciuman dengan seorang Harry, semoga kau selalu bahagia sayang, doanya dalam hati.
"Berhentilah tertawa paman" Naya pergi meninggalkan pamannya yang masih menertawakannya. Ia masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian, kali ini ia akan menjadi Yara. Ia mengenakan dress bunga - bunga selutut dengan panjang tangan sampai siku, mengambil tas dan ponselnya kemudian keluar dari kamar.
Naya melewati pamannya yang masih duduk di sofa.
"Kau mau keluar"
" Ya paman, aku akan mencari udara segar"
"Perlu paman temani?"
"Terima kasih paman tapi aku ingin keluar sendiri" mencium pipi pamannya kemudian berlalu dari sana.
Mobilnya ada di apartemen jadi dia menggunakan mobil pamannya, untuk membelah keramaian kota Jakarta.
Meskipun ia tinggal di luar negeri ia tidak suka pergi ke club, tapi tujuannya satu, Mall. Ia akan berperang disana.
Deru mesin mobil berhenti setelah tujuan sang pengemudi sampai. Naya segera keluar dari mobilnya karena ia sudah tidak sabar untuk berperang, tentu ia tetap menggunakan masker untuk menutupi sebagian wajahnya.
Naya masuk ke arena permainan anak -anak.
"Waktunya berperang" ia melangkah ke permainan yang menggunakan senjata api, dengan bakat yang dimilikinya ia mampu menembak semua lawannya, dan dialah pemenangnya, puas berperang ia melangkah menuju permainan bola basket, tidak ada satupun permainan yang ia lewatkan.
Puas bermain, ia keluar dari arena permainan, sepertinya perutnya sudah meminta untuk diisi. Ia memesan makanan yang ada di restoran itu untuk dibungkus, tidak mungkin ia makan ditempat terbuka sebagai Yara
Saat akan membayar tangannya bersentuhan
dengan tangan laki laki yang juga ingin membayar.
Harry
Tatapan mereka bertemu.
Deg
Naya
Naya memutuskan tatapannya kemudian kembali membayar dikasir, lalu ia pergi dari hadapan Harry .
Harry masih mematung ditempatnya. Rangga datang disaat yang tepat.
"Urus semua pembayarannya" titahnya pada Rangga.
"Heh... bukankah kau yang traktir" ucapannya melayang diudara karena Harry sudah keluar dari restoran itu. "Yah.. dasar bos, aku akan menagihnya di kantor"
Mereka sedang makan malam bersama teman teman mereka, anggaplah reuni kecil mumpung teman mereka ada yang baru datang dari luar negeri, jadi mereka mengadakan pertemuan di mall.
Di dalam mobil, Harry sudah siap untuk mengikuti mobil hitam yang dikendarai oleh Naya.
"Sayang kali ini kau berperan sebagai siapa, mata indahmu tak akan bisa menipuku, aku yakin kau wanitaku Naya"
Setelah pertemuannya dengan Harry barusan ia menjadi kurang fokus sampai tidak sadar kalau ia sedang dikuti, atau Harry yang terlalu pintar menjadi penguntit.
Ternyata ia pulang ke apartemen.
Harry segera turun dari mobil setelah melihat Naya juga turun dari mobil, Naya belum juga menyadari keberadaannya ditambah beberapa orang yang akan naik lift. Harry menyelinap masuk dan berdiri paling belakang meskipun antriannya tadi paling belakang tapi ia memaksa untuk masuk ke dalam lift.
Naya pun belum menyadari keberadaannya, entah apa yang Naya pikirkan sehingga ia menjadi tidak fokus.
Lift terbuka Naya segera keluar dan melangkah ke pintu apartemennya.
"Duh aku lapar sekali" gumamnya yang masih di dengar oleh laki - laki yang dari tadi memperhatikannya.
Ternyata apartemen kita satu lantai sayang.
Harry pun melangkah menuju pintu apartemennya setelah memastikan wanitanya tak terlihat lagih. Setelah masuk ia menutup kembali pintu apartemennya. Dia senyum senyum sendiri sembari duduk di sofa panjangnya.
Dengan seringai licik ia mengeluarkan ponsel di sakunya. Mencari nomor wanita yang beberapa hari ini menjadi sugar babynya.
Panggilan pertama tidak diangkat.
Panggilan kedua setelah beberpa detik baru diangkat.
"Hallo... " suaranya lembut dari ujung sana terdengar di telinga Harry. Dan juga terdengar suara kunyahan makanan. Sepertinya dia kelaparan, dari mana saja dia, apa dia tidak langsung pulang, sudah malam masih keluyuran.
"Kau sedang makan? "
"Emm tidak... iya"
"Kunyahanmu terdengar sangat jelas sekali"
"Maaf, aku sangt lapar tidak bisa menundanya lagi"
"Makanlah, jangn ditutup ponselnya, aku ingin menemanimu makan"
"Tuan sangat manis"
"Tidak bisakah jika diluar jangan memanggilku tuan"
"Aku harus memanggil tuan apa?"
"Apa saja, asalkan jangan tuan"
"Honey"
"Cukup keren"
"Baiklah honey"
"Sudah selesai makannya?"
"Hemm, aku baru akan mencuci tangan"
"Kenapa malam sekali makannya"
"Aku tadi sibuk berperang" jawabnya semangat menceritakan kesehariannya, karena biasanya hanya paman dan bibinya yang akan bertanya.
"Berperang?"
"Maksudku bermain"
"Bermain?" tanya Harry lagi, ia merasa bingung dengan jawaban yang diberikan Naya.
"Maksudku tadi aku ke arena permainan anak - anak dan aku berperang dengan mesin disana"
"Kau bermain di sana? apa masa kecilmu kurang bahagia"
Deg
Naya terdiam mendengar pertanyaan Harry.
Ya aku kurang bahagia, hanya tempat itu kenangan terakhirku bersama mereka.
Naya meneteskan air matanya tanpa ia minta, ia teringat kedua orangtuanya.
"Hey, kau baik baik saja" suara dari ujung sana membuyarkan lamunannya.
"Ya, aku baik saja, aku hanya kesepian jadi tadi aku kesana"
"Kemarilah, aku akan menemanimu"
"Memangnya kau dimana"
"Di apartemen"
Hah, dia ada disini, yah tentu saja disini, mau dimana lagi, dia kan memang tinggal di apartemen.
"Sudah malam, aku tidak bisa ke sana, apalagi naik angkutan umum, tidak baik wanita malam malam pergi sendiri"
Apanya yang tidak baik, kau baru saja pulang sendirian.
"Aku akan menjemputmu"
"Jangan"
terima kasih atas karya yg sangat menghibur ini thor.. semangat terus utk karya² baru yg lebih wow lagi.