Suara tangisan bayi menyita perhatian seorang pemuda yang sedang duduk di taman. kakinya melangkah mendekati sumber suara. Ia meraih bayi mungil itu dan menggendongnya dengan penuh kelembutan. "Alesya." gumamnya membaca ukiran kalung berlian di leher bayi cantik itu.
Bayi kecil itu kini sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dengan Alex sebagai orang tua tunggalnya. Rasa sayang pada anaknya telah berubah menjadi cinta pada seorang wanita. Alex berusaha menepis namun tidak bisa. Pria itu ingin memiliki Alesya. Menjadikan gadis itu sebagai ratu di hatinya.
Mampukah Alex mempertahankan Alesya untuk tetap di sisinya di tengah pencarian keluarga kandung gadis itu?
Bisakah Alex membuat gadis itu menerima perasaannya?
Ikuti terus cerita menarik ini.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Rambut Sang Puteri
Ada adegan yang sedikit....ya tau sediri ya...
Bacanya malam hari saja. Tapi kalau penasaran juga ya gimana ya...Author sudah peringatkan pokoknya.
Alex mondar mandir cemas. Pria itu tak mendapati putrinya di rumah. Ia baru saja pulang kerja karena ada meeting penting yang harus dihadiri langsung olehnya. "Dimana Putriku?" Tanya pria itu sambil menahan emosinya pada para pekerja di rumah. "Tadi Nona bilang mau keluar sebentar Tuan. Nona jalan kaki. Katanya sudah mendapat ijin dari tuan." Jawab mereka jujur. Alex menghela napas kasar. Memang benar Al mengiriminya pesan untuk ijin keluar sebentar. Namun Ia tidak membalas karana masih bertemu dengan rekan bisnisnya. "Cari putriku sampai dapat." Titah Alex dan mereka langsung membubarkan diri untuk melaksanakan perintah.
Di sisi lain Al sedang duduk berdua dengan seseorang di bangku taman. Mereka mengobrol santai. Pemuda itu terus bertanya kehidupan pribadi Alesya. "Jadi kamu hanya punya Daddy?" Tanyanya dan Al mengangguk sembari memakan eskrimnya. "Kata Daddy. Ibu Al sudah meninggal sejak Al lahir. Al juga tidak memiliki Kakek Nenek dan kerabat lainnya. Mereka meninggal karena kecelakaan pesawat." Jawab Al membuat Alvin mengangguk. "Al ada daun di kepalamu. Kakak ambilkan ya?" Tanyanya meminta izin dan Alesya mengangguk. "Kamu hadap sana dulu biar mudah." Al memutar tubuhnya membelakangi Alvin. Pemuda itu mengambil gunting dari sakunya dan mengambil sedikit rambut Al. "Sudah." Alvin tersenyum menatap gadis cantik di depannya. "Terimakasih Kak." Alvin menganggukkan kepala seraya tersenyum manis. "Sama sama."
Hujan turun tiba tiba dan sangat deras saat Al dalam perjalanan pulang. Gadis itu berjalan kaki. Ia menolak diantar oleh Alvin karena takut Daddynya akan marah karena salah paham. Pria itu sudah mewanti wanti Al agar menjaga jarak dengan lawan jenis. Alvin menatap cemas adiknya yang kehujanan. Ia khawatir Al akan sakit. Pemuda itu hanya bisa mengamati Al yang mulai masuk ke rumah mewah itu dan menghilang di balik pagar.
Alex yang menunggu di depan langsung memeluk tubuh Al yang basah kuyup. "Kamu dari mana saja Sayang. Daddy khawatir. Kamu keluar tidak memberi kabar." Omelnya sambil memerintahkan beberapa orang untuk menyiapkan air hangat. Alex mengambil handuk dan melilitkan pada tubuh putrinya. "Maaf Dad." Lirih Al dengan bibir bergetar karena kedinginan. "Mandi dulu. Nanti Daddy bawakan minuman hangat." Kata Alex dan Al mengangguk patuh.
Al selesai mandi. Kini Ia sedang duduk bersama Alex yang mengeringkan rambutnya. "Sudah selesai." kata Pria Itu setelah menyisir rambut putrinya. "Ayo makan dulu." Al menggeleng. "Al tidak lapar Dad." Keluhnya. "Makan. Kamu belum makan siang. Daddy tau itu." Tegas Alex pada putrinya. "Daddy sudah makan?" Tanya Al. Ia juga khawatir jika pria itu belum makan. "Belum. Makannya ayo makan. Kita makan sama sama. Daddy yang suapi." Alesya mengangguk kemudian tersenyum. Daddynya sangat perhatian meskipun kadang menyebalkan karena terlalu berlebihan. Ia sadar orang tua tunggalnya itu begitu menyayangi dirinya lebih dari apapun.
Wajah Mami dan Papi Alvin berbinar. Wanita itu menghirup aroma harum rambut putrinya yang terbungkus rapi di plastik flip. Rambut yang cukup banyak dengan aroma mawar yang menenangkan. Alvin memang keterlaluan mengambilnya. "Kita akan lakukan tes DNA secepatnya Pi." Kata pemuda itu dan diangguki keduanya. "Alvin. Bawalah Mami dan Papi bertemu dengannya." Pinta wanita itu dengan penuh harapan. "Cukup sulit Mi. Adik bukan hidup dengan bebas. Alex selalu menemaninya kemanapun dia pergi. Jadi peluang untuk bertemu dengannya sangat kecil. Jika Alvin membawa Mami dan Papi sekalian yang ada Alex malah curiga." Jelas Alvin pada orang tuanya. Ia tak mau Alex curiga dan membuat pria itu kabur lagi membawa adiknya. Alvin tau pria itu tengah memata matai keluarganya. Oleh karena itu setiap tindakannya harus hati hati. "Namun akan Alvin usahakan. Mami sama Papi jangan khawatir." Lanjutnya membuat mereka bahagia.
Malam hari. Alesya sedang menonton film bersama Sang Ayah. Gadis itu sedang tiduran dengan kepala yang berada di kedua paha Alex sebagai bantalan. Tubuh Alex menegang. Pria itu berfantasi liar menyaksikan adegan ciuman yang terpampang di layar TV yang lebar. "Sayang." Suara serak Alex ketika menahan sesuatu. "Sudah tidur." gumamnya kemudian mengangkat tubuh Alesya dan meletakkannya di ranjang. Pria itu terbawa suasana. Ia mencium bibir Al dan menyesapnya dengan sangat lembut. "Oh ****." Umpat pria itu tersadar di bawah sana sudah begitu sesak. Ia tak ingin lepas kendali kemudian menuju ke kamar mandi. Menuntaskan sesuatu yang begitu menyiksa sembari membayangkan fantasi liar bersama gadisnya.
Alex memainkan miliknya sediri sembari mendesah memanggil nama gadis kesayangannya. "Sayang...Akh..." Pria itu mengerang setelah mencapai pelepasan. Pria itu mendongak menatap ke atas dengan mata terpejam dan mulut terbuka. "Bisa gila aku jika setiap hari harus seperti ini. " Gumamnya sembari mencuci tangan di wastafel. "Kapan bisa memilikimu seutuhnya?" Tanya pria itu memandang lekat bayangan wajahnya di cermin.
Alex kembali setelah menuntaskan sesuatu sendiri. Ia ikut berbaring di samping Al dan memeluk tubuh ramping itu dengan prosesif. "Ibu..." Lirih Al dengan mata yang masih terpejam. "Daddy. Kenapa Daddy tidak menceritakan tentang Ibu? Al ingin mengenalnya meskipun tak bisa melihatnya." Gadis itu terisak membuat hati Alex sakit. Ia mengusap punggung Al membuat gadis itu tenang kembali. "Maafkan Daddy sayang. Tapi ini semua Daddy lakukan agar kamu bisa terus bersama Daddy." Lirih pria itu mengecup bibir Alesya dengan lembut.
typo Thor...