Elena, seorang wanita cantik berkulit putih dengan lesung dipipi kanan dan kirinya. Ia adalah seorang ibu dengan sepasang anak kembar, Cantika dan Brian.
Pernikahan Elena dan suaminya bukanlah pernikahan berlandaskan cinta. Mereka menikah karena desakan dari Ana, ibu dari suaminya.
Elena menahan diri selama tiga tahun dengan pernikahannya, Elena memikirkan kedua anaknya jika ia bercerai dengan suaminya.
Suatu hari, Elena murka dengan perilaku Rendra, suaminya. Ia pun mengajukan cerai kepada Rendra. Rendra yang tak mencintai Elena pun akhirnya menyetujui untuk bercerai.
Apakah perceraian Elena akan berjalan lancar? Bagaimana Elena menjalani kehidupannya sebagai single mom? Ayo, simak kisahnya! 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INRUMIDITAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan cinta
Lucky merasa diamati lagi oleh Brian. Lagi-lagi aku diamati, huft sepertinya perjalananku untuk mendapatkan Elena tidaklah mudah, batin Lucky.
Setengah jam kemudian. Elena dan kedua anaknya telah selesai menyantap makan malam mereka. "Cantika ... Brian ... ayo kita kembali ke penginapan," ajak Elena.
"Baik, Ma," ucap Cantika dan Brian bersamaan.
"Lucky, kami pamit dulu." Elena membawa kedua anaknya pergi meninggalkan rumah makan itu.
"Ah iya, selamat malam Elena," ucap Lucky. Lucky memandangi kepergian Elena dan kedua anaknya. Hmm, jika aku bersama mereka disana, sepertinya akan pas, batin Lucky, ia membayangkan dirinya yang sudah berhasil menjadi papa sambung Cantika dan Brian.
"Permisi, ini tagihan Anda," ucap salah satu pegawai rumah makan sambil meletakkan sebuah kertas kecil berisi rincian harga makanan yang dipesan.
"Baik." Lucky melihat rincian dikertas yang ia pegang. Ini kok ada makanan pesanan Elena dan kedua anaknya ya? Sepertinya tadi Elena lupa membayarnya, aku bayar sekalian aja lah, batin Lucky.
"Ini ya, Mbak." Lucky meletakkan beberapa lembar uang seratus ribuan. Setelah itu, Lucky berjalan menuju ke penginapannya lagi.
Disisi lain, Elena dan kedua anaknya baru selesai dengan ritual membersihkan diri sebelum tidur. Kini, Elena dan kedua anaknya telah siap untuk tidur. Elena berada ditengah, dan kedua anaknya berada disisi kiri dan kanannya.
"Hmm, mama kok merasa ada sesuatu yang terlupakan ya? Tapi apa ya? Kok mama nggak ingat?". Elena memikirkan sesuatu yang ia lupakan. Elena belum mengingat, jika sesuatu yang ia lupakan ialah lupa membayar makanan yang ia pesan tadi di rumah makan samping penginapan.
"Besok dipikirkan lagi, Ma. Sekarang kita bobok dulu," ujar Brian.
"I-iyalah, ayo siapa yang mau memimpin do'a tidur?" tanya Elena.
"Aku ... aku, Ma," teriak Cantika.
"Baiklah, silahkan dipimpin!" seru Elena.
Cantika pun langsung memimpin do'a sebelum tidur dengan lantang. Setelah itu, Elena dan kedua anaknya menutup mata mereka untuk istirahat.
*
*
*
Pagi hari. Elena dan kedua anaknya telah selesai dengan sarapan mereka, sarapan mereka saat itu didapatkan dari pihak penginapan.
Elena Tiba-tiba teringat sesuatu. "Ah iya, mama sekarang sudah ingat. Hal yang mama lupakan itu adalah, mama belum membayar tagihan makan malam kita tadi malam." Elena menepuk jidatnya pelan.
"Hah, iya kah, Ma? Kupikir tadi malam sudah bayar," respon Brian.
"Ya sudah Ma, sekarang kita kesana saja buat bayar," saran Cantika.
"Baiklah, mari kita kesana." Elena beranjak dari tempat duduknya.
Elena dan kedua anaknya berjalan keluar dari gedung penginapan. Mereka berjalan menuju ke rumah makan, tempat mereka makan tadi malam. Sesampainya disana, Elena langsung menghampiri kasir yang sedang bertugas. Kasir itu pun berusaha mengingat wajah Elena dan kejadian tadi malam.
Kasir itu mengatakan, jika pesanan wanita didepannya ini sudah dibayar oleh seorang laki-laki yang makan bersama dengan wanita yang berdiri didepannya. Lucky, dia yang bayar pesananku. Nanti aku temui dia deh, aku bakal ganti uangnya, batin Elena.
Setelah mendapatkan jawaban, Elena dan kedua anaknya kembali ke penginapan. Elena menghampiri kamar Lucky, ia tahu nomor kamar Lucky, karena Lucky sendirilah yang memberitahukannya kepada Elena.
Tok ... tok ... tok ....
Elena mengetuk pintu kamar penginapan milik Lucky. Tak lama, pintu itu pun terbuka. "Elena, ada apa?" tanya Lucky antusias.
"Itu, aku ingin mengembalikan uang," jawab Elena.
"Tadi malam kamu yang bayar tagihan makan malamku dan anak-anak 'kan? Maaf, aku benar-benar lupa tadi malam," ucap Elena malu mengingat keteledorannya.
"Sudah, tidak usah," respon Lucky.
"Nggak bisa gitu, please terima ya uangnya," mohon Elena.
"Nggak ah ... hmm gini aja, kamu ajak aku pergi kemana gitu, terserah deh mau diajak kemana," ucap Lucky sambil tersenyum.
Modus ! batin Brian saat mendengar perkataan Lucky. "Hmm baiklah, ayo ikut aku! Aku tunggu didepan penginapan ya." Elena membawa kedua anaknya pergi meninggalkan Lucky.
"Yes!" ucap Lucky gembira.
Lucky pun langsung masuk ke dalam dan bersiap-siap. Disisi lain, Elena dan kedua anaknya juga bersiap. Setelah selesai, mereka berjalan keluar dari gedung penginapan.
Saat Elena dan kedua anaknya sampai didepan penginapan, mereka melihat Lucky yang sudah berdiri disana. Gercep banget nih si O-om, batin Brian saat melihat Lucky yang sudah siap dengan style kerennya.
"Lucky, aku minta tolong jagain anak-anak sebentar ya, aku mau ambil mobil dulu di tempat parkir," pinta Elena.
"Siap!" ucap Lucky sambil meletakkan tangan kanannya, seperti orang yang sedang hormat di upacara bendera.
Beberapa saat kemudian, mobil Elena keluar dari tempat parkir lalu menghampiri Lucky dan kedua anaknya. "Ayo, masuk!" ajak Elena.
"Elena, bagaimana kalau aku saja yang menyetir?" ucap Lucky menawarkan diri.
"Baiklah." Elena keluar dari mobil dan masuk ke barisan kedua.
Cantika dan Brian pun sudah masuk kedalam mobil, mereka duduk disamping mamanya. Padahal aku pengennya, Elena duduk didepan disampingku, batin Lucky kecewa.
"Sudah siap?" tanya Lucky menoleh kebelakang.
"Siap, Om," jawab Cantika dengan semangat.
"Kita mau kemana nih?" tanya Lucky sambil menjalankan mobilnya.
"Keliling dulu saja, Om," jawab Brian.
"Iya, Om, kita keliling dulu. Nanti kalau ada hal yang menarik dipinggir jalan, kita turun," jawab Cantika.
"Tujuan belum jelas berarti ini ya? Ya sudah, let's go!" seru Lucky.
Lucky melajukan mobil, saat Lucky melewati sebuah mall besar, Cantika berteriak ingin masuk ke sana. Elena pun mengiyakan keinginan Cantika. Lucky pun masuk ke area mall tersebut, lalu ia masuk ke tempat parkir dan memparkirkan mobil disana.
Setelah itu, Cantika langsung menarik tangan mamanya masuk kedalam mall tersebut. Brian dan Lucky mengikuti dibelakang. Baru saja masuk, Cantika melihat sebuah permainan anak yang besar, Cantika pun ingin masuk kedalam.
Karena rengekan Cantika, Elena pun mengiyakan kemauan anak perempuannya itu. "Brian, mama minta tolong temani adik kamu bermain ya," pinta Elena.
"Siap, Ma," respon Brian.
Elena membeli dua tiket bermain untuk Cantika dan Brian. Cantika pun langsung menarik tangan Brian masuk kedalam wahana permainan anak-anak itu.
Elena dan Lucky duduk di ruang tunggu yang letaknya berada didepan wahana bermain itu. Kesempatan nih, aku akan mengungkapkan perasaanku kepada Elena sekarang, batin Lucky.
"Elena, aku ingin mengungkapkan sesuatu kepada kamu," ucap Lucky serius.
"Oh ya? Ada apa? Kok serius gitu?" tanya Elena penasaran dengan apa yang akan diungkapkan Lucky.
"Elena, aku menyukaimu. Maukah kamu menikah denganku? Dengan usia kita saat ini, sudah tak semestinya berpacaran bukan? Karena itu, aku menyatakan cinta kepadamu sekaligus melamarmu." Lucky mengeluarkan sebuah kotak kecil berisikan sepasang cincin yang indah.
Elena sangat terkejut dengan pernyataan cinta Lucky, sekaligus lamaran dari Lucky. Elena tidak menyangka hal serius yang akan disampaikan Lucky berkaitan dengan dirinya. "A-aku ...." Elena tak dapat melanjutkan kata-katanya. Tahu gitu aku nggak perlu kepo kan tadi, dengan apa yang akan disampaikan Lucky, batin Elena sedikit menyesal.
☠️⃝🖌️M⃤
Perjuangan Ucup mampir
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
sabar ya elena 😬 semoga Joe segera sadar
coba diselipin kejadian apa di bbrapa moment biar lebih kelihatan nyata ceritanya
kok bisa rukyah nya gagal?
☠️⃝🖌️M⃤